
Setelah semua drama tadi, Reva dan Rangga kini berada di kantin menikmati makan siangnya.
"Kapan kamu akan membawanya ke dokter? Tidak baik jika membiarkannya begitu saja tanpa menjalani pemeriksaan" Tanya Reva sembari mengunyah makanannya
"Entahlah Non.. Aku masih belum membahasnya dengannya" Jawab Rangga sedikit tidak terlalu perduli
Plaakkk..
Reva menimpuk kepala Rangga kesal karena mendengar jawabannya yang begitu tidak bertanggung jawab itu.
"Non.. " Rangga menatap Reva sembari mengusap belakang kepalanya
"Kenapa? Kamu itu harus lebih bertanggung jawab jadi laki-laki" Ucap Reva melotot
"Aku tahu itu Non. Hanya saja, aku tidak bisa mempercayainya. Kita bahkan belum mengetahui motif dia yang sebenarnya, bagaimana bisa aku begitu saja menerimanya" Jawab Rangga menjelaskan
Rangga benar-benar tidak bisa mempercayai intan barang sedikit pun. Terutama setelah membaca semua informasi dari Reva semalam yang semakin membuatnya kebingungan.
"Aku tidak menyuruhmu untuk menerima Intan. Aku hanya menyuruhmu untuk menjaga bayi yang dikandungnya. Bahkan jika dia memiliki motif tersembunyi, hal itu tidak ada hubungannya sama sekali dengan bayi yang dikandungnya"
"Bukankah sudah kukatakan, aku bisa menjadikannya anakku jika dia lahir nanti" Sambung Reva penuh harap
"Cukup mudah untuk dikatakan Non.. " Ucap Rangga lirih sembari menatap makanannya
"Tiap kali aku melihatnya, aku selalu merasa muak dan kesal. Aku benar-benar tidak bisa membiarkan wanita munafik sepertinya tinggal di sisiku" Sambung Rangga kemudian
Reva memghela nafasnya "Tidak ada yang bisa aku lakukan dengan hal seperti itu. Bahkan jika itu diriku, aku mungkin juga akan bersikap seperti itu. Hanya saja, apa kamu benar-benar tidak bisa menahannya? Demi calon anakku? Hm?" Tanya Reva menatap Rangga penuh harap dan mata berbinar-binar berusaha membujuk Rangga untuk menahannya
"Calon anak?"
Reva dan Rangga so tak mendongakkan kepalanya menatao sosok yang saat ini berdiri di samping mereka dengan raut wajah meminta penjelasan.
__ADS_1
"Ne-nevan? Bukankah kamu sedang rapat? Dimana wanita itu? Jangan bilang kamu meninggalkannya sendiri begitu saja" Tanya Reva mengedarkan pandangannya mencari keberadaan wanita itu
"Aku membatalkannya. Aku tidak memiliki mood yang bagus untuk melanjutkan rapat tadi, karena itulah aku menyusul kalian" Jawab Rangga sembari menarik kursi di samping lalu duduk di hadapan Reva
"Jadi apa yang kalian bahas? Calon anak?" Tanya Nevan kemudian
"Oh itu, maksud aku anak Rangga. Aku menginginkannya" Jawab Reva
Nevan memgerutkan keningnya menatap Reva yang masih terobsesi dengan anak setelah ia menolak berhubungan sebelumnya.
"Kenapa? Tidak ada salahnya jika aku menginginkannya, lagipula baik Rangga dan Intan, mereka sama sekali tidak terlihat menginginkan anak ini. Bukankah dia benar-benar akan terlihat begitu kasihan, jika membiarkan salah satu diantara mereka merawatnya" Ucap Reva
Apa yang dikatakan Reva benar-benar tepat sasaran. Baik Rangga maupun Nevan hanya bisa terdiam tanpa bisa menyela karena apa yang dikatakan Reva adalah fakta yang sebenarnya.
Nevan lalu meneguk minuman jus yang dipesan Reva tadi, lalu menatap Reva serius "Aku tidak akan melarangmu melakukannya. Hanya saja masih ada sekitar 8 bulan hingga bayi itu lahir. Bagaimana jika dalam waktu itu, kamu akan mengandung kembali" Ucap Nevan sedikit memberi Reva harapan untuk hamil kembali
Reva berfikir sejenak sebelum menjawab "Tidak apa-apa. Akan lebih bagus lagi jika seperti itu. Dia tidak akan kesepian begitupun dengan anak kita nanti" Jawab Reva setelah memikirkannya baik-baik
"Baiklah. Kita bisa membahasnya saat dia lahir nanti. Untuk sekarang, kita masih harus menyelesaikan Ibunya" Ujar Nevan menatao kearah Rangga meminta penjelasan
"Aku akan berbicara langsung dengannya tuan. Aku pasti akan membuatnya memberitahuku dalang sebenarnya dari semua ini dan tujuannya melakukan ini" Jawab Rangga kemudian
"Baguslah kalau begitu. Sekarang, ayo kita pulang. Papa dan Mama ada dirumah sekarang" Ujar Nevan bangkit berdiri
Sejak awal, alasan utama ia membatalkan rapatnya dengan wanita tadi karena telpon dari ayahnya yang memintanya untuk pulang, jika tidak ia sudah pasti mempercepat rapat itu meski dalam suasana hati yang buruk ketimbang menjadwal ulang rapatnya.
"Kenapa? Apa ini hal yang penting?" Tanya Reva bingung
"Entahlah, mereka hanya meminta ku untuk segera pulang. Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu di rumah" Tutur Nevan
"Oh.. Kalau begitu ayo pulang. Jangan membiarkannya menunggu terlalu lama" Ucap Reva meski ia tidak tahu siapa yang ingin bertemu denganya
__ADS_1
Ketiganya lalu meninggalkan kantor dan pulang ke rumah Nevan.
...***...
Setelah 30 menit perjalanan dari perusahaan Nevan yang lumayan macet karena siang hari, ketiganya akhirnya tiba di rumah. Nevan dan Reva segeran masuk ke dalam rumah dengan saling bergandengan tangan mengingat sejak di mobil tadi, Nevan terus menerus menempel di lengan Reva.
"Kalian sudah pulang.. " Sambut Ibu Nevan bangkit berdiri saat keduanya memasuki rumah
"Iya Ma.. " Jawab Reva
"Jadi siapa yang ingin bertemu denganku? Kata Nevan ada.. " Ucapan Reva terhenti, matanya sontak membulat kaget melihat sosok wanita di hadapannya yang juga tengah menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca
"Ma-ma? " Ucap Reva tidak menyangka akan kedatangan ibunya yang sudah begitu lama tidak dijumpainya
"Reva.. " Ibu Reva menghampiri Reva lalu memeluknya erat
Keduanya saling berpelukan, meluapkan perasaan masing-masing "Mama, dari mana saja? Aku sudah mencari Mama selama bertahun-tahun" Tanya Reva mulai terisak
"Maafin Mama. Mama salah. Tidak seharusnya Mama pergi begitu saja dan meninggalkanmu sendiri" Ujar Ibu Reva penuh sesal karena meninggalkan putri semata wayangnya seorang diri selama bertahun-tahun
"Apa kah sesulit itu untuk mengirimkanku kabar hiks.. Bahkan ketika Nenek meninggal, Mama sama sekali tidak perduli dan sibuk menyembunyikan diri sendiri hiks.. Apa keluarga dimata Mama, benar-benar tidak memiliki arti apapun hiks.. " Ucap Reva mengeluarkan semua keluh kesahnya pada ibunya
"Maafin Mama.. "
"Aku menderita selama bertahun-tahun.. Aku harus bertahan hidup sendiri dibawah tekanan wanita itu.. Bahkan kehilangan anak yang ada dikandunganku.. Dan Mama baru pulang sekarang? Setelah semua yang terjadi pada putrimu hiks?"
Ibu Reva tertegun diam, merasakan sesak di dadanya. Ia benar-benar telah membuat keputusan yang salah. Keegoisannya justru mendatangkan petaka untuk putrinya.
"Maafin Mama Reva.. Mama menyesal.. " Tutur Ibu Reva lagi-lagi meminta maaf karena hanya hal itu satu-satunya yang bisa ia lakukan saat ini
Geral yang saat ini menyaksikan keduanya merasa sedikit lega karena berhasil mempertemukan ibu dan anak itu. Khususnya setelah mendengar apa yang terjadi pada Reva sebelumnya membuatnya segera memperluas pencariannya dan memanfaatkan setiap koneksinya untuk mencari ibu Reva. Dan beruntungnya, ia benar-benar berhasil menemukannya dan membawanya kembali ke hadapan Reva.
__ADS_1