
Di Kafe X yang letaknya tak jauh dari pusat kota. Reva dan Kevin kini duduk di salah satu meja, menikmati cake di depannya sembari berbincang ringan.
Keduanya sengaja memilih tempat ini karena lokasinya dekat dengan pusat kota yang merupakan lokasi tempat balapan dilakukan.
Tidak ada yang tahu siapa penyelenggara yang sebenarnya dari balapan ini. Namun satu hal yang pasti, dia bukanlah sembarang orang mengingat ia bisa melaksanakan balapan secara legal di pusat kota ini.
...
Reva berulang kali menyentakkan kakinya merasa risih dengan flat shoes heels yang saat ini dikenakannya. Kerena paksaan dari Kevin yang memintanya untuk berpenampilan feminim, Reva hanya bisa pasrah memakai kemeja motif flower dan rok midi warna pink. Rambutnya sengaja ia buat terurai agar bisa menutupi bekas kemerahan yang masih berada di lehernya karena ulah dari Nevan kemarin yang menandainya di beberapa tempat yang terbuka.
Ting...
Lonceng pada pintu kafe berbunyi, tak kala seorang gadis dari luar membuka pintu kafe. Gadis dengan setelan tule dress dikombinasikan dengan ankle strapped heels.
Gadis itu mengedarkan pandangannya, lalu berjalan ke arah Reva dan Kevin yang masih sibuk dengan cakenya khussunya Reva dan tidak memperhatikan kedatangan gadis itu.
"Keviin.. Aku sangat merindukanmu" Tutur gadis itu memeluk Kevin dari belakang
Dengan raut wajah datar tidak perduli, Kevin melepas rangkulan gadis itu "Perhatikan sikap kamu, Tiara" Tegur Kevin pada gadis yang dipanggilnya Tiara
Tiara memanyunkan bibirnya kecewa, melihat reaksi Kevin yang seolah tidak suka dengan kedatangannya.
"Dia siapa?" Tanya gadis itu menatap Reva yang sedari tadi hanya fokus pada kuenya "Kenapa dia ada disini?"
Kevin menyenggol lengan Reva, mengisyaratkannya untuk fokus pada perannya.
Reva meletakkan sendoknya lalu menatap Tiara sembari tersenyum ramah "Perkenalakan, namaku Revalina. Pacar dari Kevin" Ujar Reva memperkenalkan diri
"P-pacar? Sejak kapan kalian pacaran? Mengapa aku tidak mengetahuinya?" Tanya Tiara syok mendengar kabar mengejutkan itu
"Tidak ada gunanya aku menjawab pertanyaanmu. Kamu bisa lihat sekarang, aku sudah memiliki pacar. Karena itulah, aku sudah tidak bisa membalas perasaanmu lagi" Ucap Kevin dengan nada serius sembari merangkul pundak Reva
"Seharusnya aku tidak setuju melakukan ini.. Aarggh" Gerutu Reva dalam hati, karena selain Nevan tidak ada satu pun laki-laki yang pernah ia izinkan menyentuhnya
Tiara bangkit berdiri. Tangannya mengepal. Wajahnya memerah menahan emosi dengan mata yang kini berkaca-kaca.
"I-ini bohong kan?" Tanya nya kembali memastikan dengan suara bergetar
__ADS_1
"Aku serius Tiara. Hubungan kita sudah berakhir dan tidak akan bisa kembali seperti dulu lagi" Tutur Kevin serius
"K-kamu jahaatt.. " Seru Tiara dengan air mata yang kini menetes
"Ini untuk kebaikanmu sendiri" Gumam Kevin
Tiara meninggalkan kafe itu kesal sembari mengusap air matanya. Sejak berpacaran dengan Kevin dulu, Tiara tak pernah memiliki waktu untuk Kevin karena terlalu sibuk dengan urusan karirnya sebagai model. Karena itulah, Kevin memilih untuk mengakhiri hubungan itu agar Tiara bisa lebih fokus pada karirnya.
"Dasar pria br*ngsek.. Kamu membuatnya menangis" Ucap Reva menatap Kevin yang kini menopamg dagu di meja dengan tatapan suram
"Aku melakukan ini untuk kebaikannya sendiri" Gumam Kevin menghela nafasnya
"Apapun itu, aku tidak perduli. Sekarang ayo pergi, aku sudah tidak tahan dengan pakaian ini" Ucap Reva semakin risih karena tidak terbiasa mengenakan pakaian seperti itu
Keduanya meninggalkan kafe. Beralih ke sebuah toko pakaian yang tak jauh dari kafe tadi. Keduanya sengaja tidak kembali kerumah, untuk menghindari masalah yang mungkin akan terjadi jika Nevan mengetahui rencana keduanya.
Reva mengganti pakaiannya ke setelan yang biasa di pakainya. Sebuah kaos oversize dipadukan dengan jaket dan celana jeans. Sementara Kevin masih dengan pakaian yang sama dari kafe tadi dan tidak berniat menggantinya.
***
Sebelum berangkat ke tempat balapan, Kevin dan Reva terlebih dahulu datang ke casino milik Arya dan Bagas. Sebelumnya, Reva pernah menitipkan motor kesayangannya pada mereka. Motor yang selama ini ia gunakan saat kabur dari rumah.
"Itu jika dia tau" Jawab Reva
"Aku hanya mengingatkan, bagaimana pun dia itu penguasa kegelapan. Kecepatan informasinya, bukan hal yang bisa kalian remehkan" Tegur Arya meski ia tahu akan percuma menasehati Reva
"Jangan khawatir kak. Aku hanya datang sebagai penonton bukan sebagai pembalap. Aku masih memiliki akal sehat, bagaimanapun Nevan yang sedang marah terlihat begitu menyeramkan" Ujar Reva masih tahu batas
"Baiklah.. Segera kabari aku jika terjadi sesuatu"
....
Jam 8 malam tepat di pusat kota, Reva dan Kevin kini tiba di lokasi balapan dengan mengendarai motor tadi. Butuh beberapa waktu sebelum keduanya tiba di dalam, karena pemeriksaan identitas yang begitu ketat mengingat acara ini dilaksanakan di pusat kota.
"Ckkk.. Benar-benar sosok yang berkuasa.. Bahkan keamanannya seketat ini.." Ucap Reva memperhatikan beberapa pengawal di sekitar lokasi yang sejak tadi berpatroli
Brreeummmm... Brreeeuuummm...
__ADS_1
Bunyi mesin motor yang salin bersaut-sautan kian memenuhi lokasi tersebut. Diiringi dengan suara penonton yang ikut memeriahkan tak kala, dua orang pembalap yang saat ini berada di atas motor masing-masing siap untuk memulai startnya.
Seorang joki cantik dengan bendera di tangannya, maju ke depan memainkan bendera putih di tangannya sebelum akhirnya teridengar sebuah letusan asap ke udara sebagai tanda start untuk keduanya.
Hanya butuh waktu 15 menit hingga salah seorang pembalap tiba di garis finish, diikuti pembalap kedua yang langsung membuka helmnya kesal melihat senyum kemenangan dari pembalap pertama.
"Secepat itu? Ini baru 15 menit.. " Ucap Kevin takjub
"Tidak perlu kagum seperti itu. Ini bahkan masih dibawah dari rekor kemenanganku" Gumam Reva yang sedari tadi hanya memasang wajah santai karena pembalap tadi tidak sehebat yang ia pikirkan
"Maaf.. Apa kamu seorang pembalap?" Tanya seorang pria dari samping yang tanpa sengaja mendengar ucapan Reva tadi
Reva menatap pria itu, salah seorang pria yang ia lihat bersama dengan pembalap yang kalah tadi "Iya. Aku memang seorang pembalap"
"Ayo pergi. Berhenti bermain-main dengan gadis pembohong sepertinya" Ucap pembalap tadi melirik Reva meremehkan
Reva hanya menyeringai kecil, wajar jika ia dianggap sebagai seorang pembohong, terutama karena ia hanya seorang gadis.
"Kalau begitu, biar aku buktikan. Aku akan bertanding ulang dengan lawan kamu tadi" Ucap Reva
Bukan karena ingin membuktikan, tapi karena ja merasa sedikit sia-sia datang ke tempat itu setelah melihat pertandingan tadi. Karena itulah, ia memutuskan untuk ikut.
Pria itu lalu menatap Reva serius "Siapa namamu?" Tanyanya kemudian
"Sebelum menanyakan nama, bukankah seharusnya kamu memperkenalkan diri terlebih dahulu"
" Namaku Gavin Mahendra. Panggil Gavin. Bagaimana denganmu?"
"Revalina. Kamu bisa memanggilku Reva" Balas Reva menerima uluran tangan dari Gavin
"Menarik.. " Batin Gavin tersenyum simpul
"Pinjamkan aku motormu.. "
"Kamu serius mau melakukannya? Bagaimana pun jika tidak berhati-hati, kamu bisa membahayakan nyawamu"
"Tidak perlu khawatir" Balas Reva lalu merebut kunci motor di tangan Gavin
__ADS_1
"Reva.. Kamu serius? Jangan bercanda di sini. Kakak benar-benar akan membunuhku jika terjadi sesuatu padamu" Tegur Kevin merasa khawatir
"Aku serius. Kamu hanya perlu duduk manis disini, menunggu kemenanganku" Balas Reva dengan percaya dirinya