
Mobil yang dikemudikan oleh Rehan kini tiba di tepat depan gedung jurusan Manajemen Bisnis, berbeda dengan sebelumnya yang hanya mengantar Reva sampai di depan gerbang.
"Lain kali, gunakan mobil standart untuk mengantarku.. " Pinta Reva memperhatikan sekitar dari jendela mobil, dimana mahasiswa(i) yang lewat menatap penasaran ke arahnya
"Baik Non" Jawab Rehan dengan senyum cerah di wajahnya
Namun di mata Reva, senyum yang saat ini dilihatnya terlihat begitu palsu hanya dengan memperhatikan mimik wajahnya saja "Kamu tidak perlu memaksakan diri untuk tersenyum saat berada di dekatku" Ucap Reva sebelum melangkah keluar dari mobil
"Ah... " Rehan sedikit tertegun menatap kepergian Reva "Dia memang berbeda.... " Gumam Rehan menggigit bibir wajahnya diikuti dengan smirknya sebelum melajukan mobilnya kembali
....
"Hii.. Calon istri.. " Panggil Feli mencoba menggoda Reva tepat setelah ia masuk ke dalam kelas
Reva dengan cepat menghampirinya, menutup mulutnya untuk tidak membuka rahasia pernikahannya "Ssstt.. Diam.. Aku memberitahumu, bukan untuk membuatmu menyebarkannya" Pinta Reva setengah berbisik
"Hmm.. Hmmm.. " Feli menganggukkan kepalanya mengerti agar Reva segera melepaskan tangannya karena kesulitan bernafas
Namun beberapa detik kemudian, ia kembali melambaikan tangannya menyapa sosok yang baru masuk ke dalam kelas "Hii.. Calon adik ipar.. "
Reva yang tadinya berniat memainkan ponselnya, sontak menarik lengan Feli, membuatnya terduduk "Diam Feli.. " Tegur Reva tak bisa menyembunyikan raut wajah malunya karena sejak tadi diperhatikan
Sementara Kevin yang merasa terpanggil segera menghampiri keduanya "Sejak kapan aku jadi calon adik iparmu.. " Seru Kevin menatap Feli
"Kenapa? Reva sahabatku dan kamu adik dari calon suami sahabatku. Itu berarti kamu calon adik iparku" Jawab Feli menjelaskan dengan suara yang sama sekali tidak dipelankan
Reva menepuk jidatnya pusing melihat tingkah keduanya yang entah karena kelewat polos atau memang sengaja mempublish hubungannya.
"Aku mau ke kantin.. " Tutur Reva segera bangkit berdiri meninggalkan keduanya
"Reva.. "
"Aku ikut.. "
Keduanya kompak berteriak dan segera mengikuti Reva dari belakang, mengacuhkan tatapan bingung mahasiswa(i) lain, yang sejak tadi berusaha mencerna maksud dari pembicaraan ketiganya.
__ADS_1
....
"Bagaimana dengan Gavin? Apakah kamu memberitahunya?" Tanya Kevin berbisik di telinga Feli
"Belum, aku belum bertemu dengannya beberapa hari ini. Dia memiliki beberapa hal mendesak di rumahnya, karena itulah dia memutuskan untuk pulang" Jawab Feli merasa kasihan pada sepupunya
"Apa yang kalian bahas? Bukankah tadi kalian bertengkar? Sekarang kenapa berbisik? Kalian menyembunyikan sesuatu dariku? " ucap Reva langsung melontarkan beberapa pertanyaan
"Tidak apa-apa.. Kami hanya membahas tentang Gavin" Jawab Kevin yang langsung membuat Feli menyenggol lengannya
"Gavin? Ada apa dengannya? Oh iya.. Dia beneran kakak sepupu kamu?"
"Hmm.. Dunia sesempit itu bukan.. Bahkan aku masih tidak percaya jika kalian ternyata saling mengenal" Jawab Feli dengan senyum canggung nya "termasuk fakta bahwa dia menyukaimu" Lanjutnya dalam hati
"Jika aku tidak bertemu dengannya di pesta kemarin, mungkin aku sudah melupakannya sekarang. Jadi, bagaimana kabarnya?" Tanya Reva sedikit penasaran mengingat Gavin yang merupakan salah stau orang yang pernah melihat sisi gelap miliknya
"Dia baik-baik saja. Dia memiliki beberapa urusan di rumah karena itu lah dia memutuskan kembali ke kota S"
"Dia dari kota S?" Tanya Reva kembali jika saja dia salah mendengarnya
"Aku juga berasal dari kota itu. Keluarga ku tinggal disana dan aku berfikir untuk kembali kesana beberapa hari kedepan" Jawab Reva tak berniat menyembunyikannya lagi
"Kamu beneran mau pulang? " Tanya Kevin
Reva lalu mengangguk mengiyakan, semalam ia sudah membicarakan nya dengan kedua kakak angkatnya dan Nevan, ketiganya kompak memintanya untuk pulang.
"Hmm.. Aku akan pulang. Akan sangat buruk jika aku menikah tanpa memberitahu ayahku" Jawab Reva berusaha baik-baik saja
"Kamu baik-baik saja?" Tanya Feli merasa khawatir
"Aku baik-baik saja. Lagipula Nevan dan Kak Arya akan ikut bersama denganku. Jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi" Jawab Reva mencoba terlihat baik-baik saja, meski ia merasa khawatir sekalipun
...***...
Sesuai dengan permintaan Reva tadi, Rehan langsung mengganti mobil yang dipakainya menjadi mobil yang kebanyakan digunakan oleh mahasiswa lain.
__ADS_1
"Oh.. Kamu sudah menggantinya.. " Tutur Reva yang sempat tidak mengenali mobil jemputan nya jika Rehan tidak keluar dari mobil
"Iya Non. Sesuai permintaan Non Reva" Tutur Rehan
"Kalau begitu ayo ke Mall. Aku masih memiliki waktu 2 jam sebelum ke kantor Nevan" Tutur Reva melirik jam ditangannya yang masih menunjukkan pukul 10
"Baik Non" Jawab Rehan sebelum berangkat
...
Ini pertama kalinya Reva ingin datang ke kantor Nevan, karena itulah ia berniat untuk merubah penampilan nya menjadi sedikit dewasa karena tak ingin terlihat seperti seorang mahasiswa yang tengah menggoda boss perusahaan.
Reva kini berada di salah satu toko pakaian, mencoba salah saty baju yang baru saja di pilihnya. Baju dengan model single dress berwarna putih yang simple namun terlihat dewasa dan elegan, dengan panjang di atas lutut, memperlihatkan kaki jenjang miliknya. Kali ini ia memilih memadukannya dengan heels yang selama ini dibencinya namun terpaksa ia pakai, untuk sedikit mengejutkan Nevan karena kunjungan tiba-tibanya yang mana Nevan belum tahu jika ia akan datang berkunjung.
"Bagaimana penampilanku? Apa aku sudah terlihat dewasa?" Tanya Reva menanyai pendapat dari Rehan, satu-satunya yang bisa dia tanya saat ini
"Rehan?" Panggil Reva mencoba mendekat karena Rehan yang tak kunjung menyahut
Rehan yang saat ini menatap ke arah Reva benar-benar dibuat panling. Meski ini bukan pertama kalinya, ia tetap merasa kagum akan kecantikannya yang seolah memiliki ciri khas tersendiri dari para gadis yang pernah dilihatnya terutama bola mata hazel miliknya yang seolah membuat siapapun yang menatap matanya akan terjebak dalam pesonanya.
"Rehan?" Panggil Reva sekali lagi
"Ah.. Maaf Non.. " Rehan segera membuyarkan lamunannya sembari menggaruk gisar rambutnya yang sama sekali tidak gatal itu
"Itu terlihat bagus saat dikenakan oleh Non Reva.. " Ucapnya kemudian
"Hmm.. Kalau begitu, aku akan memilih yang ini" Tutur Reva memperhatikan pantulan dirinya dari cermin
Rehan menghela nafasnya lega, bisa ia rasakan jika wajah dan telinganya kini panas dan memerah karena menahan malu.
"Tahan dirimu Rehan.. " Ucapnya dalam hati berusaha menahan diri agar tidak mengulangi kejadian tadi
Sementara Reva kini membayar semua belanjaanya, termasuk heels dan tas yang diambilnya tadi, menyesuaikan dengan pakaiannya.
"Ayo pergi, aku sudah selesai" Seru Reva meninggalkan toko tersebut diikuti oleh Rehan dari belakang yang masih berusaha menetralkan perasaanya
__ADS_1
Keduanya lalu keluar dari Mall dan segera berangkat ke perusahaan Nevan.