
"Reva.. Ayo menikah.. " Tutur Nevan yang kini berbaring di kasur bersama dengan Reva, sembari mengelus rambutnya lembut
"Hmm..? " Reva berbalik bingung dan sedikit meragukan pendengarannya tadi
"Ayo menikah.. Kita bisa mengurus buku nikah terlebih dahulu, untuk pesta pernikahannya semua terserah kamu" Ajak Nevan dengan raut wajah santainya
"Aku sudah dari dulu merasakannya, selain sisi mesummu itu kamu sama sekali tidak memiliki sisi romantis sedikit pun. Kamu mengajakku menikah, seolah-olah kamu mengajakku kencan" Protes Reva
Nevan tersenyum kecil "Jika aku melakukannya dengan lebih baik lagi, apa kamu akan setuju?" Tanya Nevan kemudian
"Tergantung suasana hatiku.. Bagaimana mungkin aku begitu saja setuju, terutama dengan pria kejam dan mesum sepertimu" Jawab Reva
"Oh.. Bagaimana jika kamu mencobanya lagi, tentang seberapa kejam diriku yang sebenarnya.. " Ucap Nevan dengan tatapan licik penuh maksudnya
"N-nevan.. Ini bahkan belum cukup sehari.. Hmmpphh.. " Ucapan Reva terhenti tak kala Nevan dengan buasnya melahap bibirnya dan membawa tubuhnya kedalam dekapannya
Reva dengan sekuat tenaga mendorong dada Nevan menjauh darinya, lalu dengan cepat turun dari kasur menatap geram pada Nevan yang hanya menujukkan smirknya.
"Huuhh.. " Reva berbalik pergi keluar dari kamar tanpa menghiraukan Nevan
Reva turun ke lantai bawah berniat untuk memanfaatkan kesempatan ini berkeliling rumah, karena sejak kedatangannya kemarin, Nevan sama sekali belum membawanya berkeliling ke rumah itu.
"Sebenarnya seberapa besar rumah ini, apa mungkin terdapat bangunan lain untuk para pengawal.. ?" Gumam Reva memperhatikan sekitar mencoba mencari bangunan lainnya sama seperti di rumah Nevan
"Apa Nona muda membutuhkan sesuatu?" Tanya salah seorang pengawal yang kebetulan berjaga di tempat itu sembari menunduk sopan mengingat identitas Reva yang merupakan calon istri dari Nevan
"Tidak.. Aku hanya penasaran dengan isi rumah ini. Kamu bisa kembali bekerja dan tidak perlu mengkhawatirkanku" Jawab Reva tidak ingin merepotkan
"Baik, Nona muda" Balas pengawal itu lalu kembali berjaga
Sementara Reva melanjutkan perjalanannya mengelilingi rumah itu, hingga kemudian langkahnya terhenti di saat pandangannya menangkap sebuah bingkai foto yang memperlihatkan foto Kelurga Nevan.
__ADS_1
Tubuh Reva bergetar hebat, sorot matanya seketika dipenuhi amarah membuatnya tanpa sengaja merusak bingkai foto itu karena cengkraman nya yang terlalu kuat.
"Dia.. ? Bagaimana bisa dia ada disini..?" Gumam Reva dengan suara bergetar tidak menyangka dengan apa yang dilihatnya
"Aku tidak mungkin salah, ini benar-benar dia.. " Gumam Reva semakin yakin akan foto dari sosok pria yang ada di samping Nevan
Tubuh Reva jatuh terduduk di lantai, tangan yang menyentuh bingkai foto itu kini perlahan mengeluarkan cairan merah kental karena tergores kaca akibat genggamannya yang terlalu kuat.
Sosok pria yang beberapa tahun yang lalu menjadi penyebab hancurnya keluarganya. Pria yang menjadi penyebab Ibunya pergi dan bahkan tega meninggalkannya sendiri di rumah itu.
Bahkan meskipun Ibu Reva mewariskan semua harta dan perusahaan padanya, Reva tetap tidak akan pernah mau memaafkan keduanya. Terutama setelah semua perbuatan Ibu tiri dan adik tirinya selama ini. Rasa sakit dan penderitaan yang dirasakannya justru semakin menumpuk dalam dirinya. Dan penyebab semua itu, hanya satu pria yakni pria yang baru saja dilihatnya itu.
Air mata yang selama ini tak pernah ia lihat, kini jatuh tanpa ia sadari "Tidak.. Hiks.. Aku tidak boleh seperti ini.. Hiks.. Bagaimana bisa aku selemah ini.. Hikss.. " Rintih Reva berusaha mengusap air matanya yang tak terbendung lagi
Ditengah kesedihannya itu, pengawal yang tadinya menghampirinya kini kembali menghampirinya saat samar-samar mendengar isakan tangis.
"Nona muda.. A-apa yang terjadi? " Tanyanya panik terutama saat melihat tetesan darah di lantai yang berasal dari tangan Reva
Melihat sorot mata Reva, pengawal itu sontak merasa ketakutan karena tekanan yang diberikannya tak jauh berbeda saat Nevan sedang marah.
Tak ada pilihan lain, Satu-satunya yang bisa dilakukannya saat ini adalah pergi dan mengabari Nevan mengenai masalah ini.
Pengawal itu dengan cepat berlari mencari Nevan meninggalkan Reva yang masih meringkuk berusaha menahan isak tangisnya yang semakin menjadi-jadi tanpa bisa ia kontrol.
....
Tak butuh waktu lama, pengawal itu kembali dengan Nevan yang kini memasang wajah panik setelah melihat kondisi Reva.
"Revaa.. Apa yang terjadi? Siapa yang melakukan ini? Jawab Reva! " Tanya Nevan panik
"Dia.. Siapa dia? Bagaimana bisa dia ada disini? " Tanya Reva masih dengan suara bergetar namun dengan sorot panah penuh amarah
__ADS_1
"Dia?" Nevan lalu menatap ke arah bingkai foto yang kini berhamburan di lantai dengan beberapa bercak darah disekitarnya
"Siapa dia? Dimana dia sekarang? Katakan padaku.. Hiks.. aku mohon.. Hiks.." Pinta Reva mencengkram kerah baju Nevan
"Geral Darius Caleis. Dia adalah pamanku" Jawab Nevan tak tahan melihat kondisi Reva yang seperti itu
Berbagai pertanyaan kini membanjiri isi pikirannya, meski begitu rasa khawatir dan panik lebih mendominasi dirinya terutama karena ini pertama kalinya ia melihat Reva menangis sesegukan seperti itu.
"Bagaimana itu mungkin.. Tidak.. " Mendengar jawaban Nevan, Reva semakin kehilangan kendali atas dirinya, berulang kali ia menggelengkan kepalanya tidak terima dengan apa yang baru didengarnya itu
Nevan yang semakin dibuat panik, terpaksa menggendongnya dan membawanya ke dalam kamar.
"Hubungi Dr.Dani sekarang! " Perintah Nevan pada pengawalnya sebelum membawa Reva ke kamarnya
...***...
Hanya dalam sekejab Kediaman Caleis dibuat panik akan kondisi Reva. Tak ada satupun yang mengerti apa yang sebenarnya terjadi termasuk Nevan yang masih berada di kamar menemani Reva bersama dengan Dr. Dani yang hanya bisa memberinya obat penenang, membuatnya tertidur beberapa saat.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Dr. Dani pada Nevan yang sejak tadi mengacak-ngacak rambutnya bingung dan frustasi
"Aku tidak tahu. Satu-satunya yang bisa menjelaskan semua ini adalah paman. Reva menjadi seperti ini karena melihat fotonya tadi" Jawab Nevan kebingungan terutama karena sorot mata Reva tadi yang memperlihatkan sorot mata penuh kebencian dan amarah
"Bagaimana dengan Arya dah Bagas? Kamu sudah menghubungi mereka? Mungkin mereka bisa memberimu jawaban, bagaimana pun mereka adalah kakak angkatnya" Tutur Dr. Dani memberikan solusi karena percuma saja menunggu kedatangan Pamannya yang masih berada di luar negeri
"Rangga, hubungi mereka sekarang" Perintah Nevan menyetujui usulan Dr. Dani, yang langsung diangguki dan dilaksanakan oleh Rangga
Nevan menatap pilu wajah kekasihnya. Mereka baru saja tertawa dan bercanda beberapa saat yang lalu dan sekarang tiba-tiba saja terjadi hal seperti ini. Hal ini benar-benar membuatnya gelisah dan tidak bisa berfikir normal, perasaan cemas dan takut perlahan menyelimuti dirinya.
Berbagai dugaan dan pertanyaan yang sejak tadi dipikirkannya semakin membuatnya berfikiran negatif. Terutama karena ini menyangkut tentang pamannya yang juga merupakan seorang Mafia namun ia juga sudah lama berada di luar negeri tepatnya di Inggris.
Jika dipikirkan dengan baik, terdapat satu kesimpulan yang bisa ditarik oleh Nevan saat ini.
__ADS_1
Keluarga Reva yang hancur berhubungan erat dengan pamannya karena Reva yang dulu pernah menyebutkan jika selingkuhan dari ibunya berasal dari Inggris, sama seperti pamannya.