
"Kamu sudah berbicara dengan Reva? Bagaimana jika Nevan hanya mempermainkan nya, dengan identitasnya itu bagaimana mungkin tidak ada satupun wanita di sampingnya" Ucap Bela, Ibu tiri Reva
"Aku bukannya tidak memikirkannya. Hanya saja, Reva tidak mungkin melakukan hal seperti itu. Selain itu, orang tau Nevan yang akan datang langsung kesini, jadi untuk sementara aku akan menunggu hingga mereka datang berkunjung" Jawab Ayah Reva berusaha untuk tidak merasa khawatir
Selama dua tahun kepergiaan Reva dari rumah, Ayah Reva mulai sedikit mengerti jika Reva mengalami hal yang sulit selama tinggal di rumah itu. Ia begitu sangat menyesal karena tidak pernah menyadari, jika anaknya begitu kesepian setelah kepergian ibunya.
Karena itulah, ia pernah berjanji pada dirinya, jika suatu saat Reva kembali ke rumah, ia akan memperlakukannya dengan baik bagaimana pun Reva satu-satunya darah dagingnya, meski ia memiliki anak tiri, ia tetap tidak bisa mengabaikan anak kandungnya sendiri.
"Gadis itu, bagaimana bisa ia seberuntung ini.. " Batin Bela merasa tidak senang dengan berita pernikahan Reva
Bahkan putrinya Kristin hanya bertunangan dan itupun dengan keluarga yang masih berada di bawah jika dibandingkan dengan keluarga Nevan.
"Terserah kamu. Aku hanya mengkhawatirkannya, bagaimana pun ia menghilang selama dua tahun. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi di luar sana" Tutur Bela sebelum beranjak keluar dari kamar
Sementara Ayah Reva kini menghela nafasnya, faktanya ia tahu dengan jelas akan hubungan istri dan anaknya yang selama ini tidak pernah akur, namun ia selalu berusaha menyembunyikannya seolah keduanya akur.
....
Bela yang baru turun ke lantai bawah, bertemu dengan Reva dan Nevan di ruang tamu, dengan Nevan yang sibuk berbicara di ponselnya, sementara Reva yang berbaring di paha Nevan sembari memainkan ponselnya juga.
Bela lalu duduk di sofa sebelah memperhatikan keduanya yang bahkan tidak menghiraukan dirinya.
"Reva.. " Panggil Bela kemudian
Reva hanya menoleh sekilas, lalu kembali memainkan ponselnya bersikap acuh.
"Apa kamu benar-benar harus mengabaikanku? Bagaimana pun aku ini ibu tiri kamu" Tanya Bela kesal sembari mengungkit identitasnya
"Cck.. " Reva berdecak kesal, lalu bangun dan duduk setelah mematikan ponselnya "Ayo keluar, telingaku sakit mendengar g*ngg*ngan anj*ng " Umpat Reva tak tanggung-tanggung saat menghina ibu tirinya
"Jaga ucapan kamu Reva.. Bagaimana bisa kamu memperlakukanku seperti ini.. " Seru Bela sinyal berdiri menunjuk dan menatap tajam ke arah Reva
"Jika kamu tidak menyukainya, sebaiknya berhenti mengajakku berbicara. Bahkan melihat wajah menj*j*kkanmu itu membuatku mual, apalagi berbicara denganmu" Balas Reva sinis, menatap j*jik ke arah ibu tirinya yang kini semakin kesal dan marah
"Ayo pergi.. " Ucap Reva lalu menarik lengan Nevan pergi dari sana
__ADS_1
"Kemana kamu akan membawaku?" Tanya Nevan merangkul pundak Reva mesra setelah memutus panggilan teleponnya barusan
"My secret room.. " Bisik Reva tak ingin jika ibu tirinya mendengarnya..
Bela yang diperlakukan dan dihina begitu saja oleh Reva, mengepalkan tangannya kesal. Berbagai rencana licik seketika membanjiri isi pikirannya.
"Aku pasti akan membuatmu menyesal Reva.. " Tuturnya penuh amarah
***
"Bukankah kamu berkata akan membawaku ke secret room kamu, ini kenapa kembali ke kamar?" Tanya Nevan bingung karena Reva yang menariknya masuk ke dalam kamarnya
"Secret roomnya ada disini.. " Jawab Reva lalu menekan sebuah tombol yang tadinya ditutupi oleh buku
Rak buku yang berada di kamar Reva, seketika terbuka ke belakang memperlihatkan sebuah ruangan misterius.
"Ayo masuk.. " Ajak Reva menarik lengan Nevan masuk ke dalam setelah menyalakan lampunya di dekat rak tadi
"Wooaahh.. I-ini milik kamu?" Tanya Nevan kaget saat memasuki ruangan itu
"Iya. Aku sering menghabiskan waktuku disini.. Tak ada yang mengetahuinya selain aku dan Ibuku" Tutur Reva lalu duduk di kursi komputernya bersiap untuk menyalakan komputernya
Ruangan ini khusus dibuat oleh Ibu Reva sejak ia masih kecil. Ruangan khusus yang digunakan nya untuk mengajari Reva Bela diri dan juga alasan terbesar Reva menjadi seorang hacker setelah belajar hanya dari menyaksikan ibunya.
Reva menyalakan semua komputer yang kini dipenuhi debu karena jarang digunakan. Tiga dari semua komputer itu, kini terhubung dengan CCTV yang ada di luar. Hal ini memungkinkan Reva untuk mengetahui jika ada yang masuk ke dalam kamarnya.
Sementara Reva sibuk dengan komputernya, Nevan yang juga penasaran kini berkeliling ke sekitar ruangan. Terdapat beberapa frame foto dan juga sebuah album yang memuat koleksi foto dari ibu Reva.
Nevan yang penasaran, lantas membuka album foto itu memperlihatkan foto-foto dari Reva sewaktu kecil dulu"
"Apa yang kamu lihat?" Tanya Reva menoleh menatap ke arah Nevan
"Oh album foto.. " Jawab Nevan mengangkat album itu dan memperlihatkannya
Reva yang terkejut segera menghampiri Nevan untuk menghentikannya melihat foto-foto itu.
__ADS_1
"Ughh.. Berhenti melihatnya.. " Tutur Reva menutup album foto itu karena merasa malu dengan penampilannya saat kecil dulu
"Oh.. Ayolah, biarkan aku melihatnya Reva... " Pinta Nevan bersikeras
"Tidak. Aku malu.. " Tutur Reva
"Bagaimana jika menukarnya dengan foto-fotoku?" Tanya Reva menawarkan
"Foto kamu? Baiklah.. " Reva dengan cepat menyetujuinya dan menyerahkan kembali album foto itu
Neva hanya menyeringai senang, lalu kembali melihat satu persatu foto di sana. Lagipula, ia hanya berucap sembarang mengingat foto-foto masa kecilnya saat ini berada di tangan ibunya.
Nevan kembali membuka album foto itu, melihatnya satu per satu dengan begitu antusias. Foto masa kecil Reva dari sejak ia bayi hingga berumur 17 tahun.
"Lihatlah.. Saat aku melakukan kesalahan, Mama pasti akan menghukumku seperti ini" Ucap Reva menunjuk salah satu foto, memperlihatkan dirinya yang masih berumur 8 tahun tengah berdiri dengan tangan menahan setumpuk buku di atas kepalanya dengan kaki terangkat sebelah
"Kamu sering dihukum?" Tanya Nevan kemudian
Reva mengangguk mengiyakan, hampir setiap hari saat ia kecil dulu, ia sering dihukum oleh ibunya. Dan tiap kali ia dihukum, ibunya akan dengan diam-diam memotret dirinya. Karena itulah, hampir sebagian besar isi dari album foto itu hanya berisi foto saat dirinya dihukum oleh ibunya.
"Oh.. Ibumu? Tanya Nevan menunjuk sebuah foto wanita yang terlihat begitu muda dan cantik dengan balutan dress putih
"Iya.. " Jawab Reva menatap foto ibunya yang sudah begitu lama tidak dilihatnya
"Dia mirip denganmu, khususnya bola matamu yang berwarna hazel" Ujar Nevan membandingkan
"Bukan sekedar mirip, jika harus dikatakan, aku lebih seperti duplikat dari ibuku.. " Tutur Nevan lirih, mengingat ayahnya yang selalu menghindarinya saat ia berpisah dengan ibunya.
Dari saat itulah, Reva mengerti satu hal, penampilan hingga sifatnya benar-benar sama seperti ibunya. Yang mungkin karena sejak kecil ka terbiasa menghabiskan waktu bersama ibunya di ruangan rahasia ini.
"Aku tidak perduli. Dimataku kamu adalah Reva, istri dari Nevan Roderick" Ucap Nevan memeluk tubuh Reva erat
"Aku belum menjadi istrimu.. " Balas Reva
"Salahkan dirimu karena menunda pernikahan kita.. " Tutur Nevan yang sejak awal memang menyarankan untuk menikah minggu ini namun terpaksa diundur selama tiga minggu
__ADS_1