
"Jadi apa yang kamu sukai darinya?" Ucap Daniel menanyakan pendapat Reva mengenai sosok Nevan
"Bukankah sudah kukatakan, aku tidak memiliki hubungan apapun dengannya" Jawab Reva sekali lagi memperjelas hubungannya
"Jadi cinta sepihak" Ucap Daniel berusaha memancing Nevan agar terbuka dengannya
"Tidak. Dia tidak mencintaiku. Aku yakin dia hanya sekedar merasa berhutang budi padaku, tidak lebih" Ucap Reva meluruskan, meskipun hanya pikirannya semata karena ia memang tidak tahu dengan jelas apa sebenarnya yang dirasakan Nevan dan tujuannya membawanya ke rumahnya ini
"Bagaimana kamu bisa tahu aku tidak mencintaimu?" Sela Nevan sembari berpindah duduk ke sisi Reva
"Memangnya kamu beneran cinta?" Tanya Reva blak-blakan menatap Nevan, menunggu jawaban darinya
Begitupun dengan Daniel yang kini memasang telinganya penuh semangat, menantikan jawaban dari Nevan yang sejak dulu tak pernah sekalipun ia lihat dekat apalgi berbicara dengan wanita jika bukan dalam keadaan terpaksa.
"Pulang sana, kehadiranmu tidak dibutuhkan disini" Usir Nevan pada Daniel, membuatnya langsung memasang wajah cemberut
Sementara Nevan, kini beranjak pergi dengan Reva setelah mengusir Daniel.
"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Reva mendorong tubuh Nevan menjauh saat keduanya tiba di kamar
"Bukankah kamu bertanya, apa aku mencintaimu atau tidak" Nevan kembali mendekat ke Reva "Sepertinya aku memang mencintaimu, karena itu lah aku rela memberikanmu tubuh ini untuk membuktikannya" Ucap Nevan mendorong tubuh Reva ke kasur
"Berhenti bercanda. Ini sama sekali tidak lucu" Ucap Reva mendorong tubuh Nevan sedikit menjauh karena tenaganya sama sekali bukan tandingan bagi Nevan
"Aku tidak sedang bercanda" Ucap Nevan lalu menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Reva, berniat memberi tanda disana
"Aaghhhjjj.. " Sontak Reva menutup mulutnya kaget saat ia tanpa sengaja membuat suara yang begitu intens, Nevan hanya sedikit menggigit lehernya dan ia sudah bereaksi seperti itu
Sudut bibir Nevan seketika melengkung memperlihatkan senyum kepuasan di wajahnya karena lagi-lagi ia menemukan spot terbaik untuknya bermain.
"Hentikan.. " Rintih Reva memohon dengan suara yang sedikit bergetar
"Tapi tubuhmu jelas-jelas menginginkannya" Ujar Nevan kembali melanjutkan aksinya hingga ia benar-benar meninggalkan bekas di sana
"Tidak.. Jangan lakukan ini.. " Pinta Reva masih dengan suara bergetar, diikuti air mata yang kini menetes
Melihat air mata Reva, Nevan akhirnya berhenti dan mengusap air matanya "Maaf.. Sepertinya aku benar-benar tidak bisa menahan diriku jika berada di dekatmu" Ucap Nevan lirih lalu mengecup pelan bekas air mata Reva
__ADS_1
Reva hanya terdiam terisak. Apa yang dikatakan Nevan memang benar. Pikiran dan hatinya benar-benar tidak selaras saat ini. Hati dan tubuhnya seolah benar -benar menginginkan sentuhannya lebih dan lebih dari apa yang dilakukannya barusan.
"Apa aku benar-benar sudah jatuh cinta padanya?" Batin Reva menatap langit-langit kamarnya dengan Nevan yang masih berbaring menelungsupkan kepalanya di bahunya
...***...
Setelah kejadian siang tadi, Reva berulang kali melamun bahkan di meja makan memikirkan perasaanya yang sebenarnya pada Nevan.
Ini pertama kalinya ia begitu dekat dengan pria. Karena itulah ia merasa begitu asing dengan perasaan cinta. Khususnya karena ia tidak pernah benar-benar menginginkan perasaan ini yang menurutnya hanya akan membawanya ke sebuah jurang kehancuran.
Belum lagi, identitas Nevan yang begitu luar biasa membuatnya semakin ragu untuk memulai perasaan baru itu.
"Sebaiknya aku berhenti memikirkannya" Gumam Reva tak ingin terlalu berlarut-larut dalam kebingungan ini
Karena itulah, Reva kini berada di ruang latihan berniat mengalihkan perhatiannya sebentar.
"Lawan aku.. " Pinta Reva melempar sarung boxing pada Rehan yang sejak tadi mengikutinya
"Tidak. Bagaimana jika aku tidak sengaja melukaimu, Tuan pasti akan menghukumku" Tolak Rehan tak ingin mengambil resiko
"Itu jika kamu bisa melawan ku" Ucap Reva dengan percaya dirinya
"Baiklah" Balas Rehan pada akhirnya setuju
....
Berbeda dengan apa yang dipikirkannya, Rehan kini mulai menyesal karena terlalu mengkhawatirkan Reva. Karena nyatanya saat ini, ia sama sekali tidak bisa mengenai Reva bahkan sekali pun. Ia benar-benar mahir dalam boxing.
Tubuhnya gesit diikuti gerakannya yang begitu teratur layaknya seorang pro.
"Sepertinya memang aku yang terlalu meremehkanmu" Ucap Rehan saat Reva membanting tubuhnya ke lantai setelah beberapa kali mendaratkan tinju dan tendangan ke tubuh Rehan
"Aku menyerah" Tuturnya agar Reva melepaskan kunciannya
"Aku masih belum puas" Ucap Reva sembari melepaskan Rehan
"Sudah cukup. Jika dilanjut, aku mungkin tidak akan bisa berdiri besok" Tolak Rehan sembari memijat-mijat beberapa bagian tubuhnya yang terasa nyeri
__ADS_1
"Apa yang terjadi denganmu?" Tanya David yang baru saja tiba di ruangan
Rehan yang tadinya memasang wajah lelah, seketika bangkit berdiri dengan penuh semangat seolah tidak ada yang terjadi.
"Bukankah kamu belum puas, bagaimana jika kamu bermain dengannya" Bisik Rehan pada Reva yang langsung diangguki dengan semangat oleh Reva
David yang baru tiba hanya memasang wajah bingung dengan keduanya seolah merencanakan sesuatu yang buruk.
"Karena kamu sudah datang, temani aku bermain sebentar" Pinta Reva melempar sarung boxing yang baru dipakai Rehan tadi
"Tidak.. Tidak.. Bagaimana bisa aku melawan wanita.. Tuan pasti akan menghukumku" Tolak David cepat tak ingin mengambil resiko, sama seperti Rehan tadi
"Tidak apa-apa. Rehan sudah mengajariku banyak hal. Jadi tidak masalah untuk sedikit bermain denganmu" Ucap Reva ngasal, membuat Rehan hanya bisa berdoa untuk keselamatan David
"Semoga beruntung" Ucap Rehan memegang bahu David
David yang sama sekali tidak mengerti, hanya bisa pasrah naik ke atas ring setelah memakai sarung tangan tadi.
.....
Sesuai dugaannya, Reva benar-benar tidak menahan dirinya saat ini, seolah menganggap David sebagai sebuah sasak tinju.
David yang sejak awal tadi merasakan keanehan kini mulai paham dengan apa yang baru saja terjadi. Wajahnya benar-benar dibuat lebam oleh Reva yang sejak tadi tak segan-segan mengenai wajahnya.
"Tunggu dulu.. " Ucap David berniat menghentikan namun malangnya Reva sudah terlebih dahulu memegang tangannya dan membanting nya ke lantai sama seperti yang dilakukannya pada Rehan tadi
"Kalian mempermainkanku? Ini sama sekali tidak seperti seorang pemula" Protes David memegang bokongnya yang terasa sakit sementara Rehan hanya memasang senyum kepuasan dengan sedikit rasa bersalah karena luka yang diterima David lebih parah darinya
"Sejak kapan kamu belajar boxing?" Tanya Rehan mengalihkan perhatian David, sekaligus mengurangi rasa penasarannya
"Sejak SMP. Aku hanya bosan saat itu, aku mencoba berbagai hal yang bisa aku lakukan. Karena itulah aku mencoba boxing. Tapi aku sudah lama tidak melakukannya, karena itulah aku masih sedikit kaku" Jawab Reva melemaskan pergelangan nya
Meski David dan Rehan tidak melakukannya dengan serius, tapi dengan kemampuan Reva tadi, besar kemungkinan keduadnya akan tetap kalah karena Reva tidak hanya berbakat dalam boxing tapi juga beladiri.
Memang gadis pilihan tuan.. " Batin Rehan dan David memikirkan hal yang sama
"Aku balik ke kamar. Tubuhku benar-benar lengket sekarang" Pamit Reva lalu beranjak pergi
__ADS_1
Tak ingin berada disana lebih lama, keduanya ikut pergi meninggalkan ruangan boxing untuk segera mengobati lebam di tubuh mereka.
...***...