Belenggu Cinta Papa Angkatku

Belenggu Cinta Papa Angkatku
Bab 75. Kejutan menyakitkan


__ADS_3

Tanpa berpamitan kamu menghilang bagaikan ditelan samudra...


Kuingat ingat apakah aku salah dan menyinggung perasaanmu...


Mungkin sejuta senja aku menangis merindukan bayanganmu, namun hidupku harus terus berjalan dengan hati...Rela.


...🍁🍁🍁...


Beberapa menit kemudian, Aileen telah sampai di lantai atas gedung hotel Samudra itu. Tempat yang menjadi saksi bisu saat Leon dan Aileen mengubah status hubungan mereka dari papa dan anak menjadi pasangan kekasih.


Miris, Aileen harus meninggalkan Leon tapi dia sudah terlanjur janji. "Ayo! Jangan bilang kamu mau ingkar janji? Ingat, aku bisa lakukan apa saja untuk membuat suamimu kembali runtuh," ancam Eriko pada Aileen. Ia melihat raut wajah Aileen yang bersedih dan seperti enggan pergi dari sana.


Aileen menoleh ke arah kakeknya dengan kesal. Dia bersumpah dalam hatinya, ketika ia sudah menjadi lebih kuat. Ia akan kembali bertemu Leon dan semoga sampai saat itu tiba Leon masih menunggunya dan tidak benci padanya. Semua yang ia lakukan ada alasannya.


"Saya tidak akan ingkar janji, ayo pergi!" Aileen masuk ke dalam helikopter yang hanya bisa di isi 3 orang penumpang saja. Ericko dan Toni tersenyum puas melihat ketidakberdayaan Aileen.


Mereka pun ikut masuk ke dalam helikopter dan pergi meninggalkan negara itu. Aileen menangis tanpa suara, ia melihat cincin di jarinya. Cincin pernikahannya dan Leon, kemudian mencium cincin itu.


"Aku akan kembali Mas, kalau kamu masih menungguku! Kalau perasaanmu masih sama padaku," gumam Aileen pelan sambil terisak.


Ucapkan selamat tinggal pada kehidupanmu Aileen karena setelah ini kau tidak akan bisa bertemu dengan hidup lamamu. Semua orang yang ada di masa lalumu, tidak akan PERNAH. batin Ericko.


Setelah Ericko membawanya ke Italia, dia akan mengurung Aileen dan mendidiknya menjadi penerusnya dalam bisnis dunia hitam. Bisnis kotor yang selama ini dia jalankan, ia percaya bahwa Aileen yang cerdas pasti bisa menjalankan semua itu dan menjadi pemimpinnya. Organisasi black dragon.


****


Sinar mentari mulai masuk melalui jendela kamar hotel itu yang lupa tak ditutup karena kegiatan panas mereka semalam di kolam renang depan.


Leon membuka matanya perlahan-lahan, ia menepuk-nepuk ranjang disebelahnya dan tidak ada siapapun disana selain bantal guling.


"Baby? Apa dia di kamar mandi?" gumam Leon sambil mengedarkan pandangannya ke setiap sudut kamar mencari istrinya dan ia tak menemukannya. Pikir Leon mungkin sang istri sedang di kamar mandi.


"Astaga! Ini sudah jam 9, tinggal 15 menit lagi waktu keberangkatan ke Maldives!" Leon panik seketika begitu melihat jam dinding menunjukkan pukul 9 pagi. Ya rencananya hari ini Leon dan Aileen akan pergi ke Maldives untuk bulan madu disana selama 2 Minggu.


Leon mengambil handuknya, lalu dia menarik kenop pintu. Pintunya terbuka dan tidak di kunci sama sekali.


"Ai, kenapa kamu gak bangunin mas sih? Lah...pintunya gak dikunci? Apa ini undangan terbuka untuk anu di kamar mandi?" Pikiran Leon mengarah ke sana, sang istri sengaja membuka pintu kamar mandi karena ingin mengundangnya untuk ronde ketiga.


"Baby, i'm com--ing..." nihil, Leon tak melihat siapapun disana. "Kemana Aileen sepagi ini? Apa dia berenang atau pergi cari makan?" pikirnya lagi.


"Ya sudah deh, aku mandi saja... daripada nanti terlambat." gumam Leon sambil tersenyum, lalu dia pun melakukan ritual mandinya.


Usai melakukan ritual mandinya soalnya kurang lebih 15 menit, Leon keluar dari mandi dan memakai pakaian yang ia bawa. Pakaian casual, kemeja dengan lengan pendek dan terlihat maskulin di badannya.


Leon mulai merasa aneh karena tak kunjung melihat istrinya dan lebih anehnya lagi. Leon tidak melihat koper Aileen.


"Kenapa koper Aileen tidak ada disini? Dia kemana?" kini Leon tidak bisa tenang saja, raut wajahnya mulai menunjukkan kepanikan. Ia takut terjadi sesuatu pada Aileen dan Leon langsung menghubungi Aileen.


🎢🎢🎢


Nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif, mohon tunggu beberapa saat lagi.

__ADS_1


"Kenapa tidak aktif?!" sentak Leon gusar, sambil mengacak-acak rambutnya yang tadi sudah rapi jadi kembali acak-acakan.


Ketika matanya sedang memutar kesana kemari, Leon melihat kotak hadiah berwarna gold masih ada di atas meja kamar itu. Ia melihat amplop berwarna merah muda disana.


Leon mendekati kotak itu, lalu mengambil amplop yang ada diatasnya. "Aileen? Ngapain dia kirim surat kayak gini?"


Perasaan Leon berdebar-debar, sungguh jantungnya berdegup kencang. Ia merasa ada yang salah disini.


Perlahan-lahan Leon membuka kertas yang ada didalam amplop itu. Dia membaca surat yang ditulis oleh Aileen. Tangan Leon gemetar takut saat membacanya.


...Dear my husband......


...Terimakasih karena engkau telah hadir dalam hidupku, menjadi sosok papa sekaligus mama untukku. Terima kasih telah hadir ke dunia ini dan membuatku bahagia. Hari-hari yang kita lewati selama ini adalah hari paling membahagiakan untuk hidupku....


...Hari ini tepat hari ulang tahunmu, dihari ini juga kita resmi menikah. Taukah kau bagaimana perasaanku? Aku sangat bahagia, sungguh...menjadi istrimu adalah hal terbaik yang pernah terjadi dalam hidupku. Tapi maaf, aku tidak bisa terus bersamamu. Maaf aku tidak bisa menjadi yang terbaik untukmu, suamiku. Maaf karena aku harus melakukan ini...semoga mas bahagia tanpa adanya aku....


...Semoga mas bisa menemukan kebahagiaan yang lain di luar sana. Namun jika kita berjodoh, aku yakin Tuhan pasti akan mempertemukan kita kembali....


Leon terisak membaca surat itu, kemudian dia membacanya lagi sampai selesai.


...Jangan lupa makan, jangan lupa jaga kesehatan, aku ingat kau selalu lupa melepas sepatumu kalau sedang lelah. Nanti kau lepas sendiri ya? Hehe...Mas aku mencintaimu, asal kau tahu....


...Kalau kau sudah membaca surat ini, maka aku sudah pergi jauh. Jangan cari aku, aku tidak mau kau terluka lagi karena ku....


...Aileen, istrimu....


Pria itu menangis membaca surat dari istrinya, ini benar-benar kejutan menyakitkan untuknya. Bagaimana tidak? Dia ditinggalkan satu hari setelah pernikahannya dan di hari ulang tahunnya pula.


Leon tidak pernah menyangka bahwa Aileen yang selalu berlindung disisinya, akan berani bertindak sendiri mengorbankan dirinya. Ia tau pasti ini ada hubungannya dengan Ericko.


"ERICKO ARLANDO! BAJINGAN!"


Pria itu kalap, tanpa membuka kado dari Aileen, dia keluar dari kamarnya. Ia menelpon Bram untuk pergi ke kediaman Arlando dan mengecek apa Aileen ada disana. Sementara Leon pergi ke ruang CCTV di hotel Samudra untuk memeriksa kepergian Aileen.


"Om Leon?" sapa Sam saat melihat Leon baru saja keluar dari Lift. Sam mengerutkan keningnya ketika melihat Leon begitu tergesa-gesa. Bahkan matanya berkaca-kaca.


"Sam, kebetulan kamu disini! Tunjukkan rekaman CCTV pada om!" kata Leon berseru dan memohon pada Sam.


"Ikut saya om."


Sam dan Leon berada di ruang CCTV hotel tersebut, mereka mencari rekaman semalam. Terlihat pukul 04.00 pagi, Aileen ke atas gedung sendirian. Dia menatap kamera CCTV sambil menangis dan melambaikan tangannya seolah sedang berpamitan.


Hari Leon semakin sakit saat melihatnya, Aileen seperti akan pergi selamanya darinya. Leon juga dapat merasakan bahwa Aileen tak mau pergi. Sam yang tidak mengerti apa yang terjadi, ia hanya bisa menyimak dulu untuk saat ini.


"Ai..." lirih Leon sambil melihat wajah Aileen menangis ke arah CCTV. "Mohon tunjukkan CCTV di atas gedungnya ,pak!" Leon kembali tersadar dari kesedihannya karena ia harus mencari keberadaan gadis itu.


"Maaf pak, di atas gedung hotel kami tidak memandang CCTV."


"Apa kau bilang? Jadi hanya sampai sini saja?!" hardik Leon tak terima dengan apa yang dikatakan si petugas ruang CCTV. Bahkan ia menarik baju si pria itu dengan kasar dan emosinya hampir tak terkendali bila tidak ada Sam disana.


"Om...tenangkan diri om, ada apa ini Sebenarnya? Aileen mau kemana om?" tangan Sam seraya memegang tangan Leon dan membuat pria itu sedikit tenang.

__ADS_1


"AILEEN... Aileen pergi." gumam Leon sambil memegang kepalanya, dia berteriak histeris meneriakkan nama Aileen. "Arggggh!!!"


Sam jadi ikut panik melihat Leon begini, ia penasaran apa yang terjadi pada Aileen kenapa dia pergi meninggalkan Leon? Padahal kemarin mereka baik-baik saja dan terlihat rukun.


Apa firasat mama benar? Kemarin, Aileen seperti mengatakan kalimat perpisahan.


Tidak mendapatkan info dari Sam maupun rekaman CCTV, Leon pun keluar dari hotel itu dan pergi ke kediaman Arlando untuk mencari Aileen. Namun disana hanya ada Luna saja, Ericko dan anak buahnya tidak ada disana.


"Pak Leon? Ada apa bapak kesini? Apa bapak mau menemui saya?" tanya Luna percaya diri.


"Yon, dia gak tau keberadaan Aileen dan Ericko." kata Bram seraya menoleh pada Leon, dia juga tengah mengintrogasi Luna.


Pria itu seakan tidak menyadari kehadiran Bram disana. Dia berjalan mendekati Luna dan tiba-tiba mencekik gadis itu. Raut wajah Leon terlihat menyeramkan, tatapannya seperti akan membunuh orang.


"Yon! Apa yang kau lakukan, hah?" Bram tercengang melihat Leon yang lembut tiba-tiba begitu kejam.


"AKHHH...." Luna memekik kesakitan, matanya gemetar melihat Leon.


"Katakan kemana ayahmu membawa istriku? KATAKAN!"


"A...aku...sungguh tidak...tau...." Luna kesulitan untuk bernafas.


"Leon! Apa kau sudah GILA! Dia bisa mati?!" hardik Bram pada sahabatnya itu. Rupanya Leon mulai tidak waras.


Leon melepaskan cekikikannya pada Luna, ia memerintahkan anak buahnya untuk membawa Luna sebagai sandera.


Dari pagi sampai malam, Leon melupakan waktu makan dan istirahat. Dia terus mencari Aileen, menanyakan pada setiap orang yang dia kenal tentang keberadaan Aileen. Bahkan Leon sampai menghubungi Cleo dan William, siapa tau mereka tau dimana Aileen. Tapi hasilnya nihil.


Aileen dan Eriko seperti hilang di telan bumi. Tidak ada jejak sedikitpun kemana mereka pergi. "Ai...kamu dimana sayang? Kenapa kamu tega meninggalkan mas? Kenapa kamu bergerak sendiri? Kenapa!!"


Leon menangis didalam mobil, dia memukul setir kemudinya dengan kesal. Matanya menatap foto Aileen yang tersenyum di depan mobil. "Jangan tersenyum begitu! Jangan Ai..."


Di ruang tengah mansion Xavier,pada larut malam itu Agatha belum tidur karena menunggu kepulangan Leon. Dia sangat mencemaskan keadaan Leon.


Tak lama kemudian ,dia melihat seseorang membuka pintu rumah. Terlihat Leon yang kacau, padahal ini hari ulang tahun dan belum satu baru ia menikah. Harusnya ia menjadi pengantin yang paling bahagia.


"Kakak..."


"Kakak tenang kak!" Agatha panik melihat Leon yang tiba-tiba menghancurkan semua benda-benda di rumahnya. Leon seperti orang gila.


Prang!


Bruk!


"Aileen.... Aileen... AILEEN!" teriak Leon frustasi sambil mengacak-acak rambutnya. Ia berjalan ditengah pecahan kaca dan membuat kakinya berdarah-darah.


"Astaga! Kakak!"


"Tuan..." ucap Ratna, Lina dan Mila terkejut melihat tuannya itu.


"Aileen dimana? Aileen...."

__ADS_1


...****...


__ADS_2