
"Apa yang harus aku lakukan Nevan?" Gumam Reva bingung sembari memeluk bantal gulingnya erat
Reva yang awalnya berniat untuk melakukannya secara perlahan, justru terbawa emosi karena Rehan yang menciumnya hari itu. Semua rencananya hancur hari itu juga, membuatnya hanya bisa berdiam diri,meratapibnasibnya di kamar tanpa bisa melakukan apapun.
"Aku harap dia baik-baik saja.. Aku benar-benar sangat merindukannya" Ucap Reva menelungsupkan kepalanya sedikit terisak
Dirinya yang sekarang benar-benar terisolasi tanpa bisa berhubungan dengan orang-orang di luar dari rumah itu.
Tok.. Tok.. Tok..
Reva yang seperti biasa bersikap cuek terutama jika itu Rehan hanya diam tidak perduli pada siapapun yang datang berkunjung ke kamar itu.
"Maaf mengganggu Non.. Aku membawakan makan siang untuk Nona.. " Ujar pembantu itu seraya meletakkannya di meja dengan begitu hati-hati
"Apa Nona butuh sesuatu? Saya bisa membantu Nona kapan pun itu" Ujar pembantu itu begitu tiba-tiba
Reva yang awalnya bersikap cuek, segera menoleh menatap pembantu itu yang saat ini memasang senyum misterius yang terlihat begitu mencurigakan bagi Naura.
"Kalau begitu saya pamit Non. Semoga ini bisa membantu Nona" Ucap pembantu itu merapikan selimut Reva sebelum akhirnya pergi meninggalkan kamar itu
Reva yang merasa semakin curiga dengan gerak-geriknya, memasukkan tangannya ke dalam selimut untuk memeriksanya.
Kening Reva sontak berkerut saat tangannya secara tidak sengaja bersentuhan dengan sesuatu yang sudah begitu familiar untuknya.
"Apa dia mata-mata di rumah ini?" Batin Reva bingung
Namun karena ia tidak ingin Rehan curiga saat melihat rekaman cctvnya, Reva dengan cepat menyelipkan benda kotak yang tak lain adalah ponsel itu ke dalam bantal gulingnya.
Dalam kondisi seperti ini, ia tidak boleh bersikap mencurigakan. Karena itulah, Reva tetap bersikap tenang sama seperti sebelumnya.
Reva lalu meraih makanan di atas meja dan memakannya beberapa sendok. Meski ia tiba-tiba merasa begitu lapar, ia memilih untuk tidak menghabiskannya dan malah menyisahkannya sama seperti sebelumnya.
Tak ada satupun yang berubah dari perilaku Reva. Selain sedikit senyum diwajahnya yang ia perlihatkan meski hanya sepersekian detik.
__ADS_1
Jika sebelumnya ia benar-benar merasa putus asa karena tidak menemui jalan keluar. Kali ini ia benar-benar bersyukur karena akhirnya bisa memiliki sedikit harapan. Meski ia tidak tahu apa tujuan dari pembantu itu, tapi ia akan tetap melakukannya setidaknya hingga ia keluar dari rumah tahanan itu.
...***...
Setelah Nevan setuju untuk bekerja sama dengannya, Intan kembali memperlihatkan dirinya. Seperti saat ini, ia ikut bersama dengan Rangga ke rumah sakit untuk bertemu dengan Nevan dan akan membahas rencana mereka lebih lanjut.
Banyaknya kunjungan Nevan membuatnya dengan terpaksa memesan seluruh ruang VIP di lantai itu, dengan mengandalkan reputasi dirinya dan keluarganya. Tak ada satu pun orang termasuk suster dan dokter yang datang ke lantai itu selain keluarga dan bawahan dari Nevan.
Meski ia tidak sepenuhnya yakin, ia bisa menduga jika Rehan pastinya telah menempatkan seorang mata-mata di rumah itu untuk mengawasi dirinya. Karena itulah, semua rencana Nevan kali ini hanya akan diketahui beberapa orang yang benar-benar dipercayainya saja.
....
Intan menggigit bibirnya ragu-ragu untuk masuk ke dalam ruangan Nevan. Tatapan tajam dan mengintimidasi yang dirasakannya sebelumnya masih membayangi dirinya terutama jika membayangkan dirinya yang saat ini tengah diliputi perasaan amarah karena kehilangan kekasihnya.
"Ada apa?" Tanya Rangga saat Intan menghentikan langkahnya
"Tidak apa-apa.. Aku hanya sedikit gugup" Jawab Intan kembali menghela nafasnya berusaha mengatur nafasnya
"Wajar jika kamu merasa begitu, terutama setelah semua yang terjadi. Tapi ia tidak akan berbuat apapun padamu karena aku sendiri yang menjamin dirimu dengan nyawaku" Ujar Rangga balik menatap Intan tajam terutama diakhir kalimatnya yang sengaja ia beri penekanan
....
"Tuan.. " Panggil Rangga saat tiba di dekat Nevan yang saat ini duduk di kursi roda menatap keluar jendela sama seperti sebelumnya
"Apa ada kabar tentang Reva?" Tanya Nevan kemudian
"Belum Tuan.. " Jawab Rangga
"Jadi apa yang kamu lakukan disini?" Kali ini Nevan berucap dengan nada yang sedikit dingin dari sebelumnya
"Memang belum ada kabar dari Reva. Tapi orang yang aku tempatkan disana, sudah berhasil memberinya ponsel. Hanya masalah waktu sebelum Reva menghubungimu" Sela Intan memberitahukan alasan dia datang kali ini
"Jadi berapa lama lagi aku harus menunggu?" Tanya Nevan sembari berbalik menatap keduanya
__ADS_1
"I-itu tergantung kapan Reva akan menghubungi Tuan" Jawab Intan merasa sedikit tertekan hingga tanpa sadar memanggil Nevan dengan sebutan Tuan
"Kalian bisa pergi.. " Ucap Nevan seraya mengambil ponsel yang dibawa oleh Intan tadi
"Baik tuan.." Jawab Rangga undur diri
"Tunggu.. Bagaimana dengan persiapannya?" Tanya Nevan hampir melupakan hal ini
"Semuanya sudah disiapkan sesuai permintaan tuan"
"Periksa semua bawahan yang ikut dalam rencana ini, jangan sampai ada kesalahan lagi" Ujar Nevan mengingatkan
"Baik tuan" Jawab Rangga sedikit membungkuk sebelum akhirnya keluar dari ruangan diikuti oleh Intan dari belakang
...***...
Reva yang dari sejak tadi menyembunyikan kegelisahaannya memutuskan untuk bertindak dari pada berdiam menahan diri di balik selimut.
Reva diam-diam, menyelipkan ponsel yang didapatnya tadi ke dalam pakaiannya lalu berpura-pura mengalami sakit di bagian perutnya agar ia bisa masuk ke dalam kamar mandi tanpa ada yang curiga karena bagaimana pun kamar yang ditempatinya itu memiliki CCTV.
Saat tiba di dalam kamar mandi, tanpa pikir panjang lagi, Reva langsung menelpon Nevan. Orang pertama yang begitu sangat dirindukannya saat ini.
....
Sejak kepergian Rangga dan Intan, Nevan hanya duduk diam seraya menyandarkan kepalanya di meja menunggu kabar dari Reva yang tak kunjung menghubunginya. Ia hanya menatap kedua ponsel di hadapannya, dengan harapan salah satunya akan dengan cepat berbunyi.
"Apa ini benar-benar pilihan yang tepat? Menunggu seperti ini benar-benar bukan diriku. Aku lebih suka menyelesaikan semuanya secara langsung" Gumam Nevan menghela nafasnya panjang
"Apa dia baik-baik saja? Bagaimana jika Rehan memperlakukannya dengan kasar.. Arrgghn.. " Nevan mengacak-acak rambutnya geram, hanya ada prasangka buruk yang saat ini memenuhi isi pikirannya
Hingga kemudian, ponselnya tiba-tiba berdering. Nevan yang dengan begitu semangat langsung meraih ponselnya. Terlihat nomor yang tidak dikenal di layar ponselnya. Nevan memilih untuk tetap diam hingga ia mendengar suara dari sebrang karena bagaimana pun tidak sembarangan orang yang bisa mengetahui nomor ponselnya.
"Nevan.. "
__ADS_1
Terdengar suara seorang wanita yang sudah begitu lama sangat dirindukan oleh Nevan. Karena begitu kaget, Nevan hampir tidak berbicara.
"Nevan, apa kamu mendengarku.. Aku sangat merindukanmu Nevan.. "