Belenggu Cinta, Mafia Kejam

Belenggu Cinta, Mafia Kejam
Nostalgia


__ADS_3

Nevan yang sejak tadi ketiduran setelah melihat album foto Reva kini terbangun setelah mendengar suara ketikan yang sejak tadi memenuhi seisi ruangan.


Nevan menoleh ke arah jam di dinding yang ternyata sudah menunjukkan pukul 3 sore yang artinya ia sudah tertidur hampir 7 jam lamanya, sementara Reva masih tetap asik di depan komputernya.


"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Nevan menghampiri Reva dan memelukny dari belakang kursi


"Melacak keberadaan Ibuku dan yang lainnya.. " Jawab Reva tak berkutik barang sedikitpun dari layar komputer


Matanya sibuk bolak-bolak menatap komputer secara bergantian karena ia yang saat ini mengerjakan beberapa hal sekaligus.


"Aku tahu kamu seorang hacker yang hebat. Tapi aku tidak menyangka jika ternyata kamu sehebat ini.. " Ucap Nevan dengan ia yang kini menyandarkan kepalanya di atas bahu Reva sementara tangannya melingkar di pinggang Reva


"Tentu saja. Aku sudah mempelajarinya dari sejak aku kecil, bagaimana mungkin kemampuanku biasa-biasa saja" Puji Reva akan dirinya sendiri


Nevan hanya tersenyum mengakui "Jadi bagaimana? Apa kamu bisa melacaknya?" Tanya Nevan kemudian


"Belum. Ibuku benar-benar pandai menyembunyikan dirinya.. " Jawab Reva menghela nafasnya berat karena sejak tadi ia sudah berusaha semaksimal mungkin namun belum bisa melacak lokasi dari ibunya


Bagaimana pun, kemampuannya masih berada di bawah jika dibandingkan dengan kemampuan ibunya.


"Kapan kamu selesai? Ini sudah 7 jam lebih kita berada di ruangan ini"


"Selama itu? Aku sama sekali tidak menyadarinya" Tutur Reva lalu menghentikan gerakannya


"Iya. Sebaiknya kamu berhenti dulu, tidak baik jika kamu menghabiskan waktu di depan layar komputer terlalu lama" Ucap Nevan mengkhawatirkan kesehatan Reva tekhusus matanya


"Baiklah. Ayo keluar. Aku juga sudah lapar sekarang" Tutur Reva memegangi perutnya yang mulai berbunyi


Keduanya lalu keluar dari kamar dengan Reva yang bergelayutan di lengan Nevan sembari menurunu tangga.


...


"Kalian bahkan belum menikah, bukankah tidak pantas untuk tinggal berdua di kamar selama itu" Tegur sebuah suara dari ruang tamu yang tak lain adalah Bela, Ibu tiri Reva yang kini menatap keduanya khususnya Reva dengan tatapan sinis


"Urus urusanmu sendiri.. " Balas Reva

__ADS_1


"Kak.. " Panggil Kristin yang juga ada disana bersama dengan tunangannya Gavin


"Ada apa? Apa ibumu tidak memperingatimu untuk berhenti bersikap munafik di depanku"


"Revaa.. " Kali ini giliran Gavin yang memang sengaja datang berkunjung untuk bertemu dengan Reva


"Lagi-lagi kamu melihat sisi burukku, kuharap kamu bisa berpura-pura tidak melihatnya karena aku melakukannya hanya kepada orang-orang munafik seperti mereka" Ucap Reva dengan smirknya


"Jaga ucapan kamu Reva.. "


Reva hanya mendengus kesal, lalu menarik lengan Nevan berniat untuk keluar "Aku pergi, sebaiknya kamu segera pergi dari sini, akan sangat buruk jika kamu tertular sifat buruk dari merek" Ucap Reva menggoda Gavin


Gavin hanya terkekeh mendengar ucapan Reva. Sementara Kristin kini mengepalkan tangannya penuh amarah, karena perlakuan Reva yang benar-benar sudah keterlaluan khususnya di depan tunangannya.


"Sejak kapan kalian saling kenal?" Tanya Kristin kemudian


"Belum lama ini. Aku beberapa kali bertemu dengannya. Dan juga dia bersahabat dengan sepupuku karena itulah aku bisa mengenalnya" Jawab Gavin kembali bersikap biasa-biasa saja


Jika bukan karena paksaan dari keluarganya, ia tidak akan pernah mau menerima perjodohan dengan gadis yang tidak dicintainya ini. Karena alasan ini pulalah, ia melampiaskan kekesalannya dengan mengikuti balapan di kota x yang kemudian membuatnya bertemu dengan Reva, gadis yang dicintainya, meski perasaannya sudah tidak mungkin terbalas mengingat Reva yang akan segera menikah dengan Nevan.


Sementara itu, Nevan dan Reva kini meninggalkan rumah dan mendatangi sebuah rumah makan sederhana yang dulu sering dikunjungi oleh Reva saat sekolah dulu.


Seolah bernostalgia, Reva merasa terharu karena bisa datang kembali ke tempat ini, khususnya karena pilih dari tempat ini sudah dianggap Reva layaknya orang tuanya sendiri.


"Entah bagaimana kabar mereka sekarang.. " Ucap Reva lalu masuk ke dalam mencari sosok yang dirindukan nya


Tepat setelah Reva melangkah masuk, ia dengan cepat menghampiri seorang wanita tua di kasir.


"Bi Eka.. " Panggil Reva kemudian


Wanita itu menolehkan kepalanya setelah mendengar suara yang sedikit familiar "Reva? Kamu beneran Reva?" Tanyanya tak menyangka


Reva lalu mengangguk mengiyakan "Iya Bi, ini aku Reva, aku pulang.. " Jawab Reva


"Kamu sudah pulang" Bi Eka dengan cepat menghampirinya dan memeluk tubuh Reva erat

__ADS_1


Keduanya menangis dalam pelukan masing-masing. Selama ini Bi Eka hanya tinggal berdua dengan suaminya, keduanya tidak memiliki anak, karena itulah keduanya menganggap Reva sebagai anak mereka sendiri karena Reva yang selalu datang ke rumah makan itu, entah hanya untuk makan atau bahkan menyebabkan masalah untuk keduanya jika ia terlibat perkelahian.


"Diaa siapa?" Tanya Bi Eka kemudian, setelah beradu pandang dengan Nevan yang sejak tadi diam memperhatikan keduanya


"Oh, kenalin Bi. Dia calon suami aku, Nevan" Ucap Reva menarik lengan Nevan agar mendekat kepadanya


"C-calon suami? Kamu akan menikah?" Tanya Bi Eka lagi- lagi tidak menyangka dengan kabar mengejutkan itu


"Iya. Pernikahannya tiga minggu lagi, jadi aku harap Bi Eka bisa datang bersama dengan paman" Pinta Reva memegang kedua tangan Bi Eka


"Pamannmu sedang ke pasar. Ia pasti akan sangat senang jika mendengar kabar bahagia ini" Ucap Bi Eka terharu


"Karena kamu sudah datang, biar bibi buatkan makanan untukmu. Kamu pasti lapar" Bi Eka lalu dengan antusias kembali ke dapur bersiap untuk membuatkan keduanya makanan


Masih seperti dulu, tidak ada satupun yang berubah di rumah makan ini. Bahkan meja dan kursi yang dulu sering diukir oleh Reva karena bosan masih tetap berada di tempatnya.


"Lihatlah, meja dan kursi yang kuukir dulu masih disini. Dulu bibi akan memarahiku jika aku mengukir mejanya.. " Ucap Reva terkekeh memperhatikan semua ukirannya di meja


Nevan hanya tersenyum melihat Reva yang saat ini tertawa. Sangat jarang untuk bisa melihatnya tertawa bahagia seperti saat ini. Di mana-mana bahagian seperti ini, terkadang ia berharap agar waktu bisa berhenti.


....


Beberapa saat kemudian, Bi Eka datang dengan membawa berbagai makanan di nampan dan menyajikannya di meja.


"Bibi sudah membuat makanan favorite mu, Udang pedas gurih" Ucap Bi Eka menghidangkan masakan udang goreng itu di hadapan Reva yang kini tak sabar untuk mencicinya


"Makasih Bi.. " Ucap Reva berniat mengambil satu namun segera tertahan oleh Nevan


"Biar aku membantumu mengupasnya.. " Ucap Nevan memakai sarung tangan plastik, lalu mengupas udang tersebut


"Aku pikir dia orang yang menyeramkan" Batin Bi Eka menatap Nevan tidak menyangka, sejak pertemuannya tadi ia terus-menerus merasa tertekan karena hawa mengintimidasi miliknya terutama raut wajah datarnya dengan sorot mata tajam yang sudah menjadi kebiasaan Nevan saat bertemu dengan orang lain


"Dia tidak semenyeramkan penampilannya bukan Bi?" Tanya Reva menyadarinya


"Itu benar. Bibi pikir dia orang yang menyeramkan, ternyata dia begitu perhatian" Ujar Bi Eka kini tidak merasa terlalu takut

__ADS_1


Reva hanya terkekeh memperhatikan Nevan yang sibuk mengupas udang untuknya. Bahkan jika dia menyeramkan, dia tidak mungkin akan memperlihatkannya di hadapannya.


__ADS_2