
Rangga yang baru tiba di rumah lantas menghampiri Bagas yang kini sibuk dengan beberapa hacker yang tengah sibuk melacak keberadaan Rehan dan Reva.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Rangga pada Bagas
"Rehan menculik Reva. Nevan yang berniat mencarinya, malah mengalami kecelakaan dan sekarang masih belum sadarkan diri di rumah sakit" Jawab Bagas singkat
"Aku harusnya lebih ber hati-hati.. " Ucap Rangga merutuki dirinya karena terlalu ceroboh hingga membuatnya jatuh ke dalam jebakan Intan dan bahkan tidak sadar akan Rehan yang ternyata seorang musuh
"Tidak perlu merasa bersalah, semua orang pasti merasa bersalah karena kelalaian diri mereka masing-masing tak terkecuali aku. Tapi saat ini, fokus utama kita adalah menemukan Reva" Ucap Bagas tak ingin membuang-buang waktunya hanya untuk meratapi kesalahannya
"Kamu benar.. " Ucap Rangga berusaha tegar
....
Bersamaan dengan itu, Arya bersama dengan Anggi dan Geral juga tiba di rumah Nevan sesaat setelah kedatangan Rangga.
"Bagaimana? Apa kalian menemukan sesuatu?" Tanya Anggi sembari duduk di kursi depan komputer menggantikan seorang hacker
"Lokasi terakhir Rehan adalah di gedung ini. Aku sudah memeriksa semua CCTV di gedung dan sekitarnya tapi dia sama sekali tidak meninggalkan gedung ini"
"Tapi kami tidak bisa menukannya disana yang berarti mereka menggunakan helikopter meninggalkan kota ini" Sambung Bagas setelah penelusuran nya sejak tadi
Anggi memijat keningnya pening, jika sesuai yang dikatakan Bagas, maka akan sulit untuk melacak keberadaan Rehan karena tak ada satupun yang bisa melacak kemana perginya helikopter itu.
"Ini akan memakan waktu yang lama.. " Ucap Anggi tak bisa berbuat apa-apa "Untuk sekarang, kumpulkan semua informasi tentang Rehan. Ingat untuk melakukannya dengan teliti agar tidak melewatkan informasi sekecil apapun" Perintah Anggi kemudian
...***...
Jam di dinding menunjukkan pukul 1 tengah malam saat Reva yang kini berada di sebuah ruangan tertutup perlahan sadar kembali. Tangannya naik memijat keningnya yang terasa sedikit pusing akibat obat yang diberikan oleh Rehan sebelumnya.
Reva yang sejak tadi meremas keningnya, sontak bangun terduduk saat sadar jika saat ini ia tidak berada di kamarnya. Reva dengan cepat bangun dan membuka gorden.
Pemandangan yang tampak begitu asing kini terpampang dihadapannya, membuat Reva dengan cepat berlari ke pintu berniat untuk keluar namun sayangnya pintu itu terkunci dari luar.
__ADS_1
Tepat saat Reva berniat untuk berteriak, pintu itu tiba-tiba terbuka dari arah luar. Yang ternyata dibuka oleh Rehan yang kini tersenyum menatap Reva.
"Re-rehan? Dimana ini? Aku mau pulang " Ucap Reva berniat keluar namun Rehan dengan cepat mengangkat dan membopong tubuhhya masuk kembali ke dalam kamar
"Berhenti melawan karena itu tidak ada gunanya" Ucap Rehan kemudian
"Aku mau pulang. Biarkan aku pulang" Ucap Reva sama sekali tidak mengindahkan ucapan Rehan barusan
"Reva! Bersikaplah bijaksana dan tetap diam disini" Tegur Rehan
"Tidak akan. Aku tidak akan pernah sudi tinggal di sini. Jadi biarkan aku pulang"
"Reva..! " Bentak Rehan tiba-tiba
Reva menatap Rehan kaget karena tidak menyangka jika Rehan akan membentak nya seperti itu "Apa ini sifat asli kamu?" Tanya Reva lirih
Rehan berdiri sambil berkacak pinggang, sedikit menyesal akan apa yang baru diperbuatnya "Maaf.. Aku bukan bermaksud membentakmu. Sekarang kamu istirahat, kita akan bicara saat kamu sudah tenang kembali" Ucap Rehan kemudian
"Aku mau pulang Rehan.. Kamu tidak bisa berbuat seperti ini padaku.. Rehann.. " Teriak Reva namun tidak digubris oleh Rehan yang kini keluar dari kamar, tak lupa mengunci pintu kamar Reva
Melihat hal itu Reva menjadi emosi dan berteriak kesal sembari mengumpat dan melempar bantalnya ke sembarang arah di ruangan itu.
Rehan yang mendengarnya dari luar hanya tersenyum karena hal ini sudah diperkirakan nya. Meski akan memakan waktu yang lama, ia percaya jika dirinya suatu saat akan membuat Reva sadar jika pria seperti Nevan sama sekali tidak pantas untuk dicintai.
...***...
Keesokan paginya, Reva masih di posisi yang sama. Duduk bersandar di kasur dengan kaki ditekuk. Matanya sembab setelah semalaman menangis dan merutuki dirinya yang begitu bodoh karena tertipu oleh Rehan selama ini.
"Keluar..! " Ucap Reva dingin saat pintu kamar terbuka, memperlihatkan Rehan yang kini masuk ke dalam kamar sembari membawa nampan yang berisi sarapan pagi untuk Reva
Rehan hanya diam tidak perduli dengan kata-kata Reva dan tetap menyajikan sarapannya sembari duduk di kasur di samping Reva.
"Kamu pasti lapar, ayo makan dulu. Biar aku menyuapimu" Ucap Rehan sama sekali tidak menghiraukan kondisi dan penolakan dari Reva
__ADS_1
"Aku bilang keluar.. ! " Sarkas Reva tajam saat sembari menepis makanan itu membuatnya terlempar ke lantai
Rehan yang diperlakukan seperti itu, berusaha menenangkan dirinya sembari menghela nafasnya "Apa kamu harus sekejam itu, kamu bahkan belum mencicipi nya barang sedikitpun" Ucap Rehan lirih sembari memungut makanan yang kini berserakan di lantai
"Aku mau pulang.. " Ucap Reva kembali terisak
"Tidak. Kamu harus tetap disini. Dia sama sekali tidak pantas untukmu" Balas Rehan
"Bukan hak kamu untuk ikut campur dalam kehidupanku"
"Tapi aku mencintaimu.. Aku bisa memperlakukanmu lebih baik dari apa yang Nevan lakukan.. Aku bisa memberikan segalanya untukmu.. Jadi apa yang berbeda darinya?" Tanya Rehan menatap Reva tulus
"Tapi aku tidak mencintaimu Rehan.. Kamu seharusnya tahu hal itu dengan jelas.. "
Rehan menggelengkan kepalanya tidak suka dengan apa yang barusan di katakan oleh Reva "Aku tidak suka penolakan. Lagi pula cinta yang kau rasakan saat ini, suatu hari akan memudar saat orang yang kamu cintai sudah tidak berada di dunia ini" Ucap Rehan sebelum beranjak pergi
"Apa maksud kamu? Apa yang terjadi pada Nevan?" Tanya Reva sontak berlari mencegat Rehan keluar dari ruangan itu
"Kamu seharusnya mengerti dari apa yang barusan aku katakan Reva.. Kami tidak sebodoh itu untuk tidak menyadarinya" Jawab Rehan serius
"Tidak.. Tidakk... Itu tidak mungkin terjadi.. Nevan tidak mungkin.. Hiks.. " Reva jatuh tersungkur di lantai, tangisnya seketika pecah mendengar kata-kata Rehan barusan
Sementara Rehan yang tidak ingin membahas hal ini lebih lanjut, memilih untuk keluar dari ruangan itu membiarkan Reva untuk sementara waktu.
...
Setelah keluar dari kamar Reva tadi, Rehan memanggil dua orang pembantu di rumah itu dan meminta keduanya untuk menyiapkan sarapan kembali dan membawanya ke kamar Reva.
Setelah memberikan perintah itu, Rehan kembali naik ke lantai dua tempat ruang kerjanya berada. Di dalam ruang kerjanya terdapat, orang kepercayaannya yakni Carlos, yang masih duduk di sofa berkutat dengan laptop dan dokumen di tangannya.
"Bagaimana?" Tanya Rehan saat masuk ke dalam
"Sesuai perintah Tuan, semuanya sudah dibereskan. Mereka tidak akan bisa menemukan informasi barang sedikitpun tentang Tuan" Jawab Carlos kemudian
__ADS_1
"Tetap pantau aktivitas mereka, jangan sampai mereka menemukan tempat ini. Meski itu akan membutuhkan waktu yang lama dan bahkan mustahil bagi mereka untuk menemukannya" Ucap Rehan menyeringai sembari menatap keluar jendela
Nyatanya, rumah yang saat ini ditempati oleh Rehan berada di tempat terpencil. Bahkan rumah ini dilengkapi keamanan yang begitu tinggi dan canggih, dengan pagar dinding menjulang tinggi. Membuat siapapun akan kesulitan untuk sekedar masuk kedalam.