Belenggu Cinta, Mafia Kejam

Belenggu Cinta, Mafia Kejam
Bersikap aneh


__ADS_3

Setelah berlibur selama seminggu lebih, Nevan kembali di sibukkan dengan berbagai laporan yang harus diperiksa nya, membuatnya belum meninggalkan ruang kerja sejak pagi tadi.


"Seharusnya aku meminta Regan untuk menginap tadi.. " Gerutu Reva karena merasa bosan tanpa seorang pun yang bisa ia ajak bermain


Reva pada akhirnya memilih untuk datang berlatih ke bangunan belakang, guna melepas rasa bosannya.


"Rangga? Darimana saja kamu?" Tanya Reva tak sengaja berpapasan dengan Rangga yang baru saja tiba


"Aku ada sedikit urusan di luar Non.. " Jawab Rangga menggaruk rambutnya yang tidak terasa gatal itu dengan senyum canggung yang bisa dengan jelas diketahui oleh Reva


"Kamu lelah? Bagaimana jika menemaniku berlatih sebentar?" Tanya Reva menawarkan dengan maksud untuk mencari tahu apa yang terjadi pada Rangga setelah melihat sikapnya yang jelas-jelas tengah menyembunyikan sesuatu


"Baik Non.. " Balas Rangga menyetujui lalu mengikuti Reva ke ruangan latihan boxing


Bangunan itu tampak sepi saat keduanya masuk ke dalam. Hanya ada satu dua pengawal yang sempat dijumpai keduanya.


"Apa biasanya memang sesepi ini?" Tanya Reva merasa aneh


"Tidak Non. Sepertinya para pengawal tengah melakukan tugas di luar, karena itulah hanya ada beberapa yang tinggal di rumah saat ini" Jawab Rangga sudah terbiasa


Reva hanya mengangguk-ngangguk mengerti, sembari memakai sarung boxing begitupun dengan Rangga.


"Ini hanya Sparring, jadi jangan terlalu berlebihan melawan ku" Tutur Reva mengingatkan


"Bukankah seharusnya aku yang berkata seperti itu Non.." Balas Rangga mengingat Rehan dan David pernah menjadi samsak bagi Reva


"Jangan bercanda, aku tidak terlalu yakin untuk bisa menang melawanmu. Bagaimana pun kamu ini tangan kanan dari seseorang yang menakutkan, seharusnya kemampuanmu tidak berbeda jauh dengan tuanmu" Tutur Reva


"Sepertinya anda salah Nona muda, aku berada di samping tuan bukan karena mengandalkan otot melainkan otak" Balas Rangga terkekeh kecil sembari menangkis semua serangan Reva


Bahkan jika dia bisa bertarung, kemampuannya masih terbilang rendah jika harus berhadapan dengan yang lainnya khususnya Rehan.


"Oh.. Ternyata seperti itu.. "


"Iya Non. Bagaimana pun, dengan kemampuan Tuan, sangat sulit bagi musuhnya untuk bisa menyentuh apalagi melukainya" Tutur Rangga sangat mengenal kekuatan dari majikannya itu


"Sejak kapan kamu mengikutinya? Apa keluargamu baik-baik saja dengan kehidupanmu saat ini?" Tanya Reva kembali

__ADS_1


"Aku sudah tidak memilikinya.. " Jawab Rangga lirih dengan tatapan sayu


"Maaf.. " Tutur Reva menyesal


"Tidak masalah. Lagipula kehidupanku saat ini jauh lebih baik dari yang dulu"


"Yeah aku bisa melihatnya. Karena itulah, jangan ragu untuk datang padaku jika kamu memiliki masalah. Aku pasti akan membantumu mencari solusinya" Tutur Reva melepas sarung boxing nya sembari menepuk pundak Rangga sebelum berlalu pergi meninggalkan Rangga yang kini terduduk di lantai


"Apa Nona muda mengetahuinya.. " Gumam Rangga menghela nafasnya panjang sembari membaringkan tubuhnya dengan lengan menutupi wajahnya


"Apa aku benar-benar bisa mendapat bantuannya?" Gumamnya merasa dilema akan apa yang harus dilakukannya untuk kedepannya nanti


...***...


Reva kembali ke kamarnya, berniat untuk membersihkan dirinya yang kini dipenuhi peluh keringat setelah sparring tadi.


"Dia benar-benar menyembunyikan sesuatu... " Gumam Reva mengingat ekspresi Rangga dari sejak ia pertama bertemu tadi hingga ia meninggalkannya


Berulang kali, Rangga memalingkan wajahnya dan tidak berani menatap mata Reva membuat kecurigaan Reva semakin meningkat karena tingkahnya yang benar-benar aneh.


"Lupakan.. aku akan bertanya pada Nevan nanti.. "


Reva lalu mematikan shower, meraih handuknya dan melingkarkan nya di tubuhnya, lalu keluar dari kamar mandi.


"Kamu pasti lelah, mandilah.. " Ucap Reva menghampiri Nevan yang ternyata sudah kembali ke kamar


"Hmm.. Aku akan mandi sebentar" Balas Nevan mengecup singkat jidat Reva sebelum masuk ke dalam kamar mandi


Sementara Nevan mandi, Reva segera mengenakan pakaiannya dan mengeringkan rambutnya lalu berbaring di kasur sembari membaca beberapa materi kuliahnya yang telah susah payah dikumpul oleh Feli sebelumnya.


...


Tak berselang lama kemudian, Nevan keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk memperlihatkan tubuh kotak-kotak miliknya yang masih basah terkena tetesan air yang mengalir dari atas rambutnya.


"Bantu aku.. " Pinta Nevan memberikan Reva hairdryer agar ia membantu mengeringkan rambutnya


Reva lalu menutup bukunya dan manaruhnya di atas meja, lalu meraih hairdryer itu, mengeringkan rambut Nevan yang seolah sudah menjadi tugas kesehariannya.

__ADS_1


"Aku baru saja bertemu dengan Rangga.. " Tutur Reva mengungkit tentang Rangga


"Ada apa dengannya?" Tanya Nevan sedikit menolehkan kepalanya ke atas


"Dia sedikit aneh. Apa kamu tidak menyadarinya, akhir-akhir ini ia tampak begitu murung, belum lagi ia sering keluar dan pulang larut malam" Jawab Reva yang sudah memperhatikan perubahan sikap Rangga dari sejak ia kembali dari Swiss


Bohong jika Nevan tidak menyadarinya. Bahkan meskipun jika ia sibuk dengan pekerjaannya, ia tetap bisa merasakan kejanggalan akan sikap Rangga.


"Dia memang sedikit aneh akhir-akhir ini. Aku berfikir untuk menunggunya memberitahuku sendiri akan apa yang terjadi" Ujar Nevan tak ingin memaksa terlibat, terutama jika Rangga tidak meminta bantuannya sendiri


"Jika dia masih menyembunyikannya, aku sendiri yang akan ikut campur dan mencari tahu apa yang terjadi" Tutur Reva kemudian


"Jangan terlalu membebani dirimu. Masalah Rangga, aku pasti akan menyelesaikannya" Tutur Nevan meraih hairdryer yang dipegang Reva lalu mematikannya dan meletakkannya kembali di lemari


Setelah itu, Nevan berbaring di kasur semberi merentangkan tangan kanannya, agar Reva bisa menggunakannya sebagai pengganti bantal.


"Bukankah kita seharusnya membicarakan hal yang lebih penting lagi" Ucap Nevan setengah berbisik di kuping Reva


"Hmm? Lebih penting? Apa maksud kamu?" Tanya Rena mendongakkan kepalanya tidak mengerti


"Bukankah kamu sudah menerima lamaran ku, jadi kapan kita akan menikah? " Tanya Nevan mengingatkan jika Reva sudah setuju untuk menikah dengannya, namun karena terlalu sibuk Nevan jadi lupa untuk menentukan waktunya


Reva sontak menunduk, ia benar-benar lupa akan hal itu karena terlalu fokus memperhatikan Rangga "Aku benar-benar belum pernah memikirkannya.. " Jawab Reva


"Hmm? " Alis Nevan terangkat sebelah


"Biarkan aku membicarakannya dengan Kak Arya dan Kak Bagas dulu, setelah itu kita bisa memberitahu orang tuanmu" Tutur Reva mencari solusi


"Mereka sudah mengetahuinya.. Mungkin saat ini mereka tengah sibuk menyusun pesta pernikahannya"


"Hah? Pesta pernikahan? Bukankah kita tidak akan melakukannya?"


"Mereka bersikeras melakukannya. Jadi aku menyetujuinya, dengan syarat pesta ini akan tertutup untuk keluarga dan orang terdekat saja. Jadi kamu tidak perlu khawatir" Ucap Nevan


"Apa yang perlu aku khawatirkan lagi.. Bukankah aku sudah tidak punya kesempatan untuk kembali"


"Itu benar. Kamu memang tidak punya kesempatan untuk kembali selain setuju dengan hal itu" Ujar Nevan lalu memeluk Reva membawanya kedalam dekapannya

__ADS_1


__ADS_2