
...đđđ...
Sorot mata Leon gemetar melihat kedua anak kecil didepannya itu. Tangannya membelai pipi Alea, wajah Alea mirip dengan wajah Aileen saat masih kecil. Namun kedua matanya berwarna abu-abu dan mirip dirinya.
Lalu Alexander, ia seperti cetakan Leon versi junior. Bram juga mengakui kemiripan Leon dan Alexander. Tanpa tes DNA sekalipun, Leon yakin bahwa kedua anak ini adalah darah dagingnya.
Sayang, kau telah membesarkan anak-anak kita seorang diri? lirih Leon membatin.
"Kalian kembar?" tanya Leon seraya melirik pada Alexander dan Alea bergantian.
"Iya tuan, aku Alea...dan ini Alexander kakakku!" kata Alea dengan wajah polosnya.
DOR!
DOR!
Suara tembakan terdengar cukup keras dan membuat Leon, Bram juga orang-orang yang disana terkejut. Kini orang-orang Eriko yang bersenjata api dan berjumlah belasan orang itu mengepung Leon, mereka hendak membawa Alea dan Alexander.
"Bram bawa mereka!" titah Leon pada Bram untuk membawa Alea, Erina dan Alexander ke tempat yang aman.
"Oke!" Bram meminta Erina dan si kembar untuk masuk ke dalam mobil. Erina dan Alea sudah masuk ke dalam mobil, tapi Alexander masih ada di luar sana berdiri disamping Leon.
"Kenapa kamu masih disini, nak? Cepatlah masuk, diluar sini berbahaya!" kata Leon dengan posisi siap siaga untuk mengambil pistolnya di dalam saku.
"Tuan, saya ingin ikut menyelamatkan mommy saya,"
"Nak, biar Daddy saja yang menyelamatkan mommymu."
"Daddy?"
"Aku Daddymu, nak." jawab Leon seraya tersenyum. Alexander tertegun mendengar jawaban Leon yang mengaku sebagai daddynya. Matanya mengembun.
Benarkah pria ini adalah daddyku? Pantas saja rasanya begitu berbeda.
"Cepat pergilah! Daddy harus membawa mommymu dulu," ucap Leon seraya mengusap lembut kepala Alexander.
"Tolong bawa mommy kembali,kau harus janji padaku... kemudian aku akan memanggilmu Daddy." cetus Alexander pada daddynya.
Leon mengulas senyum sendu, "Baiklah nak, Daddy janji!" jawab Leon mantap.
Setelah itu Alexander naik mobil bersama Bram sebagai supirnya. Mereka pergi dari sana menuju ke tempat aman dengan dikawal 10 orang anak buah Leon dan 10 anak buah Leon yang lainnya , menemani Leon untuk menyelamatkan Aileen.
"Kejar dua anak itu!" seru seorang pria yang diketahui adalah pemimpin dari orang suruhan Eriko.
"Baik!" jawab lima orang itu yang hendak menaiki motor sport mereka.
Namun Leon tanpa ampun menghentikan pergerakan mereka dengan pistol yang dibawanya. Tadinya dia yang lembut, mulai menunjukkan sisi iblis dalam dirinya.
DOR! DOR! DOR!
"Ackkk!!!"
"Langkahi dulu mayatku sebelum kalian ingin mengejar anak-anakku!" desis Leon emosi.
Dia dan anak buahnya mencoba menghentikan anak buah Eriko yang ingin mengejar Alexander dan Alea. Leon tidak akan pernah membiarkan kedua anaknya terluka.
Dalam hitungan menit, 10 orang anak buah Eriko berhasil di kalahkan oleh Leon seorang diri dan ini membuktikan bahwa pria itu tidak selemah dulu. Dia lebih kuat dari 5 tahun yang lalu.
Leon dan anak buahnya berjalan meninggalkan anak buah Eriko yang tergeletak di tanah. Mungkin juga ada yang mati, tapi Leon tak peduli. Yang ia pedulikan adalah Aileen, orang yang ia cintai dalam bahaya.
Ketika Leon berjalan, ia melihat seorang pria tergeletak. Entah itu musuh atau kawan, tapi pria yang sedang sekarat itu memanggil namanya.
__ADS_1
"Tuan Leonardo Xavier...anda datang juga," lirih Toni dengan nafas tersengal-sengal.
"Kau mengenalku?" tanya Leon pada pria itu, dia duduk jongkok di depan Toni.
"Saya yang mengirim...pesan...untuk an-da tuan..."
"Jadi--" Leon menatap Toni lalu memegang tangannya yang terasa dingin. Dia menatap lekat pria itu.
"Nona Aileen...dia akan dibawa...kepada Mr. X, Eriko...menjual-nya--"
"To--long sampaikan pada tuan muda dan nona muda--maaf karena saya...tidak bisa mene--pati janji..." ucap Toni lirih.
Kemudian Toni memejamkan matanya dan menghembuskan nafas terakhirnya. Leon merasa bahwa pria itu dekat dengan kedua anaknya dan juga Aileen dan ia yakin bahwa Toni orang baik.
"Urus dia dan buat pemakaman yang layak untuknya!" titah Leon pada salah satu anak buahnya. Dua anak buah Leon membawa jenazah Toni pergi dari sana.
Aku bahkan belum sempet berterimakasih atau menanyakan namamu tuan. Tapi terima kasih.
Leon dan anak buahnya sampai di mansion itu, mereka menerobos masuk melewati belasan orang yang tersisa disana. Terlihat beberapa pelayan disana, Leon tidak menyerang mereka dan hanya menyerang yang menghalangi jalannya saja.
Pria itu tidak menemukan keberadaan Aileen maupun Eriko disana. Apa mungkin Aileen sudah dibawa pergi oleh Ericko?
"Sial! Dia pasti sudah membawa Aileen pergi!" dengus Leon marah.
"Tuan! Pelayan ini bilang kalau dia tau kemana Eriko membawa nona pergi!" kata Frans sambil membawa seorang wanita paruh baya berpakaian pelayan.
"Katakan!"
"Tuan, nona dibawa ke Prancis."
"Prancis?" gumam Leon sambil menundukkan kepalanya.
Kali ini tujuannya adalah ke Prancis, ia akan menemukan Aileen bagaimana pun caranya.
Prancis, larut malam disebuah kapal pesiar mewah yang tengah berlayar. Aileen dibawa kesana oleh Eriko, semua senjatanya sudah dilucuti oleh Eriko dan dia tidak punya apapun lagi untuk kabur.
Mungkin ini akhir hidupnya, pikirnya dalam hati.
Aileen didandani setelah dia disiksa oleh Eriko, luka-lukanya ditutupi oleh make up. Namun wajah cantiknya masih terlihat ada luka lebam.
"Kalau saja kau tidak melawanku, aku tidak akan memukulmu!"
"Cuih!"
Aileen meludahi wajah kakeknya itu, dia sangat benci dengan kakeknya yang sudah membuat hidupnya menderita selama ini. Tapi semua itu ia lakukan demi menyelamatkan Leon. Dia tak pernah menyesalinya, yang dia sesalkan adalah memiliki kakek seperti Eriko.
"Beraninya KAU--" Eriko melotot dan hendak melayangkan tamparan ke wajah Aileen. Namun seseorang menahan tangannya.
"Ne salissez pas son beau visage ! M.X sera en colĂšre! (Jangan kau kotori wajahnya! Mr x akan marah)!"
Eriko mendorong Aileen pada pria itu, kedua tangan Aileen terikat kuat oleh tali. "D'accord! DĂ©pĂȘchez-vous et prenez-le (Baiklah, cepat bawa dia)!"
Pria berkebangsaan Perancis itu membawa Aileen ke dalam sebuah kamar. Mr. X ingin bertemu dengannya di kamar secara langsung. Setelah itu Eriko pergi begitu saja meninggalkan Aileen disana tanpa peduli keadaannya.
Di dalam kamar, Aileen dalam posisi terikat. Dia dibaringkan diatas ranjang dan matanya diikat kain hitam.
"Kau sangat cantik dan seksi meski matamu ditutup seperti itu," ucap pria bertopeng itu dalam bahasa Prancis. Ia terpana dan mengagumi kecantikan Aileen, apalagi tubuhnya.
Tangan pria itu meraba-raba paha mulus Aileen, gadis itu tak diam saja dan menendang perut si Mr.X.
"Jangan sentuh aku BAJINGAN!"
__ADS_1
"Kau galak juga rupanya? Tapi tidak apa-apa, aku suka!" cetus Mr. X, lalu mulai mendekati Aileen dan mengakangkan kedua kaki Aileen dengan paksa.
"LEPAS! LEPASKAN AKU!" Aileen berusaha merapatkan kedua kakinya dengan sekuat tenaga. Ia tidak mau kehormatannya direnggut seseorang yang bahkan tidak ia kenal. Selama ini ia menjaga kehormatan itu hanya untuk Leon.
"Woah... lihatlah ini, bahkan teriakanmu terdengar seksi, apalagi desahanmuu nanti. Aku jadi tak sabar," ucap Mr. X yang semakin tertantang untuk menyetubuhi Aileen.
"Lepas!!"
Mas Leon, Alex...Alea...maafkan aku.
DOR!
DOR!
Suara tembakan terdengar diatas kapal pesiar itu, sedangkan Aileen dan Mr. X berada di dalam kamar mewah lantai bawah ruangan itu.
"Ada apa?" Mr X menghubungi anak buahnya lewat alat yang ada ditelinganya. Namun sebelum ia selesai berbicara dengan anak buahnya, pintu kamar itu terbuka lebar dan hancur oleh seseorang.
"Siapa kau?!" hardik Mr.X kesal dengan kehadiran pria asing di kamarnya.
"Kau berurusan dengan orang yang salah dan kau menyentuh seseorang yang seharusnya tidak kau sentuh!" Leon menembak Mr. X namun meleset.
Dor!
"Jangan sampai tanganku tergelincir lagi, serahkan wanita itu baik-baik padaku!" ancam Leon pada Mr.X.
Deg!
Jantung Aileen berdegup kencang, ketika dia mendengar suara yang tidak asing. Suara yang ia rindukan selama 5 tahun terakhir ini.
Air matanya luruh mendengar suara itu, walau matanya tertutup tapi ia tidak tuli. Ia yakin suara itu adalah suara Leon.
Mas Leon...
Mr X dan Leon beradu kekuatan dengan perkelahian. Mr. X tidak mau melepaskan Aileen sebab dia sudah membayar milyaran dollar untuk Aileen. Mr. X merasa bahwa Leon bukan orang sembarangan dan tidak takut mati karena pria itu berani mengusiknya di wilayah kekuasaannya.
"Dia kuat juga," desis Leon sambil mengusap darah di pipinya.
Selagi lengah saat Mr X sempat lumpuh dengan serangan Leon. Leon menghampiri Aileen dan membuka penutup matanya. Sepasang netra itu pun bertemu, teduh, sendu dan rindu.
Ketika Mr. X akan menembak Leon, Aileen membalik tubuhnya dan alhasil dialah yang tertembak mengenai punggungnya.
Dor!
Tubuh Aileen jatuh di dalam dekapan suaminya.
"Mas...aku merindukanmu." lirih Aileen seraya menatap pria itu dengan rindu.
"Ai, ini aku sayang! Bertahanlah!" ujar Leon panik.
"Kenapa aku harus bertemu denganmu dalam keadaan kacau begini, mas?" Aileen menangis, satu tangannya membelai pipi Leon.
"Kita harus pergi dari sini, anak-anak kita sudah menunggu kita sayang," ucap Leon lalu mengecup punggung tangan Aileen dengan penuh kasih sayang dan rindu.
Leon menggendong Aileen, yang terluka punggungnya. "Kau harus tetap membuka matamu, baby..."
"Hem..." Aileen menganggukkan kepalanya lemah.
Leon membawa Aileen pergi dari sana dengan bantuan anak buahnya. Ia juga meminta anak buahnya untuk menangkap Eriko. Ia ingin memberi pelajaran pada pria tua itu.
...****...
__ADS_1
Spoiler...
"Aku merindukanmu sayang," Leon mencium tengkuk Aileen dengan penuh gairah, ia sudah tak sabar ingin menyatu lagi bersama istrinya setelah 5 tahun terpisah.