
Doorrr...
Suara letusan peluru menggema di seluruh rumah. Suaranya tegang yang sejak tadi menyelimuti kediaman itu, kini berganti dengan perasaan kaget dan panik karena suara peluru yang begitu tiba-tiba.
Reva yang menjadi sasaran dari peluru itu, kini duduk tersungkur dengan kaki lemas. Tubuhnya bergetar hebat, merasakan darah yang perlahan menyentuh kulitnya.
"Re-rehan! A-apa yang kamu lakukan?" Tanya Reva dengan nada bergetar
Air matanya kini jatuh tak terbendung lagi. Ia yang seharusnya menjadi target dari peluru itu, dalam sekejab berganti saat Rehan dengan cepat memeluk Reva.
"Kamu..baik-baik..saja kan?" Tanya Rehan masih mengkhawatirkan Reva bahkan meski tubuhnya sudah kehilangan banyak darah
"Hikss.. Hiksss.. Ini bukan waktunya kamu mengkhawatirkan aku Rehan hikss.. Darah.. hikss.. " Tangis Reva semakin keras saat darah merah di tangannya semakin banyak
"Panggil ambulance Nevan.. Ah tidak.. Bawa Rehan ke rumah sakit... hiks.. Dia berdarah.. Hikss.. " Pinta Reva saat Nevan datang menghampiri dengan raut wajah khawatir nya
Ini bukan pertama kalinya, Rehan mempertaruhkan nyawanya sendiri untuk melindunginya. Namun merasakan perasaan seperti itu lagi, membuat Reva benar-benar merasa terpukul. Seolah-olah dirinya benar-benar hanya beban yang bahkan tidak bisa melindungi dirinya seperti ini.
"Nevaann.. " Pinta Reva sekali lagi karena Nevan yang bingung
Namun belum sempat Nevan melakukannya, ayah Nevan sudah datang terlebih dahulu dan membawa Rehan.
"Urus wanita itu, tapi jangan membunuhnya" Perintah Negan pada Rangga
Setelah mengatakan itu, Nevan lalu menggendong Reva dan mengikuti ayahnya menuju ke rumah sakit. Mereka memutuskan menggunakan helikopter yang digunakan Nevan tadi untuk mempersingkat waktu perjalanan sebelum terjadi hal yang tidak-tidak pada Rehan terutama karena kehilangan banyak darah.
Sementara Nevan dan ayahnya membawa Rehan ke rumah sakit. Rangga dan yang lainnya termasuk Ibu dan Kakak angkat Reva, tetap berada di sana. Khususnya Ibu Reva yang kini menyadari kesalahannya karena tidak mencurigai motif tersembunyi Siska mendekatinya sejak awal.
__ADS_1
"Kalian yang disana, bereskan kekacauan di rumah ini. Obati yang terluka dan makamkan yang sudah meninggal. Mengenai ganti rugi dan semacamnya, bisa kita bicarakan setelah mengurus wanita ini" Perintah Anggi pada bawahan Nevan maupun Rehan yang masih berada di ruangan itu
Meski peluru itu mengenai Rehan, fakta bahwa Siska baru saja hampir membunuh Reva benar-benar sudah menyulut emosi Anggi termasuk Bagas dan Arya.
"Apa yang akan kita lakukan pada wanita ini.. " Ucap Arya meraih rambut Siska dan menariknya kebelakang dengan keasarnya
"Reva satu-satunya orang yang tidak bisa kamu sentuh di ruangan ini. Dan kami justru dengan terang-terangkan menodongkan pistolmu ke arahny.. Bahkan jika kamu meminta kematian, aku juga tidak akan memberikanmu dengan mudahnya.."
Siska yang sejak awal memang berniat untuk bunuh diri setelah menmbak Reva kini digagalkan saat Arya yang tepat berada didekatnya tadi bertindak lebih cepat dan menangkapnya terlebih dahulu.
"Arya..!" Tegur Bagas saat tangan Arya yang sejak tadi mencengkerak dagu Siska turun ke lehernya dan mencekiknya
"Aku tahu batasanku, bukankah sudah kukatakan, bahkan jika dia meminta kematiannya sendiri, aku juga tidak akan memberikannya begitu saja" Tutur Arya tahu batasannya
Dibanding memberikan kematian dengan sedikit rasa sakit saja, ia lebih memilih membiarkan Siska tersiksa secara perlahan, sembari merasakan semua rasa sakit yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.
"Bawa dia ke ruangan sekarang" Perintah Anggi dengan nada tajam dan sorot mata penuh emosi ke arah Siska
...***...
Di sisi lain, Rehan yang sudah tiba di rumah sakit langsung ditangani oleh dokter-dokter yang kompeten di rumah sakit itu berkat reputasi keluarga Nevan. Ia kini menjalani operasi untuk mengeluarkan peluru tadi.
Reva yang masih mengalami rasa trauma masih berada dalam dekapan Nevan yang sejak tadi menghiburnya karena tubuh Reva yang tak kunjung berhenti bergetar dan menangis.
"Reva.. Semua akan baik-baik saja, peluru yang nengenainya tidak sampai melukai organ vitalnya.. Jadi kamu tidak perlu begitu khawatir.. Bagaimana pun tubuh Rehan berbeda dengan orang biasanya.. " Ujar Nevan menepuk pundak Reva berusaha menenangkan
"Hikss.. Aku benar-benar orang tidak berguna.. Ini sudah yang kedua kalinya aku membuat dia mempertaruhkan nyawanya.. Hiks.. " Ucap Reva tersedu-sedu
__ADS_1
"Tidak Reva.. Siapapun yang melihat itu, pasti akan melakukan hal yang sama dengan Rehan. Bahkan jika saat itu aku yang berada disana, aku juga pasti akan melakukannya.. " Tutur Nevan yang bukannya membuat Reva semakin tenang, ia justru membuat Reva semakin menangis karena kata-katanya
"A-apa kamu juga ingin meninggalkanku? Lebih baik aku yang terkena tembakan itu, dari pada melihat orang yang aku sayangi terbaring di rumah sakit.. Kamu tidak boleh seperti itu Nevan.. Hiksss.. Jangan pergi dariku..hikss.."
"Bawa dia ke ruangan, Nevan. Tidak baik membiarkannya terus-menerus disini" Tutur Ayah Nevan khawatir akan kondisi Reva yang saat ini benar-benar syok
"Baik Pa" Tutur Nevan kembali mengangkat Reva
Namun Reva dengan cepat menggenggam tangan Nevan dan mencegahnya "Tidak.. Bagaimana dengan Rehan.. Aku harus memeriksanya sendiri.. " Ucap Reva
"Pergilah Nak. Rehan akan baik-baik saja, Paman yang akan mengurusnya. Jadi tunggulah di ruangan, setelah Rehan selesai di operasi, Paman pasti akan langsung mengabari. Jadi sebelum itu, tenangkan dirimu dan istirahatlah disana" Ucap Ayah Nevan menenangkan Reva layaknya seorang ayah pada putrinya
Mendengar nada sendu penuh ketulusan seperti itu, membuat Reva sedikit lebih tenang dan akhirnya mengangguk mengiyakan perkataan calon ayah mertuanya itu.
Nevan lalu membawa Reva ke salah satu kamar VIP di rumah sakit itu, yang memang telah dipersiapkan oleh Ayah Nevan saat mengurus prosedur masuk Rehan. Kamar yang berada tepat di samping kamar Rehan nantinya.
"Kamu pasti sangat menderita.. " Ucap Nevan setelah membaringkan Reva di kasur dan menyelimuti nya
Nevan yang baru menyelimuti nya, tak tahan dengan kondisi tubuh Reva yang semakin kurus. Bukan hanya itu, terdapat beberapa lupa tusukan di tubuhnya, khususnya di pergelangan tangannya yang langsung menjadi fokus Nevan sejak melihat Reva muncul di ruangan tadi.
"Apa ini sakit?" Tanya Nevan memegang dengan lembut tangan Reva lalu mengecupnya pelan
Reva yang sudah sedikit membaik dan tidak begitu syok seperti sebelumnya, menggelengkan kepalanya dengan senyum kecil di wajahnya. Sedikit rasa syukur kini dirasakannya karena bisa bersama kembali dengan Nevan, meski ia masih tetap terganggu akan kondisi Rehan saat ini.
"Aku akhirnya bertemu denganmu.. " Ujar Reva dengan air mata yang masih mengalir membuat matanya bengkak karena sejak tadi menangis
Tak hanya Reva, Nevan juga merasakan hal yang sama. Ia benar-benar senang karena bisa bertemu dengan kekasihnya yang seharusnya sudah menjadi istrinya namun digagalkan karena semua masalah yang terjadi.
__ADS_1
"Rehan pasti akan baik-baik saja. Jadi sekarang, tutup mata kamu. Aku akan berjaga di sampingmu" Pinta Nevan memohon seraya mengelus wajah Reva lembut
"Iya.. " Ujar Reva mengangguk dengan perasaan sedikit lebih lega dari sebelumnya