Belenggu Cinta, Mafia Kejam

Belenggu Cinta, Mafia Kejam
Berkunjung


__ADS_3

Pada akhirnya, Reva menyetujui untuk Nevan ikut dengannya ke apartemen gadis itu. Meski ia meminta untuk melakukan hubungan seperti itu, nyatanya ia tidak benar-benar menginginkannya. Semua itu hanya karena ia belum benar-benar merelakan kepergian anaknya, karena itulah ia meminta Nevan untuk berhubungan dengannya agar ia bisa mengandung kembali dan membuat hatinya merasa sedikit lega meski hal ini hanyalah bentuk keegoisannya saja.


Mobil yang dikendarai Rangga dengan Nevan dan Reva dibelakang, kini memasuki parkiran sebuah gedung apartemen yang cukup besar mengingat lokasi dari apartemen itu berada di lingkungan elit.


"Dia tinggal sendiri?" Tanya Reva tidak menyangka jika gadis itu akan tinggal di apartemen yang mewah seperti itu


"Iya. Dia tinggal sendiri" Jawab Rangga mengangguk


"Bagaimana dengan orang tuanya?"


"Aku belum bertemu dengan mereka karena mereka ada di luar negeri"


Reva mengerutkan keningnya merasa aneh. Semakin ia mengetahui tentang gadis itu, ia semakin merasakan keanehan.


"Bagaimana dengan identitasnya? Kamu sudah mencari tahu? " Kali ini giliran Nevan yang bertanya


"Aku sudah mengeceknya tuan, orang tuanya memang berada di luar negeri. Tapi untuk memastikannya lagi, aku berharap Non Reva bisa mencari tahu tentangnya. Informasi yang aku dapatkan hanya lah informasi umum yang belum bisa dengan jelas memastikan identitasnya saat ini" Pinta Rangga memohon


"Kamu tidak perlu khawatir. Aku pasti akan menggali semua informasi tentangnya" Jawab Reva penuh keyakinan akan kemampuannya sendiri


Ketiganya lalu naik ke lantai 3,lantai apartemen gadis itu berada. Karena keduanya hanya berniat untuk menyapa, keduanya sengaja membawa bingkisan buah sekedar sopan santun.


"Oh iya, kita membahasnya selama perjalanan, tapi aku lupa menanyakan namanya, akan aneh jika kita tidak mengetahui namanya" Tanya Reva baru menyadarinya


"Maaf Non.. Aku benar-benar melupakannya. Namanya Intan Clarissa. Non Reva bisa memanggilnya Intan" Jawab Rangga menggaruk tengkuk kepalanya


"Intan, nama yang cantik" Gumam Reva memuji "entah hatinya cantik atau tidak" Lanjutnya dengan nada berubah dingin


"Tidak secantik dirimu" Sela Nevan tiba-tiba memeluknya dari belakang


"Ini di luar Nevan.. " Ucap Reva menyenggol perut Nevan


"Tidak masalah.. Tidak ada siapapun disini" balas Negan santai dan tidak memperdulikan keberadaan Rangga sedikit pun


"Kapan lift ini akan berhenti, keberadaan ku benar-benar tidak dianggap disini" Gerutu Rangga dalam hatinya yang saat ini dianggap sebagai angin lalu oleh Nevan majikannya


Ting...

__ADS_1


"Akhirnya.. " Batin Rangga merasa lega sembari menghela nafasnya


"Apa kamu baru saja menghela nafasmu?" Tanya Reva menggoda Rangga


"Ti-tidak non.. Non Reva salah lihat.. " Jawab Rangga gugup sembari mempercepat langkahnya menuju kamar Intan


"Lihatlah ulahmu, dia sampai gugup seperti itu" Ucap Reva menyenggol lengan Nevan


"Bukankah itu karena kamu menggodanya barusan" Balas Nevan


"Ohhh.. Sepertinya begitu.. " Timpal Reva lalu menghampiri Rangga


....


Tik.. Tik.. Tik.. Tik..


Rangga menekan tombol pintu kamar Intan, sebelumnya ia sudah mengabari nya akan kedatangannya karena itulah ia bisa dengan bebas masuk tanpa mengkhawatirkannya.


"Silahkan masuk tuan, non.. " Ucap Rangga bersikap layaknya pemilik kamar itu


Keduanya lalu masuk ke dalam kamar yang tampak sunyi itu dan duduk di sofa tamunya. Sementara Rangga memanggil Intan yang mungkin tengah berada di kamarnya.


"Aku mendengar suara pintu terbuka, karena itulah aku bergegas keluar" Ucap gadis itu merapikan sedikit penampilannya sangking gugupnya


....


"Tidak perlu gugup, kami hanya datang menyapamu. Tidak bermaksud lain" Ucap Reva menenangkan setelah melihat gadis itu sejak tadi menunduk gugup


"Maaf.. Aku tidak menyangka jika kalian akan datang malam ini. Salahku karena tidak menyiapkan apapun" Tuturnya gemetaran


"Berapa umurmu?" Tanya Reva


"Umurku 23.."


"Oh, kita seumuran. Umurku juga 23 dan aku juga seorang mahasiswa. Jadi kamu tidak perlu segugup itu.. " Balas Reva berusaha bersikap sesantai mungkin


Intan perlahan mengangkat kepalanya, namun seketika kemudian dia kembali menunduk saat sorot matanya tepat bertemu dengan sorot mata dingin milik Nevan.

__ADS_1


"Nevan.. " Reva mencubit paha Nevan menyadari sikapnya yang begitu dingin


"Aku tidak berbuat apa-apa Reva.. " Balas Nevan yang memang sejak tadi diam yang mungkin karena pembawaannya yang sejak dulu dingin saat bertemu dengan orang lain


"Cobalah untuk sedikit tersenyum.. " Pinta Reva seakan-akan mereka sedang menenangkan seorang bocah


"Aku akan akan ke dapur memeriksa Rangga. Entah apa yang dia lakukan begitu lama di dapur" Nevan segera berdiri tepat setelah ia mendengar permintaan Reva yang menurutnya tidak mungkin


Bahkan ia jarang dan mungkin tidak pernah tersenyum pada orang di rumahnya, jadi bagaimana mungkin ia tersenyum pada gadis yang baru dilihatnya itu.


Nevan menghampiri Rangga di dapur yang sejak tadi sibuk membuat minuman untuk ketiganya. Meski Intan menolak karena ia adalah pemilik rumah, namun Reva dan Rangga bersikeras agar Rangga yang membuatnya karena Intan yang tengah hamil.


"Mengapa kamu begitu lama membuatnya?" Tanya Nevan menatap Rangga


"Maaf tuan.. Aku akan segera menyajikannya" Jawab Rangga segera mengambil nampan


"Tidak perlu. Lakukan lebih lambat.. " Pinta Nevan tiba-tiba duduk di kursi tak ingin keluar terlalu cepat


Rangga hanya menatap bingung majikannya, yang hanya dalam waktu singkat bisa berubah pikiran seperti itu.


....


Sementara itu di ruang tamu, Intan yang tadinya gugup kini perlahan mulai terlihat santai setelah Nevan pergi.


"Bagaimana kondisi kandunganmu? Apa kamu sudah memeriksakan nya ke dokter? " Tanya Reva begitu tiba-tiba


"Belum. Aku belum pernah memeriksakan nya ke dokter" Jawab Intan menggelengkan kepalanya


"Dasar Rangga.. Seharusnya dia membawamu ke dokter, bagaimana jika terjadi sesuatu pada kandunganmu. Aku harus menegurnya nanti.. " Omel Reva tanpa sadar


"Oh.. Maaf.. Sepertinya aku sudah berlebihan.. " Lanjutnya menyadarinya setelah melihat ekspresi terkejut Intan "Aku sedikit emosional jika menyangkut kandungan" Ucap Reva lirih


Mendengar ucapan Reva, Intan beralih tempat duduk dan duduk di samping Reva "Kamu mungkin belum bisa merasakannya, tapi aku yakin dia bisa merasakannmu dari dalam" Ucap Intan meraih tangan Reva dan menempelkan nya di perutnya


Mata Reva seketika berkaca-kaca. Dari sejak hamil, ia belum pernah sekalipun mengusap perutnya seperti ini, ia terlalu sibuk mengurus urusan dunianya, berdebat dengan isi pikirannya yang bahkan seakan belum menerima kehamilannya sepenuhnya karena Nevan yang membohonginya "Terima kasih.. Aku merasa bersyukur karena datang kesini malam ini" Ucap Reva sembari memeluk Intan erat


Intan hanya tersenyum simpul, sembari membalas pelukan Reva yang entah mengapa terasa begitu hangat.

__ADS_1


"Kamu harus janji padaku, kamu harus menjaga kandunganmu. Pergi ke dokter untuk memeriksanya dan juga berhenti datang ke bar. Rangga memberitahuku jika kamu mabuk. Itu tidak baik untuk seorang wanita yang sedang mengandung" Reva melepas pelukannya dan lantas memberikan nasehat yang lebih terdengar seperti omelan dari seorang ibu untuk anaknya


"Iya. Aku akan berusaha melakukannya" Jawab Intan lirih


__ADS_2