
Butuh waktu hampir satu jam lamanya untuk Reva tiba di perusahaan Nevan. Ia tiba di perusahaan besar itu sekitar pukul setengah 12 siang, tepat jam makan siang untuk para karyawan di perusahaan. Karena itu jugalah, Reva memilih datang di jam tersebut.
Reva yang kini turun dari mobil, tak sabar untuk segera masuk ke dalam perusahaan dan bertemu dengan kekasihnya. Namun sebelum ia melangkah masuk, seorang security dengan cepat menghentikan langkahnya.
"Apa kamu memiliki tanda pengenal?" Tanya security itu berhati-hati
"Aku tidak memilikinya" Jawab Reva menggelengkan kepala
"Kalau begitu silahkan pergi, tanpa tanda pengenal kamu tidak bisa masuk ke dalam" Pinta security itu bersikap tegas
Rehan yang baru selesai memarkir mobilnya, segera menghampiri keduanya dan menanyakan apa yang terjadi.
"Apa yang terjadi?" Tanya Rehan kemudian
"Nona ini ingin masuk ke perusahaan, tapi ia tidak memiliki tanda pengenal pak.. " Jawab Security itu memanggil Pak pada Rehan karena ini bukan pertama kalinya ia melihatnya
"Dia tidak membutuhkannya. Dia calon istri dari tuan" Jawab Rehan memperkenalkan Reva
"Ohh.. Maaf Nyonya. Aku benar-benar tidak mengetahuinya" Security itu dengan cepat menunduk panik karena tidak mengenal istri dari majikannya
"Tidak apa-apa. Wajar jika kamu bersikap seperti itu, bagaimana pun ini pertama kalinya aku berkunjung. Jadi apa aku sudah boleh masuk?" Tanya Reva bersikap sopan
"S-silahkan Nyonya.. " Security itu dengan cepat membuka pintu masuk, mempersilahkan keduanya masuk ke dalam, barulah setelah itu ia bisa leluasa menghela nafasnya lega
Karena kehadiran dari Rehan, Reva tak perlu repot menunggu di bagian resepsionis untuk sekedar memastikan identitasnya.
Keduanya kini berada di dalam lift, menuju ke lantai atas, tempat ruangan Nevan berada. Selama di perjalanan, Reva berhasil menarik perhatian para karyawan yang dijumpainya. Penampilannya yang elegan dan terkesan dewasa , membuat mereka terkagum dan berfikir jika Reva adalah model yang di endorse oleh perusahaan mereka.
Reva melewati beberapa ruang kerja dan meeting, sebum akhirnya tiba di sebuah ruangan yang tampak lebih besar dari ruangan lainnya yang bahkan mengambil hampir setengah dari lantai tersebut. Ruangan yang tak lain adalah miliki dari boss perusahaan tersebut.
Reva lalu membuka pintu tersebut dan masuk ke dalam ruangan yang ternyata kosong, tanpa sosok Nevan yang dicarinya.
__ADS_1
"Dimana dia..?" Tanya Reva pada Rehan sembari duduk di sofa yang berada di sudut ruangan
"Non Reva tunggu disini, aku akan coba mencari tuan di ruang meeting" Tutur Rehan sebelum keluar dari ruangan
Reva yang sedikit kecewa karena tidak menemui sang pemilik dari ruangan itu, memilih untuk membaringkan tubuhnya di sofa itu, sembari memainkan ponselnya.
Beberapa menit berlalu, Reva yang mulai bosan memainkan ponselnya, kini berdiri dan memeriksa seisi ruangan itu. Ini bukan hanya sekedar ruang kerja pada umumnya, di dalamnya masih terdapat sebuah kamar dengan fasilitas yang sama seperti di rumahnya.
"Apa dia sering tinggal disini.. " Gumam Reva memperhatikan seisi ruangan yang hanya dipenuhi setelah jas hitam putih yang bahkan masih lengkap dengan mereknya
Hingga kemudian pintu ruangan terbuka dari luar, Reva yang mendengarnya segera keluar dari ruangan itu untuk memeriksa, berharap jika itu adalah Nevan. Namun lagi-lagi harapannya kembali sirna saat pandangannya terkunci pada sosok perempuan yang lumayan seksi masuk ke dalam ruangan itu.
"Siapa kamu? Apa yang kamu lakukan diruangan ini? Ini bukan ruangan yang bisa kamu masuki sesuka hati kamu" Tanyanya ketus membuat dahinya tampak berkerut
Reva memiringkan kepalanya menatap wanita itu dari atas sampai bawah "Apa-apaan pakaiannya ini, apa dia berniat menggoda seseorang. Ini bukan pakaian yang sopan untuk seorang karyawan perusahaan" Batin Reva menatap lekat tak menyangka jika di perusahaan Nevan juga terdapat tipe wanita seperti ini
"Maaf.. Aku sedang menunggu seseorang" Jawab Reva santai sembari duduk kembali di sofa
"Lepas! " Pinta Reva dengan sorot mata tajamnya, saat wanita itu dengan lamcangnya menarik dirinya keluar dari ruangan itu
Wanita itu seketika bergidik ngeri karena tak menyangka akan mendapat tatapan mengintimidasi seperti itu.
"Kamu sadar dengan apa yang kamu lakukan barusan? Apa menurutmu keamanan perusahaan ini sangat buruk hingga aku bisa dengan bebas masuk? Seharusnya kamu berfikir, seseorang yang bisa masuk dengan bebas ke perusahaan ini seharusnya bukan seseorang yang bisa kamu singgung seperti ini" Seru Reva tajam penuh penekanan
Beberapa karyawan yang menyaksikan ikut bergidik ngeri menatap ke arah Reva yang tampak marah. Tak ada yang berani untuk melerai, mengingat jabatan wanita yang saat ini berdebat dengan Reva dan ini bukan pertama kalinya ia bersikap kasar seperti itu khususnya jika ada yang mencoba mendekati Nevan.
"Memangnya posisi apa yang bisa kamu miliki dengan tampilan seperti itu? " Balas wanita itu mencemooh penampilan Reva yang seolah-olah datang menggoda
"Ciihh.. " Reva berdecih kesal, ia memang datang ke perusahaan untuk menggoda calon suaminya, tidak ada yang salah dengan hal itu
Dengan raut wajah kesalnya, ia kembali masuk ke dalam ruangan dan meraih tasnya berniat untuk pergi, sebelum ia kehilangan kendali akan dirinya dan berbuat yang tidak-tidak pada wanita itu.
__ADS_1
"Sebaiknya kamu tidak menyesali perbuatanmu hari ini.. " Ucap Reva memperingati
"Apa yang bisa aku sesali? Dilihat seperti apapun, kamu tidak lebih hanya seorang wanita yang merangkak di bawah sekangk*ngan pria.. "
PLAAAKK..
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi sebelah kanan wanita itu "Kamu menamparku? Berani sekali kamu"
PLAAAKK..
kali ini Reva menampar di pipi sebelah kirinya, membuat kedua wajahnya memerah dengan bekas telapak tangan Reva yang bahkan terukir jelas di wajahnya karena make up.
"Apa kamu tidak memiliki cermin di rumah, seharusnya kamu bercermin terlebih dahulu. Menggunakan make up setebal ini dan pakaian se seksi ini ke perusahaan, bukankah untuk menggoda seorang pria.. " Balas Reva tak mau kalah sembari mengambil tissue di tasnya dan membersihkan bekas make up wanita itu di tangannya
"Apa yang terjadi disini? " Semua karyawan termasuk Reva dan wanita itu segera menoleh ke arah sumber suara, yang tak lain adalah Nevan yang baru saja tiba di lantai itu bersama dengan Rehan di belakangnya
Reva hanya memalingkan wajahnya kesal tidak perduli. Sementara itu wanita itu kini dengan cepat menghampiri Nevan dengan air mata buayanya.
"Gadis pengg*da ini berani masuk ke ruangan Pak Nevan. Aku hanya memintanya untuk menunggu di ruang tunggu namun ia dengan lancang menamparku " Keluh Wanita itu terisak
"Aku lihat kamu yang bersikap lancang disini. Berani sekali kamu memanggilnya seperti itu" Bentak Nevan
"Ccihh.. Dasar munafik.. " Seru Reva melempar tatapan jijik pada wanita itu sebelum kembali masuk ke dalam ruang kerja Nevan
"Usir wanita ini keluar" Perintah Nevan tegas lalu dengan cepat masuk ke dalam ruangan untuk menenangkan Reva
"A-pa maksud .. "
"Apa masih belum jelas. Wanita yang baru saja kamu singgung adalah calon istri dari tuan. Seharusnya kamu bersyukur karena dia hanya mengusirmu keluar.. Karena sebelumnya tuan tidak pernah membiarkan siapapun hidup setelah menyinggung Nona Muda" Tahan Rehan dengan tatapan yang tak kalah tajam dari Nevan barusan
Wanita itu seketika ambruk di lantai, ia baru saja kehilangan pekerjaannya. Impiannya selamat bertahun-tahun untuk bisa dekat dengan Nevan seketika sirna. Tak ada yang bisa dilakukannya saat ini, karena ia yakin dengan reputasi Nevan akan sangat sulit baginya untuk bisa bekerja kembali bahkan jika itu di perusahaan lain.
__ADS_1