
Setelah tertidur selama hampir 8 jam, Reva akhirnya sadar kembali. Bahkan setelah beristirahat selama itu, Revan tetap terbangun dengan mengkhawatirkan keadaan Rehan.
"Kamu sudah sadar? Bagaimana perasaanmu sekarang?" Tanya Nevan yang memang sedari tadi berada di samping Reva seraya memegang erat tangan kekasihnya itu
"Rehan? Bagaiama keadaannya? Dia baik-baik saja kan?" Tanya Reva dengan raut wajah khawatirnya
Nevan sedikit merasa sedih karena pertanyaan Reva yang terlalu mengkhawatirkan Rehan. Bahkan jika Rehan baru saja mempertaruhkan nyawanya, ia tetap merasa tidak suka dan cemburu dengan sikap Reva yang seperti ini.
"Sampai kapan kamu akan mengkhawatirkannya? Aku sejak semalam duduk dan mengkhawatirkan kondisi mu, tapi kamu justru mengkhawatirkan orang lain seperti ini"
"Tapi dia hampir.. -"
"Hampir mati karena menyelamatkan nyawamu. Tapi Reva, aku ingin kamu ingat jika, kekasihmu, calon suamimu ini juga hampir mati karena dia" Potong Nevan tanpa sadar bangkit dari duduknya dengan nada yang meninggi
Alisnya perlahan berkerut begitu pun dengan keningnya. Sejak kembali dari rumah Rehan, Nevan belum pernah sekalipun menutup matanya barang sebentar karena begitu mengkhawatirkan kondisi Reva yang terlihat begitu kurus dengan banyak luka memar di tubuhnya.
Namun ia harus menelan pahitnya kekecewaan karena kekasihnya justru mengkhawatirkan orang yang menjadi penyebab semua yang terjadi selama ini.
"N-nevan?" Reva berucap dengan nada bergetar dan mata berkaca-kaca, sedikit kaget dengan penuturan Nevan yang untuk pertama kalinya meninggikan suaranya seperti itu
"Maaf.. Aku tidak bermaksud membentakmu.. Maafkan aku.. " Ucap Nevan menundukkan kepalanya seraya menggenggam kembali tangan Reva erat
Setelah mengucapkan permintaan maaf penuh sesal seperti itu, Nevan pada akhirnya memilih untuk pergi dan membiarkan Reva sendiri di ruangan itu.
Reva yang masih merasa kaget, kini terdiam beku di kasurnya ini. Ini benar-benar pertama kalinya Nevan bersikap seperti itu padanya. Apa ia benar-benar sudah keterlaluan kali ini? Apa pada akhirnya Nevan akan meninggalkannya? Reva sama sekali tidak tahu, tapi satu hal yang pasti, ia saat ini benar-benar tidak bisa berfikir jernih, seluruh isi kepalanya hanya berisi berbagai prasangka buruk akan kondisi Rehan yang entah bagaimana dah juga sikap Nevan yang tiba-tiba bersikap kasar hingga meninggikan suaranya seperti itu.
__ADS_1
Reva meraih selimutnya menutupi dirinya dan meringkuk di pinggir kasur. Entah karena ia merasa dingin atau hatinya yang terasa begitu dingin karena sejak tadi tubuhnya tidak berhenti bergetar tak karuan. Membayangkan dirinya yang saat ini sendiri di kamar itu tanpa satu pun orang yang bisa menenangkannya, seperti yang dilakukan Nevan selama ini.
...***...
Nevan yang baru keluar dari kamar Reva, berdiri dan bersandar beberapa saat di pintu luar ruangan Reva. Ia benar-benar ingin memeluk tubuh wanitanya saat ini, namun entah mengapa ia seolah terhenti akan sesuatu dan ia sama sekali tidak memahaminya. Bahkan ia benar-benar tidak mengerti dengan dirinya yang saat ini, karena telah mengatakan hal seperti itu pada Reva yang saat ini masih belum bisa berfikir jernih.
Nevan yang pada akhirnya berniat beranjak pergi, terhenti saat ia berpapasan dengan Arya yang baru saja tiba di rumah sakit.
"Apa yang kamu lakukan disini? Bagaimana dengan Reva?" Tanya Arya menatap Nevan bingung
"Reva ada di dalam. Kamu bisa masuk menjenguknya, tapi jangan bertanya apapun karena pikirannya masih belum sepenuhnya stabil" Ujar Nevan berniat melangkahkan kembali kakinya
Namun sekali lagi Arya menahannya, dengan memegang lengannya.
Nevan yang sedari tadi memang menyadarinya, tidak menyangka jika darahnya akan menetes ke lantai seperti tadi.
"Ahh.. Ini bukan masalah besar. Kamu tidak perlu khawatir. Dan tidak perlu memberitahu Reva soal ini.. " Ucap Nevan lalu beranjak pergi dengan tangan memegangi lukanya
Arya yang merasa aneh akan sikap Nevan, memilih untuk masuk ke dalam ruangan dan menjenguk Reva yang sejak kemarin belum dilihatnya.
.....
Arya yang baru saja masuk ke dalam, tepat disaat ia membuka pintu, pemandangan pertama yang ia lihat adalah Reva yang saat ini tengah meringkuk di pinggir kasurnya.
"Reva? Kamu baik-baik saja? Apa terjadi sesuatu denganmu?" Tanya Arya langsung menghampiri Reva khawatir
__ADS_1
"Kak.. A-apa Nevan benar-benar akan meninggalkanku? A-apa aku salah karena mengkhawatirkan kondisi Rehan? Tolong katakan padaku Kak.. hiks.. " Tanya Reva yang berakhir menangis di pelukan Arya
Arya akhirnya mengerti maksud dari ucapan Nevan sebelumnya. Nevan bahkan menyembunyikan lukanya yang masih belum benar-benar sembuh dan sekarang jsutru terbuka kembali karena penyerangan sebelumnya.
"Mengapa kamu berfikir seperti itu? Di dunia ini, Satu-satunya orang yang begitu mencintaimu dan mengkhawatirkan dirimu lebih dari dirinya sendiri adalah Nevan. Kamu tidak perlu khawatir, karena dia tidak akan bisa meninggalkan orang yang dicintainya begitu saja" Ujar Arya mencoba menenangkan Reva
Meski ia juga begitu menyayangi Reva, namun ia tidak sepenuhnya yakin jika perasaan ini jauh melebihi dari yang dirasakan Nevan pada Reva selama ini.
"A-aku hanya mengkhawatirkan kondisi Rehan.. Mengapa Nevan begitu marah, aku harus bagaimana Kak.. hikss.. "
"Reva.. " Ucap Rehan menangkap wajah Reva yang kini di penuhi air mata
"Aku tahu kamu mengkhawatirkan Rehan karena dia yang telah menyelamatkan nyawamu, tapi tidak seharusnya kamu mengabaikan kondisi orang disekitarmu, karena bagaimana pun Nevan baru saja sadar dari komanya. Kondisinya mungkin jauh lebih parah dari Rehan saat ini, hingga detik ini ia bahkan tetap bersikap seolah ia baik-baik saja. Tapi apa memang seperti itu? Bagaimana jika kondisinya semakin memburuk?" Ujar Arya setelah melihat darah dari luka Nevan saat berada di depan tadi
"Hikss.. Cukup.. Hentikan.. Aku tidak ingin mendengarnya lagi.. Nevan.. Akan baik-baik saja.. Hiks.. "
"Maafkan Kakak Reva, Kakak tidak berniat menakutimu, tapi penting bagimu untuk menyadari hal ini. Karena sama seperti dirimu yang mengkhawatirkan Rehan, kami juga sangat mengkhawatirkan kondisimu"
"Hatiku benar-benar sakit melihat kondisimu yang seperti ini, tubuhmu penuh dengan luka dan kamu begitu kurus. Aku benar-benar tidak tahu, bagaimana pikiran Nevan saat melihat semua ini"
"Aku salah hikss.. Aku salah kak hiks.. Biarkan aku bertemu dengan Nevan.. " Pinta Reva memohon dalam pelukan Arya
"Dia sudah pergi.. " Ujar Arya lirih tak sanggup menatap wajah Reva yang pasti merasa kaget karena Nevan yang benar-benar meninggalkan dirinya
"Kamu tidak perlu khawatir, Nevan hanya akan mendingikan kepalanya. Bagaimana pun ia pasti merasa bersalah karena bersikap seperti itu. Jadi berikan dia waktu" Tutur Arya kembali menenangkan yang entah akan berhasil atau tidak karena Reva yang selama ini libai dalam menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya
__ADS_1