
Setelah tertidur selama hampir setengah hari, Nevan akhirnya bangun dari tidurnya. Ibunya yang seharusnya merawatnya saat ini berada di luar mengingat sekarang adalah waktu makan malam.
Dengan bantuan salah seorang suster yang kebetulan lewat saat ia terbangun, Nevan akhirnya bisa menghubungi Rangga dengan ponsel milik suster tersebut.
Rangga yang baru saja kembali dari apartemen Intan, dengan cepat menghampiri Nevan karena bagaimana pun ia tidak akan pernah menolak tugas atau perintah dari Nevan. Satu-satunya orang yang ia hormati dan layani dengan sepenuh hatinya.
Rangga tiba di kamar Nevan, dengan Nevan yang kini duduk di sebuah kursi roda seraya melihat ke arah luar jendela.
"T-tuan.. " Ucap Rangga setengah menunduk saat tiba di dekat Nevan
"Apa sudah ada kabar mengenai Reva?" Tanya Nevan kemudian
"Aku dan Arya sudah menemukan kediaman dari Rehan. Hanya saja, keamanan rumah ini tidak bisa dianggap remeh. Akan sangat sulit untuk bisa menerobos masuk ke dalam rumah itu"
"Jadi kenapa? Jika Reva benar-benar ada di rumah itu maka sudah seharusnya kita menerobos paksa rumah itu sebelum terjadi hal yang tidak-tidak pada Reva"
"Bagaimana jika itu jebakan tuan?"
"Aku tidak perduli Rangga. Yang aku mau saat ini adalah Reva bisa berada di hadapanku dalam keadaan baik-baik saja. Aku sama sekali tidak perduli dengan jebakan yang ia siapkan untukku"
"Karena itulah, siapkan beberapa bawahan yang kuat untukku. Aku sendiri yang akan pergi kesana"
"Tapi tuan. Bagaiamana dengan kondisi.. "
"Rangga! " Pekik Nevan menatap Rangga tajam
"Baik tuan. Saya akan melaksanakannya sesuai perintah Tuan" Jawab Rangga pasrah pada akhirnya
"Tapi sebelum itu, aku harap tuan mempertimbangkan rencanaku juga" Sambung Rangga memberanikan diri
"Katakan apa rencanamu, mungkin aku akan berubah pikiran jika peluang keberhasilannya lebih tinggi dari ku" Ucap Nevan mengizinkan
"Sebenarnya ini bukan sepenuhnya rencanaku, melainkan rencana dari Intan"
"Berani sekali kamu menyebut nama gadis itu dihadapanku" Sela Nevan tak ingin mendengar nama Intan karena bagaimana pun ia tetap bawahan dari Rehan
"Bukan seperti itu tuan, hanya saja keadaannya terdesak. Orang tuanya juga ditahan oleh Rehah karena itulah ia memilih tunduk di bawah perintahnya. Dan aku baru saja bertemu dengannya hari ini"
__ADS_1
Rangga menjeda ucapannya, meski ragu ia pada akhirnya tetap mengatakannya "Dia memiliki seorang mata-mata di rumah itu, karena itulah ia mengajukan kesepakatan denganku. Dia akan membantu kita untuk terhubung dengan Reva tapi dengan syarat kita harus menemukan orang tuanya yang saat ini berada di luar negeri"
"Rencana ini memang bisa digunakan, tapi apa kamu yakin dia bisa dipercaya?"
"Aku yakin Tuan. Bagaimana pun orang tuanya menjadi taruhannya saat ini" Ucap Rangga berusaha yakin akan pilihannya untuk mempercayai Intan kali ini
"Maka lakukan seperti katamu. Tapi jika dia lagi-lagi mengkhianati ku, aku sendiri yang akan merenggut nyawanya" Ucap Nevan penuh penekanan
"Aku sendiri yang akan menjamin nya tuan"
"Pergilah. Lakukan persiapan sebaik mungkin dan juga silakan helikopter untukku. Jika aku tidak bisa menerobos masuk melalui gerbang depan rumahnya, maka tidak ada cara lain selain menggunKan helikopter"
"Baik tuan.. " Jawab Rangga masih dengan kepala menunduk sebagai rasa hormat dan patuhnya pada majikannya
Bersamaan dengan itu, pintu kamar tiba-tiba terbuka dari luar. Ibu Nevan yang sebelumnya keluar membeli makan malam kembali dengan kantong berisi makanan.
"N-nevan? Kamu sudah bangun?" Tanya Ibu Nevan masih merasa khawatir akan kondisi dari Nevan
"Aku baik-baik saja Ma"
"Kalau begitu, saya pamit pergi tuan" Ucap Rangga undur diri
"Tidak perlu. Mama baru saja membelikanmu makanan disini"
"Lakukan sesuai perintahku, Rangga" Ucap Nevan menatap Rangga yang tampak Ragu
Rangga yang melihat tatatapan tajam dari Negan dengan cepat pergi dan melaksanakan perintah Nevan. Sementara Nevan kini beralih pada Ibunya yang tampak murung karean penolakannya.
"Tidak perlu merasa sedih Ma. Selain makanan dari Rangga, aku tidak akan memakan makanan dari orang lain mulai hari ini hingga Reva kembali ke sisi ku"
"Kenapa kamu harus berbuat seperti itu?"
"Maaf Ma.. Tapi aku tidak mempercayai kalian.. " Jawab Nevan sedikit berpaling karena tak ingin menatap ibunya yang mungkin saat ini memasang raut wajah terkejut
"Apa karena kejadian kemarin?" Tanya Ibu Nevan mengungkit saat Nevan diberikan obat penenang
"Iya. Kalian memberikan ku obat penenang, tapi pada akhirnya kalian tetap diam meski sudah mengetahui keberadaan Reva saat ini. Aku tidak mengerti apa yang sedang kalian pikirkan dan rencanakan tapi aku tidak bisa menerimanya. Wanita yang aku cintai saat ini berada ditangan musuhku dan kalian tetap memilih diam seperti ini"
__ADS_1
"Bukan seperti itu Nevan, bagaimana mungkin kami tetap diam disaat kami bahkan belum mengetahui kondisi Reva"
"Tapi itu yang terjadi saat ini Ma, selain diam kalian sama sekali tidak bergerak dan berusaha menyelematkan Reva" Seru Nevan mengepalkan tangannya kesal
"Kita tidak bisa bertindak secara terburu-buru Nevan.. "
"Tidak Ma.. Dia tidak akan menunggu kalian selesai dengan rencana kalian. Dia tidak akan menunggu hingga aku pulih. Bagaimana pun Reva itu seorang wanita, bagaimana jika dia.. dia.. Arghh.. " Nevan tak kuasa melanjutkan kata-kata terakhirnya
Ia benar-benar tidak sanggup membayangkan jika seandainya Reva dipaksa olehnya.
"Kamu harus tetap tenang.. Mama mohon redakan amarahmu.. " Pinta Ibu Nevan memeluk putranya untuk menenangkan amarahnya
"Tidak Ma.. Sebelum Reva berhasil diselamatkan, aku tidak boleh hanya duduk diam menunggu kabar tanpa bisa berbuat apa-apa"
"Iya. Mama tahu itu. Karena itulah, Mama mohon padamu untuk tidak bertindak gegabah dan terburu-buru. Pikirkan baik-baik sebelum bertindak"
"Hmm.. " Gumam Nevan seraya mengangguk mengiyakan nasehat dari Ibunya
...***...
Setelah mendapat kabar tentang Nevan yang sudah sadar kembali, semuanya dengan segera bergegas ke rumah sakit. Tak terkecuali Dr. Dani yang kini sedikit takut akan amukan dari Nevan karena obat yang sebelumnya.
Setelah berbicara dengan Nevan di kamarnya tadi, Ibu Nevan menunggu suaminya dan yang lainnya di luar dan membiarkan Nevan sendiri di kamarnya.
"Bagaimana keadaan Nevan?" Tanya Dr. Dani yang baru saja tiba di susul yang lainnya dari belakang
"Dia baik-baik saja. Hanya saja, dia benar-benar marah. Dia bahkan tidak ingin memakan makanan yang aku bawakan untuknya" Jawab Ibu Nevan merasa sedih
"Aku akan bicara dengannya"
"Sebaiknya jangan, biarkan dia sendiri untuk saat ini. Aku benar-benar tidak ingin membuatnya marah lebih dari ini" Cegat Ibu Nevan pada Anggi
"Dia baru saja berbicara dengan Rangga. Entah apa yang mereka rencanakan, tapi aku yakin jika mereka akan bergerak dalam waktu dekat ini"
"Bukankah kita semakin harus mencegahnya? Dia tidak boleh bersikap gegabah dalam situasi seperti ini"
"Lalu setelah itu? Apa menurutmu dia akan memilih diam saja saat wanita yang dicintainya berada di sisi laki-laki lain"
__ADS_1
"Aku sudah berusaha untuk mencegahnya dan menenangkannya tapi percuma saja. Saat ini, tidak ada satupun dari kita yang bisa menghentikan Nevan. Jika kalian benar-benar perduli akan keselamatannya, maka satu-satunya yang bisa kalian lakukan adalah mendukungnya" Tutur Ibu Nevan pasrah akan keinginan Nevan