
Asisten Rehan masuk ke dalam kamar Reva, dengan raut wajah santai seolah apa yang sedang terjadi diluar sana sama sekali tidak mempengaruhinya. Bukan hanya asistennya, Reha yang sedari tadi hanya berada di dalam kamar mengawasi Reva, juga tidak memperlihatkan raut wajah panik sama sekali.
"Bagaimana kondisi di luar?" Tanya Adam pada asistennya
"Kita kalah jumlah Tuan.. Beberapa bawahan yang ditempatkan di luar rumah juga satu-persatu telah tumbang" Jawab asistennya seraya memperlihatkan rekaman CCTV nya
"Kamu pasti senang mendengar hal itu, Reva. Nevan sudah ada di luar dan siap menjemputmu.. " Ucap Rehan mengalihkan pandangannya pada Reva yang sejak tadi diam mendengarkan percakapan keduanya
"Tidak perlu memikirkanku, sebaiknya kamu pikirkan dirimu sendiri" Ucap Reva
"Tentu saja, aku sudah memikirkan solusi yang tepat untuk mengatasi masalah ini" Ucap Rehan dengan seringai nya
"Solusi? "
"Bukankah sudah kukatakan, aku tidak akan pernah membiarkan kamu kembali ke sisi Nevan. Jadi jika aku tidak bisa memilikimu, maka tidak ada satupun diantara kami berdua yang bisa memilikimu" Ucap Rehan dengan senyum menakutkannya
Reva yang mendengar penuturan Rehan barusan, sontak mencengkeram kerah baju Rehan dengan sorot mata tajamnya "Apa maksudmu?" Tanya Reva meski ia sudah bisa menebak isi pikiran Rehan saat ini
"Bawa dia pergi"
Tanpa menjawab pertanyaan Reva, Rehan justru memerintahkan asistennya untuk membawa Reva ke tempat yang lebih aman di rumah itu.
"Rehan..! Berhenti, jangan menyentuhku..Singkirkan tanganmu dariku.. Rehan!" Teriak Reva berusaha berontak saat asisten Rehan dan salah satu bawahannya datang dan membawa dirinya
"Rehan! Jangan pernah berfikir untuk menyentuh Nevan barang sehelai rambut pun, karena jika sampai itu terjadi, aku pastikan untuk mengakhiri hidupku sendiri.. Rehaann!" Teriak Reva mengancam
"Aku tahu kamu akan berkata seperti itu.. Bukankah sudah kukatakan, diantara kami berdua tidak akan ada yang bisa memilikimu" Ucap Rehan dengan senyum yang terlihat begitu tulus
Setelah mendengar kata-kata Rehan untuk kedua kalinya, Reva akhirnya sadar akan maksud dari kata-kata itu. Bukan hanya ingin membunuh Nevan, Rehan juga akan mengakhiri hidupnya sendiri.
"Rehan! Berhenti sekarang juga Rehan!" Teriak Reva masih berusaha berontak saat asisten dan bawahan Rehan membawanya ke ruangan lain yang terletak di ruang bawah tanah rumah itu
.....
__ADS_1
Rehan yang masih mendengar teriakan dari Reva hanya bisa menertawakan dirinya yang sampai akhir tetap saja sendiri. Tak ada satupun orang yang disayanginya berada di sisinya.
"Aku benar-benar merasa kesepian, Ma.. " Gumam Rehan menatap bingkai foto ibunya dan dirinya saat masih kecil dulu
Untuk pertama kalinya perhatiannya teralihkan hingga ia bisa saja merelakan balas dendamnya demi gadis yang dicintai nya, namun semua itu tetap saja percuma karena gadis yang dicintainya hanya akan semakin terluka saat bersama dengannya.
Namun memikirkan nya hidup bersama dengan anak dari pria yang telah merusak keluarganya, membuat Rehan semakin tak tahan dan pada akhirnya memilih pilihan itu. Jika ia tidak bisa memilikinya, maka Nevan juga tidak bisa memilikinya. Hanya itu satu-satunya solusi yang ada di pikirannya saat ini.
.....
Bangg...
Setelah menunggu selama hampir setengah jam, pintu ruangan yang ditempati oleh Rehan akhirnya didobrak dari luar. Sosok pria dengan mata tajam dan dingin, berdiri tepat di depan pintu dengan tangan memegang pistol erat.
Rehan lalu melemparkan senyum nya pada sosok pria yang dulu dipanggilnya sebagai majikan itu. Hari-hari nya selama menjadi bawahan cukup menyenangkan karena Nevan yang tak pernah sekalipun mencurigai dirinya.
"Kamu akhirnya tiba di sini.. " Tutur Rehan menyeringai
"Dimana Reva?" Tanya Nevan masuk ke dalam ruangan itu mencari keberadaan Reva
Nevan menodongkan pistolnya dari arah pintu, tepat ke arah bagian kepala Rehan. Namun meski Nevan sudah berbuat seperti itu, Rehan sama sekali tidak memiliki raut wajah takut di wajahnya.
Meski dihadapkan dengan kepungan para bawahan Nevan, Rehan benar-benar masih terlihat santai tanpa sedikit pun rasa panik di wajahnya.
Ditengah pertikaian keduanya, Anggi bersama dengan orang tua Nevan yang baru saja tiba ikut bergabung di sisi Nevan.
"Dimana Reva? Mengapa aku tidak melihat puntriku disini?" Tanya Anggi sedikit panik karena tak kunjung menjumpai putrinya
"Rehan!" Tegur Anggi menoleh ke arah Rehan
"Dia baik-baik saja, jadi anda tidak perlu khawatir" Jawab Rehan bersikap sopan hanya pada ibu Reva
"Rehan!" Kali ini giliran Ayah Nevan yang maju kedepan memanggil nama Rehan
__ADS_1
"Jangan sebut namaku, kamu sama sekali tidak pantas melakukannya" Seru Rehan penuh amarah dengan tangan menunjukkan tepat di wajah Ayah Nevan
"Tolong berikan aku kesempatan untuk menjelaskan apa yang terjadi saat itu.. "
Ayah Nevan yang mulai ingin menjelaskan kejadian sebenarnya terhenti dan sontak menoleh saat terdengar suara teriakan dari arah belakang.
"Nevan!" Teriak
Teriakan keras dari arah belakang menggema seisi ruangan itu, terlihat Reva dalam keadaan yang begitu berantakan dengan beberapa bercak darah pada baju yang dipakainya.
"Reva?" Rehan yang melihat kedatangan Reva benar-benar dibuat kaget, ia terlalu meremehkan Reva. Bahkan dengan semua bawahan nya di sana, mereka tetap tidak bisa menahan Reva
Sesaat setelah kedatangan Reva, beberapa bawahan tak terkecuali asisten Rehan ikut mengejar dari belakang. Mereka yang tak bisa menahan Reva, hanya bisa memalingkan wajahnya tak sanggup menatap ekspresi kecewa dari Rehan saat ini.
Rehan yang mulai emosi karena rencananya digagalkan oleh Reva, akhirnya bangkit dari duduknya dan mengambil sebuah remot dari dalam saku celananya.
"Sebaiknya kalian diam di tempat, sebelum aku menekan tombol merah ini.. Kalian pastinya sudah tidak asing lagi dengan remot ini bukan?" Tutur Rehan memperlihatkan remot itu
Nevan yang hampir berlari ke sisi Reva, sontak terhenti saat melihat remot kecil itu.
"Hentikan! Aku tidak akan bergerak, jadi jangan menekannya" Tutur Nevan dengan ekspresi kaget sekaligus panik saat mengenali benda kecil itu
"Jangan bilang itu.. Bom?" Tanya Anggi karena kurang yakin meski pertanyaannya ini sudah jelas hanya dengan melihat reaksi Nevan saat ini
Rehan hanya menyeringai kecil, lalu berjalan ke arah Reva yang juga dibuat diam.
"Rehan..! Jangan bertindak berlebihan, ada banyak nyawa disini, apa kamu tidak memikirkannya" Ucap Reva berniat membujuk Rehan
"Tidak akan terbuang sia-sia Reva.. Mereka semua akan menjadi persembahan untuk arwah Ibuku.. Jadi kamu tidak perlu mengasihani mereka.. " Jawab Rehan seraya mengusap air mata Reva yang mencelos jatuh di wajahnya
....
Ditengah ketegangan orang-orang yang ada diruangan itu, seorang gadis dengan tudung hitam menutupi wajahnya, mengeluarkan sebuah pistol dari saku celananya dan mengarahkannya tepat ke arah Reva yang tengah fokus dengan Rehan, dan dalam hembusan nafas ketiganya, ia dengan cepat menarik pelatuknya dan..
__ADS_1
Doorrrrr..