
Setelah diberi obat penenang, Reva akhirnya tertidur kembali. Luka di leher dan tangannya kini telah selesai diobati oleh Dr. Dimas yang merupakan dokter kepercayaan dari Rehan.
"Bagaimana keadaannya?"
"Tidak baik. Jika dia terus menerus seperti ini, ia hanya akan membahayakan dirinya sendiri" Jawab Dr. Dimas memggelengkan kepalanya
"Tapi aku tidak ingin kehilangan dirinya.. " Ucap Rehan lirih sembari memegang tangan Reva erat
"Sebaiknya kamu tidak memaksanya. Lakukan secara perlahan. Mungkin suatu saat ia akan benar-benar mengerti dan menerima dirimu" Ujar Dr. Dimas memberi saran
"Ini memang kesalahanku, seharusnya aku tidak berbuat seperti itu padanya" Ucap Rehan menyesali perbuatannya
"Aku benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran orang yang jatuh cinta.. " Dr. Dimas berucap sembari melangkah keluar dengan tangan melambai "Aku pergi, hubungi aku jika terjadi sesuatu" Sambungnya
Tepat setelah Dr. Dimas keluar dari ruangan, asisten pribadi Rehan masuk ke dalam sembari membawa sebuah MacBook di tangannya
"Ada apa?" Tanya Rehan kemudian
Asisten Rehan langsung memperlihatkan rekaman video yang baru saja ditontonnya itu. Rekaman video yang memperlihatkan Arya dan Rangga yang tengah berada di sekitar rumah itu mengawasi.
"Oh.. Mereka sudah menemukanku.. " Ucap Rehan seolah tidak terganggu sama sekali meski keberadaannya diketahui
"Apa yang harus kami lakukan, tuan?"
"Kalian hanya perlu mengubah arah jalan ke rumah ini. Perkara mereka bisa menemukannya kembali atau tidak, aku tidak perduli. Bahkan jika mereka bisa menemukannya, itu bukan berarti aku takut berhadapan dengan mereka" Ucap Rehan dengan smirk nya, penuh percaya diri akan kemampuannya
John Asisten Rehan, sudah tidak kaget lagi akan sikap Rehan yang ini. Selama mengikutinya, tak pernah sekalipun ia tidak merasa kagum akan perjuangannya. Karena itulah, selama bertahun-tahun John tetap setia mengikuti Rehan dan membantunya dalam setiap balas dendamnya yang merupakan permintaan dari tuan sebelumnya yang memintanya untuk menjaga Rehan.
"Aku juga baru saja mendapat kabar dari rumah sakit. Nevan sudah sadar kembali, tapi sepertinya ia akan tetap di tahan di rumah sakit untuk sementara waktu" Ujar John kemudian
"Oh.. Aku benar-benar tidak sabar menantikan dirinya. Bagaimana pun, dia adalah orang yang paling ingin aku buat menderita"
Bukan kepada ayahnya, tapi kepada anaknya. Balas dendam sempurna untuk seorang ayah, dari Rehan yang sebelumnya telah direnggut orang tuanya.
__ADS_1
"Kamu dengar itu, Nevan sudah sadar kembali. Aku yakin air mata yang kamu perlihatkan saat ini akan langsung berganti senyuman saat mendengar hal bahagia seperti ini" Ucap Rehan menggengam tangan Reva sembari mengusap wajahnya
...***...
Di sisi lain, Arya bersama dengan Rangga dan Bagas, kembali ke rumah setelah Bagas mendapatkan semua CCTV yang bisa didapatnya di sekitar tempat itu.
Anggi bersama dengan Geral dan ayah Nevan juga sudah tiba di rumah setelah melihat keadaan Nevan yang kini diawasi oleh Ibunya yang masih tetap stay di rumah sakit.
"Bagaimana bisa dia tidak menyembunyikan jejaknya. Jika dia memang berniat bersembunyi sejak awal, ia pasti sudah menghapus semua CCTV yang mengarah ke tempat itu" Tutur Anggi memeriksa CCTV yang dibawa oleh Bagas
Beberapa CCTV yang berada di jalanan, secara langsung menyorot bawahan Rehan termasuk Rehan yang sempat beberapa kali keluar dari rumah itu.
"Entah karena dia ceroboh atau memang dia sengaja melakukannya"
"Dia seharusnya sengaja melakukannya" Sahut ayah Nevan yakin dengan pendapatnya "Setelah melihat karakter aslinya, aku tidak akan percaya jika dia bisa bersikap ceroboh seperti ini. Satu-satunya alasannya pasti karena dia memang sengaja melakukannya"
"Jadi apa yang harus kita lakukan? Jika dia memang sengaja melakukannya, ia pastinya sudah memasang jebakan dan hanya menunggu kita masuk ke dalam jebakannya"
"Tidak bisa. Jangan terburu-buru dan biarkan aku berfikir untuk sementara waktu" Ucap Anggi berusaha memikirkan jalan keluar yang tidak akan mengorbankan siapapun
Ayah Nevan kembali duduk di kursi, bagaimana pun ia benar-benar ingin bertemu dengan Rehan dan menyelesaikan kesalahpahamnya di masa lalu. Namun ia memilih mendengarkan perkataan Anggi ketimbang bertindak sendiri. Karena bagaimana pun, diantara mereka bertiga, hanya Anggi yang berpikiran lebih dewasa dibanding ayah Nevan dan Geral yang selalu mengandalkan fisiknya.
.....
Setelah pertemuannya barusan, Rangga memutuskan berkunjung ke apartemen Intan setelah mendapat panggilan darinya.
Sejak penculikan Reva dan kecelakaan Nevan, Rangga tak pernah lagi menghubungi Intan. Selain memenuhi kebutuhannya ia tak pernah sekalipun berkunjung ataupun menghubungi. Meski Intan tidak bermaksud melakukannya, Rangga tetap tak bisa menahan amarahnya jika bertemu dengan Intan disaat ia yang bahkan belum berhasil menemukan Reva.
Rangga yang baru tiba di apartemen, langsung masuk ke dalam apartemen itu. Terlihat Intan yang sudah berada di ruang tamu menunggu kedatangannya sejak tadi.
"Apa yang ingin kamu bahas denganku?" Tanya Rangga dingin dengan sikap acuh tak acuhnya
"Aku tahu kamu masih marah dan bahkan sangat membenciku. Tapi seperti yang aku katakan, aku sama sekali tidak menyesal melakukannya bahkan hingga saat ini" Ucap Intan serius
__ADS_1
"Aku sedang tidak ingin mendengar basa-basi darimu saat ini. Waktu yang aku gunakan saat ini sangat berharga dan aku tidak ingin membuatnya sia-sia dengan mendengar semua omong kosongmu disini" Seru Rangga menatap Intan kesal lalu bangkit berdiri dari duduknya
"Ini tentang Reva.. " Ucap Intan sebelum Rangga pergi yang sontak membuatnya menoleh ke arahnya
"Apa maksudmu?" Tanya Rangga menoleh dengan raut wajah serius
"Ayo lakukan pertukaran" Ucap Intan tak kalah seriusnya
Dahi Rangga berkerut dengan alis yang kini bertaut, namun ia tetap duduk kembali untuk mendengar pertukaran yang akan dikatakan Intan.
"Aku bisa membantumu terhubung dengan Reva tapi sebagai balasannya bantu aku menemukan orang tuaku"
"Katakan rencanamu terlebih dahulu. Aku akak mempertimbangkannya setelah mendengarnya"
"Kamu tahu sendiri, orang tuaku ditahan olehnya disalah satu rumah sakit di luar negeri. Karena itulah aku tunduk dan menuruti permintaannya. Meski begitu, aku diam-diam bertindak dan mengirim seseorang untuk bekerja di bawahnya"
"Maksud kamu, kamu memiliki seseorang di rumah itu yang bisa membantuku?"
"Iya. Aku bisa memintanya untuk mencari keberadaan Reva di rumah itu. Tapi seperti yang aku katakan, temukan orang tuaku"
"Bagaimana aku bisa mempercayaimu?"
"Itu terserah padamu. Aku tidak memaksamu untuk percaya padaku karena saat ini prioritas utama ku adalah menemukan orang tuaku"
"Aku mengerti. Aku akan menghubungimu setelah memikirkannya"
"Pikirkan dengan cepat. Sama seperti mu, aku juga tidak memiliki banyak waktu. Setiap waktu yang aku habiskan disini, hanya akan menjadi siksaan bagi orang tuaku"
"Aku tahu.. Lagipula aku sudah mulai mencarinya dari sejak lama" Ucap Rangga namun dengan nada pelan seolah berbisik pada kalimat terakhirnya
"Apa maksudmu?" Tanya Intan tidak begitu mendengarnya
"Tidak ada. Aku pergi. Jaga dirimu dan bayi di kandungan mu" Ucap Rangga untuk terakhir kalinya sebelum keluar dari apartemen Intan
__ADS_1