
Jam di dinding menunjukkan pukul 8 pagi, saat Reva perlahan membuka matanya karena terpaan sinar matahari pagi. Karena kejadian semalam, Reva tanpa sadar tertidur sejak kepulangannya dengan Nevan dan bahkan melewatkan makan malam karena terlalu lelah.
Reva bangun terduduk memperhatikan sekitar kamar yang kini kosong, dengan tangan mengusap perutnya yang kini mulai berbunyi karena lapar.
"Aku benar-benar lapar sekarang.. " Gumam Reva perlahan turun dari kasur dengan raut wajah letihnya, berusaha menggerakkan tubuhnya yang kini tidak berdaya
Penampilannya yang berantakan dengan ekspresi datar menahan lapar membuat beberapa pelayan dan pengawal yang dijumpainya ketakutan terutama setelah mendengar perbuatan Reva semalam. Reva yang awalnya terlihat sederhana dan baik, ternyata menyembunyikan sosok mengerikan layaknya Nevan.
"Revaa.. " Panggil Nevan dari sofa ruang tamu saat turun dari lantai dua menuju ke dapur
"Hmm... Aku lapar.. " Balas Reva memegangi perutnya yang keroncongi
Nevan tersenyum kecil lalu menghampiri Reva, membantunya duduk di meja makan. Pelayan yang melihat keduanya, segera menghampiri mereka.
"Tidak perlu. Aku yang akan melakukannya. Kamu bisa melanjutkan pekerjaanmu" Tutur Nevan pada pelayannya
"Tunggu disini, biar aku membuatkanmu sesuatu" Tutur Nevan membantu Reva duduk di kursi meja makan
"Sepertinya suasana hatinya sedang bagus.. " Batin Reva memperhatikan Nevan yang sejak tadi tersenyum
5 menit kemudian...
Nevan menghampiri Reva sembari membawa piring dan gelas yang berisi susu.
"Hah? Sandwich? Aku lapar Nevan. Ini tidak cukup untuk membuatku kenyang" Protes Reva setelah melihat sarapan yang disediakan Nevan yang hanya terdiri dari sebuah sandwich dan segelas susu
"Makan ini dulu. Aku akan membawamu keluar" Tutur Nevan
Dengan berat hati, Reva memakan sandwich itu dengan lahap, sekedar mengurangi rasa laparnya.
"Aku pikir dia akan membuatkanku sesuatu yang enak. Ternyata hanya sebuah sandwich" Keluh Reva dalam hati, merasa sedikit kecewa karena ini berbeda dengan apa yang ditontonnya di drama
"Aku akan memasak lain kali. Hanya saja, khusus kali ini aku lebih ingin mengajakmu makan di luar" Tutur Nevan seolah mengerti isi pikiran Nevan
"Hmmm.. " Gumam Reva menikmati makannya
"Kamu bisa bersiap setelah ini. Aku akan berada di ruang kerja" Ujar Nevan mengusap rambut Reva sebelum akhirnya pergi
"Lagi-lagi dia memperlakukanku seperti anak kecil" Gerutu Reva karena kebiasaan Nevan yang suka mengusap rambutnya layaknya anak kecil
...***...
Setelah membersihkan dirinya, Reva kini terlihat lebih hidup ketimbang sebelumnya. Ia kini berjalan ke ruang kerja Nevan tak sabar untuk segera keluar mengisi perutnya yang masih kelaparan.
"Nevan.. Aku selesai, ayo pergi" Tutur Reva membuka pintu ruangan Nevan
__ADS_1
Nevan lalu menutup laptopnya dan menghampiri Reva, memperhatikan pakaian yang dikenakannya dari atas sampai bawah.
"Kenapa?" Tanya Reva melihat pakaian yang dikenakannya, sepasang celana sweetpants hitam yang dikombinasikan dengan kaos oversize putih
"Kamu serius memakai ini?"
Reva mengangguk pelan "Kenapa? Bukankah hanya makan" Tutur Reva tak berniat mengganti pakaiannya, karena ia bukan tipe orang yang suka mengenakan pakaian formal seperti Nevan yang setiap hari mengenakan setelan kemeja dan jas
"Ya. Kita memang hanya makan" Ucap Nevan dengan sedikit helaan nafas
Sebelum keduanya keluar, Rangga sudah terlebih dahulu masuk ke ruangan.
"Ada apa?"
"Tuan muda kedua mau datang, Tuan"
"Oh. Kapan dia pulang? Mengapa aku tidak tahu"
"Kemarin Tuan"
"Biarkan dia menunggu, aku akan keluar dengan Reva sebentar"
"Eh tunggu, tuan muda kedua? Berarti dia adikmu. Apa sebaiknya kita tidak perlu keluar?"
"Kamu tidak memberitahu tuan?" Tanya Rehan menghampiri Rangga yang masih berdiri menatap kepergian majikannya
"Tidak. Lagipula, tuan muda kedua akan datang, semuanya akan lebih jelas jika mereka bertemu secara langsung" Tutur Rangga
...***...
"Apa tidak masalah, membiarkan adikmu menunggu?" Tanya Reva masih kepikiran soal kedatangan adik Nevan
"Tidak apa-apa. Sudah ku katakan, hari ini aku akan membawamu keluar" Ucap Nevan lagi-lagi mengusap rambut Reva
"Soal kemarin.. Maaf.. Kamu pasti tersinggung karena kata-kataku" Tutur Reva lirih, sedikit menyesali perkataannya kemarin yang sudah keterlaluan
"Oh.. Aku sama sekali tidak memikirkannya, lagi pula wajar jika kami tidak mempercayaiku"
"Ya. Aku memang sulit mempercayaimu" Ucap Reva mengakui " Terutama aku tidak bisa menebak isi pikiranmu" lanjutnya dalam hati
"Tapi aku akan mencobanya" Sambung Reva lirih, sembari memalingkan wajahnya menatap ke arah luar jendela
"Aku tidak akan memaksamu untuk percaya padaku, tapi seperti yang aku katakan sebelumnya, aku memang tidak bisa menahan diriku saat bersama denganmu" Ucap Nevan meraih tangan Reva dan mengecupnya pelan
"Lagi..? Detak jantung ini..? " Batin Reva merasakan jantungnya yang perlahan berdegup kencang, sama seperti hari itu
__ADS_1
Berapa kali pun ia memikirkannya, ia memang sudah jatuh cinta pada Nevan. Hatinya dengan jelas merasakannya, perasaan berdebar saat Nevan menyentuhnya, perasaan yang belum pernah dirasakannya pada lelaki manapun sebelumnya.
.....
Reva menghela nafasnya, menepuk pelan wajahnya yang sejak tadi merona yang entah disadari oleh Nevan atau tidak. Lalu ikut turun dari mobil, mengikuti Nevan yang sudah lebih dahulu turun.
Keduanya langsung disambut dengan sopan dan ramah oleh salah seorang pelayan.
"Jadi karena ini kamu melihatku tadi?" Tanya Reva saat pandangannya tertuju pada beberapa tamu yang dijumpainya
Ketimbang dirinya yang berpenampilan sederhana dengan baju kaos biasa, mereka mengenakan pakaian formal dan dress yang kian menambah kesan elegan dan cantik dalam diri mereka.
Nevan tersenyum kecil "Menurutku, kamu lebih cantik ketimbang mereka semua" Gombal Nevan mengusap punggung tangan Reva yang sejak tadi di genggamnya sejak masuk ke dalam restoran
"Ohh... Jadi aku wanita keberapa yang kamu bawa kesini?"
"Yang pertama.. Kamu satu-satunya wanita yang pernah berhubungan denganku hingga sedekat ini" Jawab Nevan tak ragu-ragu merangkul Reva
Reva yang diperlakukan begitu istimewa seperti itu, membuat wajah dan telinganya memerah menahan malu.
"Aku ke wc sebentar" Ucap Reva berjalan menunduk, tak kuasa menatap Nevan yang ia yakini tengah tersenyum puas
"Gila.. Gila.. Aku pasti sudah gila.. Wajahku benar-benar merah" Gumam Reva menepuk wajahnya di depan cermin, berusaha untuk menyadarkan dirinya
Rev membilas wajahnya beberapa kali sembari menghela nafasnya sekedar menetralkan nafasnya yang sejak tadi tak beraturan.
Reva menepuk wajahnya sekali lagi sebelum berbalik keluar dari wc. Namun sebelum ia bisa keluar dari wc, ia tanpa sengaja menabrak seorang gadis membuat tasnya jatuh berserakan di lantai.
"Maaf.. Aku tidak sengaja.. " Tutur Reva segera memungut barang-barang tersebut di lantai, dengan sopan ia mengembalikan tas itu "Sekali lagi aku minta maaf" Tutur Reva sedikit membungkuk lalu berniat pergi
"Siapa suruh kamu pergi" Ucap gadis itu menatap Reva
Reva berbalik menatapnya "Apa ada masalah?" Tanya Reva kemudian
"Ganti rugi"
"Ganti rugi? Barang apa yang aku rusak?"
"Apa kamu tidak lihat, tas ku jadi lecet gara-gara kamu"
"Hah?" Reva mendekat dan memeriksa tas tersebut "ini tidak lecet sama sekali" Protes Reva tidak menemukan kerusakan pada tas itu
"Aku tidak perduli, kamu harus ganti rugi karena membuat barang-barangku jatuh di lantai"
"Logika macam apa itu" Batin Reva menatap gadis itu
__ADS_1