
Setelah mandi, Reva segera turun ke meja makan menghampiri Nevan yang kini duduk berbincang dengan Arya, Dr. Dani dan juga Rangga yang baru saja tiba di sana.
"Bagaimana dengan intan? " Tanya Reva sembari duduk di samping Nevan
"Dia masih di kamar. Sepertinya dia masih ragu untuk berbicara" Jawab Rangga tidak habis pikir dengan Intan
"Oh.. Apa dia setakut itu untuk berbicara jujur.. "
"Dari reaksinya, bisa dilihat jika dia memang tengah diancam. Entah apa yang membuatnya setakut ini, tapi akan lebih baik jika kita mencaritahu masalahnya terlebih dahulu" Ucap Arya memberikan saran
"Pikirkan itu nanti. Sebaiknya kita sarapan sekarang" Ucap Nevan meotong pembicaraan setelah pembantunya membawakan makanannya
Tepat saat itu, Rehan yang baru menyelesaikan terapinya menghampiri mereka di meja makan.
"Ayo ikut makan dengan kami" Ajak Reva saat melihat Rehan mendekat "Bi.. Siapkan satu piring lagi untuk Rehan" Pinta Reva kemudian
"Tumben semua orang berkumpul seperti ini" Ucap Rehan memperhatikan mereka keempatnya karena sangat sulit untuk keempatnya berkumpul terutama di pagi hari karena urusan masing-masing
"Kami baru saja berhasil menemukan orang yang selama ini mengawasi Intan. Hanya saja, sangat sulit untuk membuat Intan berbicara. Bahkan pria itu juga tidak terlihat akan menyerah dan membeberkan informasinya" Ucap Rangga kesal
"Dia diawasi? " Tanya Rehan dengan waktu wajah polosnya seolah tidak mengetahui apapun
"Iya. Dia memang diawasi selama ini. Aku sudah berulang kali menanyainya tapi dia sama sekali tidak merespon ku. Bahkan setelah kami menangkap pria yang mencintainya, dia tetap diam. Tapi aku akan mencobanya lagi nanti, mungkin dia akan berubah pikiran" Ucap Rangga pantang mundur sebelum ia mendapatkan informasi yang ingin didengarnya
"Mengapa tidak ikut dengan kami bertemu dengannya. Kamu pasti bosan tinggal di kamar setiap hari" Ucao Reva mengajak Rehan yang tentunya dengan cepat diangguki oleh Rehan
...
Setelah selesai sarapan, Reva bersama dengan Rangga dan Rehan mengunjungi Intan yang mash beristirahat di kamar. Sementara Nevan, Arya dan Dr. Dani memilih ke ruang tamu untuk berbincang.
"Apa dia masih tidur? Apa sebaiknya kita tidak mengganggunya saat ini?" Tanya Reva pelan saat masuk ke dalam kamar dan melihat jika Intan masih berbaring di kasurnya
"Tidak perlu" Ucap Rangga lalu mendekati Intan "Bangunlah, aku tahu kamu sudah bangun sejak tadi" Ucap Rangga dengan nada dingin
__ADS_1
Intan yang sejak tadi memang pura-pura tidur, pada akhirnya memilih untuk bangun dan menuruti ucapan Rangga.
"Sebaiknya kalian berhenti. Kalian hanya akan membuang-buang waktu kalian denganku. Aku sama sekali tidak memiliki informasi penting. Semua yang terjadi adalah urusan pribadiku. Dan bukan bagian kalian untuk ikut campur" Ucap Intan tegas
"Intan!" Pekik Rangga menatap Intan geram
Intan hanya memalingkan wajah tidak perduli bahkan dengan kemarahan Rangga sekalipun.
"Aku tidak tahu apa yang kamu alami hingga berakhir seperti ini dan aku pun tidak ingin tahu. Sejujurnya alasan kami melakukan ini hanya untuk memastikan jika dalang dibalik semua ini tidak memiliki maksud tersembunyi kepadaku dan juga Nevan"
"Aku tahu bahwa kamu saat ini takut mengungkapkannya karena ancaman bukan? Maka aku harus memberitahumu satu hal, aku bisa dengan begitu mudah mencari tahu apa yang terjadi. Bahkan jika kamu tidak mengungkapkannya saat ini, aku tetap bisa dengan mudah mencari tahu nya karena hanya masalah waktu hingga aku berhasil memulihkan data komputer itu" Ucap Reva dengan tegasnya sekaligus mengingatkan Intan
Mendengar penuturan Reva membuat Anggi menggugir bibirnya bingung harus berbuat apa. Karena ia benar-benar tidak ingin mengalami kerugian seperti yang dialaminya saat ini.
"Itu benar. Dengan kemampuan Reva, tidak sulit untuk mencari tahu semuanya" Ucap Rehan ikut berbicara sembari menatap Intan
"Suara ini? " Batin Intan sontak menatap Rehan bingung
Meski ia tidak begitu yakin Rehan yang kini berdiri di depannya. Tapi bisa ia rasakan hawa mengancam hanya dari sorot matanya yang tidak berbeda jauh dari saat ia bertemu dengan Nevan semalam.
"Intan..!" Panggil Reva karena Intan yang sejak tadi melamun
"Apa yang terjadi denganmu? Intan?" Kali ini giliran Rangga yang kini memegang bahu Intan mencoba menyadarkannya dari lamunannya
"Ya? Maaf, aku sedikit kurang enak badan. Apa kalian bisa meninggalkanku sendiri?" Tanya Intan memohon karena pikirannya yang tengah bingung
"Baiklah. Kami tidak akan memaksakan kehendak kami pada wanita yang tengah hamil" Ucap Reva mengalah
"Istirahatlah. Kami tidak akan mengganggumu" Ucap Reva lalu bangkit berniat keluar dari kamar begituoun dengan keduanya.
"Jaga dirimu baik-baik. Tidak baik jika seorang wanita hamil terlalu banyak pikir" Ucap Rehan untuk terakhir kalinya masih dengan sorot mata mengancam
Intan yang tadinya masih bingung. Kini yakin dengan apa yang dipikirkannya terutama setelah bertatapan dengan Rehan yang baru saja memperlihatkan smirk nya.
__ADS_1
"Aku tidak mungkin salah. Pasti dia orangnya.. " Ucap Intan menunduk takut saat ketiganya keluar dari ruangan
Rehan yang bahkan bisa masuk dan menjadi salah satu orang kepercayaan Nevan dan Reva membuat Intan semakin sulit mengungkapnya. Karena kali ini Rehan yang secara langsung mengawasi dirinya.
...***...
Setelah keluar dari kamar Intan. Reva menghampiri Nevan dan yang lainnya di ruang tamu. Sementara Rangga dan Rehan memutuskan ke bangunan belakang.
Reva duduk di samping Arya, bersandar di sofa sembari menghela nafasnya panjang karena tidak mendapat informasi apapun dari Intan.
"Dia tidak bicara?" Tanya Arya kemudian
"Iya. Dan aku yakin dia akan tetap diam. Karena bahkan jika kita mengancamnya ia akan tetap aman karena bayi di kandungannya" Ucap Reva geram
"Jadi bagaimana?"
"Hanya perlu menunggu hingga data komputer itu aku puluhkan" Ucap Reva kurang bersemangat
"Biarkan Rangga yang mengurusnya. Kamu pasti akan sangat lelah jika mengurus terlalu banyak hal seperti ini" Ucap Nevan merasa khawatir akan kesehatan Reva jika terus-menerus ikut campur seperti ini
"Tidak apa-apa. Ini tidak begitu merepotkan, aku hanya memerlukan waktu beberapa hari hingga aku berhasil melakukannya" Ucap Reva
"Ingat untuk tidak terlalu memaksakan dirimu. Prioritas utamamu saat ini adalah menyelesaikan kuliahmu" Ucap Nevan mengingatkan
"Apa kalian tidak terlalu terburu-buru?"
"Tidak" Jawab keduanya bersamaan
"Seharusnya kalian tidak setuju dengan Ibu Reva.. " Ycap Arya tidak mengerti dengan keduanya yang begitu bodoh memutuskan menunda pernikahan disaat keduanya tidak menyukainya
"Lupakan. Semuanya sudah terjadi, tidak ada yang bisa disesali" Ucap Nevan hanya bisa pasrah menerimanya
"Semangatlah. Ini baru tiga minggu.. Kalian masih harus bersabar sedikit lebih lama" Ucap Arya kemudian yang hanya dibalas helaan nafas panjang oleh keduanya
__ADS_1