Belenggu Cinta, Mafia Kejam

Belenggu Cinta, Mafia Kejam
Amarah Siska


__ADS_3

Setelah pertemuannya dengan pria misterius barusan, Siska memutuskan untuk menghabiskan waktunya malam ini di bar tersebut. Melampiaskan rasa marah dan kekesalannya pada minuman.


Siska duduk di meja bartender dalam keadaan yang kini mulai sedikit linglung karena minuman yang diminumnya. Gelas bir yang dipegangnya merupakan gelas ke tujuh yang diminumnya hari ini.


"Reva.. Reva... Gadis sialan.. " Gerutu Siska sejak tadi menyebut nama Reva


Satu-satunya nama yang ada dipikirannya saat ini. Sejak ia bertemu dengan Reva, kehidupannya benar-benar berubah drastis. Semua yang diinginkannya pada akhirnya tidak menjadi miliknya. Bahkan dengan wajah dan tubuhnya yang dianggapnya lebih baik dari Reva, sama sekali tidak membuat Nevan berpaling padanya.


"Akkhhh.. Aku pasti akan membalasmu.. " Ucap Siska tajam sembari meletakkan gelas bir ditangannya di meja lalu bangkit dari duduknya berniat pergi dari bar tersebut


Siska berjalan linglung da tak karuan keluar dari bar dengan kesadaran yang mulai memudar karena pengaruh dari alkohol.


Sementara di sisi lain, tepatnya di sudut bar tersebut, pria misterius yang baru saja di temui Siska, sebenarnya masih berada disana mengawasi setiap gerak-gerik dari Siska.


"Awasi dia, jangan sampai dia merusak rencanaku" Perintahnya pada bawahannya yang sejak tadi berdiri di belakangnya


"Baik Tuan" Jawab bawahan itu sedikit membungkuk lalu bergegas pergi untuk mengawasi Siska yang baru saja pergi


Sementara pria itu, masih duduk di sana memutar-mutar gelas birnya yang sejak tadi sama sekali tidak diminumnya.


...


Setelah berhasil mendapatkan taxi di tengah malam itu, Siska kini tiba di rumahnya, dengan keadaan yang semakin linglung. Jalannya linglung, penglihatannya berputar tak menentu arah membuatnya hampir terjatuh jika tidak bersender di dinding rumah.


"Ugghhh.. " Siska memijit pelipisnya yang terasa pening mencoba sedikit menyadarkan dirinya agar tidak tumbang di depan pintu


Namun dari arah ruang tamu, kedua orang tuanya ternyata tengah menunggu kedatanganya sejak tadi.


"Siska.. Dari mana saja kamu? Kamu mabuk? " Tanya Ayahnya segera menghampirinya dengan raut wajah marah melihat anaknya menjadi seperti itu


"Aku hanya minum sedikit, Papa tidak perlu khawatir" Jawab Siska berjalan sempoyongan lalu menjatuhkan dirinya di sofa


"Dasar anak pembuat masalah. Kamu bahkan belum menjelaskan pada Papa kejadian malam itu dan sekarang kamu malah mabuk-mabukan seperti ini? Mau jadi apa kamu? Hah?" Bentak Ayah Siska tak tahan dengan sikap anaknya yang semakin tidak teratur


"Cukup Pa.. Aku capek dan berhenti membahas kejadian malam itu.. " Balas Siska sarkaz dengan sorot mata tajam

__ADS_1


"Siska.. " Panggil Ibunya kali ini


"Aku mau istirahat Ma.. " Balas Siska sebelum naik ke lantai dua masih dengan tangan bertumpu di pegangan tangga


"Papa belum selesai Siska.. " Ujar Ayah Siska masih emosi


"Susah cukup Pa.. Biarkan dia istirahat" Ujar Ibu Siska berusaha menenangkan suaminya


"Huh.. " Ayah Siska hanya menepis tangan istrinya sebelum pergi meninggalkannya di ruang tamu


...***...


Beberapa hari berlalu, liburan Nevan dan Reva kini hanya tersisa beberapa hari lagi sebelum keduanya kembali.


Pagi ini, setelah bangun Reva sama sekali tidak beranjak dari kasur dan memilih menghabiskan waktunya membaca beberapa buku yang sengaja di bawahnya untuk mengisi kekosongan nya.


Setelah semua perbuatan Nevan semalam, ia sama sekali tidak bisa bergerak dan hanya bisa berdiam seperti ini. Bahkan untuk sekedar menggerakkan kakinya, sudah membuatnya meringis menahan perih di area keintimannya karena ulah dari Nevan yang melakukannya secara berlebihan.


Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 08.35 saat pintu kamar terbuka dari luar, memperlihatkan Nevan dengan setelah piyamanya. Ia pun mendekati Reva dan berbaring di sampingnya.


"Masih sakit?" Tanya Nevan penasaran dengan keadaan Reva meski sudah diberinya salep pagi tadi


Nevan yang merasa diabaikan. Meraih buku Reva dan menutupnya lalu melemparnya ke lantai.


"Nevan.. Aku belum selesai membacanya.. " Tegur Reva mematap Nevan kesal


"Bukankah kita sudah setuju untuk tidak melakukan pekerjaan apapun termasuk memikirkan kuliahmu.. " Ujar Nevan


"Huh.. Salahkan dirimu yang membuatku tidak bisa bergerak seperti ini.. Aku bahkan kesulitan ke kamar mandi, bagaimana mungkin aku melakukan pekerjaan lain" Balas Reva memalingkan wajahnya


Nevan hanya menyeringai, lalu melepas selimut Reva dan mengangkatnya turun dari kasur "Biarkan aku membantumu" Ucapnya berjalan masuk ke dalam kamar mandi


"Apa lagi yang ingin kamu lakukan? Aku benar-benar lelah sekarang Nevan.. " Tanya Reva sedikit lesu


"Tidak perlu khawatir. Aku hanya membantumu mandi kali ini, tidak lebih" Jawab Nevan dengan raut wajah serius yang hanya diangguki dengan patuh oleh Reva

__ADS_1


...


Sesuai dengan ucapannya tadi, Nevan benar-benar menepati ucapannya dan tidak melakukan apapun pada Reva selain membantunya membersihkan dirinya.


Setelah keduanya selesai membersihkan diri, Nevan kembali mengangkat Reva ala bridal style turun ke lantai bawah tepatnya di meja makan untuk sarapan pagi.


Nevan mendudukkan Reva di salah satu kursi di meja makan. Sementara dirinya, segera menyiapkan peralatan makan dan menghidangkan masakan yang tadi di buatnya. Hanya ada bubur ayam untuk Reva dan roti bakar dengan teh di meja untuk dirinya sendiri.


Reva hanya diam menuruti Nevan yang selama beberapa hari ini benar-benar memanjakan dirinya. Semua pekerjaan rumah termasuk memasak dikerjakan sendiri oleh Nevan, sementara dirinya hanya diam memperhatikan tanpa bisa membantu apapun karena ulah Nevan.


"Berapa lama lagi kita disini?" Tanya Reva kemudian


"2 hari? Mungkin.. " Jawab Nevan ragu-ragu


"Dari pada menyebutnya liburan, kita lebih seperti pengantin baru yang tengah menikmati bulan madu.. " Gumam Reva menilai dari kehidupannya beberapa hari ini


"Anggap saja seperti itu.. " Balas Nevan menyeringai karena tujuannya memang seperti itu


"Oh iya.. Setelah sarapan kamu bisa kembali istirahat, aku memiliki sedikit urusan di luar. Jadi mungkin aku akan pulang terlambat hari ini.. " Tutur Nevan teringat akan urusannya di luar


"Urusan apa yang kamu miliki? Kamu tidak sedang bekerja, jadi apa yang kamu lakukan diluar?" Tanya Reva curiga


"Hmm.. Aku tidak bisa memberitahumu... " Ucap Nevan memalingkan wajahnya


"Nevan.. " Panggil Reva memegang erat garpu di tangannya


"Jangan salah paham. Ini hanya masalah yang berhubungan dengan masa depanku, jadi butuh sedikit persiapan. Aku pasti akan memberitahumu jika semua sudah selesai.." Jawab Nevan klise tak ingin memberitahu yang sebenarnya


"Terserah kamu jika tidak ingin memberitahuku.. " Balas Reva cuek lalu kembali memakan buburnya


Sementara Nevan hanya menghela nafas lega karena Reva yang berhenti bertanya, meski ia tahu jika saat ini Reva pasti tengah marah karena ia menyembunyikan sesuatu darinya seperti ini.


"Aku sudah kenyang.. " Ucap Reva lalu bangkit berdiri "Sstt.. " Ringisnya sesaat setelah ia berdiri namun tetap memaksakan dirinya untuk bergerak


"Biar aku bantu.. " Ucap Nevan segera membantu Reva namun ditepis oleh Reva

__ADS_1


"Tidak perlu" Tuturnya bersikeras melakukannya sendiri


"Dia benar-benar marah.. " Gumam Nevan menatap kepergian Reva


__ADS_2