
Nevan dan Reva menyelesaikan makan malamnya. Keduanya kini berbaring bersama di atas kasur, dengan Reva yang berbaring di lengan Nevan. Sementara tangan yang lainnya, Negan gunakan untuk mengelus rambut Reva.
"Aku belum mandi beberapa hari ini, rambutku pasti bau" Ucap Reva berniat menyingkirkan tangan Nevan
"Tidak. Rambutmu tidak sebau itu.. " Ucap Nevan mengendus dan diakhir dengan kecupan di kepala Reva
"Dasar pembual.. Aku bahkan bisa menciumnya"
"Aku tidak berbohong. Aku menyukai semua tengtangmu" Ucap Nevan tanpa keraguan sedikitpun di matanya
"Aku juga menyukai semua tentangmu" Timpal Reva menelungsupkan kepalanya di dada bidang Nevan
"Ngomong-ngomong, kapan aku bisa pulang?" Tanya Reva kemudian
"Sebenarnya kamu sudah boleh pulang, tadi sebelum kesini, aku sempat menemui dokter dan dia sudah mengizinkanmu pulang. Tapi kamu akan tetap mendapat perawatan oleh Dr. Dani setelah tiba di rumah" Jawab Nevan
"Kalau begitu ayo pulang besok. Aku bosan tinggal disini" Pinta Reva bersikap manja
"Iya. Kita pulang besok" Balas Nevan menyetujui dan lagi-lagi mengecup rambut Reva "Aku akan menyuruh rangga memesan penerbangan besok pagi" Lanjutnya kemudian
"Pulang ke rumahmu?" Reva mendongak menatap Nevan
Nevan lalu mengangguk mengiyakan "Iya. Kenapa? Kamu mau pulang ke rumah mu?" Tanya Nevan
"Tidak. Lebih baik kita pulang ke rumah mu, aku tidak tahu bagaimana aku akan berhadapan dengan ayahku" Tutur Reva lirih
"Hmm.. Terserah kamu. Papa dan Mama akan berangkat malam ini dan untuk Rehan, Arya yang akan membawanya" Ucap Nevan sudah mengatur semuanya
"Aku belum bertemu dengan Kak Arya beberapa hari ini.. " Semenjak sadar, Arya jarang datang mengunjungi Reva karena terlalu sibuk mengurus kasus ibu tiri Reva
"Dia akan menemuimu setelah ia menyelesaikan urusannya"
.....
__ADS_1
Di tengah percakapan keduanya, pintu kamar tiba-tiba diketuk sebelum akhirnya terbuka dari luar. Terlihat Ayah Reva yang kini menatap keduanya.
"Paa..? " Ucap Reva kaget akan kehadiran ayahnya mengingat ia yang masih bingung harus bagaimana bersikap jika bertemu dengan ayahnya
"Nevan, apa kamu bisa meninggalkan kami. Aku ingin berbicara dengan Reva" Pinta Ayah Reva memohon
"Tidak. Aku akan tetap disini, Paman bisa berbicara" Tolak Nevan tak ingin meninggalkan Reva sendiri
"Revaa.. " Ayah Reva menatap Reva dengan maksud agar ia membujuk Nevan keluar
Reva yang mengerti lantas meminta Nevan untuk mengikuti permintaannya "Keluarlah. Aku akan baik-baik saja" Tutur Reva pada Nevan
Meski tak ingin, Nevan hanya bisa pasrah mengikuti permintaan dari Reva dan keluar dari ruangan itu.
"Segera panggil aku, jika dia meminta hal yang tidak masuk akal padamu" Ucap Nevan memperingati sembari melirik ke arah ayah Reva
Nevan lalu keluar dari ruangan, meninggalkan ayah dan anak itu berdua di ruangan. Reva hanya terdiam, menunggu ayahnya yang masih terlihat enggan untuk berbicara.
"Papa memutuskan untuk bercerai. Papa tidak akan ikut campur akan apa yang terjadi pada ibu tiri mu, tapi papa harap kamu setuju untuk membiarkan papa merawat kedua anaknya hingga mereka bisa hidup sendiri" Pinta Ayah Reva kemudian
"Jujur saja, Reva sudah tidak pernah berharap apa-apa lagi pada Papa. Sejak Reva memutuskan keluar dari rumah dua tahun yang lalu, Reva tidak pernah berniat untuk kembali ke rumah itu. Hanya saja, setelah Reva ingin membangun sebuah keluarga yang baru, Reva ingin sekali saja bertemu dengan Papa dan melupakan semua yang terjadi sebelumnya" Tutur Reva dengan semua rasa kecewa yang dirasakannya pada ayahnya sebelumnya
"Papa tahu, selama dua tahun aku di luar. Aku berulang kali berada diambang kematian, ntah papa menyadarinya atau tidak, wanita itu berulang kali mengirimkan penculik untuk menculik ku, jika bukan karena bantuan dari Kak Arya dan Kak Bagas, aku mungkin sudah kehilangan nyawaku karenanya"
Ayah Reva tercengan mendengar setiap kata yang diucapkan oleh anaknya. Selama ini ia memang tidak pernah mengetahui apa yang terjadi pada putrinya. Ia terlalu sibuk bekerja membuatnya buta dan tidak menyadari semua perbuatan dari istrinya itu.
"Karena itu lah, aku tidak perduli lagi apa yang akan papa lakukan. Jika papa ingin membelanya silahkan. Jika tidak, itu terserah papa. Aku tidak akan ikut campur" Lanjut Reva kemudian
"Maafkan Papa, Reva.. Papa benar-benar bodoh karena tidak mengetahuinya" Lirih Ayah Reva merasakan sesak di dadanya karena kebodohannya
"Jika dipikir-pikir lagi, selain kata maaf, tidak ada lagi yang bisa Papa katakan padaku" Ucap Reva tanpa perasaan apapun
"Aku benar-benar bingung harus bagaimana bersikap terhadap Papa. Aku kecewa dengan semua sikap Papa selama ini, tapi di sisi lain Papa adalah Ayah kandung aku. Satu-satunya keluargaku saat ini, karena Mama yang entah dimana sekarang"
__ADS_1
Ayah Reva tertegun diam. Semua yang dikatakan Reva benar adanya. Ia bukan seorang Ayah yang baik. Ia tidak pantas menjadi seorang Ayah. Bahkan saat anaknya membutuhkannya ia justru membela istri dan anak tirinya. Selain penyesalan, tak ada lagi yang bisa ia rasakan.
"Sudahlah Pa.. Maaf karena aku sudah bersikap keterlaluan, akhir-akhir ini aku tidak bisa mengontrol emosiku dengan baik" Ucap Reva memijat kepalanya tak ingin melanjutkan pembicaraan yang semakin membuatnya merasa buruk ini
"Dan juga, besok aku akan pulang. Untuk pernikahan ku dan Nevan, aku akan menghubungi Papa untuk kelanjutannya. Dan untuk masalah wanita itu, aku tidak akan ikut campur karena semua yang terjadi padanya atas perintah dari Nevan"
"Sebelum pergi, boleh Papa memelukmu?" Pinta Ayah Reva, menatap putrinya penuh harap
Reva lalu tersenyum simpul sembari merentangkan tangannya menyetujui. Keduanya lalu berpelukan. Dengan Ayah Reva yang sedikit terisak dalam pelukan putrinya.
"Dia sepertinya mengurus.. " Batin Reva menyadari kondisi tubuh ayahnya yang tidak seperti sebelumnya
"Kalau begitu Papa pergi" Pamit Ayah Reva setelah meelpas pelukannya
Reva hanya mengangguk mengiyakan, matanya kini berkaca-kaca menahan air matanya untuk tidak terjatuh.
Sampai akhirnya, Nevan masuk ke dalam ruangan. Barulah, tangis Reva pecah.
"Aku mengatakannya Nevan " Ucap Reva dengan Nevan yang kini memeluknya erat "Aku berkata jika aku kecewa pada Papa" Lanjut Reva yang entah merasa menyesal atau lega karena mengungkapkan isi hatinya, perasaanya campur aduk
"Tidak apa-apa... Ayah kamu memang sudah seharusnya diberitahu, jika tidak ia pasti akan terus menerus dibodohi oleh ibu dan anak itu" Ucap Nevan menenangkan
"Soal wanita itu, Papa tidak akan ikut campur. Tapi ia akan tetap mengurus kedua anaknya"
"Itu keputusan yang bijak. Meski aku tidak mengerti mengapa dia harus membuang-buang waktu mengurus anaknya" Ucap Nevan melepas pelukannya lalu kembali naik ke atas kasur dan berbaring di samping Reva
"Sudahlah, membahas mereka membuat moodku memburuk" Ujar Reva tak ingin mengungkit ibu tiri dan saudara tirinya lagi
"Istirahatlah, kamu pasti lelah seharian ini" Tutur Reva menarik selimut dan menutupi tubuh keduanya
"Bukankah itu kamu.. " Reva menoleh dan menyenggol perut Nevan
Nevan hanya tersenyum simpul, ia memang sedikit lelah seharian ini. Jika bukan karena Reva ia mungkin tidak akan ingat untuk pulang apalagi beristirahat.
__ADS_1