
Pagi sekali, Nevan dan Reva meninggalkan kota Grindelwald. Keduanya kini tiba di kota Bahnhofstrasse, salah satu tempat perbelanjaan terbaik di dunia, berbagai merek perbelanjaan tersedia di kota ini termasuk elektronik. Karena itulah, Reva memilih kota ini untuk membeli beberapa hadiah untuk Regan.
Keduanya kini tiba di salah satu toko elektronik terbaik di sana. Reva yang sejak tadi begitu bersemangat memilih barangnya sementara Nevan yang hanya bisa menunggu Reva selesai memilih hadiahnya.
"Kamu tidak harus melakukan ini untuknya. Dia pasti akan semakin bersikap manja padamu nanti.. " Tutur Nevan karena selama ini ia memang jarang menuruti permintaan dari adiknya begitu saja
"Biarkan saja. Aku melakukan ini karena dia menganggapku sebagai kakaknya. Kamu tahu, aku ini anak tunggal, aku tidak memiliki seorang adik sepertimu. Jadi biarkan aku menjaganya dan mamanjakannya" Balas Reva
"Yaahhh.. Selama kamu tidak melupakanku.. " Ucap Nevan menghela nafasnya panjang
"Apa kamu benar-benar harus seperti itu, bagaimana mungkin aku melupakan calon suamiku " Ucap Reva mencoba menggoda Nevan
"Aku senang jika kamu mengingatnya.. Tapi aku akan lebih senang lagi jika hanya aku satu-satunya yang kamu pikirkan"
"Aku tidak percaya aku yang selalu menyukai kebebasan, kini terjebak dengan seorang pria yang begitu posesif sepertinya.. " Batin Reva tidak menyangka akan hidupnya
"Tapi seperti ini lebih baik.. " Lanjutnya dalam hati sembari tersenyum riang
"Pakai ini.. " Ucap Nevan menyodorkan kartu atmnya untuk membayar belanjaan Reva
"Tidak. Kali ini aku akan menggunakan kartu ku sendiri, lagipula ini adalah hadiah dariku dan sudah seharusnya aku yang membayarnya sendiri" Tolak Reva sembari mengeluarkan black card yang selama ini tidak pernah di pakainya sejak ia kabur dari rumah
"Bukankah kamu tidak ingin menggunakannya? Kenapa sekarang?" Tanya Nevan kebingungan
"Aku memang tidak ingin menggunakannya. Tapi kali ini berbeda, kita berada di Swiss. Tidak masalah jika membiarkan mereka tahu lokasi ku, lagipula kita akan kembali besok" Ucap Reva mencoba memanfaatkan situasi
"Yeah.. Aku pikir kamu benar. Kalau begitu gunakan sebanyak yang kamu bisa" Balas Nevan mengikuti permainan Reva
...***...
Setelah seharian di luar, keduanya memutuskan kembali ke hotel setelah selesai berbelanja.
"Berapa lama lagi kamu akan mengacuhkanku?" Tanya Nevan yang saat ini berbaring di pangkuan Reva yang sejak tadi sibuk membalas pesan dari Regan
"Aku hanya memberitahu Regan, jika besok kita kembali. Dia benar-benar tidak sabar menantikan hadiahku" Ucap Reva mengusap rambut Nevan
"Lihatlah, kamu benar-benar mengabaikan ku"
__ADS_1
"Nevan.. Sangat jarang aku bisa memiliki seorang adik, jadi biarkan aku melakukannya sebelum dia tumbuh dewasa. Dan lagi, akan ada banyak waktu untukmu di masa depan jika kita menikah nanti" Tutur Reva membujuk kekasihnya
"Hmm.. Itu benar.. " Sahut Nevan menelungsupkan kepalanya di perut Reva menyembunyikan raut wajahnya yang entah karena senang dengan perkataan Reva atau kesal karena waktunya dengan Reva terbagi
Apapun itu, ia lebih merasa senang selama Reva tetap berada di sisinya seperti ini.
"Ayo tidur, bukankah besok kita harus berangkat pagi" Tukas Reva masih mengusap rambut Nevan agar bangun dari pangkuannya
"Baiklah.. " Ucap Nevan lalu merubah posisinya dan berbaring di samping Reva, dengan tangan yang kini melingkar dengan erat di pinggang Reva
"Aku tidak bisa bernafas Nevan.. " Keluh Reva mencoba melepas lengan Nevan dari tubuhnya
Namun kembali lagi, sekuat apapun dirinya, ia masih belum bisa dibandingkan dengan tenaga Nevan.
"Bagaimana dengan ini?" Tanya Nevan dengan hanya melonggarkan sedikit pelukannya
Reva hanya bisa menghela nafas pasrah dan berhenti mengeluh yang sudah jelas tidak akan didengarkan oleh Nevan.
...***...
Keesokan harinya, Nevan dan Reva meninggalkan negara swiss dan tiba di Indonesia sekitar pukul 12 malam setelah 18 jam perjalanan yang cukup melelahkan untuk keduanya.
"Dia memiliki sedikit urusan, karena itulah aku meminta Rehan yang datang" Ujar Nevan sudah mengetahuinya
Reva hanya mengangguk kecil, lalu masuk ke dalam mobil diikuti oleh Nevan dan Rehan setelah selesai memperbaiki koper keduanya.
"Tidurlah. Aku akan membangunkanmu jika kita sudah sampai" Ucap Nevan membantu Reva bersandar di pundaknya
....
Tak butuh waktu lama untuk ketiganya sampai di rumah, mengingat saat ini tengah malam dan jalanan yang sepi membuat Rehan bisa dengan bebas mengemudikan mobilnya.
"Hati-hati saat memindahkan barang-barangnya" Ujar Nevan mengingatkan untuk berhati-hati mengingat isi koper Reva bukan hanya berisi pakaian tapi juga beberapa barang elektronik yang dibeliya kemarin
"Kakak sudah pulang, bagaimana dengan.. " Ucapan Regan terhenti saat Nevan memberinya isyarata untuk tidak berisik karena Reva yang saat ini di gendongnya masih tertidur
"Upss.. Sebaiknya aku memintanya besok.. " Ujar Regan mengerti dan memilih untuk menghampiri Rehan di luar
__ADS_1
Sementara itu Nevan naik ke kamarnya di lantai atas. Karena bukan hanya Reva yang merasa lelah, dirinya juga cukup merasa lelah dengan perjalanan yang panjang dan melelahkan itu.
...***...
Jam di dinding menunjukkan pukul 10 siang, saat Reva terbangun dari tidurnya dengan Nevan yang sudah tidak berada di sampingnya.
Reva lalu turun ke bawah setelah mencuci muka dan menggosok giginya sembari melemaskan tubuhnya yang kini terasa segar kembali.
"Hmm? Apa yang kalian lakukan disini?" Tanya Reva saat menuruni tangga dan mendapati ruang tamunya yang penuh akan pengunjung
"Kak.. Dimana ole-oleku?" Tanya Regan dengan cepat menghampiri Reva
"Oh, ayo ke kamar. Biar aku perlihatkan padamu" Ucap Reva segera merangkul pundak Regan dan kembali naik ke kamarnya mengabaikan Feli dan yang lainnya di ruang tamu
"Reva.. Kamu melupakanku?" Tanya Feli setengah teriak
"Tidak. Hanya saja aku tidak sabar memperlihatkan ole-oleku pada adikku ini" Jawab Reva tersenyum dengan girangnya
"Dia bahkan mengacuhkanku sebelumnya, bagaimana mungkin ia mengingatmu. Ia terlaku fokus pada adiknya" Ujar Nevan ikut mengeluh akak sifat Reva
"Adiknya? Bukan kah dia adik kita?" Tanya Kevin heran
"Yeah.. Biarkan dia bermain dengannya sebentar" Tutur Nevan sebelum melekang pergi meninggalkan Feli dan Kevin di ruang tamu dan ikut naik ke kamar menyusul Reva dan Regan
...
Sementara itu, Regan yang kini membuka semua hadiahnya tidak berhenti tersenyum girang karena semua hadiah yang dibawa oleh Reva adalah apa selama ini diinginkannya.
"Semua ini kakak yang beli?" Tanya Regan
"Iya. Aku membelinya dengan uangku sendiri, jadi kamu harus menjaganya dengan baik. Jika ada waktu aku bisa mengajarimu beberapa hal" Jawab Reva semakin gemas dengan Regan
"Bagaimana jika kamu pindah kesini? Apa orang tuamu akan mengizinkannya?" Tanyanya kemudian
"Entahlah. Mungkin mereka tidak akan setuju. Tapi aku akan tetap pindah kesini. Lagipula aku sudah beberapa hari ini mengikuti Kak Rehan latihan"
"Rehan?"
__ADS_1
"Iya. Kak Rehan mengajariku beberapa bela diri. Karena itulah aku sering kesini saat ada waktu"
"Lain kali, biar aku yang membantumu. Aku lebih hebat darinya dalam hal beladiri" Ucap Reva sedikit menyombongkan dirinya, namun dengan cepat diangguki oleh Regan