
...πππ...
Siang itu di Hotel Samudra.
Kala itu Sam baru saja selesai melihat-lihat kinerja para karyawannya. Rencananya ia akan pergi menemui Aileen seperti biasa, dia tidak pernah menyerah untuk mendapatkan cinta dari gadis itu. Walaupun sudah jelas Aileen sudah ada yang punya.
"Selama janur kuning belum melengkung , masih aman." gumam Sam yang baru saja keluar dari lift bersama sekretaris barunya bernama Rian.
"Rian, sudah kamu pesankan bunganya?" Sam menoleh pada Rian yang sedari tadi mengekornya dari belakang.
"Sudah Presdir, anda tinggal mengambilnya saja. Atau mau saya ambilkan?" tawar Rian dengan sopan.
"Tidak usah, biar aku saja sendiri. Kamu disini saja dan awasi manajer hotel. Kalau terjadi sesuatu, segera hubungi aku!" titah Samuel pada Rian.
"Baik pak!" Rian menunduk patuh.
Sam terus berjalan dengan semangat, sampai langkahnya terhenti saat mendengar berita kurang menyenangkan dari orang-orang yang berlalu lalang di hotel itu.
"Tidak disangka ya, ternyata tuan Leonardo Xavier itu adalah orang yang haus kekayaan dan juga bengis." celetuk seorang wanita pada pria yang ada disampingnya.
__ADS_1
"Aku juga tak percaya, dia dengan tega membunuh tuan Mark Arlando, merebut harta kekayaannya juga merusak putrinya." sahut pria itu.
"Ckckck....mana mungkin dia mau merawat putri dari sahabatnya bila tidak ada apa-apanya kan?"
"Kau benar juga sayang dan sekarang tuan Leon dipenjara!"
"Jelas saja, keluarga Arlando bukan keluarga sembarangan. Dia tidak akan mudah bebas dari penjara." jelas si wanita yang mengetahui betapa berkuasanya Arlando grup, terutama Ericko Arlando. Walaupun sudah tua, ia mampu membuat satu perusahaan menghilang dalam hitungan menit dalam sekejap mata.
Glek!
Sam menelan salivanya kasar, kontan tatapannya berubah menjadi tegang. Apa maksudnya semua ini?
*****
Xavier grup menjadi kacau, kini berita tentang Leon telah menjadi guncangan besar bagi perusahaan itu. Bahkan beberapa pemegang saham menarik inves mereka dalam satu hari dan dalam sekejap mata.
Bram dan Aileen terlihat sibuk menangani perusahaan itu yang sekarang tengah berada dalam huru-hara. Niat Aileen sedari tadi yang ingin menemui Leon, terpaksa harus tertahan karena ia membantu Bram di kantor.
"Om...kenapa semuanya begini? Papa kan tidak mengambil hartaku, papa juga tidak menyiksaku! Ini semua tidak benar, om. Bagaimana ini om? Bagaimana nasib papa? Om..." rengek Aileen pada Bram yang juga bingung.
__ADS_1
Bram tidak menjawab dan memijat pelipisnya dengan kesal. Ia tidak baik menjawab semua keresahan Aileen, sebab ia juga resah.
"Om....pengacara pasti bisa membantu papa dengan jaminan kan?"
"Seandainya saja itu bisa, tapi masalahnya tidak sesederhana itu Ai! Orang yang melaporkan papamu, memiliki bukti palsu yang kuat."
Ya, bukan tanpa alasan yang kuat bila seseorang langsung ditangkap. Pasti ada bukti yang mendukung semua itu, apalagi ada surat dari kejaksaan.
"Lalu kita harus gimana om? Siapa sih orang yang sudah melaporkan papa?" gumam gadis itu resah.
"Ericko Arlando, kamu tau kan siapa dia Ai?" kontan Bram menoleh pada Aileen.
"Kakek kandung aku, om. Aku tau dari papa." gumam Aileen pelan. Ia ingat jelas Leon pernah mengatakan bahwa kakeknya bukan orang baik dan bukan tanpa alasan, Mark pergi menjauh dari Ericko.
Tiba-tiba saja Aileen menyambar tas selempangnya. Gadis itu lalu berlari dari sana dengan buru-buru.
"Aileen! Kamu mau kemana? Aileen!" panggil Bram sambil mengejar Aileen, namun gadis itu sudah lebih dulu masuk lift.
"Shitt! Jangan-jangan Aileen mau menemui Ericko! Tidak, Leon mengatakan padaku dia tak boleh bertemu dengannya seorang diri!" seru Bram yang buru-buru menyusul Aileen.
__ADS_1
...***...