
Setelah mengucapkan beberapa kalimat membingungkan itu, Ayah Nevan kini berada di ruang kerjanya dengan ditemani oleh istrinya yang sudah bisa menebak isi pikiran dari suaminya itu.
"Apa menurutmu mereka benar-benar selingkuh? Aku tahu jika Geral memang menyukainya, tapi tidak dengan Anggi?" Tanya Ibu Nevan berusaha memikirkan apa yang sbenarnya terjadi
"Karena itulah aku berkata, jika ada kesalahpahaman disini. Aku masih tidak percaya jika Geral akan melakukan hal seperti itu, terlebih lagi Anggi yang selama ini hanya menganggap Geral sebagai adiknya" Tutur Ayah Nevan
Ayah Nevan merupakan teman sekelas Anggi, sementara Geral adalah adik tingkat keduanya. Namun meski begitu, Geral lebih dekat dengan Anggi terutama karena keduanya memiliki kegemara yang sama.
"Aku bisa merasakannya dengan jelas, rasa sakit dan amarah dari sorot mata Reva tadi. Entah bagaimana ia bisa menahannya selama ini.. "
"Aku hanya berharap, kejadian ini tidak mempengaruhi hubungannya dengan Nevan. Bagaimana pun, ini pertama kalinya aku melihat Nevan begitu memperhatikan seseorang seperti itu. Yang bahkan tidak pernah ia tunjukkan pada kita sebelumnya" Tutur Ibu Nevan penuh harap akan hubungan Nevan dan Reva
"Semoga seperti itu.. " Balas Ayah Nevan merasakan hal yang sama
Jika hubungan Nevan dan Reva akan terpengaruh maka ia benar-benar tidak bisa memikirkan seperti apa perubahan sikap Nevan kedepannya. Namun ia bisa pastikan, sikap Nevan hanya akan menjadi lebih buruk dari sebelumnya.
...***...
Keesokan harinya, semuanya kembali bersikap normal meski hanya dari bagian luarnya saja karena masing-masing dari mereka memiliki berbagai kecemasana terutama Reva dan Nevan.
Reva memilih untuk tinggal di kamarnya setelah mendengar akan kedatangan dari Geral beberapa jam yang lalu. Mencoba untuk bersabar karena Geral yang masih memiliki urusan dengan Orang tua Nevan.
Nevan yang sejak tadi menemani Reva hanya bisa menggenggam tangannya, mencoba menenangkannya.
"Jika nanti aku kehilangan kendali, tolong bantu aku.. Aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana jika bertemu dengannya... Aku mungkin akan memukulnya.. " Tutur Reva tidak yakin
"Tidak apa-apa.. Aku ada disini, aku akan menemanimu" Ucap Nevan menenangkan
Hingga kemudian, pintu kamar Reva terketuk dari luar. Negan yang berada dekat dengan pintu, segera membukanya.
Tanpa ekspresi. Itulah yang saat ini Nevan lakukan, ia berdiri menatap pria di hadapannya.
__ADS_1
"Nevan, kamu disini?" Tutur pria yang tak lain adalah pamannya, Geral Darius Caleis
"Masuklah.. Dia sudah menunggumu sejak tadi.. " Turur Nevan mengabaikan ucapan pamannya
"Anak ini, dia benar-benar mengabaikanku.. " Batin Paman Nevan lalu masuk ke dalam kamar
Hanya mendengar suaranya, sudah membuat tubuh Reva sudha bergetar hebat. Matanya berkaca-kaca menatap sosok pria dihadapannya kini.
"Nevan.. Aku ingin membicarakan masalah pribadi dengannya. Jadi keluarlah.. " Pinta Geral
"Tidak. Aku akak tetap disini.. " Tolak Nevan bersikeras
"Reva, bantu aku mengusirnya.. " Pinta Geral pada Reva karena melihat sifat Nevan ia mungkin tidak akan mau keluar dari kamar itu
"Ikuti permintaannya Nevan.. Aku akan baik-baik saja" Ucap Reva mengikuti permintaan Geral
Nevan hanya bisa menghela nafas pasrah "Segera panggil aku jika terjadi sesuatu" Ucap Nevan yang hanya diangguki oleh Reva
"Aku bukannya akan berbuat jahat padanya.. " Ucap Geral mendorong Nevan keluar dari kamar
"D-dimana dia?" Tanya Reva terkait keberadaan dari ibunya
"Aku tidak tahu" Jawab Geral yang sontak membuat Reva menatapnya tajam
"Jangan bermain-main denganku.. Bagaimana mungkin kamu tidak mengetahuinya?"
"Aku memang tidak tahu Reva. Faktanya aku dan ibumu tidak memiliki hubungan seperti yang kamu bayangkan" Tutur Geral serius
"Apa maksudmu?"
"Aku dan Ibumu hanya sebatas rekan, sahabat, dan mungkin seorang adik. Aku akui bahwa aku memang memiliki perasaan terhadapnya tapi itu hanya perasaanku, dia sama sekali tidak memiliki perasaan terhadapku karena selalu menganggapku sebagai adiknya" Ucap Geral menceritakan hubungannya
__ADS_1
"Bagaimana itu mungkin.. Tahun itu kalian jelas-jelas berselingkuh.. "
"Maaf jika harus mengatakan ini, tapi kami tidak pernah selingkuh. Ayahmu mencurigai ku karena sejak awal aku memang sudah dekat dengan ibumu, terutama karena ibumu yang sering menemuiku di luar negeri tanpa sepengetahuan ayahmu. Namun faktanya kami bertemu karena urusan pekerjaan, tidak lebih"
"Ibumu tidak memiliki pilihan lain tahun itu. Ayahmu benar-benar sudah tidak mempercayainya terutama setelah ia mendapat hasutan dari orang lain yang mungkin kamu sendiri sudah bisa menebaknya.. "
"Jangan bilang ibu tiriku? "
"Iya. Orang tuamu bercerai bukan karena ibumu selingkuh, melainkan karena keduanya kehilangan kepercayaan"
"Kenapa? Kenapa dia harus menyembunyikannya dariku? Aku bahkan kehilangan seseorang yang aku sayangi hanya karena semua omong kosong ini? Candaan macam apa ini.. "
"Maaf Reva.. Aku tahu ini berat untukmu tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku bahkan tidak tahu dimana Ibumu saat ini, dia menghilang sejak kejadian itu"
"Aku sudah tidak mengharapkn nya lagi, dihari saat ia meninggalkanku di rumah itu adalah hari disaat aku tidak lagi menganggapnya seorang Ibu" Tutur Reva
"Orang sepertinya yang bahkan rela meninggalkan putri satu-satunya tidak pantas menyandang gelar itu. Aku tidak perduli, seberapa kecewa dan putus asa-nya dia akan perlakuan ayahku. Tapi apa dia benar-benar harus se egois ini, apa dia tidak pernah membayangkan penderitaan seperti apa yang aku alami selama bertahun-tahun di rumah sialan itu.. " Sambung Reva menggertakkan giginya
"Gadis ini.. Apa yang sudah dilaluinya di rumah itu.. " Batin Geral menatap Reva yang sejak tadi mengepalkan tangannya
"Jadi.. Aku harus bagaimana sekarang? Kepada siapa aku bisa melampiaskan semua kekesalan ku? Siapa yang harus aku salahkan? "
"Kalau begitu lampiaskan padaku, bagaimana pun aku juga memiliki peran disini.. "
Mendengar hal itu, tanpa panjang lebar, Reva melayangkan tinjunya tepat di pipi kanan Geral membuatnya tersungkur di lantai.
"Karena semua kebohongan ini, Nenekku meninggal dan aku harus hidup dalam pelarian karena ibu tiriku yang mengincar hati-ku untuk anaknya.. Berulang kali aku hampir kehilangan nyawaku dan berakhir di rumah sakit.. Dan sekarang, kamu mengatakan jika semua ini hanya kesalahpahaman.. Hikss.. Aku tidak sekuat itu untuk bisa menahan semuanya. . Hiks.. "
Nevan yang sejak tadi berada di laut, segera masuk ke dalam kamar dengan Reva yang sudah tersungkur menangis di lantai begitupun Geral dengan luka pukulam di sudut bibirnya yang kini mengeluarkan darah.
"Revaa.. Apa yang terjadi? Kamu baik-baik saja?" Tanya Nevan segera menghampiri Reva
__ADS_1
"Semuanya hanya omong kosong.. Mereka benar-benar mempermainkan ku Nevan.. " Tutur Reva terisak di pelukan Nevan
"Paman..? " Nevan menatap Geral meminta penjelasan namun Geral sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa terutama setelah mendengar ucapan Reva tadi