Belenggu Cinta, Mafia Kejam

Belenggu Cinta, Mafia Kejam
Berkunjung


__ADS_3

Sejak pagi tadi, Reva hanya diam di ruang tamu mengutak-atik laptop dan ponselnya secara bergantian. Dan sesekali menyapa siapapun yang turun ke bawah termasuk ibunya yang tadi bertingkah aneh dan juga Geral yang kini keluar karena beberapa urusan.


Karena mulai merasa bosan, Reva memutuskan untuk mengunjungi Rehan yang mungkin tengah sibuk melakukan terapi untuk kesembuhannya.


"David.. " Panggil Reva tanpa sengaja berpapasan dengan David yang baru saja melakukan latihan pagi


"Iya Non.. " Jawab David menghampiri Reva


"Apa yang lakukan setelah ini?" Tanya Reva kemudian


"Tidak ada Non" Jawab David tanpa pikir panjang


"Kalau begitu ayo keluar denganku, aku bosan di rumah. Aku akan mengunjungi Nevan di perusahaannya" Ajak Reva


"Baik Non, saya akan segera bersiap-siap"


"Tidak perlu terburu-buru. Aku akan menjenguk Rehan, jadi gunakan waktumu dengan santai" Tutur Reva yang kemudian diangguki oleh David


Reva lalu melanjutkan jalannya menuju ke kamar Rehan yang berada di lantai kedua.


....


Tok.. Tok.. Tok..


Reva berdiri tepat di pintu kamar lalu mengetuk pintu itu dari luar "Woahh.. Kamu sudah bisa berdiri?" Tanya Reva kagum saat melihat Rehan yang kini berdiri tanpa bantuan dari terapi itu, meski tubuhnya masih bertumpu pada tangannya yang berpegangan erat pada pegangan besi


"Revaa.. Apa yang kamu lakukan disini? " Tanya Rehan antusias karena kedatangan Reva yang tiba-tiba, hingga membuatnya tanpa sadar melepas pegangannya membuatnya hampir terjatuh di lantai jika bukan Reva yang dengan gercep menangkapnya


"Hati-hati.. " Tutur Reva sembari membantu Rehan berjalan ke kasurnya


"Ini baru beberapa hari, apa kamu tidak terlalu memaksakan dirimu?" Tanya Reva karena Rehn yang sudah bisa berdiri hanya dalam waktu singkat itu


"Tidak apa-apa, mungkin karena aku sudah terbiasa, ini sama sekali tidak begitu menyakitkan untukku. Lagipula sejak awal, kondisi tubuhku jauh lebih berbeda dari orang lain pada umumnya" Tutur Rehan yang sudah terbiasa mendapat luka di tubuhnya


"Tapi tetap saja, tidak perlu terlalu memaksakan diri" Ucap Reva khawatir


"Hm.. Aku akan mengingatnya. Lagipula, aku melakukan ini karena aku bosan berada di kamar ini setiap hari " Keluh Rehan menatap ke luar jendela kamarnya


Reva berfikir sejenak "Kalau begitu aku akan membawamu keluar besok, kamu bisa melakukan terapi di luar ruangan. Lagipula, aku tidak memiliki jadwal kuliah di akhir pekan" Tutur Reva mengusulkan


"Kalau begitu sepakat.. " Ucap Rehan tersenyum girang


Sejak pulang ke rumah Nevan, Rehan tak lagi canggung saat berbicara dengan Reva tanpa kata 'Non', karena sejak awal ia memang selalu memanggil Reva seperti itu meski secara diam-diam.


....

__ADS_1


Tok.. Tok.. Tok..


Keduanya menoleh ke arah pintu secara bersamaan. David yang sudah selesai dengan setelan pengawalnya kini berdiri di pintu kamar Rehan.


"Oh.. Kamu sudah selesai. Kalau begitu ayo pergi.. " Tutur Reva bangkit dari kursinya


"Kamu mau pergi?" Tanya Rehan meraih lengan Reva


David yang melihatnya sedikit mengerutkan keningnya, ia belum terbiasa melihat Rehan bersikap santai di depan Reva seperti itu. Terutama karena ia dengan berani menyentuh lengannya.


"Hmm.. Aku akan ke kantor Nevan... " Jawab Reva kemudian


"Oh.. Kalau begitu hati-hati di jalan.. " Tutur Rehan lalu melepas genggamannya sedikit kecewa


"Kalau begitu aku pergi.. " Pamit Reva sebelum meninggalkan Rehan di kamarnya


...***...


Reva yang baru saja akan meninggalkan rumah seketika berhenti dan mengurjngkan niatnya saat ia berpapasan dengan ibunya yang kini membawa koper turun ke lantai bawah.


"Mama mau kemana? Kok bawa koper?" Tanya Reva langsung menghampiri ibunya


"Mama mau ke kota S " Jawab Ibu Reva sembari menurunu tangga


"Mama mau ngapain di sana? Kok mendadak gini? " Tanya Reva bingung sekaligus khawatir jika saja ibunya tidak kembali


"Mama serius kan? " Tanya Reva masih dengan ketidakpercayaan nya


"Iya. Mama cuma ingin mengunjungi Nenekmu dan mungkin ayah kamu juga.. "


"Kalau gitu, mana hp Mama?" Pinta Reva meminta ponsel ibunya untuk berjaga-jaga


Anggi lalu mengeluarkan ponselnya dari tasnya dan memberikannya pada Reva "Apa yang ingin kami lakukan? Memasang GPS?" tanya nya mencoba menebak


"Iya. Biar aku bisa memantau semua aktivitas Mama.. " Jawab Reva jujur


Anggi hanya tersenyum hangat lalu memeluk tubuh Reva sebagai salam perpisahaan "Mama akan sering - sering menghubungimu" Tutur Anggi menenangkan putrinya


"Iya Ma.. " Reva balas memeluk ibunya "Mau Reva antar ke bandara?" Tanyanya kemudian


"Tidak perlu sayang, Mama sudah memesan taksi tadi" Tolak Anggi


"Kalau begitu, Mama hati-hati di jalan. Kabari Reva kalau Mama sudah sampai" Pinta Reva untuk terakhir kalinya


"Iya. Mama pasti akan menghubungimu" Tutur Anggi sembari berjalan keluar dengan Reva yang masih menggandeng lengannya

__ADS_1


Sementara David mengikuti dari belakang sembari membawa koper dan tas milik Ibu Reva.


...***...


Setelah kepergian ibunya yang begitu tiba-tiba, Reva akhirnya berangkat ke perusahaan Nevan dengan ditemani oleh David.


Berbeda dengan sebelumnya, Reva kini benar-benar bebas di perusahaan Nevan mengingat hampir semua karyawan di perusahaan itu sudah mengenal dirinya. Hal ini membuatnya semakin bebas berbuat sesuka hatinya, seolah-olah perusahaan itu hanya diajadikan teman bermain olehnya.


Meski begitu, kedatangan Reva di perusahaan menjadi kebahagiaan tersendiri untuk beberapa karyawan karena sikap Nevan yang juga ikut terpengaruh.


....


Reva yang baru tiba di perusahaan, berhenti di ruangan security setelah melihat jam di tangannya yang masih menunjukkan pukul 10 pagi. Karena tak ingin mengganggu pekerjaan Nevan, ia memutuskan untuk tinggal beberapa saat di ruang security bersama dengan kedua security lainnya.


"Bantu aku membeli beberapa cemilan di kantin.. " Pinta Reva pada David yang hanya diangguki oleh David


"Ini nggak apa-apa Non Reva disini? " Tanya Pak Andre salah satu security


"Iya. Nggak papa pak. Aku masuk juga takutnya ganggu dia kerja" Tutur Reva sudah begitu mengenal sikap Nevan yang bisa dengan begitu saja meninggalkan pekerjaan nya jika berhubungan dengannya


"Mending kita main sekarang.. " Tutur Reva mengeluarkan domino dari tasnya yang entah sejak kapan berada disana


"Ini beneran nggak apa-apa kan Non?" Tanya security itu kembali untuk memastikan


"Iya. Nanti kalau ada apa-apa, aku yang tanggung" Tutur Reva santai


Pada akhirnya, keduanya ikut bermain dengan Reva. Sembari menunggu David membawakan cemilan untuk ketiganya.


....


Sementara itu David yang masuk ke dalam perusahaan kini tiba di kantin dan memesan semua menu disana karena Reva yang tidak menyebutkan apa yang diinginkannya.


"Ini terlalu banyak untuk kubawa sendiri.. " Tutur David menatap semua makanan yang dipesannya


David lalu mengedarkan pandangannya namun tidak menemukan satupun karyawan di kantin. Karena itu lah ia memutuskan untuk mencari di sekitar kantin. Dan betapa beruntungnya, ia bertemu dengan Rangga yang kebetulan turun mengambil kopi.


"Rangga.. Apa yang sedang kamu lakukan?" Tanya David menghampiri Rangga


"Aku mengambil kopi untuk tuan. Ada apa? Bukankah kamu di rumah menjadi Non Reva?" Tanya Rangga balik


"Non Reva ada di depan di ruang security, dia memintaku mengambil cemilan dan itu terlalu banyak untuk aku bawa sendiri"


"Kalau begitu, biar aku membantumu" Tutur Rangga menawarkan bantuannya


"Bagaimana dengan kopi tuan?"

__ADS_1


"Tidak perlu khawatir. Aku akan mengantarnya setelah membantumu. Tuan tidak akan mempersalahkan jika itu untuk Non Reva" Tutur Rangga


"Baiklah" Balas David lalu kembali ke kantin diikuti oleh Rangga di belakang


__ADS_2