
Setibanya di rumah, Reva dengan cepat menuju ke kamarnya untuk memastikan dugaannya. Ia mengambil test pack yang dibelinya tadi dan masuk ke dalam kamar mandi untuk mengeceknya.
Reva lalu melakukan sesuai dengan intruksi dari petugas apotek tadi. Ia mendiamkannya sejenak di lantai, menunggu bebera menit untuk mengetahui hasilnya. Reva berulang kali menghela nafasnya panjang, berusaha menenangkan dirinya yang sejak tadi merasa gugup.
Hingga beberapa menit kemudian, Reva membekap mulutnya tak percaya. Muncul dua garis merah di test pack tersebut yang artinya ia tengah hamil.
"I-ini.. Bagaimana mungkin? Aku hamil? " Karena kaget Reva kembali mengambil test pack yang lain untuk mengeceknya kembali
Namun berapa kali pun ia mengeceknya hanya ada satu hasil yang muncul. Semuanya menunjukkan dua garis merah dan itu artinya dia benar-benae hamil.
Entah ia harus merasa senang atau tidak dengan kabar mengejutkan ini. Ia benar-benar terkejut, tidak percaya jika selama ini Nevan membohonginya. Pil yang selama ini diminumnya, bukan pil kontrasepsi melainkan pil penyubur kandungan.
"N-nevan.. Aku harus berbuat apa padamu.. " Gumam Reva memijat keningnya yang terasa pening
Reva diliputi perasaan kesal karena dibohongi, namun di sisi lain ia merasa seolah bersyukur karena Nevan melakukan hal itu tak lain hanya untuk membuatnya tetap berada di sisinya.
Pada akhirnya, Reva memutuskan untuk tidur dan tak ingin memikirkan hal ini. Besok ia masih harus pulang ke rumahnya dan mengenai kehamilannya ini. Ia memutuskan untuk merahasiakannya dan menyimpannya untuk dirinya sendiri dan mungkin akan membocorkan nya jika ia benar-benar sudah siap menerimanya.
....
Setelah menyelesaikan semua pekerjaannya di perusahaan termasuk mengatur ulang jadwalnya, Nevan akhirnya tiba di rumah tak sabar menantikan hari esok.
"Reva dimana?" Tanya Nevan pada pengawal yang dijumpainya
"Di kamar Tuan. Nona muda belum keluar kamar sejak pulang tadi" Jawabnya karena sejak tadi berjaga di sana
"Kamu bisa kembali.. " Perintah Nevan sebelum berlalu pergi dan naik ke kamar menghampiri Reva
Kamar tampak sunyi saat Nevan masuk ke dalam, bahkan tidak ada lampu yang dinyalakan. Dengan pelan, Nevan menyalakan lampu di samping tempat tidur. Terlihat Reva yang tengah tertidur pulas di kasur.
Nevan melirik ke arah jam di dinding yang kini menunjukkan pukul 8 malam, yang berarti Reva masih belum makan malam sejak tadi. Namun karena melihatnya begitu terlelap, ia pada akhirnya memutuskan untuk mandi terlebih dahulu lalu membangunkannya untuk makan malam.
...
30 menit kemudian..
Nevan telah selesai mandi dan merapikan penampilannya. Ia lalu dengan hati-hati membangunkan Reva agar tidak membuatnya marah.
__ADS_1
"Reva.. Ayo bangun, kamu belum makan malam.. " Pinta Nevan pelan setengah berbisik di telinga Reva
Mendapat perlakuan seperti itu, Reva perlahan mengerutkan keningnya sebelum akhirnya membuka kedua matanya yang terasa berat.
"Ayo bangun, tidak baik untuk tidur dalam keadaan perut kosong" Pinta Nevan tetap bersikap lembut
Sementara Reva kini termenung menatap wajah Nevan. Rasanya ia benar-benar ingin memukul wajahnya itu karena berani membohonginya, tapi entah mengapa ia mengurungkan niatnya begitu saja. Kedua tangannya ia kalung kan di leher Nevan "Bantu aku turun. Aku malas bahkan untuk sekedar berjalan" Pinta Reva bersikap manja
Nevan lalu mengangkat tubuh Reva ala bridal style, turun ke lantai bawah dan mendudukkannya di kursi meja makan dengan pelayan yang masih menyajikan makanannya di meja.
"Sejak kapan kamu jadi semanja ini Reva? Kamu bahkan tidak bisa berjalan ke meja makan?"
Dari arah ruang tamu, Arya yang baru saja tiba dan sempat menyaksikan keduanya segera menghampiri mereka berniat mengejek Reva.
"Kak? Kapan Kak Arya datang? Mengapa tidak memberitahuku?" Tanya Reva antusias
"Tidak memberitahumu? Aku sudah menghubungumi hampir puluhan kali, tapi tidak ada jawaban satupun. Apa kamu mengubur ponselmu di suatu tempat?" Protes Arya memperlihatkan daftar panggilan keluarnya
Reva hanya terkekeh sembari mengusap rambutnya "Aku ketiduran, aku tidak menyadarinya sama sekali" Jawab Reva kemudian
"Baiklah. Aku pasti akan mengaturnya kembali nanti. Jadi berhenti memgomeliku, Nevan bahkan tidak protes sama sekali.. Ughhh... "
Reva belum menyelesaikan ucapannya saat tiba-tiba ia merasa mual setelah Nevan menghidangkan makanan di depannya. Dengan cepat ia berlari ke kamar mandi dan memuntahkannya. Reva membasuh wajahnya menatap pantulan dirinya di cermin.
"Reva.. Reva.. Buka pintunya, kamu baik-baik saja?" Keduanya kompak mengetuk pintu kamar mandi Reva khawatir, terkhusus Nevan yang seolah bisa menebak apa yang terjadi
"Aku tidak apa-apa. Mungkin aku hanya masuk angin" Jawab Reva beralasan saat keluar dari kamar mandi
"Tunggu, biar aku menghubungi Dr. Dani agar datang memeriksa keadaanmu" Ucap Nevan mengeluarkan ponselnya
"Tidak perlu. Aku baik-baik saja, tidak perlu merepotkan orang lain tengah malam begini" Ucap Reva merebut ponsel Nevan
"Kamu yakin?" Tanya Nevan sekali lagi yang hanya diangguki oleh Reva
...
Pada akhirnya Reva kembali ke kamar tanpa menyentuh sedikit pun makanan di meja makan tadi, selain susu hangat yang dibuat oleh Nevan tadi sebelum ia tertidur.
__ADS_1
Setelah memastikan Reva tertidur, Nevan segera menghubungi Dr. Dani agar datang memeriksa keadaan Reva.
"Dia hamil?" Tanya Arya to the point
"Aku masih belum tahu, karena itulah aku meminta Dr. Dani untuk datang. Tapi sepertinya dia memang hamil.. "
"Bagaimana bisa dia tidak menyadarinya? " Tanya Arya merasa aneh dengan sikap Reva
"Mungkin karena aku. Bagaimana pun aku mengganti pil kontrasepsi dengan pil penyubur kandungan yang selama ini ia minum.. "
"Kamu gila? Bagaimana jika dia mengetahuinya"
"Lagipula kami akan menikah, cepat atau lambat dia pasti akan mengandung anakku. Jadi tidak masalah jika hal itu terjadi lebih cepat"
"Yahh.. Selama kamu bisa menerima kemarahannya karena membohonginya" Balas Arya pasrah, ia baru kemarin memikirkan akan nasib Reva memiliki pacar yang posesif dan sekarang Nevan sudah mempelronatkan sosoknya yang sebenarnya
Demi membuat Reva tetap berada di sisinya, ia mengambil langkah besar yang cukup ekstrem.
...
Di tengah pembicaraan keduanya, Dr. Dani kemudian tiba dalam keadaan tergesa-gesa karena Nevan yang mengatakan keadaan darurat.
"Dimana pasiennya? Kamu mengatakan ini darurat karena itulah aku datang tanpa mengganti pakaian" Tutur Dr. Dani dengan wajah khawatir
"Ini memang sedikit mendesak. Pasiennya ada diatas. Aku ingin kamu memastikan sesuatu"
Nevan lalu membawa Dr. Dani ke kamarnya tempat Reva yang saat ini tertidur pulas setelah meminum susu dari Nevan yang memang sengaja ia tambahkan obat tidur sebelumnya.
"Reva? Apa yang terjadi dengannya? "
"Periksa kondisinya, aku menduga jika dia sedang hamil" Tutur Nevan
"Hamil?" Dr. Dani lalu memeriksa keadaan Reva dan benar saja ia merasakan denyut nadi Reva yang meningkat drastis "Aku tidak sepenuhnya yakin, tapi sepertinya dia memang tengah hamil" Jawab Dr. Dani ragu karena bagaimanapun memeriksa denyut nadi tidak selamanya akurat
"Apapun itu, aku menyarankan untuk memeriksakannya ke rumah sakit dan lakukan USG" Pinta Dr. Dani memberi saran
"Aku akan datang setelah berbicara dengannya" Tutur Nevan yang kini duduk memegang tangan Reva erat karena merasa senang "Kamu milikku Reva.. " Batin Nevan mengecup punggung tangan Reva lembut
__ADS_1