
Berulang kali, Reva berjalan bolik-balik di depan meja riasnya. Memeriksa make up dan pakaian dress hitam yang dikenakannya jika saja terlihat tidak sopan.
Perasaanya tidak menentu. Tak kalah ia membayangkan untuk bertemu dengan calon ayah dan ibu mertuanya. Ini bukan pertama kalinya mereka bertemu, tapi entah mengapa Reva merasa sedikit gugup karena kali ini ia datang sebagai calon menantu bukan sebagai seorang pacar.
"Apa yang terjadi?" Tanya Nevan menghampiri Reva setelah melihat raut wajah pucat miliknya
"Aku sedikit gugup" Jawab Reva menghela nafasnya berat
Nevan tersenyum simpul "Tidak apa-apa. Ini bukan pertama kalinya kalian bertemu, jadi apa yang membuatmu gugup?" Tanyanya kemudian dengan alis terangkat sebelah
"Ini berbeda Nevan. Sebelumnya aku sama sekali tidak pernah berfikir, untuk menjadi menantu keluarga ini"
"Jadi maksud kamu, sebelumnya kamu tidak memiliki niat apapun untuk menikah denganku?" Ekspresi Nevan berubah serius setelah mendengar ucapan Reva tadi
Menyadari perkataannya barusan, Reva menjadi semakin gugup "Bukan begitu, aku hanya belum pernah memikirkannya" Tutur Reva mencoba meluruskan
Nevan mengusap rambut Reva, ia paham akan maksud dari Reva. Ia hanya ingin sedikit menggodanya saja. Bahkan jika itu dirinya, ia juga pasti akan merasa gugup jika akan bertemu dengan calon mertua.
"Tidak apa-apa. Cobalah bersikap seperti biasanya" Tutur Nevan mencoba menenangkannya
"Aku kuusahakan.. " Balas Reva kembali menghela nafasnya berusaha menenangkan dirinya
"Bagaimana dengan Arya dan Bagas?" Tanya Nevan kemudian
"Mereka setuju untuk datang.. " Jawab Reva
"Apa ini baik-baik saja? Bagaimana dengan ayahmu?" Meski tidak ingin mengungkitnya, Nevan tetap melakukannya karena bagaimana pun Reva masih memiliki seorang ayah
"Entahlah.. Aku tidak tahu apa aku harus mengunjunginya atau tidak " Jawab Reva menundukkan kepalanya dilema
"Kita akan memikirkannya nanti, ayo berangkat sekarang" Ajak Nevan setelah tadi menghubungi keluarganya untuk memastikan waktu kedatangan mereka
...
Keduanya tiba di restoran setelah setengah jam lebih perjalanan. Keluarga Nevan masih belum tiba saat keduanya tiba di ruangan dengan ukuran 20 meter persegi dengan sebuah meja bundar besar tepat di tengah dengan berbagai macam hidangan makanan di atasnya.
"Mereka belum tiba.. " Tutur Nevan lalu membawa Reva duduk di pangkuannya
__ADS_1
"Nevan a-apa yang kamu lakukan? Apa kamu tidak bisa menahannya? " Protes Reva berusaha melepaskan diri namun lengan Nevan melingkad dengan erat di pinggangnya
"Aku hanya ingin memelukmu, apa yang kamu pikirkan?" Ucap Nevan dengan senyum licik di wajahnya
"Ughh.. " Reva memainkan wajahnya malu, sekilas ia berfikir jika Nevan akan menerkamnya di tempat itu
"Turunkan aku, bagaimana jika orang tuanmu datang" Pinta Reva dengan wajah yang kini merona
Klik..
Baru saja dikatakan, pintu ruangan sudah terbuka. Reva dengan cepat menjauh dari Nevan, yang hanya memperlihatkan smirknya.
"Apa kalian benar-benar harus bermesraan di tempat seperti ini.. " Ujar Arya melihat sekilas apa yang terjadi tadi
"Ini salahmu.. " Tutur Reva menatap Nevan geram
"Tidak apa-apa untuk menjadi sedikit bergairah di masa muda.. " Tutur Ibu Nevan yang ternyata juga sudah tiba bersama dengan yang lainnya
"Nevaaann.. Dasar Bajingan mesum.. " Gerutu Reva dalam hatinya
Wajahnya memerah menahan malu, terutama setelah melihat yang lainnya menahan untuk tidak tertawa. Terutama Kevin yang sejak tadi menatapnya mengejek.
Reva sudah menebaknya sebelumnya, wajar jika mereka tidak memberikan izin mengingat kedua anaknya sudah tinggal di luar dan sekarang anak bungsunya justru menginginkan hal yang sama.
"Tidak apa-apa. Ikuti saja permintaan mereka. Sekarang ayo duduk di sampingku" Tutur Reva mempersilahkan Regan duduk di sampingnya
"Ekkheemm.. " Nevan berdehem membuat semuanya menatap ke arahnya yang saat ini masih berdiri
"Kenapa? Ayo duduk" Tanya Reva dengan polosnya
Ibunya duduk di samping kiri Reva dan sekarang adik bungsunya malah duduk di samping kanan Reva.
"Regan.." Panggil Nevan menarik kursi di samping Kevin
Hanya dengan melihat raut wajah Kakaknya, Regan bisa dengan jelas paham akan maksud dari tatapannya itu. Ia lalu dengan patuh berdiri dan duduk di kursi itu, membiarkan Nevan duduk di samping Reva.
"Dasar kekanak-kanakan. Itu hanya sebuah kursi Nevan.. " Cibir Reva karena lagi-lagi Nevan memperlihatkan sisi posesif nya
__ADS_1
"Aku tahu. Ini hanya kursi. Tapi bukankah sorotan utamanya harus duduk berdampingan?" Nevan meraih tangan Reva dan menggenggamnya, memperlihatkan cincin lamaran di tangannya dengan penuh bangga
"Sudah cukup, apa kamu benar-benar harus memamerkannya pada keluargamu sendiri" Sahut Ayah Nevan yang mulai geram dengan sikap tak tahu malu anaknya itu
"Tentu saja aku harus memamerkannya. Bukankah itu tujuan dari keberadaan cincin ini" Balas Nevan melirik ke arah Kevin dan Regan bergantian
"Apa Kakak benar-benar harus cemburu padaku dan Regan" Sahut Kevin
"Tentu saja. Karena bagaimana pun kalian itu laki-laki sstt.. " Nevan mengakhiri ucapannya dengan ringisan tak kala Reva mencubit pahanya karena sudah berlebihan
"Sudah cukup, ini bukan tujuan dari kedatangan kita hari ini" Pinta Reva tegas agar Nevan berhenti memperlihatkan sosok posesif nya itu
"Apa yang akan kamu lakukan kedepannya Reva.. " Batin Arya menyeringai membayangkan keduanya, yang entah akan baik-baik saja atau tidak di masa depan, mengingat Reva yang selama ini selalu bebas dan tidak ingin terkekang justru memiliki pasangan posesif seperti Nevan
"Kakak memang harus bersikap seperti itu. Bahkan jika itu diriku, aku juga pasti akan bersikap seperti itu jika memiliki pasangan seperti Kak Reva" Sahut Regan yang begitu tiba-tiba saja membuat yang lainnya kaget dan menatapnya bersamaan
"Regan? Cukup.. " Pinta Kevin yang duduk di sebelahnya agar berhenti membicarakan omong kosong tidak jelas ini karena ini bukan lah tujuan dari pertemuan hari ini
"Anak ini... Sebaiknya kita makan, sembari membicarakan pernikahan kalian.." Tutur Ibu Nevan menengahi
"Itu benar. Sebaiknya kita membicarakan persiapan pernikahan kalian" Sahut Bagas ikut setuju
"Jadi kapan kalian berniat menikah?" Tanya ayah Nevan langsung tanpa basa-basi lagi
"Secepatnya. Minggu ini juga boleh.. " Jawab Nevan dengan semangatnya
"Itu terlalu cepat Nevan.. " Protes Reva tak setuju
"Reva benar. Minggu ini terlalu cepat. Lagi pula bagaimana dengan keluargamu Reva? Apa kamu benar-benar tidak akan mengabari ayahmu?" Tanya Ayah Nevan serius
"Aku tidak tahu Om.. Aku akan memikirkannya, jika memang tidak bisa, aku akan meminta Kak Arya dan Kak Bagas menjadi wakil ku" Tutur Reva bingung
Ayah Nevan menatap Arya dan Bagas, yang kemudian diangguki oleh keduanya yang memang sudah paham akan apa yang dirasakan Reva saat ini.
"Itu terserah kamu. Tapi akan lebih baik jika kamu mengabari mereka, seharusnya mereka tidak akan bertindak macam-macam denganmu jika mempertimbangkan status dari calon suamimu ini.. " Bukannya melebihkan status anaknya tapi faktanya tidak banyak orang yang berani menyinggung Nevan yang begitu terkenal dengan sebutan Mafia kejamnya
"Aku akan memikirkannya.. "
__ADS_1
"Tidak apa-apa Sayang. Jika mereka tidak menyambutmu, pintu keluarga Caleis akan selalu terbuka untukmu. Bagaimanapun kamu sudah menjadi bagian dari keluarga ini" Tutur Ibu Nevan memperlihatkan sisi keibuannya
"Itu benar kak. Kak Reva tidak perlu khawatir" Seru Regan ikut memberi dukungan yang langsung mendapat tatapan dari Nevan yang duduk di sampingnya