
Reva yang tadi diberi obat bius, kini perlahan sadar kembali saat indra pendengarannya samar-samar mendengar suara percakapan dan tawa di sekitarnya. Seperti biasa, Reva masih diam dan pura-pura masih pingsan dengan tangan yang kini dengan lihai melonggarkan ikatannya.
"Apa yang akan kita lakukan dengan gadis ini? Ini sudah dua jam berlalu dan dia masih belum sadar" Tanya salah seorang pria berjalan mendekat dan menjambak rambut Reva
"Hei.. Hei.. Sabar.. Nyonya akan marah jika kamu memperlakukannya begitu kasar.. " Cegat yang lainnya
Pria itu menghempaskan tangannya membuat Reva hampir bersuara karena hentakan tangan laki-laki tadi yang tidak memperhitungkan kekuatannya sama sekali
"Nyonya?" Meski ia merasa sakit di bagian lehernya, Reva tetap fokus mendengar percakapan keduanya "Jangan bilang, wanita gila itu yang menculik ku" Batin Reva langsung terpikirkan akan ibu tirinya yang selama ini selalu berusaha menculiknya demi mengambil sumsum tulang belakang nnya untuk putrinya yang masih berada di rumah sakit
....
(Jadi di bab sebelumnya author pernah sebutin, Kalau ibu tiri Reva mau ngambil hatinya buat didonorin ke anaknya, tapi setelah author pikir2, author berubah pikiran, jadinya author ubah ke sumsum tulang belakang, soalnya kalau hati rada gimana gitu)
....
Tali ikatan Reva perlahan melonggar, kedua tangannya kini bisa ia gerakkan perlahan, sisa menunggu waktu yang tepat baginya untuk keluar dari tempat itu. Jika dulu, ia akan langsung membebaskan diri dan menghajar mereka tapi sekarang ia tidak berada di posisi dimana ia bisa dengan bebas melawan dan membahayakan dirinya mengingat ia yang saat ini tengah hamil. Karena itulah, sebisa mungkin ia akan menghindari pertarungan.
Meski begitu, ia tetap tidak bisa tinggal lama disana karena ia tidak akan pernah tahu apa yang akan dilakukan para preman tersebut. Bahkan saat ini, sejak ia sadar tadi, sudah ada beberapa preman yang masuk memerikaa dirinya termasuk preman yang tadi menjambak rambutnya.
"Nevan pasti tengah khawatir mencariku. Belum lagi soal Rehan yang entah bagaimana keadaanya saat ini" Batin Reva memikirkan kondisi Rehan yang tadi terkena pukulan di kepalanya
...
30 menit berlalu, Reva yang semakin merasa risau pada akhirnya memutuskan untuk melepaskan ikatan di tangannya, mencoba untuk kabur dari tempat itu setelah memeriksa keadaan sekitar yang tampak sunyi.
"Apa yang terjadi? Kemana mereka pergi?" Gumam Reva mengendap-ngendap keluar dari ruangan yang tidak dikunci itu, mengintip di keluar jendela namun tak ada satupun dari mereka yang terlihat
"Sebaiknya aku segera pergi, akan sangat merepotkan jika aku tertangkap lagi" Ucap Reva segera mencari jalan keluar dari bangunan itu
__ADS_1
Langkah Reva pelan, sesekali ia menoleh memperhatikan sekitar. Entah mengapa ia merasakan perasaan yang aneh sejak keluar dari ruangan tadi. Seolah-olah bahaya akan menghampirinya jika dia melangkah lebih jauh lagi.
Kreekk...
Belum sempat Reva melewati lorong itu, pandangannya sudah bertemu dengan seorang wanita yang sudah tidak asing lagi baginya, ia adalah ibu tirinya, Bela yang baru saja tiba. Saking terkejutnya, ia sampai tidak sengaja menginjak kaleng bekas minuman mereka.
Bela yang menyadari keberadaan anak tirinya itu, segera memerintahkan para pengawal di belakangnya untuk segera menangkap Reva sebelum ia berhasil kabur.
"Rupanya karena dia bangunan ini kosong. Seharusnya aku lebih berhati-hati tadi" Gerutu Reva merutuki dirinya yang begitu bodoh karena tidak terpikirkan akan hal tersebut
Reva berlari tanpa arah mengelilingi bangunan itu yang entah akan membawanya kemana. Hingga kemudian, langkahnua terhenti saat sebuah tembok tepat berada di hadapannya.
"Mampus.. " Reva menepuk jidatnya memikirkan nasib dirinya yang entah akan bagaimana kedepannya, karena terlalu panik untuk kabur ia tanpa sengaja masuk ke lorong buntu membuatnya hanya bisa berhenti
"Hentikan perlawanan sia-sia mu itu, bahkan jika kamu bisa melepaskan diri, kamu tidak akan pernah bisa meninggalkan rumah ini" Tutur Bela menyeringai penuh kemenangan menatap anak tirinya yang kini tersudutka
"Tangkap dia.. " Perintah Bela tajam
"Lepaskan aku.. Berani sekali kalian menyentuhku, dasar b*jingan kurang ajar.. " Umpat Reva berusaha berontak
Plakk..
"Diam" Ucap Bela setengah berteriak, setelah melayangkan sebuah tamparan keras pada wajah Reva yang kini memerah
"Bawa dia masuk.. " Perintanya kemudian
Reva dibawah masuk kembali ke dalam ruangan tempat dia ditahan semula. Tangannya kembali diikat dengan mulut yang juga di lakban.
Reva menatap sinis penuh kebencian dan amarah pada wanita yang kini duduk di depannya. Wanita yang membuatnya harus meninggalkan rumah dan hidup sebatang kara di luar sana selama dua tahun lamanya.
__ADS_1
"Percuma kamu menatapku seperti itu.. Bahkan jika Nevan ada disini, ia pastinya tidak akan perduli pada gadis yang sudah rusak" Tutur Bela meraih rambut Reva dan menjambak nya kasar
"Hmmgghhh.. " Karena tangannya terikat, Reva memanfaatkan satu-satunga bagian dari tubuhnya yakni kaki yang masih bebas saat ini
Reva menendang kursi yang diduduki oleh ibu tirinya membuat kursi yang didudukinya mundur ke belakang dan hampir membuat Ibu tirinya terjatuh ke lantai.
"Dasar gadis br*ngsek" Umpat Ibu tiri Reva kembali menjambak rambut Reva kasar dan menariknya masuk ke dalam kamar mandi
Tanpa aba-aba, Ibu tiri Reva menenggelamkan kepala Reva di bak mandi yang sudah diisi oleh air. Ia melakukannya berulang kali membuat Reva terbatuk karena air yang masuk melewati hidungnya, karena mulutnya yang masih dibekap saat ini.
Karena sudah tak kuat, Reva mencoba melarikan diri dari genggaman ibu tirinya berniat keluar dari kamar mandi itu. Namun karena terlalu terburu-buru, ia justru terpleset dan jatuh meringkuk di pintu kamar mandi.
(Bugh)
Rasa sakit karena terbentur di lantai masih belum reda, hingga tiba-tiba sebuah tendangan mendarat tepat di bagian perut Reva. Membuat Reva semakin meringkuk menahan sakit di lantai.
Mata Reva membelalak kaget. Air mata kini menetes di sudut matanya. Rasa sakti yang begitu tak tertahankan kini dirasakannya, membuatnya hanya bisa merintih kesakitan tanpa bisa mengeluarkan suara.
Selain perasaan puas penuh kemenangan, tidak ada lagi perasaan kasihan dan belas kasih yang diperlihatkan oleh ibu tirinya. Matanya berseri-seri sembari menyeringai licik.
"Ugghh... Perutku.. I-iij sangat sakit.. " Batin Reva semakin meringkuk tak berdaya
"Nevan.. berapa lama lagi kamu akan datang.. bahkan jika aku bisa bertahan.. bagaimana dengan anakku.. " batin Reva terisak, berharap jika Nevan tiba saat ini juga sebelum sesuatu yang buruk terjadi pada kandungannya
Namun sialnya, rasa sakti yang begitu tak tertahankan semakin dirasanya, samar-samar ia merasakan cairan mengalir di pahanya, pandangannya mulai mengabur, sebelum akhirnya pingsan tak sadarkan diri.
"Ada apa denganmu? Berhenti berpura-pura lemah seperti itu" Tutir Ibu tiri Reva masih menendang lengannya walau pelan
"Pengawal.." Teriak ibu tiri Reva
__ADS_1
Namun beberapa saat setelah ia memanggil pengawalnya, tak ada satupun yang menyahut atau bahkan menghampiri nya.
"Penga-.. " Ucapan ibu tiri Reva terhenti, tubuh tanpa sadar mundur ke belakang dan bersandar di dinding karena kaget