Belenggu Cinta, Mafia Kejam

Belenggu Cinta, Mafia Kejam
Pesta


__ADS_3

Malam ini, Reva akan mendatangi sebuah pesta karena permintaan dari Nevan yang memintanya untuk datang sebagai pasangannya.


Tak ada pilihan lain. Reva dengan terpaksa ikut meski ia sangat benci berada di kalangan para orang-orang kaya yang sering kali bersikap arogan dan kasar. Selain karena itu, Reva juga tidak terbiasa mengenakan gaun dan heels yang menurutnya sangat membatasi setiap gerakannya.


Reva menatap pantulan dirinya dari cermin yang kini mengenakan sebuah gaun hitam bergaya cocktail dress. Dengan rambut dibiarkan terurai dikombinasikan make up yang sengaja dibuat senatural mungkin.


"Reva.. " Panggil Nevan masuk ke dalam ruangan menghampiri Reva "Kamu sudah selesai?" Tanyanya kemudian


"Iya.. Bagaimana? " Jawab Reva bangkit berdiri sembari memperlihatkan penampilannya pada Nevan meminta pendapat


"Bukankah ini terlalu terbuka?" Ucap Nevan memperhatikan bahu dan lengan Reva yang terlalu terekspos


"Aku sudah memilih yang paling tertutup dari semua baju yang dipersiapkan Rangga.. " Ucap Reva setuju dengan ucapan Nevan karena sejak tadi ia memang merasa sedikit aneh memperlihatkan bagian tubuhnya begitu banyak pada orang lain


"Aku harus menegurnya nanti.. " Ucap Nevan dengan tangan yang kini melingkar di pinggang Reva


"Ayo pergi sekarang " Ucap Reva melepas pelukan Nevan dan menariknya keluar dari kamar


"Kita masih memiliki cukup banyak waktu, jadi mengapa begitu terburu-buru" Protes Nevan


"Jangan pikir aku tidak tahu pikiran mesum mu itu.. " Ucap Reva paham akan maksud tersirat Nevan yang tak pernah melewatkan kesempatan apapun untuk berbuat m*sum


"Rangga.. Ayo pergi" Pinta Reva yang langsung diangguki oleh Rangga


...***...


Setelah 20 menit perjalanan, mobil yang dikemudikan oleh Rangga kini tiba di depan gedung Hotel Wasten. Nevan dan Reva turun dari mobil, dengan Reva yang kini menggandeng lengan Nevan. Sementara Rangga memilih untuk menunggu di luar.


"Apa yang harus aku lakukan disana?" Tanya Reva sedikit gugup


"Tidak ada. Kamu hanya perlu menemaniku" Jawab Nevan


"Kamu pikir aku tidak tahu apa yang akan kamu lakukan? Kamu sudah pasti akan mengobrol dengan rekan-rekan bisnis kamu dan meninggalkanku sendiri. Ayahku juga sering melakukan itu dahulu.. " Ucap Reva mengerucutkan bibirnya dan tanpa sadar mengungkit soal ayahnya


"Ayahmu?"


Hanya dari black card kemarin, Nevan sudah tahu jika keluarga Reva termasuk dalam keluar kaya. Namun ia belum pernah bertanya nama keluarganya, karena Reva yang juga belum pernah sekalipun menyebut nama dari ayahnya.


"Iya.. Aku sering mengikutinya saat kecil dulu. Dia selalu sibuk berbincang dengan rekan bisnisnya.. " Jawab Reva pada akhirnya


"Tidak perlu khawatir, kamu bisa tetap berada di disisiku" Ucap Nevan

__ADS_1


"Bagaimana mungkin aku bisa tahan dengan pembicaraan kalian.. " Gumam Reva pelan


Keduanya yang baru tiba di ruangan ballroom itu, seketika menjadi sorotan karena Nevan yang tiba-tiba saja menggandeng seorang gadis di sampingnya.


"Kamu harus terbiasa dengan suasana seperti ini.. " Bisik Nevan saat Reva mengeratkan tangannya karena gugup


Mau bagaimana pun Nevan mengatakannya, Reva tidak akan pernah bisa terbiasa dengan hal seperti ini.


Di tengah kegugupan Reva, seorang pria paruh baya menghampiri keduanya setelah mendengar kedatangan Nevan. Dia adalah Bima Adiyaksa, selaku penyelenggara pesta malam ini.


"Aku pikir kamu tidak akan datang malam ini, Nevan.. " Tutur Bima tersenyum hangat


"Bagaimana mungkin aku tidak datang" Balas Nevan kemudian


"Dan dia?" Tanya Bima menatap Reva penasaran


"Dia Calon Istriku, Revalina Ainsley" Tutur Nevan lagi-lagi memperkenalkan Reva sebagai calon istrinya


"Oh.. Salam kenal, saya Bima Adiyaksa, penyelenggara acara malam ini" Tutur Bima memperkenalkan diri sembari mengulurkan tangannya


Namun belum sempat Reva menerima uluran tangan itu, Lagi-lagi Nevan mendahulunya dan menerima uluran tangan itu.


Bima hanya tersenyum mengerti jika Nevan tak suka kekasihnya disentuh. Namun berbeda dengan Reva yang kini mencubit lengan Nevan.


"Kalau begitu, aku akan memberikan ruang untuk kalian. Silahkan nikmati pestanya" Tutur Bima pamit pergi meninggalkan keduanya yang kini duduk di salah satu meja


...***...


15 menit kemudian..


Apa yang dikhawatirkan Reva sejak tadi kini terjadi, karena terlalu banyak reka kerjanya yang mendatanginya, Nevan kini dikelilingi oleh pebisnis lain membuatnya dengan terpaksa keluar ke teras, mencoba menghindari dari gadis-gadis yang sejak tadi menatapnya penasaran


Reva meneguk sedikit demi sedikit anggur di tangannya, sembari menikmati hilir angin malam dan ditemani oleh cahaya bulan yang terlihat begitu jelas dari lantai hotel itu.


Hingga kemudian, seorang laki-laki dari belakang tiba-tiba saja datang menghampirinya "Aku pikir aku salah mengenali orang, ternyata benar kamu. Reva?! " Ucap laki-laki itu


Reva yang sedikit kaget, lantas berbalik menatap laki-laki itu yang ternyata adalah Gavin. Laki-laki yang dikenalnya saat berada di Arena Balap.


"Gavin? Apa yang kamu lakukan disini?" Tanya Reva memperhatikan pakaian Gavin yang formal


"Menghadiri pesta, bagaimana pun aku ini penerus perusahaan ayahku.. Bagaimana denganmu? " Jawab Gavin

__ADS_1


Reva berbalik menatap ke dalam ruangan "Aku datang bersama dengan pacarku" Ucap Reva menatap Nevan namun sedetik kemudian Alisnya tiba-tiba berkedut saat ia melihat sosok yang tak asing berbicara dengan Nevan


"Dia benar-benar pacar kamu?" Tanya Gavin masih sedikit tidak percaya


"Iya. Dia memang pacarku" Jawab Reva kembali berbalik menatap bintang di langit malam


Gavin hanya bisa tersenyum kecut mendengar penuturan Reva. Sejak di arena balap kemarin,, Gavin sudah mulai tertarik dengan Reva. Namun ia tidak pernah menyangka jika pacar berbahaya dan mengerikan yang dimaksud Kevin ternyata adalah Nevan.


...***...


Sementara itu, Nevan yang tadinya sibuk dengan rekan-rekan nya kini tersadar kembali jika Reva sudah tidak berada di dekatnya.


Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh isi ruangan, hingga pandangannya terhenti pada sosok yang tengah berdiri di teras dengan seorang pria yang terlihat begitu akrab.


Namun belum sempat ia menghampirinya, seseorang dengan cepat mencegahnya dan menawarkan minuman untuknya.


"Nevan.. " Panggil seorang gadis dari samping


Dia adalah Siska. Setelah mengetahui kedatangan Nevan, Siska dengan cepat setuju dengan ayahnya untuk ikut ke pesta itu.


"Ada apa?" Tanya Nevan dengan nada dinginnya


"Jangan menatapku dengan sorot mata dingin seperti itu. Aku hanya ingin bersulang denganmu, aku harap kamu bisa melupakan kesalahanku kemarin" Tutur Siska menawarkan minumannya


Karena terburu-buru untuk menghampiri Reva, Nevan dengan cepat meraih minuman itu dan meneguknya hingga habis.


Melihat hal tersebut, sebuah senyum licik terukir di wajah Siska "Aku pasti akan membuatmu bertekuk lutut dihadapanku Nevan.. " Batin Siska merencanakan sesuatu


Nevan meletakkan gelas itu kembali. Namun belum sempat ia melangkah, kepalanya tiba-tiba terasa pusing. Tubuhnya terhuyung samping, yang kemudian ditangkap oleh Siska.


Dengan bantuan dari seorang pelayan, Siska segera membawa Nevan pergi dari ruangan itu menuju ke sebuah kamar yang sudah di pesannya sejak tadi.


...***...


Tak berselang lama kemudian, Reva yang tengah berbincang dengan Gavin kembali tersadar jika Nevan sudah tidak berada di dalam ruangan.


Ia dengan cepat menghubunginya namun panggilannya sama sekali tidak terhubung. Karena itulah, ia menghubungi Rangga untuk membantunya mencari Nevan.


"Maaf.. Aku harus pergi sekarang" Pamit Reva namun Gavin yang melihat raut wajah paniknya memilih mengikutinya dari belakang


"Dasar jal*ng, berani sekali dia bermain-main denganku" Gumam Reva kesal karena satu-satunya yang juga tidak berada di sana adalah Siska yang dilihatnya tadi bersama dengan Nevan

__ADS_1


Meski ia tidak tahu apa yang terjadi. Ia tetap merasa jika terjadi sesuatu pada Nevan terutama karena panggilannya tidak terhubung. Selain itu, bagaimana mungkin Nevan meninggalkan nya begitu saja.


__ADS_2