Belenggu Cinta, Mafia Kejam

Belenggu Cinta, Mafia Kejam
Kompensasi


__ADS_3

"Neeevvaaaannnn... " Teriak Reva saat Nevan menggendongnya masuk ke dalam bathub bahkan ketika ia belehm sepenuhnya sadar dari tidurnya tadi


"Hehe.. " Nevan hanya terkekeh dengan raut wajah polos dan tak berdaya nya "Biarkan aku membantumu mandi.. " Ucap Nevan sembari membuka satu persatu kancing baju Reva


"Aihh.. Lakukan sesukamu.. " Ucap Reva pada akhirnya pasrah sembari merebahkan tubuhnya membiarkan Nevan berbuat semaunya


Nevan yang diberikan izin tanpa tanggung-tanggung melepas pakaian yang dikenakan Reva.


"Nevann..! " Tegur Reva tiba-tiba membuat Nevan menghentikan gerakannya "Dimana kamu meletakkan tanganmu?" Ucap Reva menatap Nevan tajam


Dengan cepat, Nevan menarik tangannya menjauh "Ibumu menunda pernikahan kita, karena itulah aku hanya sedikit meminta kompensasi darimu" Ucap Nevan sedikit memalingkan wajahnya


"Lagipula ini bukan pertama kalinya.. " Lanjut Nevan dengan santainya


Reva yang sejak tadi sudah merasa kesal karena Nevan yang memaksanya mandi, pada akhirnya menjitak belakang kepala Nevan kesal.


"Bukankah kamu yang menyetujuinya, jadi untuk apa lagi kamu meminta kompensasi dariku.. " Ucap Reva geram


"Itu karena aku tidak tahu jika kita akan sangat sulit bertemu seperti ini.. " Ucap Nevan mulai menyesali keputusannya sebelumnya


"Sudahlah, aku benar-benar lelah sekarang. Jika kita melanjutkannya, aku yakin kamu akan melakukan lebih dari yang kamu katakan" Ucap Reva memijat keningnya yang terasa pening


"Bukankah sudah kukatakan, aku hanya akan membantumu mandi" Balas Nevan namun terlihat kurang meyakinkan bagi Reva


"Jika Mama melihat hal ini, ia pasti akan menyesali perbuatannya karena menunda pernikahan kita" Ucap Reva menghela nafasnya


"Memang seharusnya seperti itu" Ucap Nevan lalu kembali membantu Reva mandi dan sesekali mengambil kesempatan


....


Setelah menghabiskan waktu selama hampir 1 jam di kamar mandi. Reva kini telah selesai. Bahkan pakaiannya kini telah selesai ia pakai dan tentu saja dengan bantuan dari Nevan.


"Mengapa kamu memperlakukanku seperti anak kecil, aku bisa melakukannya sendiri bahkan tanpa bantuanmu sekalipun.. "


"Aku tahu kamu bisa melakukannya. Tapi aku menyukainya, aku suka melakukan ini padamu" Jawab Nevan sembari mengeringkan rambut Reva


Sudut kanan bibir Reva naik saat mendengar ucapan Nevan yang begitu tidak tahu malunya "Bukankah karena kamu hanya ingin mengambil kesempatan dariku.. " Ucap Reva memukul perut Nevan

__ADS_1


"Yah... Anggap itu sebagai bonus untukku" Ucap Nevan menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal itu


"Dasar mes*m.. " Ucap Reva berenggut


"Ada seseorang sepertimu di sampingmu, bagaimana mungkin aku tidak menjadi mesum seperti ini.. " Ucap Nevan meletakkan hairdryer di meja lalu menghampiri Reva dan mendorong tubuhnya berbaring di kasur sementara dirinya kini menindih nya di atas


Nevan tersenyum simpul menatap Reva sembari merapikan rambut Reva yang masih berantakan. Reva yang berada di bawah, Tiba-tiba menarik dagu Nevan dan mengecupnya singkat.


Nevan yang mendapat serangan yang begitu tiba-tiba, tanpa pikir panjang lagi, segera meraih dagu Reva, menyatukan bibirnya dan mel*matnya pelan. Setelah Reva membalasnya, barulah Nevan memainkan lid*hnya mencoba masuk ke dalam, mengabsen satu persatu gigi Reva.


Tok.. Tok.. Tok..


Tanpa menghiraukan suara ketukan pintu dari luar. Nevan kembali memeprdalam l*matannya dan bahkan sesekali menyesap bib*ir ranum Reva.


Tok..Tok.. Tok


Pintu kembali di ketuk dari luar. Reva yang mulai kewalahan mengikuti ritme Nevan perlahan mendorong tubuhnya karena nafasnya yang juga sudah mencapai batasnya.


"Ssssttt... " Nevan meringis sesaat setelah ia melepaskan ciumananya, bibirnya memerah dan hampir mengeluarkan darah karena Reva yang baru saja menggigit bibirnya


Dengan raut wajah kesal, Nevan turun dari ranjang dan membuka pintu kamar untuk memeriksa siapa yang mengganggunya. Pintu kamar lalu terbuka dari dalam, memperlihatkan Rangga yang kini berdiri di depan pintu.


"Katakan! " Perintah Nevan


Rangga yang melihat raut wajah kesal Nevan, langsung mengerti jika ia baru saja menganggu majikannya itu.


"Maaf tuan.. Aku mencari Non Reva karena urusan mendesak" Jawab Rangga ragu-ragu


"Reva?" Ucap Nevan bingung sembari menatap Reva yang kini duduk di kasur memperhatikan


Namun setelah mendengar namanya disebut ia dengan cepat bangkit menghampiri Rangga "Ada urusan mendesak apa hingga mencariku?" Tanya Reva pada Rangga


"Ini soal Intan Non. Aku baru saja kembali dari apartemennya dan tanpa sengaja menemukan ini di apartemennya" Ucap Rangga lalu mengeluarkan sebuah stiker kecil dari saku celananya


"Stiker apa ini?" Tanya Reva memeriksa stiker itu


Hingga setelah ia membela stiker itu, barulah Reva mengerti akan urusan mendesak yang diucapkan oleh Rangga.

__ADS_1


"Penyadap?" Ucap Reva langsung mengenalinya karena ini bukan pertama kalinya ia melihat barang itu


"Apa ini ulah dari orang dibelakang Intan?" Tanya Reva langsung mencurigai


"Sepertinya iya Non. Melihat dari sikap Intan selama ini, seharusnya karena penyadap inilah yang membuatnya enggan untuk berbicara" Ucap Rangga mengepalkan tangannya kesal


"Serahkan padaku. Aku pasti akan melacak keberadaannya" Ucap Reva yakin


"Baik Non. Aku serahkan pada Non Reva" Ucap Rangga sebelum pergi dengan terburu-buru


Reva lalu masuk kembali ke dalam, diikuti oleh Nevan yang masih memasang masamnya yang juga merupakan alasan utama Rangga buru-buru pergi.


....


"Apa kita tidak akan melanjutkannya? " Tanya Nevan penuh harap


Namun Reva menggelengkan kepalanya sembari duduk di meja dan membuka laptopnya "Mari lanjutkan di lain hari, aku memiliki urusan mendesak" Ucap Reva memperlihatkan penyadap itu


"Apa kamu tidak bisa melakukannya besok?" Tanya Nevan kemudian


"Aku tidak mungkin bisa melakukannya jika di kampus. Karena itulah, sekarang adalah waktu yang tepat melakukannya" Ucap Reva perlahan fokus pada laptopnya


Nevan yang semakin kesal karena diabaikan memilih keluar dari kamar dan berulang kali menyebut nama Rangga yang sudah dengan begitu berani menganggu kesenangannya.


Dari lantai atas, Nevan bisa dengan jelas mendengar suara tawa dari arah ruang tamu yang tadinya tidak bisa ia dengar saat berada di kamar. Nevan lalu turun ke bawah untuk memeriksanya. Dan setibanya di ruang tamu, ternyata ada Arya dan Dr. Dani yang tengah berbincang sembari menikmati anggur yang pastinya diambil dari ruang penyimpanan Nevan.


"Sejak kapan rumahku jadi tempat minum seperti ini?" Tanya Nevan duduk di samping Arya lalu meminum gelas yang baru saja di isi oleh Arya


"Ada apa denganmu?" Tanya Arya mengerutkan keningnya bingung


"Reva baru saja menolakku" Jawab Nevan


Dr. Dani dan Arya sontak menggelengkan kepala mendengar penuturan Nevan barusan.


"Bukankah pernikahan kalian ditunda?"


"Iya. Karena itulah aku meminta kompensasi.. Bahkan jika pernikahan kami ditunda, itu bukan berarti bahwa aku tidak bisa melakukan apapun pada Reva" Jawab Nevan lalu kembali menuang anggur di gelasnya bdan meneguknya hanya dalam satu kali tegukan

__ADS_1


__ADS_2