
Setelah berhasil menyelamatkan Regan, Nevan langsung bergegas pulang ke rumah karena tak kunjung mendapat balasan dari Reva dan yang lainnya.
Dari sejak berangkat tadi, Nevan mulai merasa sedikit aneh. Bahkan hingga saat ini, ia tetap merasa khawatir dan risau tanpa ia tahu apa penyebabnya.
"Ada apa kak?" Tanya Regan penasaran
"Perasaan Kakak tidak enak.. " Jawab Nevan memgusap dadanya
"Maafin aku Kak. Jika saja aku tidak begitu bodoh, Kak Nevan pasti tidak akan repot seperti ini" Ucap Regan menyesali tindakan gegabah nya yang begitu mudah masuk ke perangkap orang lain
"Tidak apa-apa. Kamu bisa belajar dari hal ini lain kali" Ucap Nevan menenangkan adik bungsunya itu
"Tapi tetap saja, aku masih merasa ada yang janggal disini. Bagaimana bisa tidak ada satupun orang yang hadir saat aku tiba disana, seolah mereka sengaja membawaku kesana" Ucap Nevan merasa curiga
"Aku samar mendengar suaranya. Ada seorang wanita bernama Siska yang bersama dengan pria yang menculik ku" Ujar Regan
"Siska?" Perasaan khawatir yang dirasakannya semakin meningkat saat ia mendengar nama Siska "Percepat mobilnya.. " Perintah Nevan pada pengawalnya
"Ada apa kak? Apa kakak mengenalnya?"
"Bisa dibilang begitu.. " Jawab Nevan
Jika bukan karena Regan, ia mungkin sudah melupakan apa yang terjadi pada Siska. Setelah apa yang dilakukannya dengan Reva, sangat tidak mungkin baginya untuk tetap diam setelah mengalami hal seperti itu. Dan satu-satunya yang membuatnya bisa tetap diam, karena ia masih menunggu waktu yang tepat untuk membalasnya dan tentu saja targetnya bukan dirinya melainkan Reva.
"Bagaimana dengan Rangga? Kamu juga tidak bisa menghubunginya?"
"Tidak tuan. Lokasinya masih di titik yang sama di apartemen Intan"
"Jika dugaannku benar. Pasti terjadi sesuatu dengannya. Dan juga besar kemungkinan, di rumah juga terjadi sesuatu karena tak ada satupun yang mengangkat panggilan ku termasuk Reva" Ucap Nevan semakin yakin dengan dugaannku
"Kemudikan lebih cepat lagi.. " Perintah Nevan semakin pucat "Jangan sampai terjadi sesuatu pada Reva"
...***...
Di sisi lain, Rangga yang tadinya hanya ingin mengantar Intan. Kini berbaring tak sadarkan diri setelah meminum minuman dari Intan barusan. Dosis obat yang dicampurkan nya pada minuman cukup tinggi hingga membuatnya tak sadarkan diri hanya dalam beberapa menit saja. Hal itu dimanfaatkan oleh Intan untuk mengikatnya agar ia tidak mencoba kabur setelah sadarkan diri.
Sudah berlalu beberapa jam dari sejak Rangga pingsan. Jika sesuai tebakan Intan, ia mungkin akan sadarkan diri beberapa saat lagi.
"Ughh... "
Sesuai dugaannya, Rangga benar-benar sudah mulai sadarkan diri.
__ADS_1
"Ughhh.. A-apa yang kamu lakukan padaku?" Tanyanya tepat setelah ia membuka matanya dan melihat dirinya diikat
"Maafkan aku.. Aku tidak punya pilihan lain" Ucap Intan lirih
"Jika kamu menyesal, maka bebaskan aku" Ujar Rangga berusaha melonggarkan ikatannya namun percuma saja
"Bahkan jika aku menyesal, aku akan tetap melakukan ini karena aku sama sekali tidak memiliki pilihan lain"
"Jadi.. Siapa yang mengancammu?" Tanya Rangga kemudian
"Rehan.. " Jawab Intan tidak berniat menyenbunyikannya lagi karena ia tahu jika hari ini, Rehan akan memulai rencananya
"Re-rehan?" Seketika Rangga menatap Intan meminta penjelasan, berharap jika orang yang dimaksud Intan bukan Rehan yang ia maksud
"Memang dia orangnya. Sebelum berangkat tadi, bukankah kamu sudah bertemu dengannya. Orang yang selama ini kalian percayai tak lain adalah musuh dalam selimut"
"Lepaskan aku! Intan!" Pekik Rangga berusaha memberontak karena mulai merasa khawatir akan apa yang akan terjadi
"Tidak bisa. Aku tidak bisa melakukannya" Ucap Intan menggelengkan kepala
"Bukankah sudah ku katakan, aku tidak memiliki pilihan lain. Hidup dan mati orang tua ku berada di tangannya. Karena itulah, aku tidak akan melepaskanmu" Sambung Intan setengah berteriak
"Kenapa baru sekarang? Kenapa memberitahuku sekarang?"
...***...
Sementara itu, Nevan yang selama di perjalanan tadi merasa khawatir kini tiba di rumahnya setelah perjalanan selama 1 jam lebih. Ia langsung bergegas masuk untuk memeriksa.
Nevan langsung berlari naik ke lantai atas menuju ke kamarnya untuk mencari Reva mengabaikan kondisi rumahnya yang tampak begitu sepi.
"Reva..!" Panggil Nevan membuka pintu kamarnya
Namun sialnya, ruangan itu tampak kosong saat ia tiba disana. Selain laptop Reva yang masih tetap menyala da ponselnya di sampingnya. Nevan sama sekali tidak menemukan jejak Reva.
Nevan lalu bergegas mengecek laptop Reva dan membaca apa yang ditampilkan oleh layar laptop itu.
"Re-hann.. " Ucap Nevan mengepalkan tangan saat membaca itu dan menyadari jika selama ini ia telah dibodohi oleh Rehan
....
"Tuan.. " Dari arah pintu kamar, seorang pengawal datang dengan tergesa-gesa "Semua pengawal di bangunan belakang, pingsan tak sadarkan diri" Ucapnya kemudian
__ADS_1
"Kumpulkan semua orang dalam 5 menit dan lacak keberadaan Rehan" Perintah Nevan tegas dengan sorot mata penuh amarah
"Ba-baik tuan.. " Jawab pengawal itu lalu bergegas pergi
...***...
Hanya dalam sekejap, rumah Nevan kembali dipenuhi para pengawalnya dan beberapa pengawal yang sengaja ia sewa. Selain pengawal-pengawal itu, terdapat juga beberapa hacker hebat yang selama ini bekerja untuknya.
"Dimana Nevaann? Hah? "
Nevan yang tengah memberi intruksi pada pengawalnya terhenti saat terdengar suara teriakan dari arah pintu. Mereka adalah Bagas dan Arya yang baru saja tiba setelah mendapat kabar dari Nevan barusan.
"Apa yang terjadi? Dimana Reva?" Tanya Bagas panik
Neven menggelengkan kepalanya penuh sesal "Dia menghilang saat aku tiba tadi" Ujar Nevan tak kuasa menatap keduanya
"Siapa? Siapa yang melakukannya?" Tanya Arya mengepalkan tangannya
"Rehan" Jawab Nevan semakin merasa tak berguna karena tidak menyadari sosok Rehan yang sebenarnya
Baik Arya maupun Bagas, keduanya sontak tertegun kaget tak menyangka akan mendengar nama itu.
"Brengs*kk... Bagaimana bisa tidak ada yang menyadarinya selama ini.. " Ucap Arya memukul meja geram
....
Setelah pencarian selama beberapa saat, mereka akhirnya menemukan lokasi terakhir Rehan di kota itu.
"Tuan.. Mereka terakhir kali terlihat di Jalan ini.. " Ucap salah satu hacker yang baru saja berhasil melacak nya karena Rehan yang sama sekali tidak menghapus jejak CCTV yang merekam dirinya
"Kirim lokasinya padaku" Ucap Nevan lalu bergegas keluar ke mobilnya diikuti oleh Bagas dan Arya, serta pengawal lainnya
....
Nevan mengemudikan mobilnya di jalan raya dengan kecepatan tinggi karena hari yang semakin gelap membuatnya semakin leluasa berkendara tanpa dihalangi oleh kendaraan lainnya.
Namun di tengah perjalanan, sebuah notif pesan berisi voice note masuk di ponselnya dari nomor yang tidak dikenalnya.
"Nikmati baik-baik hadiah yang aku berikan untukmu. Tidak perlu merasa bersalah, jika ada yang harus disalahkan, maka salahkan ayahmu yang menjadi penyebab semua ini. Aku sudah melakukan apa yang aku pelajari darinya. Kesalahan orang tua harus dibayar oleh anaknya. Dan untuk Reva, aku yang akan menjaganya mulai saat ini. Wanita sepertinya hanya akan menderita berada di sisi orang egois sepertimu"
Nevan mengeratkan tangannya di kemudi mobilnya saat mendengar suara dari Rehan. Sorot matanya benar-benar dipenuhi amarah yang membuatnya tanpa sadar menginjak full pedal gak mobilnya, membuat mobilnya semakin melaju dengan kecepatan tinggi.
__ADS_1
Hingga tiba-tiba, sebuah cahaya yang begitu terang menghalangi pandangannya membuatnya kehilangan kendali dan...
BRUUKKK....