Belenggu Cinta, Mafia Kejam

Belenggu Cinta, Mafia Kejam
Kepergok Ibu


__ADS_3

Kevin dan Reva yang tengah sibuk membahas terkait kencan mereka besok, dikagetkan saat Nevan tiba-tiba saja membuka pintu kamar Reva dengan raut wajah kesal melihat kedekatan pacar dan adiknya itu.


Selama di ruang tamu tadi, Nevan sama sekali tidak bisa fokus karena memikirkan keduanya yang tiba-tiba akrab, sangat bertolak belakang dengan apa yang terjadi kemarin.


"Jadi.. Apa yang kalian sembunyikan dariku?" Tanya Nevan dengan nada tajam penuh penekanan


"K-kamu sudah selesai?" Reva segera bangkit menghampiri Nevan, sementara Kevin dengan sigap menyelipkan kertas yang berisi informasi keduanya ke dalam buku sebelum Nevan menyadarinya


"Kamu kenapa terlihat gugup?" Tanya Nevan


"T-tidak.. Aku hanya sedikit terkejut karena kamu datang tiba-tiba" Jawab Reva terbata


"Jadi maksud kamu, kedatanganku mengganggu urusan kalian?" Tanya Nevan menatap Reva dan Kevin bergantian


"Dia cemburu?! Mampuss! " Batin Reva menyadarinya


Begitu pun dengan Kevin yang memang sudah sejak tadi menyadarinya, ia lalu bangkit dari sofa, menghampiri Reva dan lagi-lagi menepuk pundak Reva dua kali.


"Sebaiknya aku pergi. Kalian bisa membicarakannya pelan-pelan" Ucap Kevin segera pergi sebelum menjadi bahan amukan dari kakaknya


"Uuggghhh.. Dasar pengkhianat.. " Umpat Reva dalam hati, lagi-lagi Kevin mengkhianatinya dan pergi begitu saja


"N-nevan.. Biar aku jelaskan.. Ini tidak seperti yang kamu pikirkan.. " Ucap Reva terbata sembari berjalan mundur karena Nevan yang semakin memojokkan nya


"Ouugghh.. " Reva jatuh telentang ke kasur, dengan Nevan yang kini menindih tubuhnya karena tarikan dari Reva yang menarik kemejanya saat kakinya goyah bertabrakan dengan kasur


"Kalau begitu jelaskan dengan rinci.. " Ucap Nevan tepat di telinga Reva lalu berpindah pada leher jenjang Reva


"Uugghhh... " Reva menutup mulutnya kaget saat Nevan tiba-tiba menc*um, mengh*sap dan mengg*git lehernya, meninggalkan bekas kemerahan disana


"Bu-bukankah kamu meminta penjelasan mmhhaahh.. " Tanya Reva namun hanya berakhir d*sahan tak kalah Nevan menyesap lehernya membuat tubuhnya melengguh


"Kamu bisa menjelaskannya sekarang.. " Jawab Nevan mengecup satu persatu bagian wajah Reva, dari jidat, alis, mata, pipi dan berakhir di mulut

__ADS_1


"Shitt.. Bagaimana aku menjelaskannya, aku hanya akan berakhir mend*sah pada akhirnya.. " Batin Reva


Nevan kembali menc*um leher Reva. Tangan yang tadinya diam, kini perlahan menerobos masuk ke dalam baju Reva, mengelus kulit punggungnya, hingga berhasil melepas pengait bra-nya.


"Ughhhh.. " Tubuh Reva melengguh hebat, tak kalah tangan kekar Nevan menjelajah di sekitar bukit kembarnya


Reva semakin tidak bisa mengendalikan dirinya. Entah setan apa yang merasuki nya, hingga ia bahkan tidak bisa menolak permainan Nevan dan justru menikmati apa yang dilakukannya.


Setelah puas menjamah leher Reva, Nevan berpindah pada bibir ranum Reva. Menc*um dan meny*sapnya. Lidahnya dengan liar bergerak seolah meng absen satu persatu gigi Reva.


Ruangan yang tadinya sunyi perlahan dipenuhi suara-suara d*sahan dan l*matan dari keduanya yang kini semakin terbuai dalam kenikmatan yang sulit untuk dijelaskan itu.


....


Hingga tiba-tiba, pintu kamar tiba-tiba saja terbuka dari luar. Membuat keduanya sontak menghentikan kegiatan panas itu. Lalu menoleh ke arah pintu, khususnya Nevan yang seketika memasang wajah marah karena diganggu.


"Uppss.. Sepertinya aku baru saja menggangu kalian.. " Tutur Ibu Nevan menutup mulutnya dengan senyum nakal dibaliknya


"Mama ada perlu apa?" Tanya Nevan tanpa berniat mengubah posisinya, membuat Reva hanya bisa memalingkan wajahnya malu


"Bagaimana ini..? Apa yang akan ibumu pikirkan tentangku" Ucap Reva menutup wajahnya malu karena kedapatan tengah berhubungan seperti itu


Nevan tersenyum. Lalu mengelus rambut Reva lembut "Tidak apa-apa. Ia justru akan senang jika kita melakukannya. Jadi bagaimana kalau kita melanjutkannya kembali.. " Ujar Nevan sedikit menggoda


Bersamaan dengan itu, samar-samar Reva merasakan sesuatu yang perlahan memb*sar dari balik celana Nevan, seolah meminta untuk keluar.


"Ughhhh.. Dasar mesumm.. " Ucap Reva mendorong tubuh Nevan menjauh darinya


Reva terbangun duduk di tepi kasur, sementara Nevan kini berdiri. Ia memeluk Reva, mengelus rambutnya lembut "Tidak apa-apa.. Aku tidak akan melakukannya jika kamu belum siap.. " Tutur Nevan mengecup sekali lagi jidat Reva sebelum akhirnya berjalan masuk ke dalam kamar mandi


"Entah kenapa aku merasa bersalah dan kecewa" Ucap Reva kembali membaringkan tubuhnya di kasur sembari menatap langit-langit kamarnya


Beberapa menit berlalu, Nevan yang tak kunjung keluar dari kamar mandi membuat Reva tanpa sadar tertidur saat menunggunya.

__ADS_1


Butuh waktu hampir satu jam bagi Nevan selesai dengan aktivitasnya di kamar mandi. Ia keluar dengan handuk membalut tubuh bagian bawahnya, memperlihatkan tubuh kotak-kotaknya dengan tetesan air.


Nevan lalu menghampiri Reva, mengangkat tubuhnya dan membaringkan nya kembali dengan posisi yang lebih baik lalu menyelimuti nya. Ia mengecup pelan kening Reva, sebelum akhirnya beranjak keluar dari kamar menuju ke kamarnya yang berada di sebelah.


...***...


Sementara itu di Kediaman Hugo, Baron masih belum merasa tenang memikirkan kerja sama bisnisnya dengan Nevan yang seolah membawanya ke jalan buntu.


Bahkan dengan bantuan dari ayah Nevan tadi, tidak membuatnya mengubah keputusannya begitu saja. Terlebih lagi, identitas gadis yang di singgung oleh putrinya ternyata adalah Calon Istri Nevan.


Tok.. Tok.. Tok..


Pintu ruangan terbuka, sekertaris Baron masuk dengan sebuah berkas di tangannya.


"Maaf Tuan.. Hanya informasi ini yang kami temukan tentang gadis itu" Tuturnya sedikit membungkuk sembari menyerahkan berkas yang berisi informasi diri itu


Setelah kembali dari kediaman Nevan, Baron dengan sigap memerintah sekertaris nya untuk mencari tahu informasi informasi tentang Reva. Yang menurutnya mungkin akan berguna untuknya. Namun sayangnya, informasi yang didapat oleh Sekertaris nya sama sekali tidak membantunya.


"Hanya ini? "


"Maaf tuan. Tapi memang hanya itu yang bisa kami dapatkan tentangnya. Sepertinya ada yang sengaja menyembunyikan identitasnya" Jawab sekertaris itu menjelaskan


Siska yang sejak tadi duduk di sofa memainkan ponselnya, akhirnya berdiri dan meraih berkas yang dipegang ayahnya.


"Dia bekerja di warnet?" Tanya Siska mengerutkan keningnya


"Benar Non. Selama dua tahun ini ia memang bekerja di warnet"


"Cih.. Teryata benar, dia hanya seorang gadis kampungan. Entah bagaimana bisa ia menggoda Nevan" Seru Siska merendahkan


"Jangan bertindak gegabah Siska. Urusan kerja sama ayah dengan Nevan masih belum beres. Sebaiknya kamu tidak mencari gara-gara dengannya. Terutama dengan gadis yang identitasnya belum jelas sepertinya" Ujar Baron menasehati putrinya agar tidak melakukan tindakan bodoh lagi


"Baiklah.. " Jawab Siska menyetujui meski dalam hati ia sudah tidak tahan untuk bermain dengan Reva

__ADS_1


Siska menaruh kembali berkas itu di meja kerja ayahnya, lalu beranjak pergi meninggalkan ruangan tersebut dengan tangan menyilang di dadanya, diikuti dengan senyum misterius di wajahnya.


__ADS_2