
"Ma-af.. " Ucap Reva tersedu-sedu "Aku seharusnya tidak bersikap keras kepala" Ucap Reva merasa bersalah akan tindakannya sebelumnya
Jika saja ia mendengar teguran dari Rehan, ia pasti tidak akan kehilangan janinnya. Sikapnya yang begitu keras kepala dan terlalu percaya akan kemampuan bela dirinya, pada akhirnya menjadi boomerang untuk dirinya.
"Tidak.. Ini salahku, seharusnya aku bisa datang lebih awal. Aku terlalu payah.. " Ucap Nevan yang memang sejak tadi menyalahkan dirinya
Keduanya saling menyalahkan dirinya sendiri, menimpahkan semua kesalahan pada diri sendiri tanpa ada yang berniat untuk mengalah.
"Ini baru beberapa hari Nevan.. Apa aku begitu tidak pantas menjadi seorang ibu?" Ucap Reva kembali terisak dalam pelukan Nevan
Keduanya kini berbaring di kasur dengan Nevan yang masih memeluk tubuh Reva erat. Orang tua Nevan dan juga Arya memilih pulang atas permintaan dari Nevan yang memilih untuk menenangkan Reva sendiri.
"Tidak.. Tidak.. Ini salah dia.. Aku pasti akan membalas perbuatan mereka, berhenti menyalahkan dirimu sendiri hmm?" Nevan mengusap air mata Reva tak tega melihat kekasihnya menangis terus menerus
"Dimana dia sekarang?" Tanya Reva menanyakan keberadaan dari ibu tirinya
"Dia aku kurung di rumah itu. Aku berniat memasukkan nya ke penjara, aku pasti akan membuatnya tersiksa" Ucap Nevan dengan rahang mengeras
"Apa kamu ingin bertemu dengannya?" Tanya Nevan kemudian
Reva terdiam sesaat sebelum akhirnya menggelengkan kepalanya menolak "Tidak. Aku mungkin akan langsung membunuhnya jika bertemu dengannya. Ketimbang melihatnya mati, aku lebih ingin melihatnya tersiksa selama sisa hidupnya" Ucap Reva tak kalah emosi dari Nevan
Keduanya berbincang selama hampir satu jam, sebelum akhirnya Reva tertidur. Nevan yang sebelumnya belum pernah beristirahat, kini ikut tertidur sembari memeluk Reva erat.
...***...
Malam harinya, orang tua Nevan kembali menjenguk keadaan Reva. Ibu Nevan sama sekali tidak bisa tenang karena kondisi dari calon mantunya dan anaknya. Begitu pun dengan Ayah Reva yang juga datang memeriksa keadaan anaknya sekaligus bertemu dengan Nevan.
"Oh.. Mereka tertidur" Tutur Ibu Nevan saat membuka pintu dan melihat keduanya masih terlelap tidur dengan bengkak sehabis menangis
"Sebaiknya kita menunggu di luar. Biarkan mereka istrahat terlebih dahulu" Tutur ibu Nevan tak ingin menggangu keduanya
__ADS_1
Mereka lalu duduk di kursi luar ruangan, dengan ayah Nevan dan Reva yang saling berhadapan satu sama lain.
"Jadi apa yang akan kamu lakukan?" Tanya Ayah Nevan memulai pembicaraan terkait ibu tiri Reva yang kini ditahan oleh Nevan
"Aku tidak tahu" Jawab ayah Reva menunduk penuh rasa malu
"Tidak tahu? Bagaimana bisa kamu begitu plin plan disaat anakmu menjadi korban dari istrimu itu?" Sela Ibu Nevan emosi menunjuk tepat di wajah Ayah Reva
Selain menunduk malu tak ada lagi yang dilakukan oleh ayah Reva. Meski ia sudah memutuskan untuk menceraikan istrinya, ia tetap tidak tega jika membayangkan apa yang akan dialaminya, terutama karena ia masih memiliki anak yang membutuhkan dirinya.
"Maa.. " Tegur ayah Nevan agar istrinya tetap tenang mengingat mereka masih berada di rumah sakit
Ibu Nevan hanya mendengus kesal, lalu duduk kembali di kursi nya tak sudi untuk menatap ayah Reva saat ini.
"Aku sudah mencari tahunya, alasan dia menargetkan Reva selama ini karena anaknya yang menderita leukimia dan memerlukan sumsum tulang belakang. Tapi yang tidak aku mengerti, mengapa harus Reva? Dia masih memiliki seorang putri yang sehat. Dan mendonorkan sumsum tulang belakang bukanlah hal yang sulit untuk dilakukan terutama jika itu untuk sang kakak"
"Jujur aku malu mengatakan hal ini, tapi aku baru mengetahuinya kemarin. Aku terlalu buta untuk mengetahui apa yang terjadi pada mereka selama ini" Jawab Ayah Reva tak bisa mengangkat kepalanya karena selama ia menikah dengan Bela, ia tidak pernah sekalipun mencurigai tujuannya yang sebenarnya
"Apa lagi yang kamu pikirkan. Apa perbuatannya masih belum cukup? Kamu seharusnya sadar, korban dari semua ini adalah darah daging kamu. Putri kamu satu-satunya, kamu tidak seharusnya berpihak pada orang lain" Bentak ibu Nevan semakin dibuat emosi karena sikap Ayah Reva
Krekk..
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka, ketiganya sontak menoleh termasuk ibu Nevan yang masih begitu emosi. Nevan berdiri menatap ketiganta serius, karena teriakan dari ibu nya tadi, ia terbangun dan bergegas keluar untuk mengecek.
"Ne-nevan.. " Ayah Reva bangkit berdiri menghampiri Nevan
"Tidak Paman. Aku tidak akan bersikap lunak padanya. Dia sudah membunuh anakku dan hal itu tidak akan bisa aku maafkan. Aku akan memasukkan nya ke penjara, Paman boleh menyewa pengacara, tapi Paman harus ingat semakin sedikit waktu dia di penjara maka semakin keras aku akan menyiksanya"
Ayah Reva sudah menduga hal ini, ia bahkan belum berbicara dan Nevan sudah menebak apa yang akan diucapkannya.
"Selain itu, Reva sudah menyetujuinya. Jadi tidak akan ada jalan damai kedepannya. Paman boleh memutuskan untuk tetap diam dan membiarkan semuanya sesuai dengan keinginanku atau membela istri Paman sekuat yang paman bisa. Namun jika paman memilih untuk berpihak pada istri paman, maka paman seharusnya siap untuk kehilangan putri paman" Ucap Nevan memperingati sebelum kembali masuk ke dalam ruangan
__ADS_1
Ayah Reva terdiam kaku, kepalanya terasa begitu pening. Dari lubuk hatinya terdalam ia sudah pasti akan berpihak pada putrinya, namun ia tetap tidak tega jika harus membayangkan istrinya disiksa di penjara dan putrinya yang akan hidup dalam penderitaan karena ulah dari ibunya.
"Ayo pergi, sebelum aku benar-benar emosi melihatnya" Tutur Ibu Nevan mengambil tasnya dan pergi sembari menarik lengan suaminya
...***...
Ayah Reva kembali pulang ke rumah dengan langkah lemah tak bertenaga. Ia duduk di sofa ruang tamu, mengingat kembali kenangan lamanya dengan ibu Reva dan juga Reva yang dulu sering menghabiskan waktu di ruang tamu itu bermain bersama.
"Aku benar-benar gagal menjadi seorang ayah untuknya" Tutur Ayah Reva merasa sesak di dadanya
Sejak perceraiannya, perhatiannya pada putrinya semakin berkurang. Dihidupnya hanya ada pekerjaan dan pekerjaan hingga ia menikah kembali yang justru semakin membuat hubungannya dengan putrinya merenggang.
...
Di sela-sela kesedihannya, Kristin yang sejak tadi menunggu kepulangan ayah Reva segera turun kebawah menemuinya untuk menanyakan keberadaan ibunya.
"Bagaimana Pa? Mama mana?" Tanya Kristin mencari ibunya
"Maaf.. Mama kamu tidak akan bisa lepas dengan mudah kali ini" Jawab Ayah Reva menghela nafasnya
"Apa maksud Papa? Bukannya Papa akan berbicara pada Nevan? Apa yang Papa lakukan di sini? Papa seharusnya menemuinya"
"Cukup Kristin.. Papa lelah, biarkan papa istirahat" Ayah Reva bangkit berdiri berniat kembali ke kamarnya tak ingin jika harus berdebat dengan Kristin
"Papa ngga boleh gitu, Papa harus kembali kesana, bagaimana jika Mama kenapa-napa. Bagaimana pun Nevan itu seorang mafia Pa.. Dia pasti akan menyiksa Mama.. Papa dengar nggak sih!" Bentak Kristin pada akhirnya, dan...
Plak..
Ayah Reva berbalik dan menampar wajah Kristin "Cukup. Papa bilang cukup. Nevan tidak akan melepaskan ibumu, bahkan jika Papa menyewa pengacara termahal sekalipun Ia tidak akan bisa bebas" Tutur Ayah Reva emosi karena sikap Kristin yang sudah keterlaluan
Bahkan jika dia bersedia membantu, dia tetap tidak bisa tinggal diam begitu saja saat Kristin sudah melewati batas karena bagaimana pun korban dari semua ini adalah putri kandungnya.
__ADS_1
Kristin hanya menghentakkan kakinya kesal lalu berlari naik ke kamarnya sembari menangis karena ini pertama kalinya ia di bentak dan ditampar oleh ayah Reva.