
Mengandung esek-esek! Warning!
...πππ...
Kedua bibir itu telah berpagutan begitu intim, hingga membuat tubuh Aileen terbaring di atas ranjang.
Suara lenguhan pun lolos dari bibir keduanya, mereka sangat menikmati pagutan bibir yang lama kelamaan berubah menjadi pagutan liar itu. Sudah 5 tahun keduanya berpuasa, apalagi si piton yang terus di kurung didalam celana sesak milik Leon itu.
Kini dia telah menemukan goanya dan mungkin malam ini si piton akan masuk ke dalam goa itu. Sambil berciuman, tangan Leon tak diam saja. Pria itu membuka kancing piyama tidur Aileen satu persatu dengan telaten. Mudah dibuka, hingga memperlihatkan bagian atas tubuhnya yang sintal dengan penyangga berwarna merah.
Leon mengurai ciumannya lebih dulu, guna mengambil nafas sebelum melangkah ke tahap selanjutnya. Ia menatap dua benda kembar yang bernama si lala dan si lili itu.
"Sayang,"
"Iya mas?" sahut Aileen pada suaminya.
"Kamu sekarang tidur suka pakai braa?" tanya Leon seraya menatap si lili dan Lala yang masih tertutupi sarung warna merah yang menggoda itu. Seingat Leon, dulu kalau mau tidur Aileen tidak suka memakai benda itu.
Aileen terkekeh mendengar pertanyaan dari Leon, ia jadi teringat bagaimana dulu dia menggoda suaminya sebelum menikah. Bagaimana genit dan gencarnya dia melancarkan serangan untuk meruntuhkan pertahanan Leon.
Tiba-tiba saja terlintas di dalam pikirannya bagaimana dia menggoda Leon dulu. Leon juga senyum-senyum sendiri saat mengingatnya, kejadian itu bernama turn on.
#Flashback
Dengan langkah malas, Aileen berjalan menuju ke pantry untuk membuat kopi. Dia tau benar kopi kesukaan Papanya. Tapi saat ini dia sangat tidak mau bertemu dengan Leon.
Usai membuat kopi, gadis cantik itu berjalan menuju ke ruangan papanya dengan membawa nampan berisi segelas kopi pahit kesukaan Leon.
Sebelum membuka pintu, langkah Aileen tiba-tiba saja terhenti saat mendengar suara Leon yang sedang berbicara dengan seseorang ditelepon. "Tetap awasi Celia! Jangan sampai leng--"
Leon bergerak menyamping dan matanya tak sengaja melihat Aileen disana. "Kita bicara lagi nanti, pokoknya ingat apa yang ku katakan!" tegas Leon pada seseorang yang ada di telepon itu. Lalu dia menutup teleponnya dan memandang Aileen tengah berjalan ke arahnya.
Papa meminta seseorang untuk mengawasi si nine fox? Kenapa ya?
"Ini kopinya Pak."
Gadis itu meletakkan kopinya ke atas meja, kemudian dia membalikkan tubuhnya dan hendak melangkah pergi. Namun Leon memegang tangan Aileen dan menariknya. "Pak pres--"
Kyaakk!
Karena tarikan Leon yang cukup keras dan tiba-tiba itu membuat tubuh Aileen terjatuh tepat dipangkuan papanya. Tangan Leon memegang pinggul Aileen dengan sigap, menahannya agar tak jatuh.
"Ah...pak Presdir, ada apa pak?" tanya Aileen gugup, dia menelan salivanya kuat-kuat saat wajahnya berdekatan dengan wajah tampan Leon.
"Ai...kenapa panggilnya bapak?"
"I-ini kan di kantor..." gadis itu salah tingkah dan memalingkan wajahnya dari Leon.
Aduh Papa! Kenapa papa membuatku berdebar lagi sih?
"Ai...."
"Pak...lepasin saya." pinta Aileen dengan tangan yang berusaha menyingkirkan tangan Leon.
"Kenapa sih kamu jadi seperti orang asing begini sayang?" Leon masih memegang tubuh mungil nan semok Aileen dengan kedua tangannya. Meski sedari tadi Aileen bergerak tak mau diam.
Leon sudah bertekad bahwa dia harus bicara dengan Aileen dan menyelesaikan perang dingin ini secepatnya. "Ai...kamu diem dulu! Papa mau ngomong sama kamu,"
Aileen terus bergerak-gerak di atas pangkuan Leon, hingga membuat Leon tersentak kaget.
Astaga! Kenapa bisa turn on lagi?
"Akh....papah, apa yang--"
Aileen merasakan benda keras menyentuh bagian belakang tubuhnya dan sedikit menusuk. "Pah..." lirih Aileen kebingungan saat melihat Leon menatapnya dengan nanar.
Wajah Leon memerah, jakunnya naik turun dia menelan salivanya dengan kuat dan susah payah. Lagi-lagi dia berada dalam mode turn on ketika didekat Aileen.
__ADS_1
Astaga...ya Tuhan. Kenapa aku bisa memiliki perasaan seperti ini kepada Putriku sendiri?
Kedua netra mereka bertemu, hingga Leon mendekatkan wajahnya pada wajah baby face plus beautiful Aileen.
#End Flashback
Tiba-tiba saja Aileen berada diatas tubuh Leon dan Leon yang dibawah. Piton Leon mulai bereaksi dan menusuk tepat ke bagian inti milik sang istri. Dia bukan turn on lagi tapi hard on.
"Ai..."
"Aku tau, mas kangen aku kan? Kangen dibikin turn on kayak dulu?" Aileen menatap nanar sang suami yang kini berada di bawah kuas tubuhnya. Sungguh tatapan nanar itu begitu menggoda sang empunya.
Leon harus menelan salivanya, melihat penampilan Aileen saat ini. Seksi, menggoda, tidak ada wanita yang bisa membuatnya bergairah sampai seperti ini. Tubuh Aileen juga tetap menggiurkan seperti dulu, hanya saja sedikit kurus dan ada beberapa luka ditubuhnya itu.
"Ai jangan macam-macam, kamu masih sakit." Leon memperingati istrinya, takut luka dipunggung Aileen akan sakit lagi.
"Its okay, mas." Aileen membuka piyama bagian atasnya. Hingga kini ditubuh bagian atas hanya tersisa braa berwarna merah itu.
Ketika Aileen hendak membukanya, Leon langsung menawarkan diri untuk membuka sarung lili dan Lala itu. Dengan cepat tangan pria itu sudah berhasil membukanya, ia duduk berhadapan dengan Aileen dan menatap sang istri dengan lapar. Lala dan lili terlihat menyembul indah, Leon jadi tak sabar ingin melahapnya.
"Ai, kalau sakit bilang ya?" Leon meremass pelan si lili terlebih dahulu, rasanya seperti squishy.
"Heem," Aileen menganggukan kepalanya.
"Aku mau kamu panggil aku Daddy,"
"A-APA?"
Tak lama kemudian, lidah Leon sudah bermain dengan si Lili dan satu tangan lainnya meremass si Lala dengan penuh gairah yang menciptakan lenguhan dan desahhan di kamar apartemen itu.
"Ge-geli Daddy....ahh..."
Aileen yang sudah lama tidak mendapatkan sentuhan dari Leon, merasa tubuhnya lebih sensitif dari sebelumnya. Satu gerakan Leon begitu memabukkan tubuhnya dan membuat pinggulnya terangkat sampai beberapa kali. Ia jadi mudah geli.
Terlihat benang saliva yang masih terhubung di salah satu pucuk si Lili pada bibir sensual Leon. Pria itu sudah merasa sangat hard on, akhirnya ia memutuskan untuk membuka pakaiannya juga. Hingga memperlihatkan otot-otot dadanya yang kini bukan sixpack lagi, tapi mungkin fivepack atau fourpack.
"Daddy, kau sudah lama tidak berolahraga ya? Tubuh Daddy jadi sangat berbeda,"
"Maafkan aku sayang, aku--"
"Sssshh...udah ya sayang, jangan ngomongin hal itu lagi. Mending kita kangen-kangenan aja yuk? Udah lama piton gak masuk ke goa." godanya seraya menepuk bok*ng sintal Aileen.
"Sayang!" Aileen tercengang mendengar godaan dari suaminya itu. Ia tak menyangka bahwa Leon akan berbicara vulgar.
Kemudian Mereka pun saling menatap dengan dalam merasakan kerinduan dan juga gairah yang telah lama mereka pendam selama ini. Menyiratkan cinta yang dalam diantara keduanya.
"Love you," lirih Leon.
"Love you too," balas Aileen.
Mereka kembali berbagi saliva, tangan wanita itu mengalung di leher sang suami. Leon melucuti semua pakaian yang dikenakan oleh istrinya, hingga tubuh sang istri kini sudah tampak sehelai benang.
"Cantik, sayang."
"Come on Daddy," Aileen mempersilahkan suaminya untuk menyatu dengannya Sebab dia juga sangat merindukan sentuhan dari Leon.
Ketika Leon mulai membuka gesper celananya untuk mengeluarkan si piton, tiba-tiba saja ada seseorang yang mengetuk pintu kamar mereka.
Tok,tok,tok!
Sontak, aktivitas keduanya pun berhenti. "Daddy, ada yang ketuk pintu!"
"Palingan juga Bram atau Frans. Udah ah lanjut, aku gak sabar." Leon sudah tidak sabar dan dia sudah menurunkan celananya sampai ke lutut. Namun ketukan pintu itu semakin keras dan mengganggu aktivitas mereka berdua. Aileen mengambil selimut untuk menutupi tubuh polosnya dan mendorong tubuh suaminya. "Buka dulu sayang."
"Siapa?" teriak Leon bertanya dari dalam kamar sebelum dia beranjak dari tempat tidurnya. Sungguh kepalanya sangat pening karena tidak berhasil menyalurkan hasratnya.
Ia kembali memakai baju dan menaikan celana tidurnya.
__ADS_1
Aileen terkekeh melihat suaminya yang tampak gusar karena menahan hasratnya itu.
"Daddy, ini Alea Daddy! Alea takut Daddy!"
Tadinya Leon ingin marah jika pengganggu itu adalah Bram atau Frans. Namun yang mengetuk pintu itu adalah Putri kecilnya. Tentulah ia tak akan marah.
Leon membuka pintu dan begitu pintunya terbuka, Alea langsung memeluk daddynya. "Ada apa sweet heart?" tanya Leon seraya menggendong putri kecilnya itu.
"Alea mimpi buruk Daddy, katanya Alea mau tidur sama Daddy." kata Alexander menjelaskan.
"Kamu mimpi buruk sayang?"
Alea mengangguk kecil. "Iya, aku mimpi Daddy sama mommy pelgi! Aku mau tidul sama Daddy sama mommy, aku takut..."
"Oke, kita tidur bareng ya." ucap Leon perhatian. Kemudian dia melirik pada Aileen yang masih berada di atas ranjang tanpa sehelai benang itu untuk segera berpakaian lengkap.
Aileen paham, ia langsung pergi ke kamar mandi dan mengambil pakaiannya untuk berpakaian lengkap. Akhirnya kegiatan panas mereka tak terjadi alias batal.
Kedua anak kembar itu pun naik ke atas ranjang untuk tidur bersama kedua orang tua mereka. Alexander tidur disebelah Aileen, Alea di sebelah Leon.
Sebelum tidur, mereka sedikit berbincang-bincang di atas ranjang itu. "Kalian kok masih belum tidur sih?"
"Belum bica tidul Dad...tapi benelan becok kita pelgi naik pesawat?" tanya Alea dengan cadelnya.
"Iya sayang, besok kita semua akan kembali ke tanah air kita. Tempat mommy sama Daddy berada. Disana kalian akan sekolah dan akan bermain."
"Sekolah? Benaran dad, kita akan sekolah?" tanya Alexander yang sangat tertarik perihal sekolah ini.
Kedua anak itu ingin merasakan bagaimana rasanya sekolah dan berkumpul bersama teman-teman. Selama ini mereka hanya bermain berdua saja di rumah dan tidak punya teman lain, selain Erina dan Toni. Leon merasa kasihan dan sedih dengan apa yang diceritakan oleh Aileen sebelumnya, bahwa kedua anaknya ini terisolasi dari dunia luar karena Eriko.
"Ya, kalian akan bersekolah dan kalian bebas pergi kemanapun yang kalian inginkan. Tapi, tentunya dengan pengawalan karena Daddy, tak mau sampai terjadi sesuatu pada kalian."
Si kembar mana Papanya dengan mata yang berbinar-binar. Diajak keluar saja mereka sudah senang apalagi diajak naik pesawat dan keinginan mereka akan terkabul. Ternyata begini rasanya punya papa, mereka sangat bahagia. Kebahagiaan mereka seakan semuanya lengkap karena kehadiran Leon.
"Oh ya Daddy, kata Daddy kita boleh kan pergi kemanapun yang kita inginkan?" tanya Alea.
"Ya boleh."
"Pergi ke Dufan, apa boleh?" tanya Alea polos.
"Dufan?" Leon menatap istrinya yang berhadapan dengannya. Aileen mengedipkan satu matanya.
"Yeah Daddy, aku sama Alex ingin pelgi ke Dufan. Kami suka lihat Dufan dari YT, kami pengen kesana Daddy!" kata Alea sambil tersenyum.
"Iya tentu, kalian bebas pergi kemanapun yang kalian inginkan dan kapanpun yang kalian mau. Daddy akan kabulkan semuanya," kata Leon berjanji pada kedua anaknya.
Mereka berdua pun tertidur, sedangkan kedua orang tuanya masih terjaga. "Sayang, aku tidak akan melepaskan kalian lagi...aku janji aku akan membuat hidup kalian bahagia."
"Aku tau itu mas, aku dan anak-anak tidak akan pernah meninggalkanmu lagi." ucap Aileen percaya pada suaminya.
"Kalau begitu, kamu tidurlah ini sudah malam. Besok pagi kita akan pulang ke Indonesia." ucap Leon pada istrinya.
"Tidur? Apa mas tidak mau melanjutkan yang tadi?"
"Tidak sayang, nanti saja kalau kita sudah sampai di rumah. Nah sekarang tidurlah.''
"Iya, baiklah."
Tak lama kemudian, setelah istri dan kedua anaknya tertidur pulas. Leon beranjak dari ranjang tersebut dan pergi keluar dari kamarnya secara diam-diam sambil memegang ponsel.
Ia menelpon seseorang. "Apa dia masih hidup?"
"Ck! Lalu berikan potongan tangannya pada Hugo, aku tau dia lapar!" kata Leon dengan wajah yang menyeramkan dan terlihat seringai di wajah tampannya itu.
...*****...
Spoiler bab berikutnya...
__ADS_1
"ACK! Ampuni aku! Kasihanilah orang tua ini!"
"Kasihani? Apa kau kasihan pada cucumu yang kau siksa selama ini, hah?!"