Belenggu Cinta, Mafia Kejam

Belenggu Cinta, Mafia Kejam
Omong Kosong!


__ADS_3

"Ada apa dengan kalian berdua?" Tanya Nevan saat bertemu dengan Rehan dan David dalam keadaan babak belur


Keduanya melirik ke arah Reva yang kini memalingkan wajahnya, pura-pura tidak tahu. Nevan yang hanya menyadarinya hanya memperlihatkan senyum misterius nya, seolah sudah paham apa yang terjadi.


Nevan dan Reva segera masuk ke dalam mobil, meninggalkan keduanya yang hanya bisa bernafas lega.


"Sejak kapan Rehan dan David jadi sasak tinjumu?" Tanya Nevan lagi-lagi mendekat ke arah Reva namun lagi-lagi Reva memalingkan wajahnya menjauh


Sejak kejadian siang kemarin, Reva menghindari Nevan karena marah akan sikapnya kemarin. Karena itulah, Reva melampiaskan kekesalannya pada Rehan dan David, meski itu belum cukup untuk meredakan emosinya buktinya hingga saat ini ia masih menghindari Nevan.


"Salahkan dirimu sendiri" Ucap Reva tidak perduli, meski di hati kecilnya ia masih sedikit merasa bersalah karena melampiaskannya pada orang lain


"Bukankah aku sudah meminta maaf kemarin"


"Aku tidak percaya. 2 hari yang lalu kamu baru saja berjanji tidak akan berbuat apa-apa terhadapku, tapi buktinya kamu melakukannya lagi kemarin. Jadi apa ucapan maaf dan janjimu hanya berlaku satu hari saja?"


Nevan benar-benar dibuat terdiam oleh Reva. Ucapannya dengan jelas menegaskan jika ucapan dari laki-laki hanyalah sekedar bualan belaka yang benar-benar tidak bisa dipercaya.


"Non Reva benar-benar luar biasa.. Tuan bahkan tidak berkutip dibuatnya" Batin Rangga kagum karena sangat jarang melihat majikannya dibuat terdiam seperti itu


"Soal ini juga termasuk tanggung jawabmu. Kamu mempertanyakan perasaanku karena itulah aku hanya berniat membuktikannya"


"Pembuktian? Kamu hanya berniat memuaskan n*fsumu itu, itu tidak lebih hanya sebuah omong kosong belaka dari pria m*sum sepertimu. Berhenti bertindak seolah-olah kamu benar-benar mencintaiku, kita hanya orang asing yang tidak sengaja bertemu" Sarkas Reva lalu turun dari mobil yang sejak tadi tiba di gerbang sekolah


"Astaga... Bagaimana ini? Tuan pasti akan marah dan melampiaskannya padaku. Non Reva benar-benar membuatku dalam masalah " Batin Rangga memikirkan nasibnya kedepannya


Sementara Nevan kini memegang dagunya dengan smirk di wajahnya "Kita ke Kantor" Pinta Nevan masih dengan seringai nya


Meski Nevan tidak menunjukkan ekspresi marah, Rangga tetap merasa tegang karena meski ia sudah bekerja selama bertahun-tahun dengan Nevan, ia masih tidak bisa mengerti dengan jelas jalan pikirannya. Terutama saat ini, saat ia tidak bisa mengerti apakah Nevan tengah marah atau tidak karena ucapan dari Reva.

__ADS_1


***


Apa yang dikhawatirkan oleh Rangga kini benar-benar terjadi. Nevan benar-benar melampiaskan amarahnya pada karyawan perusahaannya.


Sejak tadi Nevan berulang kali melempar berkas laporan para karyawannya ke lantai. Beberapa karyawannya yang bahkan belummemulai laporannya, kini dipenuhi keringat dingin dan perasaan cemas, takut akan apa yang akan dilakukan Nevan.


"Perusahaan cabang yang kamu urus tidak mencapai target yang ditentukan dan bahkan mengalami kerugian seperti ini" Tutur Nevan dengan suara tegas dan dingin diikuti sorot mata tajam yang begitu mendominasi membuat siapapun yang menatapnya seketika menciut ketakutan


"Maaf Pak.. Karena beberapa insiden bulan lalu, penjualan mengalami penurunan yang begitu drastis menyebakan perusahaan... " Belum sempat ia menyelesaikan ucapannya, Nevan sudah terlebih dahulu memotong ucapannya


"Aku tidak butuh alasan klise seperti itu. Bukannya mencari solusi, kamu malah menggunakan alasan klise seperti itu di depanku. Ini membuktikan kalau kamu benar-benar tidak becus dan kompeten dalam mengurus perusahaan" Seru Nevan masih dengan nada mengintimidasi


Karyawan itu hanya menunduk takut dengan keringat dingin yang kini membanjiri tubuhnya. Saat ini sudah tidak ada jalan keluar untuknya, karena ia sudah tahu akhir dari karirnya saat ini.


"Sebaiknya kamu berdoa tidak ada masalah di laporan keuanganmu. Jika sampai aku menemukannya, aku pastikan tidak ada satupun perusahaan yang akan menerimamu di negara ini" Tutur Nevan dengan ancamannya


"Tinggalkan semua berkasmu. Mulai hari ini kamu dipecat" Ucap Nevan tegas lalu bangkit berdiri meninggalkan ruang rapat


***


"Sepertinya dia tidak datang. Mungkin dia benar-benar tersinggung karena ucapanku" Gumam Reva mengedarkan pandangannya ke sekitar kampus


Hingga tiba-tiba, sebuah mobil dengan kecepatan sedang melaju saat Reva berniat menyebrang membuatnya terpental ke tanah.


"Aahh sial.. " Gumam Reva merasakan nyeri di bagian siku dan lututnya karena tergores tanah


"Apa kamu buta? Mobilku jadi lecet karenamu" Teriak sang pengendara mobil


"Bukannya minta maaf malah marah-marah.. Ini jelas-jelas kamu yang salah, malah nyalahin orang" Balas Reva tak kalah nyolotnya

__ADS_1


"Aku tidak perduli, ganti rugi sekarang juga"


"Aku yang seharusnya meminta ganti rugi, karena ulahmu lutut dan tangannya jadi lecet"


Perdebatan keduanya yang begitu heboh, sontak membuat beberapa mahasiswa yang lewat berhenti untuk menyaksikan perdebatan keduanya yang sejak tadi tidak ada satu pun yang berniat untuk mengalah.


"Itu hanya luka lecet kecil. Aku bisa membayar biaya pengobatannya. Tapi apa kamu mampu membayar biaya perbaikan dari mobilku yang lecet karena ulahmu?" Ucap laki-laki itu dengan senyum meremehkan


Reva menatap mobil itu sekilas. Sebuah mobil bmw keluaran terbaru yang ia perkirakan akan menghabiskan uang hingga puluhan bahkan ratusan juta uang untuk sekedar memperbaikinya.


"Kamu pikir aku tidak mampu membayarnya?"


"Bukankah itu sudah jelas dari penampilanmu yang kampungan ini. Orang sepertimu tidak akan mampu membayangkan seberapa mahal mobil yang baru saja kamu buat lecet" Ucap laki-laki itu semakin merendahkan


Reva yang sudah dibuat geram olahnya, segera mengeluarkan dompetnya lalu meraih tangan laki-laki itu dan meletakkan sebuah kartu berwarna hitam di telapak tangannya.


"Kalau begitu, silahkan gunakan sampai puas. Permisi" Ucap Reva tak lupa dengan smirk meremehkannya sama seperti yang diperlihatkan laki-laki tadi


"Black card?" Ucap laki-laki itu menatap kartu hitam ditangannya


Tidak ada siapapun yang tidak mengenal kartu itu. Pasalnya kartu ini hanya dimiliki oleh beberapa orang saja dan lagi kartu ini bersifat unlimited atau tanpa batas penggunaan.


Bukannya ia tidak memilikinya, hanya saja laki-laki itu sedikit terkejut karena kartu itu diberikan oleh seorang gadis dengan penampilan lusuh yang bahkan mengendarai bus ke kampus. Belum lagi gadis itu justru meninggalkan kartu itu begitu saja seolah kartu itu sama sekali tidak bernilai di matanya.


***


"Gawat.. " Gumam Reva memijat keningnya yang terasa pusing karena tindakannya yang barusan sama hal nya dengan mengekspos lokasi keberadaannya pada keluarganya


"Apa yang harus kulakukan sekarang, sudah terlambat untuk menyesalinya sekarang" Ucap Reva berpasrah diri

__ADS_1


Reva yang saat ini tengah diliputi rasa penyesalan, tersentak kaget saat sebuah mobil dengan kecepatan tinggi berhenti di depannya. Seorang pria dengan penutup wajah, dengan cepat membawa dirinya masuk kedalam mobil setelah membekap mulut Reva dengan sapu tangan yang sudah diberi beberapa tetes obat tidur.


Kejadian ini terjadi begitu cepat, hingga tidak ada satupun orang yang menyadarinya. Begitupun dengan laki-laki yang berselisih dengan Reva tadi. Ia yang berniat untuk mengembalikan kartu Reva terpaksa mengurungkan dirinya, saat ia kehilangan jejak Reva.


__ADS_2