
Bela yang baru saja merasa senang karena terhindar dari teman satu selnya, kembali merasa sial karena tamu yang ingin bertemu dengannya adalah Anggi, Ibu kandung Reva.
Bela kini duduk saling berhadapan dengan Anggi dan Geral yang juga ikut dengan Anggi ke penjara setelah berkunjung ke makam nenek Reva sebelumnya. Dengan mengandalkan koneksi dari Geral dan juga Nevan, sangat mudah bagi keduanya untuk melakukan apapun di tempat itu.
Anggi memperlihatkan smirk di wajahnya saat memperhatikan penampilan menyedihkan dari Bela saat ini. Sangat berbeda jauh dengan wanita yang dulu merebut suaminya.
"Ternyata ada hari dimana kamu memiliki penampilan seperti ini.. " Sindir Anggi tersenyum puas
"Tidak perlu basa-basi lagi. Terus terang saja, apa tujuanmu datang kesini?" Ketus Bela tak ingin beromong kosong dengan Anggi yang hanya akan semakin menjatuhkan dirinya
"Tidak perlu begitu terburu-buru, kita masih memiliki banyak waktu untuk bercengkrama" Tutur Anggi
Bela hanya mendengus kesal menatap Anggi. Wanita yang dari sejak dulu sangat dibencinya karena semua yang dimilikinya. Karena alasan itu jugalah, Bela melakukan berbagai macam cara untuk merebut suami Anggi.
...
Tak ingin tinggal lebih lama disana, Bela akhirnya bangkit dari duduknya berniat untuk keluar dari ruangan, tak ingin melanjutkan pembicaraan menyebalkan ini.
Namun tentu saja, belum sempat Bela keluar dari ruangan Anggi sudah lebih dahulu mencengkram lengannya membuatnya terhenti dan berbalik menghadap Anggii. Hanya dengan isyarat mata, Geral yang sejak tadi hanya menyaksikan keduanya kini bangkit dan keluar dari ruangan.
"Lepas! Penjaga.. " Teriak Bela berusaha meloloskan diri
Namun cenkraman tangan Anggi benar-benar kuat membuat Bela kewalahan melepaskan tangannya dan berakhir meringis kesakitan.
"Sudah kukatakan untuk tidak terburu-buru, kamu masih memiliki urusan denganku" Tutur Anggi tajam penuh penekanan sebelum menghempaskan cengkaramannya membuat tubuh Bela terbentur di dinding
"Sssttt... " Bela meringis kesakitan mengingat tubuhnya yang sudah berulang kali mendapat pukulan dari teman satu selnya
Anggi yang kini menyeringai menghampiri Bela, lalu meraih rambutnya dan menariknya keras "Kenapa? Sakit hah?" Sarkaz Anggi tajam
"Saat dulu kamu menfitnah ku selingkuh, aku masih bisa tahan. Tapi kali ini, kamu menyiksa anakku dan bahkan membuatnya keguguran? Apa menurutmu aku akan tetap diam dan menahannya?" Bentak Anggi dengan suara mengcekam
Geral yang berada di luar ruangan hanya diam bersamdar di depan pintu dengan seorang penjaga yang sudah bisa menebak apa yang terjadi di dalam sana.
__ADS_1
"Bagaimana jika kamu memanggil dokter? Aku pikir wanita itu akan membutuhkannya saat keluar nanti" Tutur Geral menyarankan, bukan karena kasihan tapi karena wanita itu masih harus bertahan hidup agar Nevan bisa terus melanjutkan siksaannya
Penjaga itu berfikir sejenak, namun sesaat kemudian sebuah hantaman dari dalam ruangan terdengar begitu keras dari luar. Barulah penjaga itu segera berlari untuk memanggil dokter.
Semetara Geral kini masuk kembali ke dalam ruangan setelah mencabut kunci pintunya agar ia bisa menguncinya dari dalam.
"Oouhh.. Sstt.. " Geral sedikit merinding saat berbalik, suara pukulan yang tadi didengarnya dari luar berasal dari kursi yang dilempar oleh Anggi pada Bela
Cairan merah kental kini perlahan mengalir dari atas kepalanya. Namun kesadaran Bela masih tetap terjaga meski ia sedikit linglung. Setelah mendapat beberapa tamparan dan pukulan dari kursi yang dilayangkan Anggi tadi.
"Cu-kup.. Hen-tikan.. " Rintih Bela memohon agar Anggi berhenti
"Cukup? Ini masih belum seberapa dengan apa yang dialami Reva dan kamu bilang cukup? Bahkan jika kamu tergeletak tak berdaya di lantai ini, aku juga tidak akan perduli sama sekali" Bentak Anggi geram penuh emosi
"Kalau bunuh bunuh aku, bunuh aku sekarang juga..!" Pekik Bela balas berteriak sembari menatap Anggi dengan mata berkaca-laca karena manahan sakit
Anggi tertawa mendengar permintaan Bela "Tubuhmu berkata lain Bela.. Kamu meminta kematian dengan tubuh gemetar ketakutan seperti ini?" Ucap Anggi sembari mencengkram dagu Bela
Air mata yang sejak tadi tertahan kini perlahan mengalir keluar. Ia benar-benar dihadapkan pada pilihan yang sulit. Bahkan meskipun jika dia selalu berbuat jahat, ia tetaplah seorang ibu yang perduli pada anak-anak nya.
"Tidak.. Aku mohon.. Jangan pernah sekalipun menyentuh anakku.. Dia sudah cukup menderita.. " Pinta Bela memohon-mohon
Harga dirinya yang begitu tinggi itu kini jatuh, hingga membuatnya memohon-mohon pada wanita yang dulu begitu sangat dibenci nnya itu dan bahkan hingga saat ini juga.
"Tidak perlu khawatir. Selama kamu bisa dengan patuh dan tidak berbuat apapun di tempat ini, maka aku tidak akan menyentuh anakmu" Ucap Anggi serius
Betapapun marahnya dia, ia tetap tidak akan melampiaskan kemarahannya pada orang yang tidak berhubungan.
"Ayo pergi.. " Tutur Anggi pada Geral, membiarkan Bela yang kini menyandarkan tubuhnya di dinding tak berdaya
"Kamu memanggil dokter?" Tanya Anggi pada penjaga saat keluar dari ruangan dan bertemu dengan seorang dokter
"I-iya.. " Jawab penjaga itu gugup terutama setelah mendengar perlakuan Anggi dari luar
__ADS_1
"Obati dia dengan baik. Aku pasti akan kembali dan bermain dengannya jika ada waktu" Tutur Anggi tersenyum misterius pada penjaga dan juga dokter itu
Setelah mengucapkan itu, Anggi laku berbalik pergi begitupun dengan Geral yang hanya bersiul santai mengikuti Anggi dari belakang.
Sementara penjaga dan juga dokter tadi, segera masuk ke dalam untuk memeriksa kondisi dari Bela.
"Apa tidak apa-apa membiarkannya berbiat seperti ini? Apa kamu tidak akan melaporkannya? " Tanya Dokter itu merasa kasihan
"Percuma saja. Identitas laki-laki di belakang wanita tadi bukan seseorang yang bisa disingging begitu saja. Entah apa yang diperbuat wanita ini, hingga menyinggung orang seperti mereka" Tutu penjaga itu ikut merasa kasihan namun tidak bisa berbuat apa-apa selain diam
...***...
Anggi dan Geral kini berada di mobil setelah keluar dari penjara, dengan Anggi yang masih berusaha mengatur emosinya.
"Jadi kita kembali ke hotel? " Tanya Geral menanyakan tujuan Anggi selanjutnya
"Aku lapar" Jawab Anggi kemudian
"Aku baru akan menyarankannya. Kalau begitu ayo ke restoran terdekat" Tutur Geral sembari menyalakan mobilnya dan melaju keluar ke jalan raya
"Aku masih belum puas menyiksanya" Ucap Anggi menyandarkan tubuhnya di kursi
"Masih ada banyak kesempatan. Dia seharusnya tidak akan berani untuk berbuat masalah" Balas Geral
"Jika aku tahu akan seperti ini, aku sudah pasti akan membungkamnya saat dia merebut suamiku dulu" Geram Anggi mengingat masa lalunya
"Sudahlah.. Kamu hanya akan semakin emosi jika terus memikirkannya"
"Bukankah hal itu juga berlaku untukmu? Aku merasa sedikit canggung berbicara denganmu saat ini.. " Tutur Anggi tiba-tiba mengalihkan pembicaraan dan mengungkit soal kejadian saat keduanya mabuk
"Aku pikir kamu tidak mengingatnya.. "
"Entahlah. Aku hanya mengingat sebagian.. Aku tidak benar-benar mengingatnya" Ucap Anggi menatap ke luar jendela bingung dengan perasaannya
__ADS_1