
Dddrrrttttt... Dddrrrtttt..
Suara getar dari ponselnya membuat Anggi dengan enggan membuka kedua matanya. Sejak tadi, ponselnya tidak berhenti berdering di atas meja. Ia lalu meraihnya dan mengangkatnya dalam posisi masih berbanding di kasur setengah sadar.
"Halo.. " Jawab Anggi dengan suara seraknya
"... "
"Hmm? Depan kamar aku?"
"... "
Anggi sontak bangun terduduk, mencerna informasi yang baru didengarnya. Ia menatap layar ponselnya yang kini menampilkan panggilan dari Geral yang masih terhubung. Dimana Geral saat ini juga, tengah menunggu di depan pintu kamarnya dari sejak tadi.
Dengan cepat, Anggi mematikan panggilan tersebut dan segera turun dari kasurnya, lalu berlari ke kamar mandi untuk membilas wajahnya dan merapikan penampilannya yang acak-acakan.
Setelah dirasanya baik, Anggi lalu mengatur nafasnya sebelum membuka pintu kamarnya.
Geral yang sudah sejak tadi menunggu kini memasang raut wajah letih menatap Anggi yang kini merasa bersalah karena tidak menghiraukan panggilan Geral sejak tadi.
"Maaf.. Maaf.. Aku tidak menyangka jika kamu yang menelpon ku sejak tadi" Tutur Anggi merasa bersalah lalu meraihnya koper Geral dan menariknya masuk
Geral lalu masuk ke dalam dan berbaring di kasurnya dengan santainya karena merasa lelah setelah perjalanan yang begitu melelahkan itu.
"Kamu sudah makan?" Tanya Anggi kemudian
"Oh maaf.. Aku akan memesan makanannya" Ucapnya mengerti jawaban dari Geral hanya dengan melihat raut wajahnya yang pucat
"Istirahatlah sebentar. Kita masih harus ke kantor polisi setelah ini" Tutur Anggi sembari mengambil pakaiannya bersiap untuk mandi
"Hmmm.. " Geral hanya bergumam pelan sebagai jawaban, dengan mata tertutup
Semua perasaan canggung yang sebelumnya dirasakan keduanya kini menghilang seketika, digantikan rasa lelah dan kantuk setelah perjalanan berat itu.
.....
Tak butuh waktu lama, Anggi akhirnya keluar dari kamar mandi setelah berada hampir 20 menit didalam sana. Bersamaan dengan itu, makanan yang tadi di pesannya juga sudah tiba di kamarnya.
__ADS_1
Meski tak enak hati membangunkan Geral yang kini tertidur pulas, Anggi tetap membangunkannya agar ia bisa mengisi perutnya yang lapar.
"Geral.. Bangunlah.. Ayo makan.. " Ucap Anggi sembari memukul pelan lengan Geral agar terbangun
"Hmm.. Aku masih mengantuk.. " Jawab Geral tanpa membuka matanya
"Bangunlah. Kamu pasti lapar, aku sudah memesan makanan untukmu" Ucap Anggi kini menarik lengan Geral, memaksanya untuk segera bangun
Geral menutup mulutnya yang menguap, lalu dengan terpaksa bangun dengan mata yang masih berat karena kantuk.
"Kamu bisa lanjut tidur setelah makan.. " Ucap Anggi sembari membuka makanan yang di pesannya tadi
"Bubur?" Ucap Geral setelah melihat makanan yang dipesan oleh Anggi yang ternyata adalah bubur
"Hmm.. Ini masih pagi, jadi kita makan bubur saja.. " Tutur Anggi
Geral hanya bisa pasrah dan menurut memakan bubur yang sudah dipesan oleh Anggi ini. Percuma baginya untuk bersuara karena pada akhirnya ia hanya akan mengiyakan ucapan dari Anggi. Mengingat hal itu sudah terjadi, sejak ia bersahabat dengan Anggi.
"Aku akan ke makam Nenek setelah ini. Setelah itu, aku mungkin akan ke penjara.. " Tutur Anggi mengutarakan aktivitasnya hari ini
"Penjara?" Tanya Gwral mengerutkan keningnya belum mengerti
Mendengar nama Bela, Geral jadi paham akan tujuan dari Anggi "Kalau begitu akan ikut denganmu" Ucap Geral tak ingin melewatkan pertunjukan menarik itu
"Bukannya kamu masih lelah?"
"Tidak masalah.. Lagipula bagaimana mungkin aku melewatkan pertunjukan menarik seperti ini" Ucap Geral dengan antusiasnya
"Aku hanya akan datang menyapa" Ucap Anggi dengan smirk di wajahnya
"Dan aku akan ikut denganmu. Lagipula, dari yang aku tahu menyapa dalam kamusmu tidak hanya sekedar mengucap salam" Balas Geral sudah terlalu mengenal sifat Anggi bahkan setelah tidak bertemu selama bertahun-tahun ini
Anggi hanya terkekeh mendengar ucapan Geral. Bagaimana pun, sifatnya dan sifat Geral tidak berbeda jauh.
...***...
Di sisi lain, di sudut ruangan kecil di penjara kota S, seorang wanita dengan tubuh yang kian hari semakin mengurus kini tengah berbaring lemah di tempat tidurnya.
__ADS_1
Wanita itu tak lain adalah Bela. Hanya dalam waktu seminggu lebih, tubuhnya menjadi begitu kurus dengan luka lebam di beberapa tempat di tubuhnya.
Dari sejak ia melangkahkan kaki masuk ke dalam tempat itu. Bela sudah mendapat perlakuan yang begitu kasar dari beberapa tahanan di sana terutama teman satu selnya yang tidak kalah kasarnya dari tahanan lainnya.
Tak ada sedikit pun waktu untuknya bernafas lega. Bahkan ketika ia sedang tidur, ia tetap mendapat perlakuan dari kasar dari teman satu selnya yang bahkan tidak berfikir panjang dan langsung berbuat kasar pada Bela.
Meski pada awalnya Bela mencoba melawan, namun sayangnya perlawanan yang dilakukannya hanya sia-sia karena tak ada satupun yang bisa membantunya. Sementara orang-orang yang yang berbuat kasar padanya kain hari semakin bertambah. Dari sejak berada di sel hingga saat makan, ia tetap diperlakukan kasar layaknya sampah.
Seperti saat ini, Bela yang masih tidur di tempat tidurnya terpaksa bangun setelah mendapat tendangan tepat di bagian punggungnya oleh salah satu teman satu selnya.
"Banguuunnn.. ! " Pekik wanita itu kasar
Bela yang kaget sontak terbangun dan menatap wanita itu kesal "Apa lagi maumu?" Tanya Bela balik karena geram
"Berani sekali kamu membentak ku? Yang kemarin belum cukup hah?" Tanya wanita itu menarik rambut Bela dan menjambaknya membuat wajah Bela mendongak menatapnya
Bela yang sudah tak tahan, melayangkan tendangan di kaki wanita itu dengan tangan ikut menjambaknya rambut wanita itu. Membuat Wanita itu semakin mengeratkan tarikan nya dan terjadilah perkelahian diantara keduanya.
Dua tahanan lainnya hanya diam menonton keduanya tidak berniat melerai karena yakin jika Bela tidak akan bisa menang melawan wanita itu. Buktinya saat ini, Bela tengah berteriak kesakitan karena bagaimana pun tubuh dan kekuatannya kalah jauh jika dibandingkan dengan wanita itu yang memiliki tubuh kekar layaknya seorang pria.
"Cuiihh.. Dasar wanita tidak tahu diri.. " Umpat wanita itu meludah ke arah Bela "Seharusnya kamu sadar, ditempat ini tidak ada satupun yang bisa membantu dirimu" Kecam wanita itu
Bela yang kini tersungkur di lantai setelah mendapat pukulan keras di perut dan wajahnya hanya menatap sinis wanita itu sembari mengusap sudut bibirnya yang berdarah.
"Kenapa? Tidak suka? Bukankah kamu memperlakukan anak tiri mu seperti ini?" Wanita itu menatap Bela sembari menyeringai senang layaknya seorang psycho
Tanpa ditanya pun, Bela sudah mengerti dengan jelas jika wanita ini adalah suruhan dari Nevan untuk membuatnya tersiksa di penjara. Bukan hanya dia, bahkan dua wanita yang lainnya dan beberapa lagi di sel yang lain juga merupakan suruhan dari Nevan.
....
Ditengah perkelahian keduanya, seorang penjaga tiba-tiba datang dan membuka kunci selnya.
"Ada yang ingin bertemu denganmu" Ucap penjaga itu menatap ke arah Bela
Bela yang merasa senang karena tidak harus berurusan lagi dengan wanita itu, menyeringai senang ke arah wanita itu sebelum akhirnya berlalu pergi dan ikut dengan penjaga itu.
"Siapa yang mencariku?" Tanya Bela pada penjaga itu
__ADS_1
"Dia ada didalam.. " Jawab penjaga itu membawa Bela masuk ke dalam ruang khusus tamu
Namun setibanya didalam, Bela terbebalak kaget mendapati wanita yang akan bertemu dengannya tak lain adalah Anggi, Ibu tiri Reva.