
"Apa yang membuatmu begitu berani datang kesini hah?" Tanya Arya dengan nada tajam mengintimidasi
Tepat disaat Siska tiba di rumah itu, Arya langsung dengan cepat mecengkeram lehernya. Bagaimana pun Siska berada di pihak Rehan sebelumnya.
"Lepaskan dia Arya.. " Pinta Geral memegang pundak Arya agar menenangkan dirinya terlebih dahulu
Bukannya mengikuti perintah Geral, Arya justru mengeratkan cengkaramannya membuat Siska yang tadinya masih bertahan menahan cengkaramannya, kini meronta merasakan sakit dan kesulitan bernafas.
"Arya..! "
Barulah saat Anggi menegurnya, Arya baru melepas cengkaramannya, ia menghempaskan tubuh Siska kasar membuatnya jatuh tersungkur di lantai sembari meringis memegangi lehernya yang tadi di cengkeram oleh Arya.
"Uhhukkk.. Uhhukkk.. "
"Bawa dia masuk ke dalam.. " Perintah Geral pada salah satu pengawalnya yang langsung bergerak dan membantu Siska masuk ke dalam
"Masuklah.. Dia berkata jika dia memiliki informasi tentang Rehan. Tidak ada salahnya mendengarkannya terlebih dahulu" Ucap Anggi pada Arya
Meski tidak suka, Arya hanya bisa menurut dan masuk ke dalam mengikuti ibu Reva.
...
"Aku haus, biarkan aku minum terlebih dahulu" Pinta Siska menyentuh lehernya yang masih memerah karena perbuatan Arya tadi
"Berikan dia air" Perintah Geral mengikuti permintaan Siska
"Terima kasih.. " Ucap Siska tersenyum pada pengawal itu sembari menerima gelas berisi air itu
"Berhenti membuang-buang waktu dan cepat katakan" Seru Arya kesal melihat Siska yang terlihat mempermainkan mereka
Siska hanya menatap Arya sinis sebari meletakkan gelas itu di meja. Ia lalu menatap ketiganya yang kini sudah begitu bersabar menunggunya berbicara.
"Baiklah aku tidak akan bermain-main lagi" Ucap Siska merubah sikapnya menjadi lebih serius dari yang tadi diperlihatkan nya
"Aku tahu dimana Reva saat ini" Ucap Siska menatap ketiganya serius, penasaran akan reaksi yang akan dibuat ketiganya
"Bagaimana kamu bisa membuktikan ucapan mu? Bagaimana pun kamu bekerja sama dengan Rehan sebelumnya, ada kemungkinan jika kamu yang sekarang hanya mengarang-ngarag cerita agar bisa menjebak kami" Tutur Anggi bersikap waspada
__ADS_1
"Terserah kalian. Aku memang pernah bekerja sama dengannya atau mungkin lebih tepatnya pernah menjadi budak pesuruhnya. Aku mengikuti perintahnya dan berakhir di tinggalkan seperti ini. Jadi untuk apa lagi aku harus membantunya"
"Berikan aku bukti. Hubunganmu dengan Reva bahkan sangat buruk, jadi alasan apa yang membuatmu melakukan semua ini?"
"Aku tidak akan menjawab pertanyaan ini. Apapun alasanku, itu semua urusanku sendiri. Jadi jika kalian bemar-benar tidak percaya, maka tidak ada yang bisa aku lakukan"
"Katakan dimana?" Tanya Anggi kemudian
"Memang hanya anda yang berfikiran jernih disini" Ucap Siska mengeluarkan kertas yang berisi alamat dari saku celananya
"Jika kalian meragukanku, kalian bisa mengutus seseorang memeriksanya. Tapi jika kalian melakukan itu, kalian hanya akan membuang-buang waktu dan terus saja hal itu hanya akan merugikan Reva"
"Jadi semakin cepat kalian bertindak, maka semakin itu akan menguntungkan diriku" Lanjut Siska dalam hati
"Sebaiknya kamu tidak mencoba memainkan trik di sini, karena jika sampai itu terjadi, aku sendiri yang akan merenggut nyawamu" Ancam Arya menatap Siska tajam
Siska tetap bersikap santai menghadapi ancaman dari Arya yang memang sejak tadi memperlihatkan raut penuh kebenciannya.
"Siapkan mobilnya, aku sendiri yang akan pergi memeriksanya" Perintah Arya pada pengawal yang ada disana
...***...
Meski begitu, Rehan tetap datang ke kamar Reva sama seperti saat ini, ia datang sembari membawa nampan berisi makan malam untuk Reva.
"Aku membawakanmu makan malam" Ucap Rehan meletakkan nampannya di atas meja di samping tempat tidur Reva
Rehan lalu duduk di pinggiran kasur menatap Reva yang kini meringkuk murung.
"Sampai kapan kamu akan mendiami ku seperti ini? Aku tahu aku salah dan aku minta maaf untuk apa yang terjadi sebelumnya. Aku benar-benar menyesal, jadi aku mohon Reva jangan seperti ini.. " Tutur Rehan memohon
"Maka biarkan aku pergi. Semakin lama aku tinggal disini, aku semakin merasa putus asa.. Jika kamu benar-benar akan meminta maaf, maka lepaskan aku.. " Pinta Reva dengan mata berkaca-kaca
Ia yang sebelumnya berfikir untuk bersabar dan secara perlahan mencari jalan keluar kini menguringkan niatnya setelah perbuatan Rehan sebelumnya. Tidak ada yang tahu apa yang akan diperbuat Rehan selanjutnya terhadapnya, karena itulah Reva menjadi semakin putus asa untuk keluar dari rumah itu.
"Aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi. Berhenti memikirkan hal itu" Ucap Rehan bangkit dari duduknya tak ingin membicarakan hal itu lagi
Prranggg..
__ADS_1
Bunyi pecahan piring yang baru dibawa oleh Rehan tadi memenuhi seisi ruangan itu. Rehan yang tadinya berniat pergi dengan cepat berbalik menghampiri Reva.
"Jangan mendekat.. " Seru Reva meraih salah satu pecahan beling di lantai dan meletakkannya di lehernya
Bukan hanya sekedar ancaman, Reva benar-benar menggores lehernya dengan beling itu. Cairan merah kental kini menetes di lehernya. Begitupun dengan tanganya yang menggenggam kaca beling itu juga ikut berdarah karena genggaman erat Reva.
"Lepas Reva.. Jangan main-main dengan ku.. " Ujar Rehan berusaha menenangkan Reva
"Jika kamu tidak ingin melihatku dalam keadaan tidak bernyawa, maka lepaskan aku. Biarkan aku pergi dari rumah ini" Reva berucap dengan nada bergetar dan air mata
"Bagaimana kamu bisa memberiku pilihan seperti itu, kamu satu-satunya yang aku inginkan Reva.. Bagaimana bisa kamu tetap kembali kepada mereka setelah semua perbuatan mereka terhadapku.."
"Biarkan aku pergi.. "
Hanya satu kalimat ini yang diucapkan Reva, sorort matanya benar-benar kosong. Ia tidak bisa berfikir dengan baik saat ini karena satu-satunya keinginannya hanya keluar dari rumah itu.
"Maafkan aku.. " Ucap Rehan lalu dengan cepat berlari memegang lengan Reva sebelum Reva sempat bereaksi
"Aku benar-benar tidak ingin kehilangan dirimu" Sambung Rehan lalu mengambil beling di gengaman Reva
"Lepaskan aku.. Biarkan aku pergi.. Rehan.. " Pinta Reva memberontak namun tertahan oleh Rehan yang kini mengikat memegang tangannya erat
"Kalian yang diluar, masuk ke dalam" Teriak Rehan memanggil pengawalnya untuk masuk
"Iya tuan"
"Berikan aku sebuah dasi" Perintah Rehan yang langsung dilaksanakan oleh pengawal itu
.....
Tak berselang lama kemudian, pengawal itu masuk dengan sebuah dasi. Ia lalu membantu Rehan mengikat tangan Reva dengan Dasi itu.
"Panggil Dr. Dimas sekarang" Perintah Rehan kemudian
"Baik tuan" Jawab pengawal itu sebelum berbalik pergi meninggalkan Rehan
"Aku mohon berhenti.. Aku tidak bisa melihatmu terluka seperti ini.. " Pinta Rehan agar Reva berhentu memberontak lagi
__ADS_1
"Maka lepaskan aku... "
"Berhenti memirkannya, aku tidak akan eornah membiarkanmu pergi dari sisiku" Ucap Rehan berbalik pergi meninggalkan Reva di kamarnya