
...πππ...
Gadis itu kehilangan kesadaran, dia memanggil nama papanya sebelum kesadarannya menghilang. Terlihat beberapa luka di tangannya dan paling parah pada kepala. Sebab banyak darah keluar dari kepalanya.
Sementara si pelaku kembali ke pesta tanpa merasa bersalah, mereka berpisah dan bersikap seolah tak terjadi apa-apa. Dalam hati Daniel merasa bersalah meninggalkan Aileen seorang diri disana, bagaimana bila gadis itu mati?
Pasalnya dia terjatuh dari tangga dengan cukup keras dan dari ketinggian yang lumayan. Namun Celia kembali meyakinkannya bahwa nanti akan ada yang menolong Aileen, yaitu Sam. Lain halnya dengan Daniel, Celia tidak merasa bersalah sedikitpun.
Sesampainya di pesta, Celia mendekati Sam yang sedang mencari seseorang di pesta itu. Ya, dia mencari Aileen untuk melancarkan rencananya menggagahi Aileen. Dan disisi lain Leon masih sibuk dengan urusannya sendiri, ia bahkan tak sadar Celia dan Aileen tidak ada disana tadi.
"Sam, Tante mau bicara sebentar sama kamu!" bisik Celia pada keponakannya itu.
"Ada apa Tante? Aku lagi cari Aileen."
"Tante bakal kasih tau kamu dimana dia, tapi kamu harus bantu Tante hapus rekaman cctv di tangga darurat hotel ini!"
"Apa maksudnya?" Sam mengernyit, ia tak paham apa yang dibicarakan oleh tantenya itu. Pada akhirnya Sam menurut dan meminta bagian cctv untuk menghapus rekaman di tangga darurat. Namun sepertinya Celia dan Daniel sedang beruntung karena rekaman cctv di tangga darurat itu sedang rusak.
"Tante...sekarang bilang sama aku, dimana Aileen? Aku ingin menjamah tubuhnya."
"Dia ada di tangga darurat, entahlah dia masih ada disana atau tidak."
"Hah? Apa maksud Tante?" Sam semakin tak paham dengan potongan kata yang dikatakan oleh tantenya.
"Ya, kamu lihat saja sendiri disana." kata Celia dengan santainya. Sam jadi bertanya-tanya apa yang dikatakan Celia tentang Aileen, begitu ambigu.
Sam pun berjalan menunggu ke tangga darurat untuk melihat apa yang terjadi. Disaat yang bersamaan, seorang pria datang ke pesta dengan baju yang sedikit berdarah dan wajahnya panik.Dia adalah salah satu pegawai office boy disana.
Pegawai berpakaian serba biru itu berjalan ke tengah pesta sambil membawa ikat rambut berhiaskan bunga berwarna biru. Seketika atensi Leon terarah pada si office boy yang sedang bersama seorang satpam. Dia diikuti oleh Bram juga, langsung menuju pada si office boy dan satpam.
"Tolong pak! Di bawah tangga darurat ada seorang wanita yang tergeletak tidak sadarkan diri! Saya sudah panggil ambulan!" lapor si Ob itu pada satpam.
__ADS_1
"Baik, mari kita lihat dia!"
"Tunggu! Itu jepit rambut...." Leon terlihat mengenali jepit rambut bunga itu.
Itu bukannya milik Aileen?
"Bapak kenal pemilik jepit rambut ini?" tanya si office boy masih dengan wajah cemasnya.
"Leon, sepertinya itu milik Aileen...aku melihatnya memakai jepit rambut itu tadi." bisik Bram meyakinkan Leon bahwa jepit rambut itu milik Aileen.
"Iya, jepit rambut itu sepertinya milik putri saya." kata Leon dengan kening berkerut dengan mata menatap jepitan bunga biru itu. "Lalu dimana pemiliknya?" tanya Leon kemudian.
"Mari ikut saya pak!" tukas si office boy itu mengajak Leon pergi ke tempat Aileen berada.
Seorang petugas keamanan dan Bram juga mengikuti langkah mereka. Mereka pun tiba di bawah anak tangga darurat, terlihat seorang gadis tergeletak disana. Mata Leon membulat melihat pakaian yang dikenakan oleh gadis itu, begitu pula dengan Bram. Dia langsung berlari menghampiri Aileen. "Ai...kamu kenapa sayang? Aileen...." kedua tangan Leon memegangi Aileen yang kini tidak sadarkan diri. Jantung Leon seakan berhenti disana begitu melihat Aileen terluka.
Kenapa ini bisa terjadi? Aileen...sayangku.
!" titah Leon tanpa basa-basi.
"Tidak usah pak, saya sudah menghubungi ambulan... sebentar lagi pasti datang." sahut si office boy itu.
"Kalau begitu...Bram telpon polisi!" ujar Leon dengan mata memerah, kedua tangannya memeluk Aileen yang berdarah-darah.
"Baik, Yon." jawab Bram, lalu dia mengeluarkan ponselnya dan segera menelpon polisi. Bram dapat melihat bahwa Leon marah, sedih, khawatir.
Tanpa mereka sadari, Celia dan Sam melihat itu dari kejauhan. Tante dan keponakan itu berusaha berpura-pura kaget. Walau sebenarnya Sam memang kaget sungguhan ,tidak seperti Celia yang sedang akting.
Sam menatap Aileen yang terluka dengan tatapan sendu. "Aileen..."
Apa Tante yang melukai Aileen?
__ADS_1
Leon menggendong tubuh putrinya begitu beberapa petugas ambulan datang kesana dan bersiap membawa Aileen pergi ke rumah sakit.
"Kau! Aku akan menuntutmu bila terjadi sesuatu pada Aileen!" serka Leon dengan mata penuh kilat emosi pada Sam. Menurutnya hal ini terjadi di hotel Sam, maka Sam yang harus bertanggung jawab. Apalagi Sam yang membawa Aileen ke pesta.
Sam tidak berani buka suara, dia melihat kepergian Aileen dan Leon dengan cemas. "Tante juga harus ke rumah sakit, Sam...Tante pergi dulu." Celia pamit pada Sam karena dia akan menyusul Leon ke rumah sakit. Tentu saja dia harus berakting seperti peri.
"Tunggu Tante! Apa Tante yang celakai Aileen?" tanyanya seraya mencekal tangan tantenya.
"Bu-bukan..."
"Tante!"
"Bukan tante tapi--" kata Celia menggantung disana. Lalu dia menepis tangan Sam dan memilih mengabaikan pria itu.
"Tante! Tante! Astaga... Aileen. Aku harus menyusulnya ke rumah sakit. Aku harus tau keadaannya. Ya Tuhan semoga dia baik-baik saja." gumam Sam sambil memegang dadanya.
Dia meninggalkan pesta perayaan ulang tahun perusahaannya dan meminta sekretarisnya mengurus hal itu. Sungguh Sam mencemaskan keadaan Aileen, jantungnya berdegup kencang, takut terjadi sesuatu padanya. Apalagi saat melihat luka Aileen cukup parah.
*****
Aileen dibawa ke ruang UGD, begitu dia sampai di rumah sakit. Darah segar masih mengalir dari kepalanya. Beberapa perawat menekan darah itu dengan kain untuk sementara waktu.
"Maaf pak, bapak tidak bisa ikut ke dalam!" seorang perawat menghadang Leon yang akan masuk ke dalam ruangan itu.
"Baik! Tolong selamatkan Putri saya! Tolong!" Leon memelas seraya memohon pada perawat itu.
"Kami akan melakukan yang terbaik pak." sahut perawat itu lalu pergi ke dalam ruang UGD.
Sementara Leon melihat ruangan itu dengan cemas. Dia mengusap wajahnya dengan kasar, mondar-mandir tidak karuan. Bahkan dia menangis, ketakutan.
"Ya Tuhan...semoga Aileen baik-baik saja."
__ADS_1
...****...