
Setelah seharian tidur, Reva kini berada di kamar mandi berendam di dalam bathub sekedar menyegarkan tubuhnya yang terasa kaku setelah bermalas-malasan selama beberapa hari ini.
Senyum di wajahnya tak berhenti mekar, mengingat Nevan yang kini kembali ke sisinya setelah semua sandiwara yang dilakukannya.
"Apa yang kamu pikirkan? " Tanya Nevan dari arah belakang, yang kini memainkan rambut Reva
"Kapan kamu masuk? " Tanya Reva
Karena terlalu senang, Reva menjadi tidak fokus dan tidak sadar akan kedatangan Nevan di belakangnya.
"Baru saja.. " Jawab Nevan yang kini menelungsupkan kepalanya di leher Reva, mengigit dan memberinya bekas disana
"N-nevan.. Apa yang kamu lakukan.. " Lirih Reva mencoba menolak, walau bagaimana pun ia saat ini tengah telanj*ng
"Berhubung kamu sudah segar kembali, bagaimana jika kita... " Ucap Nevan menggantung kalimatnya sembari menarik dagu Reva mengecupnya pelan dengan mata yang melirik ke arah lain
"Dasar mesum.. " Imbuh Reva menarik wajahnya dengan tangan menutup bagian dadanya yang sejak tadi terkspos sebagian
"Mesum bagaimana? Bukankah ini adalah hal paling nikmat di dunia. Lagipula, bagaimana bisa aku tidak tergoda saat kamu terlihat begitu seksi seperti ini.. " Ujar Nevan masih sembari melirik ke arah tubuh Reva
"Stop.. Aku tidak ingin mendengarnya lagi.. " Ucap Reva menutup telinganya tak tahan dengan ucapan Nevan
Nevan hanya tersenyum kecil lalu mengecup kembali kening Reva "Ayo keluar. Kamu akan sakit jika berendam terlalu lama" Ucap Nevan lalu menggendong tubuh Reva keluar dari bathub sembari menarik handuk menutup tubuhnya
Nevan mendudukkan Reva di kasur, lalu berjalan ke arah meja rias mengambil hairdryer di laci meja.
"Malam itu, bagaimana kamu menemukanku?" Tanya Reva mengungkit saat di arena balap
"Seseorang mengirim fotomu padaku. Dari sejak kamu berada di kafe sampai di arena.. " Jawab Nevan jujur tak berniat menyembunyikan apapun.
"Seseorang? Aku diikuti?" Tanya Reva kaget tak menyangka jika ternyata ia diikuti dan ia sama sekali tidak menyadarinya
Sejak bersama dengan Nevan, entah mengapa penjagaan nya menjadi menurun yang mungkin karena ia mulai bergantung pada perlindungan dari Nevan.
"Iya. Orang itu menggunakan ponsel sekali pakai. Karena itulah, sulit untuk mencari tahu identitasnya"
"Kalau begitu biarkan aku yang mengurusnya, bagaimana pun aku ini seorang hacker" Pinta Reva
"Aku memang berniat seperti itu. Kamu bisa mengurusnya dengan Rangga. Hanya dengan Rangga. Tidak perlu melibatkan siapapun"
"Maksud kamu?"
__ADS_1
"Sekedar berhati-hati. Lagipula aku tidak pernah benar-benar mempercayakan apapun pada pengawal yang lain kecuali Rangga" Ucap Nevan yang sudah begitu mempercayai Rangga
"Kamu sebegitu percayanya dengan Rangga?"
"Iya. Dia satu-satunya yang aku percaya" Jawab Nevan
Nevan percaya pada Rangga bukan tanpa sebab. Sejak awal Rangga bekerja pada Nevan atas dasar balas budi karena Nevan yang pernah menyelamatkan nyawanya saat berada di ambang kematian, berbeda dengan pengawal lainnya.
"Pakai pakaianmu, setelah itu kita turun ke bawah. Kedua kakakmu sudah menunggumu sejak tadi di meja makan" Tutur Nevan baru mengatakan tujuan yang sebenarnya datang ke kamar mandi tadi
"Kenapa baru mengatakannya sekarang.. " Reva segera berlari ke lemari mengambil sebuah set piyama
Begitupun dengan Nevan yang juga mengganti bajunya karena basah terkena cipratan air dari Reva tadi.
Setelah itu, keduanya segera turun ke bawah menemui Arya dan Rangga di meja makan.
"Apa saja yang kalian lakukan? Mengapa begitu lama?" Tanya Bagas
"Huhh" Reva hanya berenggut menatap Nevan yang hanya tersenyum di sampingnya
"Jadi kapan kalian pergi?" Tanya Arya kemudian
"Kak Arya mengusir ku? "
"Kaak.. " Rengek Reva karena candaan Arya
"Aku hanya bercanda. Lagian siapa suruh kamu hanya tinggal di kamar beberapa hari ini. Kamu membuat khawatir seisi rumah ini.. " Omel Arya pada adik angkatnya itu
"Iya-iya.. Reva salah.. " Balas Reva bersikap manja
Nevan yang melihat hal tersebut, Lagi-lagi merasa iri karena Reva belum pernah bersikap manja padanya sekalipun.
***
Setelah makan malam tadi, Arya dan Reva memutuskan keluar rumah untuk berjalan-jalan. Dibandingkan dengan Bagas, Reva memang lebih dekat dengan Arya yang selama ini selalu memanjakan dan menuruti semua permintaanya. Berbeda dengan Bagas yang terkadang menolaknya sesekali.
Sementara itu, Nevan dan Bagas kini berada di salah satu balkon rumah menikmati bir mereka sembari bercakap ria.
"Sejujurnya aku tidak menyangka akan ada hari seperti ini? Bagaimana pun, dengan reputasi mu itu tidak mungkin bagiku untuk berada di tempat yang sama terutama duduk seperti ini"
"Tidak ada yang tidak mungkin. Lagipula kamu sebentar lagi akan menjadi Kakak iparku.. " Tutur Nevan santai
__ADS_1
"Kamu benar-benar serius kan dengannya? Bukan karena merasa tertantang ataupun kagum dengan karakternya?" Tanya Bagas serius
"Aku memang merasa berhutang budi padanya, tapi itu dulu. Dari sejak aku mengutarakan perasaanku padanya, aku sudah serius dan bahkan berniat melamarnya" Jawab Nevan tak kalah serius
"Apa dia sudah menceritakan masalah keluarganya?"
"Iya. Dia berkata jika dia kabur dari rumah karena tidak suka dengan ibu dan adik tirinya"
"Hanya itu?" Tanya Bagas tanpa sadar
"Memangnya ada hal apa lagi?" Tanya Nevan balik dengan alis berkerut merasakan ke anehan
"Tidak ada. Ia memang kabur dari rumah dua tahun lalu. Aku dan Arya adalah salah satu penculik yang pernah dipekerjakan orang tuanya" Jawab Bagas lirih seolah menyembunyikan sesuatu
"Itu hanya masa lalu. Lagipula, ia sudah menganggap kalian sebagai kakak kandung nya sendiri"
"Itu benar.. " Lirih Bagas tersenyum merasa senang karena dipertemukan dengan Reva
"Nevan.. Aku harap kamu bisa melindunginya dengan baik. Jangan biarkan dia kembali ke rumah itu" Pinta Bagas kemudian
"Itu sudah pasti. Selama dia berada di sisiku, aku tidak akan membiarkan orang lain merebutnya termasuk orang tuanya sekalipun" Ujar Nevan serius meski merasa sedikit janggal dengan ucapan Bagas yang seolah-olah Reva akan mengalami sesuatu yang buruk jika ia pulang ke rumahnya
"Kalau begitu aku akan tenang membiarkannya berada di sisimu" Ucap Bagas merasa lega
....
Nevan melirik ke arah jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 10 malam saat Arya dan Reva tiba di rumah.
Keduanya segera turun ke bawah menghampiri keduanya yang kini duduk bersandar di sofa dengan begitu banyak tas belanjaan.
"Kamu belanja sebanyak ini.. " Ucap Bagas memeriksa barang belanjaan Reva
"Hmm.. Dia hampir mengosongkan kartu ATM ku.. " Sahut Arya
"Oh ayolah kak. Berhenti perhitungan seperti pada adikmu sendiri. Lagipula kamu yang mengajakku dan menawarkan ku. Jadi berhenti mengeluh.. " Protes Reva mengerucutkan bibirnya
"Lain kali, kamu bisa mengosongkan ATM ku.. " Sela Nevan tak mau kalah
Mendengar hal itu, Arya tertawa karena merasa lucu akan sikap Nevan "Coba lihat, kamu sudah memiliki ATM berjalan di sisimu.. " Ucap Arya
"Aku memang akan melakukannya saat keluar dengannya.. " Ucap Reva tak akan melewatkan kesempatan
__ADS_1
"Kamu bisa memakainya sepuasmu.. " Balas Nevan tersenyum