
Karena masalah yang ditimbulkan Reva, Rehan jadi menaruh seluruh perhatiannya pada Reva. Seperti seharian ini, ia hanya menghabiskan waktunya di kamar Reva, membaca semua dokumen yang baru dibawah oleh asistennya.
"Sampai kapan kamu akan mengurung ku di rumah ini?" Tanya Reva dengan suara serak
"Entahlah.. " Jawab Rehan tidak tahu karena ia hanya ingin membuat Reva bwrada di sisinya saja
"Dasar egois, aku bukan binatang piaraan Rehan. Aku manusia dan aku memiliki kehidupanku sendiri" Ujar Reva
"Aku hanya ingin kamu tetap berada di sisiku, tidak ada yang salah dengan hal itu" Ujar Rehan dengan raut tanpa dosa sama sekali
"Aku tidak bisa.. Aku tidak memiliki perasaan terhadapmu, selain itu aku sudah terlebih dahulu menganggapmu sebagai kakakku, apa itu masih belum cukup untukmu"
"Tidak. Aku menginginkan status sebagai pasanganmu bukan saudaramu. Dan lagi, aku ingin melihat Nevan menderita"
"Bahkan setelah melihatku terluka seperti ini?"
Rehan seketika menoleh ke arah Reva yang kini duduk bersandar di kasur seraya menatapnya dengan mata berkaca-laca namun begitu tajam.
"Jadi apa yang harus aku lakukan agar kamu berhenti melukai dirimu?"
"Biarkan aku pergi" Jawab Reva tegas
"Tidak bisa. Aku tidak menginginkannya, jadi kamu harus tetap tinggal di rumah ini, tepat di sisiku" Ujar Rehan balik menatap Reva tak mau kalah
"Kamu benar-benar egois Rehan" Ucap Reva sebelum akhirnya kembali berbaring dan membelakangi Rehan
"Aku tidak punya pilihan lain" Ucap Rehan lirih
Reva hanya terdiam tidak mengubris lagi ucapan Rehan. Baginya semua itu hanyalah alasan yang dibuat oleh Rehan.
...***...
Di sisi lain, Nevan yang sudah lebih baik dari sebelumnya memutuskan untuk bergerak malam hari ini terutama karena panggilan mendadak dari Reva.
__ADS_1
Rangga yang sudah mempersiapkan semuanya, hanya menunggu perintah dari Nevan. Begitu pun dengan Anggi dan orang tua Nevan yang memilih masuk melalui gerbang rumah Rehan disaat Nevan masuk dengan menggunakan helikopter.
"Apa Tuan baik-baik saja?" Tanya Rangga untuk kesekian kalinya karena begitu khawatir akan kondisi Nevan yang masih belum sepenuhnya pulih dari luka kecelakaan nya
"Aku baik-baik saja Rangga, berapa kali aku harus memberitahumu hal ini" Ucap Nevan mulai kesal dengan sikap Rangga
"Kalau begitu, Tuan harus janji, tidak boleh turun tangan langsung kecuali dalam keadaan mendesak. Biar saya yang melakukannya, Tuan" Pinta Rangga yang entah sejak kapan begitu posesif akan kesehatan Nevan
"Aku akan berusaha.. " Jawab Nevan lirih karena ia yakin akan sulit untuk memenuhi permintaan barusan
Bahkan sebelum ia bisa menyadarinya, tubuhnya sudah pasti akan bergerak tanpa ia sadari jika itu berkaitan dengan Reva.
....
Nevan bersama dengan Rangga dan juga Intan yang kebetulan ingin ikut dalam aksi malam itu, dijemput dengan helikopter di atas gedung rumah sakit.
Ketiganya dilengkapi dengan pistol masing-masing. Meski baru pertama kali menyentuh benda berbahaya itu, Intan tetap memberanikan diri karena bagaimana pun ia merasa begitu bersalah akan apa yang terjadi pada Reva, bahkan setelah semua yang dilakukan untuknya selama ini.
"Iya. Aku baik-baik saja, kamu tidak perlu khawatir" Jawab Intan menganggukkan kepalanya
"Ingat untuk tidak berpisah denganku, utamakan keselamatan mu dan bayimu" Pinta Rangga menasehati
Nevan yang melihat interaksi keduanya, sontak memainkan wajahnya mengingat ia yang dulu pernah hampir memiliki bayi namun dalam sekejab sirna begitu saja karena keteledoran nya.
......
Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk tiba di kediaman Rangga. Nevan yang sedari tadi merasa gugup sekaligus takut jika terjadi sesuatu pada Reva tak sabar untuk segera turun dan mengepung kediaman itu.
"Persiapkan peralatan kalian, sangat mungkin bagi mereka untuk menyadari keberadaan kita, terutama karena Rehan yang begitu teliti selama ini" Perintah Nevan bersiap memberikan aba-aba pada anak buah yang lainnya
"Rehan tengah sibuk di ruangan Reva. Dari yang aku dengar, dokter berulang kali masuk ke dalam kamar itu" Ucap Intan memberitahu informasi yang didapatnya dari informan nya sendiri
"Dokter?" Tanya Nevan menatap Intan dengan alis bertaut
__ADS_1
"Sepertinya Reva sedang sakit, karena itulah Rehan secara langsung menjaganya di kamarnya. Kita bisa memanfaatkan keadaan ini, disaat perhatiannya teralihkan pada Reva" Usul Intan mencoba memanfaatkan keadaan yang diberikan oleh Reva
Nevan tahu jelas hal itu, namun meski begitu ia tetap tidak bisa begitu saja mengontrol dirinya untuk tidak merasa khawatir, khususnya karena Reva yang tiba-tiba sakit membuatnya semakin takut jika saja Reva bertindak berlebihan dan menyakiti dirinya sendiri.
"Perintahkan semuanya untuk bergerak, kepung tempat ini sekarang juga" Perintah Nevan berusaha tetap tenang meski tetap terburu-buru
"Kepung tempat ini" Ucap Rangga meneruskan perintah Nevan pada walkie talkie yang dipegangnya
......
Di sisi lain, Anggi bersama dengan yang lainnya memilih masuk melalui gerbang depan kediaman itu. Selain Anggi dan orang tua Nevan, Siska yang sebelumnya menjadi informan untuk mereka, ikut dalam pengepungan itu. Tak ada satu pun yang tahu, motif yang sebenarnya dari dirinya. Namun janji tetap janji, karena itulah Anggi menbiarkannya untuk ikut bersama dengan mereka.
"Bagaimana keadaan Nevan?" Tanya Anggi pada Arya yang sedari tadi tetap berkomunikasi dengan Rangga
"Mereka sudah mulai bergerak.. " Jawab AryaArya setelah mendapat pesan dari Rangga
"Kalau begitu, kita juga harus bergerak sekarang. Aku sudah tidak sabar untuk menggerakkan tubuhku yang sudah terasa kaku ini" Ucap Bagas yang sedari tadi melakukan pemanasan
Mereka bergerak tanpa satu pun strategi, karena satu-satunya tujuan merka saat ini adalah menerobos masuk ke dalam kediaman itu bahkan jika harus membunuh para pengawal yang berjaga di gerbang kediaman.
Hal itu tak berbeda jauh dengan Nevan yang sedari tadi memantau dari ketinggian, membiarkan para anak buahnya memulai terlebih dahulu.
.......
Tanpa berlama-lama lagi, Arya langsung menyalakan kembali mobilnya, sementara Bagas berdiri tepat di bagian tengah mobil, dengan sedikit memperlihatkan kepalanya dengan pistol yang siap membidik siapapun yang berniat menghentikan mobil itu.
Kediaman yang tadinya tampak begitu sepi kini dipenuhi suara letusan peluru dan teriakan orang-orang yang meringis menahan sakitnya timah panas itu menembus kulit.
Baik di area luar ataupun dalam, kediaman itu benar-benar habis diporak-porandakan oleh keluarga Nevan dan yang lainnya. Lokasinya yang berada jauh dari permukiman warga membuat mereka semakin semena-mena dalam bertindak.
Namun meski begitu, pemilik dari kediaman itu justru masih belum menampakkan dirinya seolah tidak perduli dengan nyawa anak buahnya yang melayang di tangan musuhnya.
......
__ADS_1