Belenggu Cinta, Mafia Kejam

Belenggu Cinta, Mafia Kejam
Penyergapan


__ADS_3

Tok.. Tok.. Tok..


Rangga mengetuk pintu kamar sebelah itu beberapa kali. Setelah tidak mendapat respon selama beberapa menit, pintu akhirnya terbuka dari dalam. Namun tidak terbuka sepenuhnya karena pemilik dari kamar itu menghalangi bagian dalam dengan tubuhnya.


"Apa yang kalian butuhkan bertamu tengah malam seperti ini?" Tanya pria yang baru saja membuka pintu itu


Dari sikapnya saja, baik Reva maupun Rangga, keduanya bisa dengan jelas menangkap gerak-gerik mencurigakan dari pria itu.


"Apa kami boleh masuk?" Tanya Rangga kemudian


"Sebaiknya kalian datang di lain waktu. Bukankah sangat tidak sopan, untuk bertamu di kamar orang lain tengah malam seperti ini. Kecuali jika kalian memiliki maksud tersembunyi" Ucap pria itu tajam


"Kami hanya ingin membicarakan sesuatu denganmu.. " Balas Rangga


"Bicarakan lain kali saja.. " Ucap pria itu berniat menutup pintu kamarnya


Namun sebelum ia bisa menutup pintu kamarnya, Rangga sudah terlebih dahulu menghentikannya dengan kakinya yang kini menyanggah pintu dan tangannya yang dengan cepat mendorong pintu itu agar terbuka.


"Mengapa begitu terburu-buru.. " Ucap Rangga lalu dengan santainya masuk ke dalam diikuti oleh Reva yang sejak tadi hanya diam memperhatikan


"Apa yang kalian lakukan? Aku bisa memanggil polisi jika kalian bersikap lancang seperti ini" Tutur pria itu mengancam


"Lakukanlah.. " Ucap Reva tidak perduli "Mari lihat siapa yang pada akhirnya akan ditangkap oleh Polisi" Lanjutnya sembari mengeluarkan penyadap yang diberikan oleh Rangga tadi


Melihat benda di tangan Reva, pria itu dengan cepat berlari ke arah pintu kamar berniat untuk melarikan diri. Namun Rangga bergerak lebih cepat darinya, membuat Rangga tiba lebih dahulu di pintu kamar itu.


Karena merasa terdesak, pria itu mengubah arah larinya dan berlari masuk ke salah satu ruangan. Terdapat beberapa komputer yang memperlihatkan rekaman di apartemen Intan. Termasuk Nevan yang kini mengancam Intan juga ikut terekam disana.


"Aiishhh.. Dasar gadis sialan" Umpatnya lalu dengan cepat menghapus semua bukti yang mengarah ke arah tuan-nya termasuk semua bukti rekaman yang selama ini direkamnya


Braakkk.. Brakkk.. . Brakkk...


Pria itu mempercepat gerakannya karena hanya masalah waktu hingga Rangga dan Reva berhasil merupakan pintu ruangan itu.


Dan benar saja, hanya dalam beberapa menit Rangga sudah berhasil merusak gagang pintu itu. Namun sialnya, pria itu jauh lebih cepat dan berhasil menghapus semua bukti dan jejak yang mengarah ke pada majikannya.


Berbeda dengan tadi, pria ini tidak lagi mencoba kabur. Ia dengan pasrah menyerahkan dirinya sendiri tanpa melakukan sedikit pun perlawanan. Seolah tidak menghiraukan hidup dan matinya saat berada di tangan mereka.


"Dia sudah menghapusnya.. " Ucap Reva setelau memeriksa semua komputernya

__ADS_1


"Hahahahaha.. Jangan pikir karena kalian berhasil menemukanku, maka kalian bisa mendapat informasi dariku. Bahkan jika nyawa taruhannya, aku tidak akan pernah membiarkan kalian mendapat barang sedikit pun informasi dariku" Ucap Pria itu sedikit menggila


Karena geram dengan sikapnya, Rangga yang sudah tersulut emosi menendang tepat di bagian perut pria itu, membuatnya terlempar ke dinding.


"Untuk sekarang, sebaiknya kita menahannya. Tidak perlu terlalu terburu-buru membunuhnya. Aku akan mencoba memulihkan data komputer ini" Perintah Reva kemudian


"Baik Non" Jawab Rangga


Setelah mengikat tangan dan kaki pria itu, Rangga dan Reva kembali ke apartemen Intan.


...


"Apa yang kamu lakukan padanya?" Tanya Reva setibanya di apartemen Intan dan mendapati Intan tersungkur menangis di lantai dengan Nevan yang hanya duduk santai dengan tangan yang masih memegang pistolnya


"Aku hanya sedikit mengancamnya. Tidak kusangka dia akan terlalu lemah dan berakhir menangis seperti itu" Ucap Nevan menatap Intan tajam


"Bagaimana dengan kalian?" Tanya Nevan kemudian


"Dia berhasil menghapus buktinya" Ucap Reva mengepalkan tangannya kesal


"Tidak apa-apa. Selama dia berada di tanganku, aku pasti akan membuatnya membuka mulut" Ucap Nevan menyeringai


...


"Tidak.. Aku mohon.. Aku sama sekali tidak tahu apa-apa.. Aku tidak tahu apa--... " Ucapan Intan belum selesai, saat ia tiba-tiba kehilangan kesadaran dan berakhir pingsan karena rasa takut di dirinya


"Oh.. Sepertinya sudah selesai"


Dari arah pintu, Arya dan Dr. Dani yang sejak tadi di bawah kini tiba di apartemen Intan.


"Periksa gadis ini terlalu dahulu" Perintah Nevan pada Dr. Dani


"Dia hanya pingsan karena syok. Biarkan dia beristirahat beberapa hari" Ucap Dr. Dani setalah memeriksanya


"Kalau begitu ayo pulang. Ini sudah jam 3 tengah malam, kamu masih harus kuliah besok pagi" Ucap Nevan serelah melihat ke arah jam di dinding


"Iya.. Aku juga sudah mengantuk sekarang" Ucap Reva


"Untuk wanita ini sebaiknya kamu membawanya, akan lebih aman jika dia tetap di sisimu" Perintah Nevan pada Rangga

__ADS_1


"Baik tuan" Jawab Rangga kemudian


Setelah memberikan perintah itu, Nevan dan ketiganya berlalu pergi dengan membawa pria itu, meninggalkan Rangga yang kini ikut di belakang sembari menggendong Intan.


...***...


Jam di dinding menunjukkan pukul 8 pagi saat Reva perlahan membuka matanya yang masih terasa berat karena kantuk.


"Nevaann.. Jam berapa sekarang?" Tanya Reva masih setengah sadar


"Jam 8" Jawab Nevan yang kini berbaring di samping Reva karena sejak tadi ia suda terbangun dan hanya berdiam memperhatikan Reva tertidur


"Apa? Mengapa tidak membangunkanku. Aku sudah terlambat ke kampus.. " Reva dengan cepat bangun dan bergegas ke kamar mandi


"Tidak perlu terburu-buru. Aku sudah meminta David mengisi absenmu. Jadi hari ini kamu tidak perlu ke kampus" Ucap Nevan sudah merencanakan semuanya sejak awal


Reva yang baru saja masuk di kamar mandi, membuka pintu dengan hanya mengeluarkan kepalanya saja dan menatap Nevan "Jangan bilang kamu memang sengaja membuatku tidak hadir"


"Aku membangunkanmi beberapa kali tapi kamu sama sekali tidak terbangun. Karena itulah aku melakukan ini, lagipula kamu terlihat begitu lelah jadi mengapa tidak istirahat hari ini" Jawab Nevan menjelaskan maksud baiknya


"Baiklah. Aku memang sangat lelah akhir - akhir ini" Ucap Reva pasrah lalu kembali masuk ke kamar mandi karena sudah terlanjur berada di dalam


...


Sembari menunggu Reva mandi, Nevan memutuskan turun ke bawah untuk memeriksa sarapan pagi yang sejak tadi sudah ia beritahukan pada pembantunya.


"Tuann.. " Wanita paruh baya itu menunduk memberi hormat saat Nevan datang memeriksa


"Tidak perlu memperdulikanku, aku hanya datang memeriksa. Kamu bisa melanjutkan pekerjaanmu" Ucap Nevan


"Baik tuan.. " Jawab pembantu itu sebelum kembali melanjutkan masakannya


Bersamaan dengan itu, Arya dan juga Dr. Dani yang masih tetap bersama dari semalam kini menghampiri Nevan di meja makan. Keduanya bangun bersamaan karena merasa lapar.


"Kalian belum mandi?" Tanya Nevan masih mencium aroma anggur dari keduanya


Keduanya hanya tersenyum mengiyakan. Jika bukan karena rasa lapar keduanya mungkin tidak akan meninggalkan kasur dan masku berbaring di kasur.


"Bi.. Tambah dia porsi untuk mereka berdua" Pinta Reva pada pembantunya

__ADS_1


"Baik tuan" Jawab pembantu itu


__ADS_2