
*****
Matahari menyinari masuk melalui celah-celah jendela kamar bernuansa pink itu. Dimana seorang gadis masih bergantung di tengah matahari yang terik itu. Sinar itu akhirnya membuat Aileen membuka matanya perlahan dengan malas.
Tubuhnya menggeliat, dapat ia rasakan sakit di kepalanya dan perut bergejolak seperti akan memuntahkan sesuatu. "Oh tidak! Kenapa perutku mual-mual begini?"
Kemudian Aileen tercengang katanya dia melihat sesosok pria berbadan besar tengah berdiri di dekat jendela. "Sudah bangun?" Sambut pria itu dengan suara bariton rendah khasnya.
"Papa?"
Leon berjalan mendekati putrinya yang masih terduduk di atas ranjang. Pandangan matanya begitu retoris dan tajam. "Beraninya kau mabuk-mabukan! Bukankah papa seringkali mengingatkanmu untuk tidak meminum minuman haram itu. Tapi ternyata–" seloroh pria itu menggantung ucapannya.
Gadis itu tidak menjawab, dia masih teringat kejadian kemarin dimana Leon memarahinya. Sebenarnya di dalam hati ia bertanya-tanya bagaimana caranya ia pulang ke rumah semalam, tapi dia menyimpan dulu pertanyaan itu.
Dengan cueknya Aileen beranjak dari ranjang, kemudian dia berjalan mendekati kamar mandi di kamar itu dengan tertatih-tatih.
"Aileen Sheravina Xavier!" Seru Leon dengan intonasi suara yang meninggi dan membuat Aileen terdiam.
"Apa Pa?" Sahut Aileen tanpa menoleh ke arah Leon yang sedang menatap dirinya dengan cemas.
"Jangan dulu ke kamar mandi, papa sudah siapkan sup agar kau tidak mual-mual dan pusing lagi. Makanlah dulu, Ai." Titah Leon dengan begitu perhatian.
"Tidak usah sok perhatian padaku Pa, bukankah kemarin papa bilang Kalau Papa tidak akan peduli lagi kepadaku? Sana, pedulikan saja calon istri papa itu." Seloroh Aileen sambil membuka pintu kamar mandinya.
Kalau aku menjadi nakal, apakah papa akan lebih peduli padaku seperti ini pa? Atau papa malah akan semakin membenciku? Fine...aku akan hidup dengan bebas Pah, seperti apa yang papa inginkan.
Leon menatap putrinya dengan sendu. "Ai…walaupun nanti papa dan Tante Celia menikah, kasih sayang papa padamu tidak akan pernah surut sayang."
Kasih sayang?
Tidak akan pernah surut?
Sepertinya Leon salah, bagi Aileen kasih sayang Leon sudah sepenuhnya tercurah kepada Celia bukan dirinya lagi. Terbukti dari sikap Leon akhir-akhir ini dan terakhir kemarin saat tangan Celia terbakar.
"Sudahlah pa, jangan bicara omong kosong lagi! Lebih baik papa urusi saja dia daripada aku." kata Aileen lalu masuk ke dalam kamar mandi, dia bahkan sampai menendang pintu itu dengan keras.
BRAK!
Pria itu menghela nafas panjang, dia mengelus dadanya mencoba untuk sabar menghadapi tingkah kekanak-kanakan Aileen.
Leon mendekati pintu kamar mandi itu, lalu dia bicara. "Ai, kalau udah mandinya…kau harus makan sup dan minumannya ya. Dan papa tunggu dibawah, kita harus bicara."
Tidak ada jawaban dari gadis yang berada di dalam kamar mandi itu, hanya suara gemericik yang terdengar di sana. Mungkin Aileen sudah memulai ritual mandinya, pikir Leon dalam hati. "Aku harus minta maaf padanya nanti."
__ADS_1
Kemudian pria itu pun keluar dari kamar Aileen dengan lesu.
****
Matahari semakin terik dan waktupun sudah menunjukkan pukul 12.30. Aileen belum turun juga dari kamarnya, padahal Leon ingin bicara dengan putrinya itu.
Ketika Leon akan menyusul putrinya ke lantai atas, tiba-tiba saja suara bell menghentikan langkahnya.
Ting tong!
Terlihat Ratna berjalan dari arah dapur menuju ke pintu depan. "Tidak usah bik, biar saya saja." Kata Leon pada Ratna.
"Iya Tuan."
"Bibik tolong bujuk Aileen saja di kamarnya, suruh dia turun karena saya ingin bicara dengannya."
Ratna tersenyum seraya menganggukkan kepalanya dengan patuh. Wanita paruh baya itu pun menaiki anak tangga menuju ke kamar Aileen.
Sementara Leon pergi ke pintu depan untuk membuka pintu dan melihat siapa yang datang. Beberapa saat setelah membuka pintu rumah itu, Leon mengerutkan kening saat melihat kekasihnya berada disana.
"Sayang, kenapa kau terlihat tidak senang aku datang kemari?"
"Tidak sayang! Bukan begitu." sergah Leon sambil menggelengkan kepalanya.
"Sayang, masuklah dulu. Kita bicara di dalam ya!" Leon menarik tangan kekasihnya dan menggandengnya, mereka berdua pun masuk ke dalam rumah.
*****
Di sebuah bandara, tepat di toilet wanita, terdengar suara dessahan dan errangan menggema di salah satu bilik toilet itu hingga membuat pintunya bergetar hebat.
"Aahh…terus sayang, tusuk aku!" Kata wanita itu dengan binalnya, ketika seorang pria tampan menghujamnya dengan posisi doggyy stylle.
"Aku tau kau akan menyukainya Jenny!"
"Sam…aku bukan Jenny, aku Frisa." Sahut Frisa dengan nafas terengah-engah menerima serangan bertubi-tubi dari pria tampan bak dewa Yunani itu. Pria itu adalah Samuel Revaldo Ginting salah satu pebisnis muda yang hebat di bidang perhotelan.
"Siapapun dirimu itu tidak penting, yang penting aku akan memuaskanmu…" ucap Sam sambil memegangi pinggul wanita itu.
Dreett…
Dreett…
Ponsel pria itu berbunyi, terus menerus di dalam saku celana Sam. "Siapa? Mengganggu saja!"
__ADS_1
Ponsel itu terus berdering dan membuat Sam tidak berkonsentrasi dalam kegiatan panasnya. Ia pun menghentikan kegiatan itu lalu mengangkat teleponnya. "Sam?" Kata Frisa yang kecewa karena Sam menghentikan kegiatan panasnya.
"Sudah selesai! Aku tidak bernafsu lagi, pergilah." Titah Sam lalu menyerahkan sebuah kartu pada Frisa. "Isinya cuma 50 juta, kau habiskan saja semua."
Frisa merapikan kembali bajunya setelah menerima kartu itu, matanya berbinar-binar. "Thanks honey."
Setelah Frisa pergi dari bilik toilet itu, Sam pun mulai bicara dengan seseorang di telponnya. "Ada apa Ma?......sudah ku katakan pada mama kalau aku tidak mau dijodohkan!........cantik? Banyak perempuan cantik, Ma…..sudah kubilang aku tidak mau!"
Tut…
Sam menutup teleponnya secara sepihak dan dia gusar sekali mendapatkan telepon dari ibunya. Kemudian ponselnya kembali berbunyi dan kini ada pesan masuk di dalamnya. Sam membuka pesan dari mamanya itu dan dia melihat foto yang dikirimkan padanya. Seorang wanita cantik, berkulit putih dan memiliki mata polos, dengan rambut panjang yang terlihat imut.
"Cantik sekali." Gumam Sam sambil tersenyum memandangi foto itu. "Mungkin usianya sekitar 17 tahun. Boleh juga buat koleksi." Imbuhnya lagi.
Setelah kegiatan panasnya di toilet bandara, dia pun pergi dari sana. Disisi lain Celia sedang bersama dengan Leon di rumahnya dan makan siang bersama.
Meski Aileen tidak suka dengan kehadiran Celia tapi dia menahan diri dan makan saja dengan lahap, tanpa peduli dengan dua orang didepannya.
"Ai…maafkan papamu ya sayang," Celia tiba-tiba memulai pembicaraan lebih dulu.
Aileen terlihat cuek dan tetap melanjutkan makannya tanpa merasa terganggu oleh Celia.
"Ai, Tante Celia sedang bicara denganmu. Tolong dengarkanlah sayang." Lirih Leon lembut pada putrinya.
"Ya, aku dengar." Jawab Aileen singkat.
Celia pun mulai berbicara panjang lebar tentang kejadian kemarin dan dia juga turut meminta maaf karena telah membuat Aileen disalahkan. Tapi apapun yang dikatakan oleh Celia, terdengar seperti alasan pembelaan. Namun pada akhirnya Leon meminta Aileen untuk meminta maaf pada Celia.
"Oke, maaf ya Tante Celia…Aileen gak sengaja. Sudah kan pah?" Kata Aileen lalu beranjak dari tempat duduknya setelah makanan di piringnya habis.
"Aileen sayang.." Leon menatap putrinya dengan sendu.
"Aileen ke kamar dulu pa, Tante." Gadis itu tampak lelah dengan sikap Leon yang hanya peduli pada perasaan kekasihnya itu tanpa peduli pada perasaannya.
'Aku bahkan baru memulai, masa aku harus sudah ini menyerah mendapatkan cinta papa?'
"Aileen tunggu! Papa punya seseorang yang ingin papa kenalkan padamu, dia adalah saudara jauh Tante Celia."
"A-apa maksud papa?" Tanyanya seraya menoleh kembali pada papanya.
"Dia anak yang baik, seseorang yang usianya jauh lebih tua 5 tahun darimu. Papa rasa dia akan cocok denganmu." jelas Leon sambil tersenyum.
Namun Aileen terlihat kesal mendengar ucapan papanya. Apa maksudnya Leon ingin menjodohkan dia dengan pria lain agar dia tidak mengganggu hubungannya lagi dengan Celia?
__ADS_1
...*****...