Belenggu Cinta, Mafia Kejam

Belenggu Cinta, Mafia Kejam
Peringatan Intan


__ADS_3

"Biarkan aku pergi, aku tidak bisa tinggal di rumah ini" Pinta Intan pada Rangga yang baru saja tiba di kamar


"Tidak bisa. Tinggal disini lebih aman untukmu" Ucap Rangga tidak setuju


"Kamu tidak berhak memutuskannya. Ini hidupku, aku berhak memutuskan dimana aku tinggal" Ucap Intan membela dirinya


"Bagaimana jika terjadi hal seperti kemarin? Apa kamu benar-benar tidak takut? Jangan lupa kamu sendiri yang masuk ke dalam hidupku, jadi seharusnya kamu pasrah saat aku memintamu tinggal di sini"


"Tidak. Aku harus pergi dari rumah ini. Aku sama sekali tidak merasa aman tinggal disini" Pekik Intan bersikeras


"Intan, apa kamu benar-benar harus menentang ku seperti ini" Bentak Rangga menatap Intan penuh amarah


"Iya. Aku harus keluar dari rumah ini apapun yang terjadi. Memangnya tahu apa kamu soal hidupku?" Teriak Intan tak kalah kerasnya


"Aku memang tidak tahu-tahu apa tentangmu. Karena itulah katakan padaku apa yang kamu sembunyikan dariku"


"Cukup. Tidak ada yang bisa aku katakan pada mu. Semua yang terjadi karena keinginanku sendiri. Karena itulah, biarkan aku pergi dari rumah ini. Aku tidak suka berada disini"


"Tidak akan. Kamu akan tetap tinggal di sini hingga kamu melahirkan" Ucap Rangga berniat meninggalkan kamar


Namun sebelum ia sempat keluar dari kamar, Intan dengan cepatnya berlari ke meja rias dan menjatuhkan vas bunga di atas meja.


Prannkkk...


"Biarkan aku pergi.. " Ucap Intan dengan tangan memegang beling dari vas yang pecah tadi dan meletakkannya di leher


"Intan! Apa yang kamu lakukan? " Rangga sontak mendekat khawatir


"Jangan mendekat.. Jika kamu terus-menerus memaksaku seperti ini, lebih baik aku mati" Ucap Intan mengancam dengan beling yang kini perlahan menggores kulitnya membuat darah merah kental perlahan menetes di darahnya


"Lepaskan itu. Kita bisa membicarakannya baik-baik" Pinta Rangga dengan suara pelan berusaha membujuk Intan untuk melepas beling itu


...


Ditengah perdebatan keduanya, Reva dan ketiganya yang masih berada di ruang tamu segera naik ke kamar Intan untuk memeriksan terutama setelah mendengar suara pecahan vas tadi.


"Apa yang terjadi disini?" Tanya Reva saat tiba disana dan melihat Intan tengah memegang beling di tangannya "Intan! Apa yang kamu lakukan? Itu berbahaya" Lanjutnya sembari mencoba mendekat

__ADS_1


"Jangan mendekat. Tidak ada satupun dari kalian yang boleh mendekat. Jika tidak, aku pasti akan langsung bunuh diri disini" Ucap Intan mengancam dengan sorot mata tanpa rasa takut sedikit pun akan kematian


"Letakkan itu Intan, kita bisa membicarakannya baik-baik" Ucap Rangga kembali membujuk


"Biarkan aku pergi dan aku akan melepaskannya" Pinta Intan bersikukuh pergi dari rumah itu


"Apa yang membuatmu begitu takut tinggal di rumah ini hingga berani mempertaruhkan nyawamu seperti ini?" Tanya Nevan yang sejak tadi diam menyaksikan


"Dia sama dengannya" Batin Intan melihat Nevan yang sama menakutkannya dengan Rehan


"Aku benci sorot mata itu.. " Jawab Intan serius


"Biarkan dia pergi" Ucap Nevan setelah melihat raut wajah takut sekaligus marah yang diperlihakan oleh Intan bahkan hanya dari sorot matanya saja


"Kamu serius?" Tanya Arya


"Iya. Aku tidak tahu apa yang dia takuti saat ini, tapi lebih baik membiarkannya pergi. Kita masih bisa mengawasinya di luar. Jadi ikuti permintaannya sebelum dia benar-benar bunuh diri di rumah ku" Ucap Nevan


"Lepaskan itu hmm? Itu berbahaya untukmu. Setidaknya coba pikirkan tentang janinmu" Ucap Reva menenangkan Intan


Berkat ucapan dari Nevan dan bujukan Reva, Intan pada akhirnya melepaskan kaca beling itu dari lehernya yang kini memperlihatkan goresan.


Nevan, Arya dan Dr. Dani memilih pergi membiarkan Reva merawat dan berbicara dengannya.


"Kamu benar-benar tidak ingin tinggal disini?" Tanya Reva kemudian


"Iya. Keputusanku sudah bulat. Aku tidak akan tinggal di sini" Ucap Intan sudah membulatkan tekadnya


"Baiklah. Aku tidak akan memaksamu. Tapi kamu seharusnya tahu, bahkan jika kamu tinggal di luar, akan tetap ada orang yang akan mengawasimu" Ucap Reva mengingatkan


"Aku tahu dan itu lebih baik ketimbang tinggal di rumah ini" Ucap Intan "Karena kamu memperlakukanku dengan baik, biarkan aku mengingatkanmu. Terlalu percaya diri hanya akan membawamu ke dalam masalah besar. Ada baiknya jika kamu lebih berhati-hati terutama dengan orang yang kamu percaya" Ucap Intan berbisik di telinga Reva pelan


"Apa maksud kamu?" Tanya Reva bingung


"Aku hanya mengingatkanmu. Karena terkadang orang yang paling dipercaya adalah orang yang paling berbahaya" Ucap Intan sebelum menjauhkan tubuhnya kembali


Reva mengerutkan keningnya. Dari ucapan Intan barusan, itu jelas mengisyaratkan jika musuh Nevan berada di sekitarnya dan bahkan menjadi orang kepercayaannya. Tapi berapa kalipun ia berfikir, ia sama sekali tidak mengetahui siapa yang dimaksud Intan.

__ADS_1


"Apa dia alasan kamu meninggalkan rumah ini?" Tanya Reva mulai merasa curiga


"Ini hanya keinginanku sendiri" Jawab Intan memainkan wajahnya tidak ingin terlalu banyak berbicara lagi


"Baiklah. Terserah kamu" Ucap Reva


Bersamaan dengan itu, Rangga yang mengambil kotak p3k kini tiba di kamar dan segera menyerahkannya pada Reva yang lalu mulai mengobati Intan karena lukamya yang tidak begitu serius jadi tidak membutuhkan Dr. Dani untuk mengobatinya.


...***...


Sejak mendengar peringatan dari Intan tadi, Reva sama sekali tidak bisa fokus. Bahkan ia sulit untuk tertidur karena terus-menerus memikirkan perkataannya.


Nevan yang kini berbaring di sampingnya, segera tersadar jika Reva tidak bisa tidur sejak tadi dan terlihat begitu gelisah.


"Ada apa? Sejak tadi kamu terlihat begitu gusar dan gelisah? Apa yang kamu pikirkan? " Tanya Nevan


"Aku memikirkan perkataan Intan tadi siang" Jawab Reva


"Apa yang dia katakan?"


"Dia mengingatkanku untuk berhati-hati dengan orang disekitarku. Apa mungkin orang itu berada di rumah ini tanpa kamu sadari?" Tanya Reva berusaha menebaknya


"Aku memang sudah menduganya siang tadi. Ia terlihat begitu ketakutan, karena itulah aku berfikir jika orang yang memerintah nya ada di rumah ini. Tapi aku tidak menyangka jika dia akan mengakuinya kepadamu"


"Apa yang harus kita lakukan? Sejujurnya aku memang tidak pernah begitu mempercayai orang lain. Selain Kamu dan kedua kakak angkatku, aku tidak begitu mempercayai orang lain yang baru aku kenal beberapa bulan" Ucap Reva


"Bahkan jika itu Rehan ataupun Rangga, aku masih belum mempercayai mereka sepenuhnya" Lanjut Reva kemudian


"Syukurlah. Kamu harus selalu bersikap hati-hati. Mengenai orang itu, akan berbicara dengan Rangga"


"Kamu percaya dengannya?"


"Hmm.. Cuma dia satu-satunya yang aku percaya dari sekian banyak pengawal yang aku punya. Karena itulah, bahkan jika dia tidak sebaik yang lainnya aku tetap menjadikannya orang kepercayaanku"


"Tapi untuk berjaga-jaga, biarkan aku yang melakukannya. Aku sendiri yang akan mencari tahu semua identitas dari orang yang ada dirumah ini"


"Baiklah. Aku serahkan padamu masalah ini" Ucap Nevan merasa tenang

__ADS_1


"Tapi akan lebih bagus lagi jika aku bisa memulihkan data komputer itu lebih cepat"


"Tidak perlu memaksakan dirimu begitu keras. Dengan adanya petunjuk ini, setidaknya kita bisa berhati-hati untuk kedepannya" Ucap Nevan sembari menarik Reva masuk ke dalam pelukannya


__ADS_2