Belenggu Cinta, Mafia Kejam

Belenggu Cinta, Mafia Kejam
Mabuk


__ADS_3

Ibu Nevan menggelengkan kepalanya sembari menepuk jidatnya melihat ketiganya yang kini mabuk di teras layaknya semasa kuliah dulu. Namun tetap saja, melihat hal ini tetap membuatnya menggelengkan kepala mengingat dia diantaranya sudah memiliki putra dan putri sementara yang satunya masih setia dengan kesendiriannya.


"Aughhh.. Bagaimana bisa kalian mabuk seperti ini di rumah Nevan... Bagaimana jika mereka melihat kalian.. " Tegur Ibu Nevan sembari merebut botol minuman dari tangan suaminya lalu membantunya berdiri berniat membawanya ke kamar


"Oh.. Kakak ipar, ayo bergabung dengan kami.. " Ucap Geral menawarkan minumnya namun mencout saat Ibu Nevan menatapnya tajam


"Oke.. Oke.. Bawa dia pergi.. " Ucap Geral linglung


Ibu Nevan membawa suaminya ke kamarnya. Sementara Geral kini berpindah tempat dan duduk di dekat Anggi yang juga sudah kehilangan setengah kesadarannya.


"Ugh.. Be-rat.. Singkirkan itu dari ba-huku.. " Protes Anggi mendorong tubuh Geral namun percuma saja Geral sama sekali tidak berpindah barang sedikitpun


Kepalanya ia sandarkan di pundak Anggi, sembari meneguk botol bir di tangannya sedikit demi sedikit.


"Biarkan aku bersandar sebentar.. Anggap kompensasi karena kamu menghilang dariku selama bertahun-tahun.." Tutur Geral lirih


Jika dalam keadaan sadar, ia tidak akan pernah mengatakan hal seperti ini terutama mengungkapkan perasaannya. Meski ia sadar jika Anggi sudah menyadari perasaannya, ia tetap memilih untuk tidak mengutarakan nya karena hanya akan membuat hubungan keduanya menjadi sedikit canggung.


"Apa kamu benar-benar tidak pernah mempertimbangkan diriku? Apa aku begitu kurang dimatamu jika dibandingkan dengan lelaki itu?" Tanya Geral membandingkan dirinya dengan ayah Reva


"Ughh.. Bukan seperti itu. Hanya saja.. " Anggi menjeda ucapannya lalu menatap ke arah langit lepas "Aku merasa malu bertemu denganmu" Lanjutnya kemudian


"Malu? Sejak kapan kamu memiliki sifat seperti itu hah? Siapa kamu? Kembalikan Anggi yang aku kenal dulu? Kamu bukan Anggi yang aku kenal.. Cepat kembalikan.. " Gerutu Geral menggoyangkan tubuh Anggi berulang kali


Karena geram Anggi memukul kepala Geral "Aku masih Anggi yang kamu kenal.. " Jawabnya kesal


Kali ini giliran Anggi yang bersandar di pundak Geral "Aku hanya malu.. Aku malu karena membuang pria seperti dirimu demi seorang b*jingan sepertinya.. "


"Tapi tetap saja, aku dulu pernah begitu mencintainya.. " Lanjutnya kemudian


"Bagaimana dengan sekarang? Apa kamu masih belum melupakannya?" Tanya Geral lirih

__ADS_1


"Tidak.. Aku sudah lama melupakannya" Jawab Anggi


Selama bertahun-tahun ia hidup di luar, ia benar-benar telah melupakan mantan suaminya itu tanpa dirinya sadari. Kesibukan yang ia lakukan secara perlahan menyita waktu dan pikirannya membuatnya tidak memiliki waktu untuk memikirkan orang lain khususnya pria yang telah membuangnya.


"Lalu bagaimana denganku? Apa kamu bisa memberiku kesempatan? " Entah sadar atau tidak, saat ini ucapan yang diutarakan Geral tulus dari hatinya dan bukan berdasarkan isi pikirannya lagi


Anggi mengangkat kepalanya menoleh dan menatap mata Geral dalam. Anggi terdiam begitu pun dengan Geral. Keduanya beradu pandangan, membiarkan hati mengambil alih tubuh masing-masing.


Lalu sesaat kemudian, Geral meraih bagian belakang kepala Anggi dan mendekatkan nya ke wajahnya. Tanpa sepatah katapun, Geral menempelkan bibirnya dengan bibir Anggi. Meski bibir keduanya sudah bersentuhan, Geral sama sekali tidak bergerak seolah meminta persetujuan dari Anggi yang masih diam bahkan setelah perlakuan dari Geral barusan.


Namun sesaat kemudian, Anggil menutup kedua matanya lalu memiringkan kepalanya dan mulai mel*mat bibir Geral sebagai tanda persetujuan darinya.


Geral yang mendapat lampu hijau, dengan cepat menyamai gerakan dari Anggi dan membalas l*matannya. Keduanya saling berc*uman cukup lama dengan posisi Anggi yang kini menindih tubuh Geral yang berbaring di kursi, dengan Geral yang seolah melampiaskan semua perasaan yang dipendam nya selama bertahun-tahun ini.


Namun sayangnya, Geral harus berhenti di tengah jalan, saat Anggi tiba-tiba saja kehilangan kesadarannya dan berakhir berbaring di atas tubuh Geral.


Bersamaan dengan itu, Ibu Nevan yang baru saja mengantar suaminya ke kamar kini datang menghampiri keduanya berniat membantu keduanya masuk ke dalam rumah.


"Tidak apa-apa kak, aku yang akan mengurusnya" Tutur Geral mengusap rambut Anggi penuh kasih sayang


"Baiklah.. " Balas Ibu Nevan hanya bisa memberi semangat pada adik iparnya itu, sebelum pergi meninggalkan keduanya


Geral menghela nafasnya panjang "Biarkan aku berbuat sesuka hatiku malam ini.. " Ucap Geral mengeratkan pelukannya karena sejak dulu Anggi sangat jarang mengingat perbuatannya saat sedang mabuk


...***...


Keesokan paginya, Anggi terbangun dikamarnya dengan keadaan kepala yang begitu pening karena efek mabuk semalam. Bahkan untuk sekedar turun dari kasur sudah membuatnya linglung hampir terjatuh.


Namun karena dahaganya yang terasa kering, ia dengan terpaksa keluar dari kamar dan turun ke dapur dengan tangan kanan bertumpu di dinding dan tangan kiri memijat keingnya yang pusing.


"Mama bangun.. " Terdengar suara Reva dari arah ruang tamu yang kini menghampiri ibunya berniat membantunya

__ADS_1


"Ughh.. Maaf sayang.. Sepertinya Mama kebablasan semalam.. " Tutur Ibu Reva sedikit menyesal


Reva hanya tersenyum mendengar nya, ia sama sekali tidak perduli soal ibunya yang mabuk mengingat ini pertama kalinya ketiganya berkumpul.


"Mama pasti haus" Ucap Reva menuang air di gelas dan memberikannya nya pada ibunya


Anggi lalu meminum air tersebut, namun disaat ia tengah meneguk air itu tiba-tiba saja sebesit kejadian semalam saat ia tengah mabuk tiba-tiba terlintas di benaknya, terutama kejadian saat ia menc*um bibir Geral.


"Uhhuukk.. Uhhuukk.. " Karena kaget, Anggi tersedak air yang diminum nya "Apa itu? Bagaimana bisa aku mencium Geral? Dasar bodoh.. " Ucap Anggi dalam hati, merutuki perbuatannya semalam


"Mama kenapa? " Tanya Reva khawatir


"Tidak.. Mama baik-baik saja.. Kamu tidak perlu khawatir" Jawab Anggi lalu bergegas kembali ke kamarnya


"Dasar bodoh.. Bagaimana bisa aku melakukan hal itu? Aku sama sekali tidak bisa mengingat kejadian semalam, tapi kenapa hanya bagian itu yang aku ingat" Gerutu Anggi saat tiba di kamarnya yang kini membenamkan kepalanya di bantal merutuki perbuatannya


Berapa kalipun ia memikirkannya, ia sama sekali tidak bisa mengingat kejadian sebelum ataupun sesudahnya hingga ia berakhir di kamar ini. Meski selama ini ia tidak pernah mengingat perbuatannya saat mabuk, tapi bukan berarti ia tidak mengingat semuanya. Sama seperti sekarang, dimana ia hanya nengingat kejadian saat ia mencium Geral.


....


Di sisi lain, Geral yang juga baru saja keluar dari kamarnya dengan penampilan yang sudah benar-benar segar dari pada semalam, menghampiri Reva yang terlihat sedikit kebingungan di ruang tamu.


"Ada apa denganmu? Dimana yang lainnya?" Tanya Geral menatap Reva


"Hah? Hmm.. Nevan dan Rangga ke kantor dan Mama di atas.. " Jawab Reva sedikit linglung


"Dia sudah bangun? Maksudku ibu kamu" Tutur Geral sedikit salah tingkah


"Iya. Baru saja dia naik ke kamarnya tapi sikapnya sedikit aneh dan mencurigakan" Jawab Reva


"Mencurigakan? Apa dia mengingatnya? Tapi itu tidak mungkin.. " Batin Geral memikirkan kejadian semalam

__ADS_1


__ADS_2