
Setelah pembicaraannya dengan Kevin, Nevan naik ke ruang kerjanya di lantai atas bersama dengan Rangga. Sementara Kevin kini menghampiri Reva yang masih berada di meja makan menikmati makan siangnya yang sejak tadi tertunda.
"Jadi aku harus memanggilmu dengan nama Reva atau Kakak Ipar?" Goda Kevin dengan smirk di wajahnya
"Panggil aku Reva. Lagi pula aku dan Nevan tidak memiliki hubungan apa-apa. Kami hanya tidak sengaja terlibat satu sama lain"
"Tapi yang aku dengar dari Kakakku tidak seperti itu, dia sepertinya serius denganmu"
Reva meletakkan sendoknya lalu menatap Kevin serius "Tidak perlu memikirkan hal ini. Bagaimana dengan kartuku? Kamu menggunakannya?"
"Jangan bilang kamu menyesal?"
"Bukan itu. Pertanyaaku kamu sudah menggunakannya atau tidak? "
"Belum"
"Kalau begitu kembalikan. Aku akan mengganti biaya perbaikan mobilmu, tapi kembalikan kartu itu"
"Terlambat. Kartu itu baru saja diambil Kakak"
"Kenapa dia mengambilnya?"
"Karena dia memintanya"
Reva menepuk jidatnya pusing, satu persatu rahasianya perlahan diketahui oleh Nevan.
...***...
Sementara itu, Nevan dan Rangga kini berada di ruang kerjanya. Rangga yang sejak tadi mengkhawatirkan masalah Kevin dan Reva yang ia sembunyikan Nevan, kini merasa lega karena Nevan yang teralihkan dengan hal yang lain.
"Batalkan semua kerja sama dengan Restoran X"
"Baik tuan" Jawab Rangga patuh tanpa balik bertanya alasan "Tuan baru menjalin kerja sama seminggu yang lalu dengan restoran ini, karena itulah ia memilih mengunjunginya hari ini. Entah apa yang terjadi disana" Ucap Rangga dalam hati, namun tidak berani mengungkapkan
Tok.. Tok.. Tok..
"Nevan.. " Panggil Reva tiba-tiba dari luar ruangan
Rangga lalu membuka pintu ruangan tersebut, mempersilahkan Reva masuk kedalam.
"Kamu sibuk? " Tanya Reva
"Tidak. Kamu butuh sesuatu?"
"Hmm.. Aku ingin meminta black card itu kembali" Pinta Reva
__ADS_1
"Ini.. " Nevan lalu mengeluarkan black card tadi dari saku celananya
"Kamu tidak akan bertanya?"
"Kamu akan memberitahuku?"
"Mungkin.. " Jawab Reva kurang yakin
"Kalau begitu, berapa banyak lagi rahasia yang kamu sembunyikan dariku?" Tanya Nevan mendekat
"Hanya sedikit rahasia kecil. Mari kita bahas lain kali. Aku masih ada urusan dengan Rangga" Balas Reva sengaja menghindar karena saat ini ia masih memiliki hal yang harus dilakukan
"Ikut denganku, aku memerlukan bantuanmu" Pinta Reva menarik lengan Rangga keluar dari ruangan tanpa menghiraukan persetujuannya dan Nevan
Rangga yang ditarik secara paksa hanya bisa pasrah mengikuti keinginan Reva.
"Apa yang bisa saya lakukan Non?" Tanya Rangga kemudian
"Bantu aku membeli barang-barang ini dan kirim ke alamat ini. Pastikan semuanya asli, tanpa cacat sedikitpun" Pinta Reva memberikan kartu ATM nya pada Rangga
"Ini bukannya alamat Restoran X yang baru saja dibahas tuan! " Batin Rangga melihat alamat tersebut
"Apa saya harus menyembunyikannya dari tuan?"
"Tidak harus. Tapi lebih baik tidak memberitahunya, aku hanya tidak ingin terlalu merepotkannya"
"Jangan sampai terlambat, lakukan hari ini jika bisa" Ujar Reva memperingati
"Baik Non" Balas Rangga sopan sebelum pergi meninggalkan Reva
...***...
Reva kembali ke kamarnya setelah meminta bantuan dari Rangga. Ketimbang dirinya, mungkin akan lebih cepat bagi Rangga membeli semua barang-barang itu dengan mengandalkan koneksinya.
Namun setibanya ia di kamar, ia dikejutkan dengan kedatangan Kevin yang kini berbaring di kasurnya.
"Apa yang kamu lakukan disini?"
"Istirahat" Jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya dari ponselnya
"Jawab dengan serius. Aku tidak memiliki waktu bermain-main denganmu, jika kamu ingin istirahat maka istirahat di kamar lain, ada banyak kamar di rumah ini yang bisa kamu gunakan. Seharusnya kamu mengetahuinya lebih baik dariku"
Kevin lalu bangun terduduk di tepi kasur, menatap setiap inci bagian tubuh Reva dengan seksama.
"Apa yang kamu lakukan? Dasar mes*m" Umpat Reva merasa dejavu mengingat Nevan yang juga selalu bertindak mes*m jika berada di dekatnya
__ADS_1
"Tidak. Hanya saja, aku sedikit tertarik dengan mu. Apa yang kamu miliki hingga membuat Kakak menyukaimu"
"Hah? Tanyakan itu pada Kakakmu, lagi pula jika harus memilih, aku memilih untuk tidak pernah terlibat dengan kakakmu" Tutur Reva tanpa sadar
"Oh, kamu benar-benar berfikir seperti itu?" Sela Nevan dari arah pintu yang entah sejak kapan berada disana
Reva yang mendengarnya tersentak kaget tidak menyangka dengan kedatangannya yang begitu tiba-tiba.
"Keluar. Ada banyak hal yang harus aku luruskan dengannya" Ujar Nevan menatap Kevin dengan sorot mata tajam
Kevin hanya bisa pasrah keluar dari kamar. Seperti biasa, ia selalu tidak berdaya jika berhadapan dengan Kakaknya.
....
"Apa yang barusan aku katakan? Apa dia marah? Kenapa aku jadi gugup begini?" Batin Reva bingung dengan ekspresi Nevan saat ini
"Jadi, apa kamu benar-benar tidak suka berhubungan denganku?" Tanya Nevan mendekat sembari menyandarkan keningnya di pundak Reva
"Bukan seperti itu.. " Jawab Reva gugup
"Jadi seperti apa? "
Reva menghela nafasnya pelan. Entah bagaimana, ia merasakan perasaan bersalah karena ucapannya tadi. Ia sadar akan perasaanya, namun ia tetap berusaha menyembunyikannya karena rasa takut akan pengkhianatan.
"Apa semua orang selemah ini di hadapan orang yang dicintainya?" Batin Reva tak berdaya
"Maaf.. Kata-kataku barusan hanya lah kebohongan. Aku tidak tahu sejak kapan, tapi aku yang sekarang memang memiliki perasaan terhadapmu" Ucap Reva pada akhirnya mengatakannya
"Aku terlalu takut dengan pengkhiatan. Orang-orang terdekatku memilih mengkhianatiku dan meninggalkanku sendiri. Karena itulah aku tidak pernah suka dengan perasaan seperti ini"
"Jadi Nevan.. Apa kamu akan mengkhianatiku?" Tanya Reva dengan sorot mata serius
"Tidak akan" Jawab Nevan serius menatap mata Reva, sorot mata yang begitu dalam seolah memberitahunya akan semua rasa sakit yang dirasakan oleh Reva sebelumnya
"Aku tidak tahu apa yang pernah kamu alami. Tapi yang aku tahu, kamu satu-satunya wanita yang ku izinkan memasuki hidupku dan berada di sisiku"
"Bagaimana mungkin aku mengkhianatimu, disaat aku bahkan sudah memikirkan berbagai cara agar membuatmu bergantung dan tetap berada disisiku" Sambung Nevan dalam hatinya
Suasana kembali hening sejenak. Hingga pada akhirnya Reva kembali membuka mulutnya, dengan tatatapan yang masih dipenuhi keraguan.
"Tapi.. "
"Tidak apa-apa. Yang harus kamu ingat, perasaan aku ke kamu itu nyata. Mulai saat ini, kalau kamu butuh pelukan? aku ada. Kamu butuh sandaran? Bahu aku siap. Kamu butuh pendengar? Aku disini. Dan kalau kamu butuh rumah sebagai tempat untuk kembali? Maka jangan ragu untuk datang padaku" Tutur Nevan dengan tatapan teduh penuh kelembutan
"I will always be here for you. So.. Will you be mine? Please?" Pinta Nevan masih dengan nada lembutnya, sembari menyatukan keningnya dengan kening Reva
__ADS_1
Untuk pertama kalinya dalam hidup Reva, seseorang memperlakukannya dengan begitu lembut seperti itu seolah-olah ia adalah gadis paling berharga dan istimewa di dunia ini.
Reva yang kini benar-benar merasa tersentuh, tak kuasa menahan air matanya. Ia dengan cepat memeluk tubuh Nevan, membenamkan kepalanya di dada Nevan dengan air mata yang kian mengalir deras.