Belenggu Cinta, Mafia Kejam

Belenggu Cinta, Mafia Kejam
Mabuk


__ADS_3

Setelah beberapa jam perjalanan yang cukup melelahkan, Nevan kini tiba kembali di kediamannya, dengan Reva yang kini tertidur pulas dalam rangkulannya.


Setibanya di dalam rumah, Nevan menjumpai Kevin dan Bagas yang sejak tadi menunggu kedatangan keduanya. Khususnya Bagas yang kini segera menghampiri keduanya cemas.


"Sssttt" Nevan memberi isyarat untuk tidak membuat suara agar Reva tidak terbangun


"Bantu aku menghubungi Dr. Dani" Pintanya menoleh kembali ke pada Bagas, sebelum berlalu pergi membawa Reva naik ke kamarnya


Setelah membaringkan Reva di kasur, Nevan kembali turun ke bawah menemui keduanya sembari menunggu Dr. dani datang untuk memerikaa keadaan Reva.


....


Nevan mengambil segelas air putih di dapur sebelum akhirnya menghampiri keduanya di sofa ruang tamu.


"Bagaimana keadaannya?" Tanya Bagas cemas


Jika bukan karena larangan dari Arya, ia mungkin akan segera datang setelah mendengar apa yang terjadi pada Reva.


"Reva baik-baik saja. Aku hanya ingin memastikan keadaanya sekali lagi" Jawab Nevan mengenai alasannya memanggil Dr. Dani, yang merupakan dokter pribadi keluarganya


Bagas menghela nafasnya lega lalu kembali menatap Nevan "Bagaimana dengan wanita itu?" Tanya Bagas mengenai ibu tiri Reva


"Dia di penjara. Aku baru saja mendapat kabar dari Arya sebelum tiba disini"


"Penjara?"


"Iya. Penjara adalah tempat yang sesuai untuknya. Karena jika aku yang turun tangan, aku pasti akan langsung membunuhnya. Dan aku tidak ingin hal itu terjadi"


Bagas mengangguk mengiyakan, sama seperti Nevan, ia juga pasti akan langsung membunuh Ibu tiri Reva jika berhadapan langsung dengannya.


"Kamu bisa mengirim beberapa orang mu kesana. Tapi ingatkan mereka untuk tidak membunuhnya" Ucap Nevan memberi saran


Kevin yang sejak tadi hanya diam mendengar kini merinding ngeri mendengar percakapan keduanya.


"Aku pasti akan mengirimkannya beberapa.. " Seru Bagas mengepalkan tangannya penuh emosi

__ADS_1


"Oh iya.. Mungkin Arya belum memberitahumu, tapi Reva baru saja mengangkat seorang Kakak angkat yang baru"


"Kakak angkat?" Bagas mengerutkan keningnya bingung


"Sebelum kesini, Reva berkata jika Rehan sudah menjadi Kakak angkatnya. Dia hampir kehilangan nyawanya, jadi aku hanya menyetujui keinginan Reva saat ini. Mungkin besok mereka akan tiba disini" Ucap Nevan memberitahu Bagas terlebih dahulu


"Aku tidak terlalu mempermasalahkannya. Selama Reva senang, bukan masalah besar untuk menjadikannya saudara" Ucap Bagas tak perduli


"Aku akan naik ke atas. Beritahu Dr. Dani untuk naik ke atas, jika dia sudah tiba" Perintah Nevan sebelum akhirnya melekang pergi dan naik ke kamarnya sembari membawa gelasnya yang berisi air putih yang memang sejak tadi belum di minumnya karena ia mengambilnya untuk Reva


20 menit kemudian..


Dr. Dani tiba di rumah Nevan dan segera memeriksa kembali kondisi Reva yang masih belum stabil sepenuhnya. Tak pernah ia bayangkan jika kali kedua ia datang memeriksa Reva adalah hari dimana Reva telah kehilangan janin yang sebelumnya diperiksa olehnya.


"Aku sudah memeriksanya, dia hanya perlu meminun obat dan vitaminnya dengan rutin. Dan ingat untuk tidak membuatnya sedih.. " Ucap Dr. Dani memperingati


"Aku tahu itu. Bahkan jika dia tidak terlihat sedih beberapa hari ini, aku tetap tahu jika dia masih belum bisa melupakan hal itu" Balas Nevan mengerti


Nevan tahu jelas akan hal itu, mengingat dirinya sendiri yang bahkan belum sepenuhnya mengikhlaskan anaknya. Namun demi Reva, selain berusaha tetap kuat tak ada lagi yang bisa dilakukannya.


Setelah berbincang sedikit dengan Dr. Dani, Nevan kembali masuk ke dalam kamarnya. Ia berbaring di samping Reva, menatapnya beberapa saat hingga akhirnya tertidur di sampingnya.


Keesokan paginya, Reva terbangun karena merasa lapar. Sejak tiba semalam, ia tidak sempat makan malam karena tertidur. Nevan yang semalam tertidur di sampingnya juga sudah tidak ada.


Dengan langkah tertatih dan penampilan acak-acakannya Reva turun ke lantai bawah sembari memegangi perutnya yang keroncongan.


"Bii.. " Panggil Reva setibanya di dapur namun tak ada satupun yang menyahut


Karena tak ada yang menyahut, Reva lalu berjalan ke arah kulkas memutuskan untuk memasak sendiri. Ia mengeluarkan sirloin dari kulkas, berniat untuk membuat steak yang menurutnya lebih praktis untuk saat ini.


Hanya butuh waktu 10 menit untuk Reva menyiapkan sarapan paginya. Tak lupa ia mengambil sebotol red wine, di ruangan penyimpanan wine milik Nevan.


...


Setelah menghabiskan steak miliknya, Reva berjalan ke sekitar rumah yang sejak tadi tampak begitu sepi. Hingga tanpa sadar, ia kini sudah tiba di bangunan belakang.

__ADS_1


Reva berjalan masuk dengan tangan yang masih memegang botol wine yang di minumnya tadi. Wajahnya bahkan sudah memerah karena minum terlalu banyak.


"Nevan.. "


Reva yang baru tiba di ruangan gym, bersandar di pintu sembari memanggil Nevan yang ternyata tengah berolah raga sejak tadi bersama para pengawalnya.


Nevan yang mendengar suara Reva, berbalik dan segera menghentikan aktivitasnya lalu menghampirinya "Kamu minum wine?" Tanya Nevan kaget melihat botol yang dipegang Reva


"Hmm.. Aku hanya meminum sedikit" Jawab Reva terkekeh kecil


"Ini sudah hampir habis Reva, bagaimana mungkin itu sedikit" Ucap Nevan mengambil botol wine itu dengan Reva yang kini bersandar di dadanya linglung


"David.. " Panggil Nevan pada salah satu pengawalnya agar mengambil botol wine itu


"Aku masih ingin minum Nevan.. " Gerutu Reva berusaha merebut kembali botol wine itu


Namun segera ditahan oleh Nevan yang kini mengangkat tubuhnya ala bridal style.


"Ini masih pagi dan kamu sudah mabuk.. " Ucap Nevan menggelengkan kepalanya


Nevan membawa Reva ke dapur dan mengambil segelas air untuknya "Ayo minum.. " Pinta Nevan lembut


Reva hanya menurut dan meminum air itu hingga habis. Ia lalu mengecap-ngecap bibirnya yang sedikit terasa manis.


Sorot mata Reva kini berpindah pada bibir milik Nevan yang terlihat begitu menggoda, lalu tanpa aba-aba, Reva menyatukan bibirnya dengan Nevan, mencoba memainkan lidahnya saat Nevan merespon dan membuka mulutnya memberi izin.


Namun belum sempat Nevan membalas sepenuhnya ciuman dari Reva. Reva sudah terlebih dahulu munarik bibirnya "Bukankah itu terasa manis.. " Ucap Reva menjilat bibirnya yang mengilap


Nevan yang melihat ekspresi menggoda dari Reva seketika menyandarkan kepalanya di pundak Reva "Revaaa.. Kelak jangan pernah mabuk di depan orang lain selain aku.. " Pinta Nevan tak ingin jika Reva memperlihatkan ekspresinya ini pada orang lain


Setelah mengatakan hal itu, Nevan kembali mengangkat tubuh Reva. Kali ini berbeda dengan yang tadi, karena saat ini posisi Reva tengah memeluk Nevan dengan kaki melingkar di pinggangnya dan kepala bersandar di dada Nevan.


Nevan membawa Reva naik ke kamarnya, lalu masuk ke dalam kamar mandi berniat untuk membersihkan dirinya dan juga Reva yang saat ini beraroma wine.


Nevan membuka pakaian Reva lalu membantunya masuk ke bathub, setelah itu dirinya. Keduanya berendam di bathub, dengan Nevan yang sibuk mengoleskan sabun di tubuh Reva. Sementara Reva bermain-main dengan busa sabun.

__ADS_1


"Akan gawat, jika kamu terlalu sering bergerak Reva.. " ucap Nevan memperingati sembari mengusap punggung Reva, membuatnya sedikit tegang karena posisi keduanya yang saling berhadapan


Reva hanya bersenandung senang, tidak perduli dengan peringatan dari Nevan dan kembali bermain dengan busa sabun yang semakin banyak.


__ADS_2