
Setelah menemani Regan bermain semalaman, Reva baru terbangun saat pukul 1 siang, dengan Nevan yang juga masih berbaring setelah membahas persiapan pernikahan yang juga menyita banyak waktunya.
"Nevan... Aku lapar.. " Ucap Reva memukul dada Nevan agar segera terbangun "Bangun Nevan.. Aku lapar.. " Ucap Reva bangun terduduk sembari menggoyang dan memukul tubuh Nevan
"Ughh.. Aku masih mengantuk Reva.. " Tutur Nevan menggeliat namun masih dengan mata tertutup
"Aku lapar.. Buruan bangun.. " Pinta Reva mengerutkan dahinya kesal
"Nevaann.. " Reva meraih salah satu bantal, lalu memukul wajah Nevan kesal
Nevan pada akhirnya terbangun dengan paksa, sembari memegang hidungnya yang terasa sakit karena pukulan dari Reva.
"Aku bangun oke? Jadi apa yang ingin kamu makan? Aku akan memesannya" Tanya Nevan meraih ponselnya berniat untuk memesan makanan antar
"Aku mau makan ayam pedas hitam dan juga oseng cumi asin pedas buatan Bibi, jadi sekarang kamu ke rumah Bibi minta dia memasakkannya untukku" Pinta Reva merebut ponsel Nevan
Nevan menghela nafasnya, menatap Reva yang saat ini terlihat todak ingin ditolak sama sekali "Baiklah, aku akan pergi" Ucap Nevan setuju pada akhirnya
Meski ia benar-benar mengantuk, ia tetap tidak bisa mengabaikan permintaan Reva mengingat ia begitu bersikeras memintanya.
"Apa ini yang dinamakan ngidam.. " Batin Nevan memijit keningnya yang terasa berat
"Ada apa denganmu?" Tanya Alex yang kebetulan berada di lantai bawah dan melihat Nevan yang menuruni tangga dengan raut wajah ngantuknya
"Apa yang sedang kamu lakukan? Jika tidak ada, tolong bawa aku ke rumah Bibi, Reva sangat ingin memakan masakannya dan saat ini aku benar-benar mengantuk untuk mengendarai mobil" Pinta Nevan lesu
Arya tersenyum menyeringai "Baiklah.. Aku memang sedang bosan saat ini " Tutur Arya menyetujuinya karena sejak tadi, selain bersantai dan memainkan ponselnya, ia tidak memiliki pekerjaan apapun lagi
...
Setelah hampir 4 jam, Nevan dan Arya akhirnya kembali dengan membawa makanan pesanan dari Reva. Kondisi Nevan masih sama seperti siang tadi, ia benar-benar merasa lelah dan mengantuk. Kelopak matanya benar-benar terasa berat seolah akan tertutup kapan saja, jika bukan karena bantuan dari Arya ia mungkin akan tumbang dan tertidur di suatu tempat.
Dengan langkah linglung nya, Nevan naik ke kamar Reva mengantar makanan tadi. Namun betapa malangnya, setibanya di kamar ia tidak menemukan Reva disana.
Karena terlalu malas untuk turun, ia memutuskan untuk menelpon Rehan menanyakan keberadaan Reva. Namun belum sempat ia menghubungi Rehan, sebuah panggilan yang tak lain dari Rehan masuk terlebih dahulu.
"Aku baru ingin menghubungimu. Apa Reva bersama denganmu?" Tanya Nevan langsung setelah panggilannya terhubung
__ADS_1
Selain suara nafas dan rintihan, ia tidak mendengar jawaban apapun dari seberang.
"Rehan? Apa yang terjadi denganmu? Dimana kamu?" Tanya Nevan dengan cepat menyadarinya
"T-tuan... N-non... R-reva.. Ughh.. " Karena terbata-bata, Nevan tidak begitu jelas mendengar ucapan Rehan
Deghh..
Nevan mengusap dadanya nerasa khawatir. Ia mengedarkan pandangannya dan mendapati ponsel Reva yang ternyata berada di atas meja. Meski tidak jelas, Nevan masih bisa menangkap maksud dari ucapan Rehan tadi.
Rasa lelah dan kantuk yang tadi dirasakannya seketika hilang dalam sekejab, tergantikan dengan perasaan khawatir dan takut jika saja terjadi sesuatu pada Reva.
Nevan lalu mengambil ponsel Reva dan menghubungi Rangga dengan panggilannya yang masih terhubung dengan Rehan untuk memudahkannya melacak keberadaannya.
"Lacak keberadaan Rehan secepatnya lalu kirim padaku.. " Pinta Nevan setelah panggilannya terhubung dengan Rangga
"Baik tuan.." Jawab Rangga dari seberang
Nevan lalu segera turun kebawah berniat untuk mencari Reva di rumah itu.
"Reva tidak ada di kamar.. " Jawab Nevan menggaruk gusar rambutnya karena panik
"Apa maksudmu?"
"Aku akan menjelaskannya nanti.. " Jawab Nevan tak punya waktu untuk menjawab pertanyaan Arya dan segera menghampiri satpam yang berjaga di luar
"Apa kamu melihat Nona muda kamu?" Tanya Nevan
"Nona muda? Oh.. Non Reva tadi keluar dengan pengawalnya" Jawab pengawal tadi mengingat kembali saat Reva keluar dengan Rehan
Deghh..
Karena terkejut Nevan hampir terjatuh jika bukan Arya yang memegang lengannya. Perasaannya semakin kacau, rasa khawatir dan takut kini menyelimuti dirinya. Terutama karena saat ini Reva tengah hamil dan dari yang didengarnya tadi kondisi Rehan sama sekali tidak baik-baik saja, setelah mendengar ucapan tidak jelasnya tadi.
Ting..
Sebuah motif pesan masuk di ponsel Reva. Pesan yang berisi lokasi dari Rehan saat ini berdasarkan lokasi ponselnya.
__ADS_1
Tanpa berlama-lama lagi, Nevan dengan cepat masuk ke dalam mobil diikuti oleh Arya yang juga ikut panik setelah melihat Nevan panik.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Arya bingung sembari memegang pegangan di atas kepalanya, karena Nevan yang mengemudi dengan begitu ugal-ugalan
"Aku tidak tahu, Rehan baru saja menghubungiku dan dari yang aku dengar tadi, ia terdengar tidak baik-baik saja"
"Jangan bilang Reva ikut dengannya? Aiisshhh.. Kalau begitu ayo cepat jangan sampai terjadi apa-apa dengannya" Arya kembali mengingat ucapan dari satpam tadi yang berkata jika Reva keluar dengan pengawalnya, ia yang tadinya bingung kini mengerti akan kekhawatiran yang dilihatnya dari Nevan
.....
Tak butuh waktu lama, Nevan dan Arya kini tiba di lokasi yang dikirimkan oleh Rangga. Setelah mencari beberapa tempat, keduanya kini bertemu dengan Rehan yang kini berbaring tidak berdaya di sebuah lorong gelap dan sepi dengan luka pukul di beberapa tempat dan juga luka tusuk di bagian perutnya.
"Apa yang terjadi? Dimana Reva? Rehan? Jawab Rehan?" Tanya Nevan berusaha membuat Rehan sadar
Namun karena luka tusukan itu, ia kehilangan banyak darah dan membuatnya tak sadarkan diri. Membuat Nevan dan Arya semakin dibuat panik.
"Aarrgghhh.. Akan kubunuh bajingan sialan ini.. " Teriak Nevan menendang sebuah tong sampah di sampingnya membuatnya berserakan di sepanjang lorong
"Aku sudah menelpon ambulance untuk datang. Sebaiknya kita berpencar, periksa semua CCTV di sekitar sini" Perintah Arya masih mencoba menahan dirinya karena Nevan yang saat ini benar-benar sudah diselimuti perasaan amarah
....
Keduanya berpencar mencari CCTV disekitar sana termasuk rekaman dasbor mobil yang terparkir dipinggir jalan.
Butuh waktu setengah jam sebelum keduanya berhasil mengumpulkan semua CCTV di jalan itu, setelah mendapat bantuan dari beberapa orang panggilan yang disewa oleh keduanya.
"Bagaimana? Apa kalian menemukannya?" Tanya Nevan dengan rahang mengeras
"Tidak Tuan. Suatu CCTV dari toko, tak ada satupun yang memperlihatkan keberadaannya"
"Aku sudah mencari tahunya, sebelum kedatangan kita, seseorang sudah terlebih dahulu menghapus rekamannya" Sela salah seorang pria yang baru saja datang setelah menanyai dan mengancam pemilik dari rekaman CCTV tersebut
"Tunggu.. Ini bukan?" Tanya pria lainnya menunjuk ke layar laptop menbandingkannya dengan foto pemberian dari Nevan tadi
Nevan dengan cepat meraih laptop itu untuk memeriksanya dan benar saja, terlihat Reva dengan dua orang pria ber masker yang membawanya masuk ke dalam mobil. Rekaman ini berasalan dari rekaman dasbor sebuah mobil yang kebetulan terparkir di belakang mobil tadi.
Nevan mengepalkan tangannya emosi "Berani sekali mereka bermain-main denganku" Sorot matanya tajam dengan rahang mengeras membuat mereka yang berada disana merasakan perasaan mencekam yang bahkan membuat mereka sulit untuk sekedar bernafas saat berada di dekatnya
__ADS_1